
Tiga hari lagi Amanda berulang tahun. Tapi, sudah bertahun-tahun Mama tak pernah melihat dirimu lagi, Nak. Sebenarnya, ke mana kamu pergi? Kenapa susah sekali menemukan keberadaanmu yang terasa sangat misterius?
"Ma? Sebenarnya Mama kenapa?" tanya Joana sembari menggenggam tangan Alea.
"Tidak apa-apa, Joan. Mama hanya memikirkan sesuatu. Tidak perlu kamu cemaskan," jawab Alea.
Joana diam. Meskipun masih merasa janggal dengan sikap sang Ibu yang tak seperti biasanya. Tapi dia tidak mau meneruskan pembicaraan yang mungkin akan membuat Alea jadi marah padanya. Biarlah dia yang mencari tahu sendiri kenapa sang Ibu bersikap demikian.
...******...
Setelah selesai berbelanja perlengkapan Valerie, Rey langsung mengantar Rena pulang ke rumah Ibunya sesuai dengan permintaan Rena sendiri. Karena, acara pernikahan mereka nanti pun akan diadakan di rumah sederhana mereka.
Itulah permintaan Mika dan Pras untuk menebus kesalahan-kesalahan mereka selama ini. Dan dengan senang hati pula Rena menyetujui permintaan kedua orang tuanya.
Wajah Rena berubah masam saat melihat Mika yang sudah berkacak pinggang berdiri di depan pintu.
"Bu? Sudah lama datang? Kenapa tidak masuk dan malah berdiri di sini?" tanya Rena. Sebelah tangannya masih menggendong Valerie yang mulai tak nyaman.
"Ibu sengaja berdiri di sini karena mau menunggumu! Ibu lihat semua orang sudah kembali, tapi kamu bekum terlihat sama sekali," jawab Mika dengan wajah tak bersahabat.
"Bu, tadi Rena dan Rey singgah ke mall sebentar. Membeli perlengkapan untuk Valerie, Bu." sahut Rena memberikan alasan. Melihat wajah Mika yang tak senang, dia mulai takut.
"Benarkah? Bukan karena kalian sedang memanfaatkan kesempatan sebab sudah berbulan-bulan tidak bertemu?" sungut Mika.
Sebenarnya itu juga termasuk salah satu alasannya! Bagaimana mungkin aku tidak mengambil kesempatan ini, kesempatan tidak akan datang dua kali.
Rena hanya berani berkata dalam hati.
"Bu, jangan keras-keras. Nanti Valerie terbangun," bisik Rena di telinga Mika.
Mika melihat Valerie yang masih pulas tertidur namun sesekali menggeliat seperti merasa tak nyaman. Hati kecilnya terenyuh, Mika tadi juga turut hadir di pemakaman Amanda.
Tangannya terangkat mengelus kepala mungil yang bahkan belum tegap berdiri, namun sudah kehilangan tempat sandaran ternyamannya.
"Rena, sepertinya popoknya sudah penuh. Lebih baik bawa dia masuk dan ganti semua pakaiannya dengan yang lain. Jangan lupa balurkan minyak untuk menghangatkan tubuhnya," ujar Mika pada putrinya yang kini telah menjadi Ibu pengganti.
__ADS_1
"Baik, Bu." Rena menjawab dengan senyuman yang terus menghiasi wajahnya. Merasa sangat senang dengan perhatian-perhatian Mika kepada Valerie yang terasa seperti sedang memberikan perhatian pada cucu kandungnya sendiri.
"Rey, kamu tidak menyesal karena berencana menikahi Rena?" tanya Mika dengan wajah datar. Entah kapan dia telah merubah raut wajahnya.
"Me-menyesal ke-kenapa, Bu?" tanya Rey terbata-bata. Dia juga ikut takut dengan raut wajah yang ditunjukan oleh Mika padanya.
"Karena sebelum menikah denganmu dia sudah punya Anak. Bahkan sekarang dia telah menjadi seorang Ibu pengganti!" seru Mika menjelaskan.
Rey tersenyum dan berjalan mendekat ke arah Rena dan Muka.
"Tentu saja tidak. Aku sama sekali tidak menyesal telah berani mempersunting Rena sebagai istriku kelak. Bahkan, aku merasa menyesal karena terlalu lambat dipertemukan dengan wanita sebaik dirinya," tutur Rena dan Mika kompak tersenyum.
