
"Baik, Tuan." Jawab Eson.
Toko? Sebenarnya itu toko milik siapa, apakah toko itu tempat Jingga bekerja? Ah sial! aku sama sekali tidak tahu tentang kehidupannya sedikit pun.
Umpatnya untuk dirinya sendiri. Dia memesan satu cap Coffee hitam. Setelah Coffee itu tersedia, dia duduk di balkon kamarnya sambil menikmati pemandangan senja hari itu.
"Tidak seenak buatan Embun." Gumamnya yang sudah menyeruput kopinya.
DRRRTT DRRRT DRRRTT
Ponselnya bergetar, dan ada pesan dari Eson. Dia melihat dan malas membukanya, kenapa banyak sekali, apakah Eson sedang mengerjainya dengan mengirim spam pesan begitu.
Kemudian, diakhir pesan, Eson mengirimkan lagi sebuah pesan yang tertulis, "Maaf karena telat mengirimkan foto Nona Embun, Tuan. Tadi saya lupa." Isi pesannya.
Bara merasa kegirangan karena ternyata spam pesan itu semuanya adalah foto Embun. Dia cepat-cepat membukanya karena sebenarnya memang itulah yang dia inginkan.
Tess
Air matanya terjatuh begitu saja. Dia senang bercampur sedih saat melihat perut Embun yang sudah nampak membuncit, walaupun wanita itu sedang mengenakan baju longgar, tapi tetap saja perutnya sudah nampak. Karena dia sedang mengandung bayi kembar.
"Ternyata kalian sudah bertumbuh dengan baik, meskipun tidak ada Ayah di samping kalian, Sayang." Ucapnya parau.
"Jingga, maafkan aku. Semoga kalian baik-baik saja sampai nanti aku datang menjemput kalian." Imbuhnya lagi sambil mengelus foto di layar ponselnya.
TOKK TOKK TOKK
"Sial! Siapa itu, mengapa harus menganggu momen sedihku, sih!" Geramnya dan memasukkan ponselnya ke saku celana panjangnya. Kemudian beranjak untuk melihat siapa yang datang.
"Deva? Ada apa?" Tanya Bara dengan wajah datar bercampur kesal.
"Tuan, apakah Anda mau berjalan-jalan sebentar disekitar sini? Katanya tempat-tempat di sini sangat indah." Ujar Deva kembali mencoba mencari kesempatan.
"Tentu saja aku mau. Tapi bukan denganmu, melainkan nanti dengan Anak dan istriku!" Tegas Bara yang terlihat kalau dia sangat menolak ada wanita lain yang mencoba mendekat.
"Maafkan aku, Tuan. Aku pikir Anda jenuh berada di dalam, jadi aku memberanikan diri untuk mengajak Anda berkeliling sejenak."
"Meskipun aku jenuh, itu bukanlah urusanmu. Kau hanya perlu mengurus berkas-berkas yang perlu di bawa saat kita mulai bekerja nanti." Ucapnya tegas.
"Baik, Tuan. Kalau begitu Saya izin undur diri." Ucapnya menunduk. Saat Deva sudah berbalik dan hendak berjalan menuju kamarnya. Suara bariton Bara kembali mengagetkannya.
"Tunggu!" Seru Bara.
Deva berdiri di tempatnya, dia tersenyum karena berpikir kalau Bara sudah menyesal karena menolaknya tadi, dan sudah berubah pikiran untuk pergi dengannya.
Kau pasti menyesal karena telah menolak ajakanku, kan? Dan sekarang kau pasti mau menerima tawaranku dan mencoba membuka hatimu untukku. Batinnya percaya diri.
__ADS_1
"Kenapa, Tuan?"
"Aku ingin kau memajukan semua jadwal hingga Minggu depan. Setelah itu aku akan langsung pulang." Ucap Bara.
"Bukankah kita harus berada di sini sampai satu bulan, Tuan? Lalu selebihnya, siapa yang akan bertemu dengan para investor itu?"
"Tentu saja kau! Kau Sekretarisku. Jadi kau yang akan menggantikanku. Jika ada yang menolak karena tak ingin bertemu denganmu, maka batalkan saja kerja samanya."
"Ba, baik, Tuan." Ucapnya tergugu.
"Dan satu lagi, jangan pakai baju yang terlalu mini seperti itu. Kalau ada sesuatu yang buruk terjadi karena cara berpakaianmu itu, perusahaan tidak akan menanggung kerugian!"
BRAKKK
Setelah mengatakan hal yang sangat membuat meringis hati orang yang mendengarnya, dia langsung masuk tanpa basa-basi lagi. Dia menutup pintu dengan membanting karena kesal dengan sikap Deva yang sekarang sudah terang-terangan mendekatinya.
☀️☀️☀️☀️☀️☀️☀️☀️☀️
Keesokan harinya, pagi-pagi sekali Eson dan anak buahnya sudah berjaga di sekitar toko Embun. Untuk menghindari rasa curiga dari orang-orang yang melihat, Eson menggunakan sebuah cara yang menurutnya jitu.
"Jangan lupa untuk mengganti mobil setiap dua jam sekali, agar Nyonya Embun tidak curiga."
"Baik, Tuan Eson." Jawab bawahannya serempak.
"Kalau Nyonya Embun sampai curiga dan mengetahui keberadaanku, aku akan memenggal kepala kalian." Ancamnya lagi.
