Istri Miskin Presdir

Istri Miskin Presdir
MEMILAH PERASAAN


__ADS_3

Bara beranjak dari duduknya, dan Embun pun ikut mengekor di belakang mengikuti suaminya. Ternyata Bara masuk ke dalam kamarnya, laki-laki itu sudah duduk di atas ranjang mereka sambil menopang dagu melihat lurus ke depan.


Embun tidak berani duduk di samping suaminya. Dia hanya mendudukkkan tubuhnya di sofa yang berada di kamar itu sambil menunggu Bara untuk mulai membuka suara.


"Aku yakin, kau juga pasti sudah melihat konferensi pers itu, kan." tanya Bara yang akhirnya sudah mulai berbicara.


"Sudah." jawab Embun sejujurnya saja, karena dia belum mengerti arah pembicaraan Bara kemana, apakah mungkin, Bara akan langsung menceraikannya.


"Berarti, aku tidak perlu menjelaskan apapun lagi padamu. Kau harus sudah siap-siap." ujar Bara kemudian tanpa melihat wajah Embun.


"Siap-siap untuk apa, Tuan?" Embun memang tidak mengerti kata-kata ambigu seperti itu, katakanlah kalau dia bodoh.


"Kau harus siap-siap untuk pergi dari kehidupan kami, aku dan Audrey. Kau mengerti posisimu, kan?"


"Kenapa harus aku yang pergi, Tuan? Bukankah kalian sudah berpisah. Dan, lagi-lagi aku harus mengulang kata-kataku, kaulah yang menarik aku untuk ikut menjadi istrimu, jadi menurutku yang seharusnya mengerti posisi dirinya itu adalah Audrey, bukan aku." tegas Embun walaupun sebenarnya dia sedikit takut kalau setiap perkataannya akan memancing kemarahan dari Bara


Bara menoleh ke arah Embun, dia memperhatikan Embun tanpa ekspresi apapun. Hanya ada helaan nafas gusar yang terdengar.


"Karena wanita yang aku cintai itu adalah dia, kekasihku. Bukan kamu, walaupun kamu sebagai istriku. Jadi, sadarlah dengan posisimu sendiri." seru Bara


"Kalau kamu menanyakan posisiku, aku cukup sadar. Aku berada di posisi sebagai istrimu, kalau kamu tidak mencintaiku, itu adalah hal yang wajar karena kamu belum lama mengenaliku dan mantan kekasihmu sudah hadir. Kehadirannya tidak memberikan aku ruang dan waktu yang cukup untuk membuatmu cinta padaku," jelas Embun


"Kamu harus ingat, Tuan. Aku akan berusaha sekuat tenaga untuk membuatmu jatuh cinta padaku. Namun, jika usahaku gagal, aku hanya bisa merelakan."


"Terserah. Aku sudah mengingatkanmu. Jangan pernah berharap lebih, Jingga. Karena aku tidak akan pernah bisa mencintaimu ataupun wanita lain." tandas Bara. Kemudian Bara mengambil jaketnya dan keluar dari kamarnya meninggalkan Embun yang terlihat tertunduk.


Aku tidak boleh menyerah hanya karena ucapannya, dia adalah suamiku. Kami sudah terikat dengan pernikahan. Walaupun dia tidak mencintaiku, aku yakin, suatu saat batu yang keras pun akan rapuh bila selalu terkena air hujan, Embun kembali menguatkan dirinya sendiri


Bara mengemudikan mobilnya ke Rex Club, dia ingin melapaskan sakit kepalanya disana. Hanya disana dia bisa mencoba melupakan masalahnya, karena ada teman-temannya.


"Hey, ternyata kau masih ingat dengan tempat ini." ujar Rey yang kegirangan karena melihat kedatangan Bara.


"Diamlah! Aku sedang tidak ingin mendengar ocehan recehmu." jawab Bara kesal

__ADS_1


"Wah, kelihatanya teman kita sedang dirundung masalah saat ini." sahut Rey lagi kemudian tertawa lebar


Daniel hanya duduk memperhatikan, dia memang tidak banyak bicara. Dia hanya akan bicara yang menurutnya penting saja.


"Bagaimana kabar istrimu?" tanya Daniel sambil meneguk wine


"Kenapa kau menanyakan istri orang lain?" Bara malah menjawab dengan skeptis


"Karena aku juga melihatmu dengan wanita lain belakangan ini."


"Dia bukan wanita lain. Aku ingin bercerai dengan wanita itu." ucap Bara sambil meneguk wine yang sudah dituangkan oleh Rey. Namun, gurat keraguan dan kebimbangan jelas terlukis di wajah tampannya.


"Hanya karena kekasih lamamu itu?" ujar Daniel santai sambil menyandarkan punggungnya.


"Kami memang sudah saling mencintai. Dan pernikahanku dengan Jingga adalah sebuah kesalahan yang harus segera diakhiri." papar Bara yang juga menyandarkan tubuhnya sambil mendongakkan kepalanya ke atas.