Mika sengaja berbicara seperti itu, karena inilah jawaban yang dia tunggu. Sekarang dia merasa sangat puas dengan jawaban Rey, calon menantunya.
"Dengan anak orang lain saja dia bisa sesayang itu, apa lagi dengan anak-anak kami kelak? Sosok seperti inilah yang aku cari dan untungnya sekarang aku sudah menemukannya!" imbuh Rey membuat wajah Rena merona.
"Oekk ... oekk ... oekkk" tiba-tiba tangisan Valerie pecah. Rena, Mika dan Rey sontak menoleh melihat wajah bayi itu mulai memerah.
"Rena, langsung bawa masuk saja. Aku akan permisi pulang sekarang," ucap Rey yang telah dilanda kepanikan sebab suara tangisan Valerie begitu menggema.
"Bu, bagaimana ini?" tanya Rena pada Mika. Jujur saja, dia juga panik karena Valerie terus menerus menangis kencang.
"Sudah tidak apa-apa. Kamu jangan khawatir." Mika menenangkan meskipun sebenarnya dia juga merasa panik karena sudah lama tidak merawat anak kecil.
Mika menyodorkan botol susu ke mulut mungil yang masih menangis itu. Dan akhirnya, cara itu berhasil.
"Ternyata dia haus, Bu." Rena terkekeh pelan.
Rena menidurkan Valerie di ranjang miliknya. Rena melihat ke sekeliling, kamarnya masih sama seperti dulu. Tidak ada yang berubah sedikitpun. Hanya kehangatan yang semakin bertambah membuatnya semakin betah di rumah itu.
...*****...
Hari ini adalah hari kebahagiaan Rena dan Rey. Double R itu hari ini akan melangsungkan pernikahan di kediaman Rena. Suara tawa-tawa bahagia menghiasi hari itu menjadi tambah sempurna.
Bunga-bunga berwarna cokelat telah terpasang membentuk sebuah pelaminan yang akan menjadi singgasana Rey dan Rena hari ini. Betapa kebahagiaan begitu terpancar jelas dari wajah Rena yang saat itu sedang menggendong Valerie.
__ADS_1
"Nak, hari ini Ibumu akan menikah. Doakan agar semuanya berjalan lancar, ya?" Rena berbisik di telinga bayi mungil yang telah siap dengan gaun berwarna senada yang digunakan oleh Rena.
"Rena, rombongan keluarga Rey sudah datang. Kamu sudah bisa bersiap-siap, ya? Sebentar lagi mereka akan memasuki kawasan rumah kita," ucap sang pembawa berita.
Rena mengangguk dan tak lupa ia menyelipkan senyuman meskipun jantungnya berpacu sangat kencang.
"Sayang, Ibu sangat gelisah. Kamu jangan lupa doakan agar semuanya berjalan sesuai yang kita harapkan, ya!" ucapnya kembali.
Mika masuk ke dalam kamar Rena.
"Rena, kamu sudah bisa bersiap-siap sekarang. Berikan Valerie pada Ibu. Duduklah di samping Ayah," titah Mika.
Rena mengangguk, dia memberikan Valerie pada Ibunya.
"Bu, Rena merasa sangat gugup," akunya.
"Itu hal yang biasa, Nak. Yakinlah semuanya akan berjalan baik-baik saja dan sesuai dengan keinginan kita," balas Mika berusaha menghibur.
...*****...
DRRT DRRT DRRT
Ponsel milik Joana bergetar, dia tersenyum saat melihat orang yang menghubunginya.
"Bagaimana? Apakah kamu menemukan sesuatu kali ini?" tanya Joana tergesa-gesa.
"Benar, Joan. Aku sudah menemukan satu informasi yang kau minta selidiki," jawab seorang pria di balik telepon.
"Benarkah? Cepat katakan!" pinta Joana tak sabaran.
"Sebenarnya, Ibumu memiliki seorang Anak yang bernama Amanda. Dia dan suaminya berperilaku egois pada anak semata wayangnya itu. Mengurungnya dalam aturan-aturan yang kejam. Amanda adalah seorang wanita yang suka kebebasan, jadi dia melarikan diri dan sampai sekarang belum ditemukan," jelas orang itu lagi.
Dukung karya ini dengan berikan like, komentar, gift dan vote sebanyak-banyaknya.
Berikan juga rate 5 ya guys ❤️❤️❤️
__ADS_1
Terima kasih ❤️❤️❤️