
"Hey, jaga matamu! Lancang sekali kau!" ucap Amanda geram.
"Mengakulah, kau sedang hamil kan, Amanda?"
Amanda terkejut, tubuhnya menegang. Dia mundur perlahan-lahan menjauhi Rena dan mulai mengambil ancang-ancang untuk melarikan diri. Namun sialnya, dari tadi tak ada satupun taxi yang lewat di dekat mereka.
Jika dia berlari begitu saja, wanita hamil seperti dirinya pasti akan mudah tertangkap oleh wanita sehat seperti Rena. Tubuhnya berangsur-angsur beringsut mundur.
"Mau ke mana, Amanda?" tanya Rena sambil mencekal pergelangan tangan Amanda lumayan kencang. Membuat wanita itu meringis kesakitan.
"Lepaskan aku, Rena!" pekik Amanda sambil memukul-mukul tangan Rena agar cekalannya bisa terlepas.
"Sepertinya dugaanku benar. Apakah tidak ada yang ingin kau jelaskan padaku, Amanda?" ucap Rena sambil menatap sinis Amanda yang semakin menguatkan cekalannya. Mungkin, pergelangan tangan Amanda sekarang sudah mulai memerah.
"Lepaskan aku atau aku akan berteriak. Dan kau akan dihajar massa, Rena!" ancam Amanda dengan wajah yakinnya. Namun sayang, ancaman itu sama sekali tak mempan untuk Rena.
Rena tersenyum miring menanggapi ancaman yang menurutnya sangat lucu.
"Kau ingin berteriak?" tanya Rena dengan wajah datar.
"Ya, kenapa? Kau takut? Kalau begitu cepat lepaskan aku. Atau aku akan berteriak sekarang!" ancamnya lagi.
"Kalau begitu, berteriaklah sekarang!" tantang Rena, seketika Amanda mendadak gagu dan terdiam sembari menyatukan kedua alisnya.
"Kenapa? Kau tidak berani?" tantangnya lagi sambil mengulas senyum miring.
"Kau jangan menantangku, Rena! Mana mungkin aku tidak berani. A-aku hanya kasihan padamu, takut nanti kau dicelakai oleh orang-orang itu," kilahnya.
Namun Rena tak bisa dibohongi. Dia sudah cukup mengerti dengan raut wajah takut yang tercetak jelas di wajah Amanda.
"Kalau begitu cepat! Atau ... apa perlu aku membantumu untuk berteriak?" bisik Rena membuat mata Amanda semakin membola tak percaya.
"Jika kau berteriak, banyak orang-orang yang akan berdatangan ke sini, termasuk keluarga Rey juga! Dan ... salah satu kemungkinan kecil, ada orang yang merekam kejadian ini dan mengunggaghnya di laman media sosial," melihat wajah Amanda tertunduk dan gusar, Rena semakin tersenyum.
"Lalu, apakah kau bisa membayangkan, judul apa yang akan tertulis untuk Vidio kontroversi itu?" Rena mulai meracau seraya membuat Amanda membayangkan hal-hal yang mungkin akan terjadi. Membuat tubuh Amanda kembali menegang karena takut.
"Seorang wanita mudah bertengkar dengan wanita hamil da--"
"Diam! Tuduhan yang keluar dari mulutmu itu sama sekali tak berdasar. Tanpa ada bukti dan saksi, kau bisa dikenakan pasal atas pencemaran nama baik!" hardik Amanda membalas Rena, berharap Rena akan merasa takut dan melepaskannya.
"Itu akan terjadi kalau aku menuduhmu tanpa bukti!" jawab Rena.
"Lalu, bukti apa yang kau punya? Kau sama sekali tak mempunyai cukup bukti dan menuduhku dan menganiayaku," lanjutnya yang semakin menyudutkan Rena.
"Itu mudah sekali, Amanda! Di dekat sini pasti ada apotek terdekat. Kita bisa ke sana dan membeli beberapa alat tes kehamilan untukmu. Bagaimana, apakah kau berani?"
Sial! Aku yang mengancamnya, kenapa dia malah mengancam dan menuyudutkanku balik? Bagaimana ini?
__ADS_1
"Amanda, aku tahu kau sedang hamil. Jadi, berhentilah untuk berpura-pura dan menyangkal semuanya. Kau sudah merusak kebahagiaan orang lain dengan tanganmu sendiri, Amanda!"
"Meskipun aku tahu kau tidak peduli, kau sangat egois dengan memikirkan nasibmu sendiri. Tapi, cobalah untuk berani jujur pada orang lain sekali saja," imbuh Rena.
Wajah Amanda perlahan melembut, tangannya yang tadi ikut mencengkeram lengan Rena pun mulai melemah.
Hiks...
Hiks...
Terdengar suara tangisan darinya, sebelah tangannya menutup wajahnya yang mulai banjir dengan air mata.
"Aku minta maaf, Rena." kata itu terucap dari bibir Amanda yang mulai bergetar.
"Aku tidak tahu harus melakukan apa, aku bingung...." tambahnya lagi.
"Amanda, bisakah kita mencari bangku kosong dan mengobrol sebentar?" ajak Rena yang perlahan mulai mengendurkan pegangannya.
Amanda mengangguk, Rena mengedarkan pandangannya mencari bangku kosong di sekitar mereka. Namun tak menemukannya.
"Amanda, di sekitar sini tidak ada bangku kosong. Bagaimana kalau kita singgah di cafe itu saja," Rena menunjuk sebuah cafe yang terlihat khusus untuk anak remaja di seberang jalan di depan mereka.
Amanda mengikuti arah telunjuk Rena, dia menganggukkan kepalanya tanda setuju.
