
"Ya, aku bersedia menikah denganmu," jawabnya.
Rey langsung berdiri dan memeluk Rena. Hari ini benar-benar hari bahagia yang sangat lengkap untuk mereka.
Acara pernikahan itu berakhir dengan banyak kebahagiaan yang datang.
...*******...
Belle dan Daniel masuk ke dalam kamar mereka. Wajah mereka terlihat sangat kelelahan sekali.
Masih dengan gaun pengantin yang melekat di tubuhnya, Belle merebahkan diri di atas ranjang dan menghela nafas panjang.
Sedangkan Daniel, dia duduk bersandar di sofa. Matanya terus menerus memperhatikan Belle.
"Akhirnya semuanya terlewati dengan baik dan acara kita juga berjalan dengan lancar. Semoga untuk ke depannya seperti ini, semua diberi kelancaran dan selalu dalam kebaikan," ucapnya sembari menatap langit-langit kamarnya.
"Kamu tidak mandi?" tanya Daniel memecah keheningan yang sempat tercipta sesaat.
"Mandi, Kak. Aku sangat gerah. Bagaimana mungkin tidak mandi," jawabnya yang langsung bangkit dari tidurnya.
Saat dia sudah mulai beranjak, namun tiba-tiba dia berdiri menegang di depan pintu kamar mandinya.
"Ada apa?" tanya Daniel yang merasa heran melihat tingkah Belle.
"Kak, aku tidak bisa membuka gaun ini. Kancingnya terlalu rendah, aku tidak bisa menggapainya," rengek Belle.
"Kemari! Kalau kamu tidak bisa, aku pasti bisa membantu," ujar Daniel yang sudah terbiasa dengan sikap kekanakan dan manja Belle.
Belle tidak datang pada suaminya itu, dia masih menegang di depan pintu dengan memegang handle pintu. Daniel menautkan alisnya karena heran.
"Belle, cepat kemari!" panggil Daniel lagi.
"A-aku usahakan sendiri saja, Kak!" jawabnya buru-buru.
"Mana mungkin kamu bisa, cepat ke sini biar aku membantumu," pinta Daniel lagi.
"Kak, a-aku malu!" ucap Belle lirih namun masih bisa di dengar oleh Daniel.
Malu? Padahal aku tidak berpikir aneh-aneh tadi. Memang tulus ingin membantunya. Tapi, melihat sikapnya yang seperti kucing basah, pikiranku jadi liar.
Daniel tersenyum nakal sembari mengedipkan sebelah matanya. Sengaja memperlihatkan pada Belle. Ingin membuat wanita itu semakin takut.
"Kalau begitu, biar aku duluan saja yang mandi. Kamu berusaha membuka kancing itu saja dulu," ucap Daniel dan mendapat anggukan dari Belle.
Belle perlahan menggeser tubuhnya dan kembali berbaring di atas ranjang.
Padahal, di balik mengalahnya Daniel, ada rencana besar yang telah ia susun.
Belle terus berusaha meraih resleting yang tak bisa ia gapai. Saat dia pakai tadi, dia dibantu oleh sang desainer sehingga memudahkannya.
"Sial! Kenapa aku tidak ingat kalau kejadiannya akan seperti ini, sih! Kan tidak mungkin juga aku mengetuk kamar Rena atau Kak Embun untuk minta bantuan mereka!" Belle mendengus nafas kesal untuk dirinya sendiri.
"Dan lebih tidak mungkin lagi jika aku harus tidur memakai gaun ini!" keluhnya lagi.
__ADS_1
Saat dia sedang sibuk mengeluh dan merutuki dirinya sendiri karena memilih gaun yang terlalu susah untuk dibuka. Pintu kamar mandi pun terbuka.
Terlihat Daniel yang baru keluar dengan menggunakan handuk putih yang hanya menutupi sedikit bagian tubuhnya.
"Mataku benar-benar sudah ternodai," gerutu Belle.
"Apa?" tanya Daniel yang sayup-sayup mendengar ucapan Belle.
"Tidak ada, Kak." Belle menjawab cepat.
"Kak, bantu aku untuk membuka resleting ini," pintanya yang sudah kehabisan cara dan berada di jalan buntu.
Dengan senang hati! Memang inilah yang aku tunggu.
Daniel berjalan mendekat ke arah Belle yang sudah membelakangi dirinya. Perlahan-lahan dia menarik turun resleting gaun yang dikenakan istrinya itu.
Matanya membulat, tangannya gatal ingin mengelus kulit yang terlihat sangat halus itu. Namun, suara Belle langsung membangunkan akal sehatnya.
"Kak? Apakah sudah selesai?" tanya Belle.
"Hem, ya sudah." Daniel menjawab dalam kegugupan.
Belle memegangi gaunnya agar tidak terjatuh. Dia langsung kocar-kacir berlari ke kamar mandi.
Setelah masuk ke kamar mandi, Belle merasa lega. Dia langsung berendam di dalam bathub sambil menunggu Daniel tertidur.
"Semoga saja Kak Daniel sudah tertidur," gumamnya yang mengintip dari celah-celah pintu. Terlihat kamar itu sudah menggelap, hanya ada sedikit sinar dari lampu tidur.
Namun, dia terlonjak kaget saat ada sebuah tangan yang memeluknya dari arah belakang.