"Ranti, buang sampah ini ke depan sana, ya. Nanti akan ada mobil pengangkut yang mengambilnya." Titah Embun sambil mengibaskan tangannya di depan hidungnya. Dia sekarang sangat tidak suka dengan aroma-aroma yang membuat hidungnya sakit.
Ranti langsung membuang sampah yang membuat hidung semua orang sakit itu. Tiba-tiba ada seorang pria yang tidak sengaja menabraknya. Pria itu menggunakan topi dan kacamata hitam. Untung saja sampah yang dibawa oleh Ranti tidak berserakan.
"Aww!" Pekik Ranti yang merasa nyeri karena bahunya terbentur dengan bahu sang pria.
"Maafkan saya, Nona. Saya sungguh tidak melihat Anda." Ucap pria itu sambil menundukkan tubuhnya meminta maaf.
"Jelas kau tidak dapat melihatku. Pagi-pagi seperti ini sudah menggunakan kacamata hitam." Ucapnya dengan nada kesal. "Tapi, jangan-jangan kau buta, ya?" Ranti mengibaskan tangannya di depan wajah pria itu.
"Aku tidak buta, Nona. Aku hanya tidak bisa terkena cahaya matahari. Yang terlalu menyilaukan, seperti wajah Anda." Gombal sang pria. Ihhh najis, haha.
Ranti tersipu malu mendengar bualan sang pria, yang memang jelas tertuju untuknya.
"Kau ini, dasar pria murahan. Baru saja bertemu sudah membual." Makinya pada sang pria. Tapi rona di pipinya tak kunjung memudar.
"Pipimu merona, Nona. Perkenalkan, saya Bram!" Serunya sambil menyodorkan tangannya.
"Aku Ranti." Ranti menepis tangan pria itu sambil tersenyum malu-malu nakal.
__ADS_1
"Nona, Anda bekerja di sekitar sini?"
"Hem." Ranti mengangguk sambil tersenyum.
"Di mana Anda bekerja, Nona?"
"Di situ." Ranti menunjuk toko kue tempatnya bekerja. "Aku bekerja di toko kue itu." Ujarnya lagi.
"Jika aku ada waktu, bolehkan aku datang menjemputmu, atau melihatmu."
Ranti buru-buru menganggukkan kepalanya. Entah dia yang genit, atau gombalan sang pria yang bernama Bram itu yang berhasil dan membuatnya menjadi salah tingkah seperti itu.
"Tapi, apakah pemilik toko roti itu tidak marah? Karena mungkin dia beranggapan kalau aku mengganggu pekerjaan karyawannya." Ucap Bram.
"Tidak kok. Nona Embun adalah orang yang baik. Dia selalu mengerti para pegawainya." Jawab Ranti menggeleng cepat sambil menjelaskan agar tidak kehilangan kesempatan untuk berkenalan dengan pria yang sedang berdiri dihadapannya sekarang ini.
"Nama pemilik toko ini, Embun?" Tanya sang pria memastikan.
"Benar, Bram. Jawab Ranti mengangguk.
"Kalau begitu, aku permisi, ya. Aku harus bekerja sekarang. Kalau ada waktu, aku akan mengunjungimu." Ucapnya, setelah itu langsung pergi dengan tergesa-gesa.
Bram kembali ke dalam mobil, dia langsung menghirup udara sebanyak-banyaknya karena ternyata dia juga merasa canggung. Dia masih single dan terbilang pemalu jika berhadapan dengan seorang wanita.
Eson sengaja memerintahkannya agar dia bisa lebih terbuka dan dekat dengan seorang wanita.
"Bagaimana, Bram? Apa yang kau dapatkan?" Tanya Eson setibanya Bram dalam mobil.
"Ternyata toko ini milik Nyonya Embun, Bos.Dia bukan bekerja di sini, tapi dia memang pemilik toko ini." Jawabnya yang mengobati rasa penasaran Eson.
"Pemiliknya? Sejak kapan?"
"Nah, kalau itu aku tidak tahu, Bos. Aku tidak berani bertanya terlalu banyak. Takut wanita itu curiga, karena baru bertemu." Sahutnya.
"Bram, sepertinya wanita itu memang benar-benar sudah menyukaimu!" Ejek temannya yang lain.
Bram hanya diam tercengang. Dia juga dapat melihat wajah Ranti yang merona. Tapi, jika bukan dengan cara itu, dia pasti tidak akan mendapatkan jawaban apa pun.
"Tidak. Aku tidak merasa begitu." Sangkalnya.
"Kami di sini juga dapat melihat wajahnya yang sudah memerah seperti tomat. Dan dia menggulung baju bagian bawahnya. Itu artinya dia sedang gugup saat berhadapan denganmu tadi. Hahaha." Temannya terus-menerus mengoloknya, dan tawa mereka pun pecah. Hanya Bram saja yang terlihat pucat pasi.
"Sudah diamlah!" Teriak Eson melerai.
Teryata toko itu adalah milik Nyonya Embun. Sekarang aku sudah bisa sedikit tenang, karena hari ini sudah mendapatkan satu informasi.
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan jejak like, komentar, gift dan vote. Berikan rate 5 dan tambahkan ke daftar favorit kamu ya
Terima kasih ❤️❤️❤️