Rena mengandeng tangan Amanda membantu wanita itu menyebrang. Mata Amanda terus memperhatikan tangan Rena yang memegang tangannya dengan lembut, hatinya menghangat. Merasa dia memiliki teman sejati di sampingnya.
"Sebelum aku bercerita padamu, bolehkah kau memesankan makanan untukku terlebih dahulu?" tanya Amanda sambil menggigit bibir bawahnya.
Rena tak menjawab.
"A-aku sangat lapar. Aku juga ti-tidak memiliki uang. Ta-tapi kalau kamu tidak bersedia tidak apa-apa kok, kita langsung berbicara saja," tukas Amanda cepat.
Rena mengangkat tangannya memanggil seorang pelayan.
"Aku pesan beberapa jenis makanan favorit di sini. Jangan terlalu lama, kami sudah sangat lapar," ucapnya dan dijawab dengan anggukan oleh sang waiters.
Ternyata dia bukan tidak mempedulikan aku. Dia sepertinya memang tipe orang yang cuek.
Seperti permintaan Rena tadi, setelah sepuluh menit mereka saling diam, semua makanan yang dipesan oleh Rena pun tersaji di atas meja.
Amanda menatap semua makanan itu dengan air liur yang hampir menetes. Tanpa sungkan dia langsung menyantap semua makanan di atas meja.
Rena hanya memperhatikan gelagat Amanda tanpa berkomentar apapun.
Amanda menghapus sisa makanan di bibirnya dengan tissue sambil bersendawa.
"Kenapa kamu tidak makan, Rena?" tanya Amanda.
__ADS_1
"Aku sudah kenyang. Tadi saat kita makan dengan keluarga Om Rey kamu tidak menyentuh apapun. Tapi kali ini kamu menghabiskan semua makanan ini, aku heran."
"Entahlah, mungkin karena hormon kehamilan," jawab Amanda.
"Jadi, kamu benar-benar hamil?" tanya Rena lagi.
Amanda mengangguk sambil menundukkan kepalanya.
"Lalu, di mana Ayah dari bayi itu?" selidik Rena, rasa penasarannya mulai menggebu-gebu. Dia sudah tahu sedikit alasan Amanda kembali dan mendekati Rey lagi.
Amanda menggeleng, kepalanya masih tertunduk. "Aku tidak tahu di mana dia. Setelah aku menyadari kehamilanku dan memberitahukan dia, kami sempat bertengkar hebat. Dia memintaku untuk menggugurkan anak ini, namun aku menolak keras untuk menggugurkannya. Dan setelah itu, dia pergi. Menghilang dan tak pernah kembali lagi,," jelas Amanda. Rena dapat melihat dia berbicara sambil terisak dan menyeka air matanya.
"Itu berarti dia tidak mau bertanggung jawab padamu dan bayinya," potong Rena begitu geram dengan laki-laki pengecut seperti itu.
Amanda kembali mengangguk.
"Dan, kenapa kamu tidak mau menggugurkannya?" tanya Rena lagi. Pertanyaan Rena kali ini membuat Amanda mengangkat kepalanya dan menatap Rena.
"Anak ini tidak berdosa. Akulah yang berdosa dengan menghadirkan dia di luar ikatan pernikahan. Dan aku tidak mau menambah dosaku dengan membunuh anakku sendiri. Hanya bajingan yang tega membunuh darah dagingnya sendiri, bahkan binatang saja sangat menyayangi anaknya," tutur Amanda yang bertambah terisak.
"Dan pacarmu itu adalah seorang bajingan!" umpat Rena.
"Koreksi kata-katamu. Lebih tepatnya mantan pacarku!"
Rena memutar bola matanya, menarik nafasnya sepanjang jalan kenangan.
"Aku sudah bisa menebak kenapa kamu mendekati Rey, merusak kebahagiaan sesama wanita."
"Maafkan aku, Rena. Aku terpaksa menjadi egois untuk masa depan anakku," kata Amanda dengan tatapan memelas. "Tapi sekarang aku sudah sangat sadar, hati yang sudah kubawa pergi tak mungkin dapat kukembalikan lagi. Hati yang sudah berlabuh di lain tempat, tak bisa kupaksakan untuk kembali singgah di dermaga milikku,"
"Bijak sekali kata-katamu, Amanda. Sangat puitis," seloroh Rena sambil cekikikan.
"Terserah kau saja. Aku hanya ingin minta maaf padamu. Itu saja," ucapnya menatap Rena sendu.
"Aku pikir, setelah aku kembali perasaan Rey akan tetap sama seperti dulu. Ternyata tidak. Aku kira, meskipun Rey tidak lagi mencintaiku, dengan aku mendekati orang tuanya, aku bisa meminjam kesempatan untuk menikah dengan Rey dan menjadikannya Ayah dari anakku."
"Ternyata, semua tidak sesuai dengan harapanku, ternyata orang tuanya telah menaruh dendam padaku dan sangat membenciku. Bahkan, tidak menerimaku di tengah-tengah mereka dan mereka sangat menyayangimu," ucapnya sambil terisak.
"Amanda, semua yang kamu lakukan itu adalah sebuah kesalahan."
"Aku tahu, Rena. Sebenarnya aku sangat takut saat menemuimu hari itu, namun aku harus mengegoiskan diriku untuk anak yang belum lahir ini," tuturnya.
Dukung karya ini dengan berikan like, komentar, gift dan vote sebanyak-banyaknya.
Berikan juga rate 5 ya guys agar Author tambah semangat ❤️
Terima kasih untuk setiap dukungan yang udah kalian berikan❤️❤️❤️
__ADS_1