Tanpa perlu menerka, Belle sudah tahu siapa yang sedang memeluknya saat ini.
"Kak Daniel, kamu kenapa terbangun? Merasa terganggu, ya? Maaf aku terlalu banyak menimbulkan kebisingan," ucap Belle.
"Aku belum tidur, Belle. Aku menunggumu," pungkasnya membuat Belle terdiam.
"Ke-kenapa menunggu? Tidur du-luan saja, Kak. Aku ti-dak apa-apa." entah sejak kapan Belle mendadak gagap.
"Aku menginginkanmu. Bisakah kita melakukannya malam ini?" bisik Daniel membuat telinga Belle memerah.
"Bi-bisa, Kak." jawab Belle dengan rasa takut yang telah menggerayangi dirinya. Karena dia sering mendengar kalau berhubungan untuk yang pertama kali itu pasti menyakitkan.
Namun sekarang tak mungkin juga ia menolak. Sudah menjadi kewajibannya untuk melayani suaminya itu.
Karena sudah mendapatkan persetujuan dari Belle, tanpa ragu Daniel langsung memulai aksinya.
Dia membalikkan tubuh Belle ke arahnya, mengecup leher Belle secara perlahan dan semakin lama semakin turun ke arah bukit kembar sambil mendorong tubuh Belle yang masih terbalut handuk ke arah ranjang.
Puas mengecup dua bukit kembar itu, Daniel menurunkan lagi bibirnya. Mengendus perut rata itu sambil sesekali memberi pijatan halus di sana.
Wajah Belle yang awalnya memerah karena malu, telah berganti menjadi rasa geli yang tak tertahankan. Setiap sentuhan yang dibuat Daniel, membuat Belle terhanyut dan mengeluarkan suara erangan-erangan aneh.
Daniel mulai mengelus area persawahan yang kini sudah halal untuk ia sentuh. Mengendus aroma yang membuatnya candu. memainkan lidahnya di sana, membuat Belle mengerang geli. Tangannya juga ia masukan ke lubang itu, memaju mundurkan jari tengahnya. Membuat sensasi aneh dari tubuh Belle kian tercipta.
__ADS_1
"Kak, a-aku sudah tidak tahan," ucapnya dengan suara serak.
"Benarkah?" goda Daniel.
Belle mengangguk, dan Daniel ikut tersenyum karena merasa telah meraih kemenangan karena sudah berhasil membuat Belle terhanyut dalam permainannya.
Daniel menanggalkan celana boxernya. Dia menuntun tangan Rena untuk mengurut sebentar burung merpati besar miliknya. Karena telah diliputi kabut, dengan cepat Belle menyambar burung merpati Daniel yang sudah tegak siap terbang masuk ke sarang untuk mencari kehangatan.
Daniel mulai mengarahkan Burung merpati miliknya ke arah sarang hangat. Dia memasukannya secara bertahap dan perlahan.
"Sssakit, Kak!" rintih Belle.
"Tahan sebentar, ya? Sebentar lagi rasanya akan berbeda," ucap Daniel menenangkan.
Setelah burung merpati miliknya telah masuk sempurna, Daniel mulai mengayunkan pinggulnya maju mundur. Belle pun mulai mengimbangi permainan suaminya. Mereka sama-sama saling meracau karena merasakan sebuah rasa yang belum pernah mereka rasakan sebelumnya.
Untung saja kamar itu kedap suara. Kalau tidak, mungkin sekarang seisi rumah sedang mendengarkan radio porno.
...*****...
Hari ini, Rena dan Embun berencana untuk mengunjungi Ayahnya di dalam sel tahanan.
"Kak, kamu mau membawa Hilsa dan Hansel juga?" tanya Rena.
"Tidak. Nanti saat Ayah keluar saja baru aku pertemukan mereka," sahutnya.
Rena hanya membalas dengan mengangguk. Dengan diantar oleh supir pribadi, mereka sama-sama pergi ke tahanan untuk mengunjungi Ayahnya.
Setelah masuk, Embun dan Rena bertemu dengan Ayahnya. Mereka memeluk Pras dengan sangat kuat sambil menangis terisak.
"Ayah, Embun rindu...." bisiknya.
"Ayah juga. Maafkan Ayah karena telah memperlakukan kalian semena-mena. Bahkan, Ayah hampir menghilangkan nyawamu dan anak-anak mu," ucap Pras menyesal.
"Sudah, Yah. Jangan lagi menyesali yang sudah berlalu. Embun akan segera mengurus pencabutan tuntutan, Yah."
"Tidak, Nak. Ayah pantas mendapatkannya," tolak Pras.
Embun menggeleng.
"Yah, Embun sudah memaafkan Ayah. Embun dan Rena senang karena Ayah dan Ibu sudah sadar akan kesalahan lalu kalian. Sekarang, Embun ingin kita berkumpul lagi," sanggah Embun.
"Terima kasih, Nak."
"Rena, kata Ibumu, kamu juga akan segera menikah?" tanya Pras sambil mengelus rambut Rena.
Rena mengangguk membenarkan," Benar, Yah. Rena harap Ayah akan hadir di pernikahan Rena nanti," pinta Rena memohon.
Dukung karya ini dengan berikan like, komentar, gift dan vote sebanyak-banyaknya.
Berikan juga rate 5 ❤️❤️❤️
Terima kasih ❤️❤️❤️
__ADS_1