"Apakah kamu yakin?" kini giliran Rey yang bertanya, karena dia juga dapat menangkap kegusaran di wajah Bara.


"Bara, pikirkanlah untuk ke depannya. Kamu harus bisa membedakan antara takut merasa sendirian karena sudah terbiasa dengan kehadirannya dengan kamu memang sudah benar-benar merasa mulai nyaman dengan seseorang." ucap Rey.


Bara hanya menghembuskan nafasnya kasar. Dia memang terasa bimbang untuk saat ini, dia tidak tahu bagaimana mengartikan perasaan yang sedang ia hadapi dan rasakan sekarang. Dia meneguk wine nya lagi bermaksud untuk mencoba merilekskan pikirannya. Namun, bayangan-bayangan antara Embun dan Audrey malah bersatu dalam pikirannya, yang membuat pikirannya semakin kacau.


"Jangan terlalu banyak minum. Aku tidak mau kau banyak menambah istri karena memperkos* gadis tak bersalah lainnya." ucap Daniel.


"Aku tidak pernah memperkos* siapapun. Aku hanya melakukannya dengan wanita yang bekerja di tempatmu ini." jawabnya kesal


"Aku memang menyediakan jasa itu. Tapi diantara wanita-wanita itu tidak ada yang bernama Embun Jingga Prameswari." ucap Daniel lugas, membuat Bara langsung menatap Daniel tajam


"Apa maksudmu?"


"Kau harusnya mencaritahu terlebih dahulu sebelum menuduh seseorang sebagai wanita malam." sahut Daniel. Bara langsung melihat ke arah Rey, dia yakin, pasti laki-laki bermulut kaleng rombeng ini yang mengatakannya pada Daniel. Sedangkan orang yang ditatap hanya berpura-pura tak melihat.


"Aku tidak asal menuduhnya. Lalu, untuk apa wanita baik-baik berada disini saat tengah malam, kalau bukan untuk menjajakan dirinya?" gumam Bara sambil menyeringai

__ADS_1


"Dia mencari adiknya. Adiknya lah yang bekerja disini sebagai penjual bir. Bukan dia!" tegas Daniel.


"Sepertinya kau lebih tahu banyak tentang istriku dibandingkan aku." sindir Bara


"Tentu saja aku tahu, karena aku mencari bukti. Tidak sepertimu, yang hanya bisa menuduh. Dan selalu dekat dengan wanita lain, bagaimana kau bisa mengerti tentang istrimu." tandas Daniel, ucapannya seakan menusuk tubuh Bara hingga tubuhnya terkoyak menjadi serpihan.


"Aku tidak percaya itu." dengus Bara yang merasa tertekan dengan ucapan Daniel


"Terserah kau saja. Tapi, aku tidak pernah melihat wanita malam yang masih virgin." ujar Daniel sambil menyesap batang rokoknya.


Bara kembali mengingat saat malam itu, dia ingat kalau Embun memang masih virgin, dan dialah yang pertama kali membuka segelnya. Tapi, dia tetap masih meragukan ucapan sahabatnya itu.


"Mungkin saja dia menjual malam pertamanya. Makanya dia datang kesini dan langsung masuk ke kamarku."


"Dari pada dia menjual di Club ku ini, lebih baik dia melelangnya, dia akan mendapatkan uang dalam jumlah besar. Lagi pula, memangnya berapa uang yang ka berikan padanya setelah kau mengambil malam pertamanya?" tanya Daniel sinis.


Bara benar-benar kicep. Dia memang tak memberikan uang sebagai bayaran untuk Embun. Bahkan, hingga saat ini pun saat wanita itu sudah menjadi istrinya, dia tidak pernah memberikan sepeserpun yang sebagai tanggung jawabnya sebagai seorang suami.


Apakah aku mulai nyaman dengan, Jingga? Tapi ku rasa tidak mungkin. Aku pasti masih mencintai Audrey ku.


"Kau harus mulai merasakan dan memilah-milah perasaanmu sendiri, Bara. Jangan sampai kau menyesal di kemudian hari karena keputusan yang kau buat hari ini." ujar Rey.


"Tumben kau bijak, Pak tua." ejek Daniel.


Rey hanya terkekeh mendengar ucapan Daniel. Namun, kebiasaan lamanya untuk mencari wanita untuk sekedar one night stand tidak pernah bisa berubah.


Daniel memperhatikan Bara yang terdiam dan melamun. Maksud hati ingin mencari hiburan, tapi malam mendapat siraman rohani


Jika kau masih belum bisa menyadari perasaanmu sendiri, maka akulah yang akan membuatmu sadar, Bara. Aku tidak mau kau dimanfaatkan oleh wanita berbisa itu, batin Daniel.


Jangan lupa untuk tinggalkan like, komentar, gift dan vote. Berikan rate 5 dan juga tambahkan ke daftar favorit kamu ya


Terima kasih ❤️❤️❤️

__ADS_1


__ADS_2