Istri Miskin Presdir

Istri Miskin Presdir
NASIB BARA


__ADS_3

"Tidak perlu mencari tahu gaya baru kalau tentang itu. Karena aku lebih suka gaya batu. Bisa berbaring dan sambil menikmatinya!" Ucap Embun sambil tergelak.


Bara membelalakkan matanya mendengar penuturan Embun, dia menjadi semakin gemas dengan wanita yang sedang dipeluknya itu.


"Kenapa kau sudah semakin pintar saja? Dari mana kau belajar tentang hal-hal seperti itu, hum?!" Tanya Bara sambil makin menyelusupkan wajahnya ke ceruk leher Istrinya itu, membuat Embun merasa geli dengan hembusan nafas Bara yang sepertinya semakin lama semakin memburu.


Nafas yang Bara hembuskan semakin lama semakin memburu dan menjadi. Tangannya juga mulai bergerilya kemana-mana. Tangan kanan Bara sudah mulai membelai leher jenjang Embun, dan tangan kirinya tetap memeluk wanitanya itu.


Embun melirik sekilas wajah pria yang sedang mendekapnya itu, dari guratan matanya, terlihat kalau laki-laki itu memang sedang menginginkannya. Namun, apalah daya, dia belum bisa memberikan dirinya untuk suaminya, menuntaskan kewajibannya sebagai istri untuk menghilangkan hasrat yang membara itu.


Perlahan Embun merenggangkan dekapan Suaminya. Tangan yang masih memeluk dirinya itu juga di pindahkan oleh Embun. Memberi peringatan awal kalau mereka belum bisa melakukannya untuk saat ini.


Tapi, peringatan awal itu tak di indahkan oleh pria yang sudah terlanjur terburu nafsu itu. Dia malah semakin erat memeluk sang pujaan dan tangan Embun disingkirkan begitu saja agar tak menganggu aksinya.


Merasa Bara semakin berani dan semakin liar. Embun menjadi gelisah. Tubuhnya juga meremang seiiring dengan sentuhan-sentuhan yang diberikan oleh suaminya itu. Namun, dia tetap harus berada pada kewarasannya, jangan sampai terbuai dan terbakar dengan kelembutan sentuhan surgawi itu. Justru, kini dialah yang harus memadamkan api yang sedang membakar tubuh suaminya segera.


"Hem ... Bara, kita belum bisa melakukannya sekarang." ujar Embun yang akhirnya membuka mulutnya dan menyadarkan Bara dari kesilapan tangannya.


"Kenapa?" Tanyanya dengan suara parau. Fix, Embun bertambah yakin, laki-laki ini memang sedang diburu nafsu.


"A-aku sedang dalam masa nifas. Kita belum boleh melakukannya." Tukas Embun walaupun sedikit tak enak hati pada suaminya. Dia mengerti, bagaimana tersiksanya Bara yang harus menunggu selama itu. Setelah kini dia ingin menuntaskannya, malah ada satu rintangan lagi yang membuat niatnya terhalang.


"Sampai kapan aku harus kembali menunggu?" Tanyanya lagi yang masih belum melepaskan pelukannya. Tapi tangannya yang bergerilya sudah luruh seketika.


"Sa-sampai bulan depan saja. Kira-kira satu bulan lebih sedikit." Sahut Embun terbata-bata. Bukan karena dia takut, dia hanya kasihan melihat Suaminya yang wajahnya sudah merah padam karena harus kembali menyimpan nafsunya yang sempat menguar dalam-dalam.


Bahkan burung yang sempat terbangun dan ingin terbang masuk ke dalam gua karena ingin menemui kehangatan, harus kembali dipaksa tidur meskipun sempat tak terima.


Mendengar Embun menyebutkan bulan depan, Bara benar-benar tercekat. Dia ingin mengatakan sesuatu, namun tenggorokannya begitu kering karena merasa tak dapat menerima kenyataan ini. Tapi, dia memang harus menerima dan menelan pil pahit itu meskipun tubuhnya tak terima.


Melihat Bara diam saja, ada sedikit kekhawatiran yang tertanam di hati Embun. Dia langsung memutar dirinya agar berhadapan dengan Bara dan melihat wajah pria itu.


"Bara, kamu tidak akan bermain di luar, kan?" Tanya Embun dengan perlahan, suaranya juga sangat pelan.


"Tentu saja tidak, Sayang." Jawab Bara membuat perasaan Embun kembali tenang. Kekhawatiran berlebihannya tadi seketika hilang ditelan beruang.


CUPP

__ADS_1


Karena merasa senang, Embun mengecup bibir Bara. Membuat laki-laki itu terjingkat kaget dengan perlakuan Embun yang terasa semakin berani terhadapnya. Setelah melakukan itu, Embun langsung berlari sedikit menjauh. Tanpa sadar, Bara memegang bekas tabrakan bibir Embun tadi.


"Kamu semakin berani ya, Jingga! Kau kembali membangunkan yang seharusnya sudah tertidur!" Gumam Bara.


Embun langsung masuk ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya. Dia memutuskan berendam dengan air panas dan menambahkan sabun aroma strawberry favoritnya. Saat dia hendak mengambil sabun cair itu, dia melihat banyak sekali sabun yang mirip seperti miliknya. Dia langsung tersenyum merekah karena berpikir bisa menghemat uangnya. Lama dia tak perlu membeli alat itu karena sekarang, benda itu tertumpuk di depan matanya.


Embun mulai berendam. Dia memejamkan matanya untuk merasakan sensasi hangatnya air yang meluruhkan rasa lelahnya. Dan aroma strawberry yang menusuk indra penciumannya, membuatnya semakin rileks, melepaskan beban yang selama ini ia pikul.


Namun dia yakin, dalam segala cobaan dan beban hidup yang ditanggungnya, pasti akan ada buah manis yang akan dipetik suatu hari nanti. Semoga buahnya akan besar dan manis.


Bara melangkahkan kakinya keluar kamar dan menemui dua sahabatnya yang masih setia menunggunya di taman belakang, tempat biasa mereka berkumpul di rumah itu.


Dia langsung mendudukkan bokongnya dan menyandarkan kepalanya pada sandaran kursi. Pikirannya masih menerawang kejadian tadi. Jujur saja, dia belum bisa melepaskan tubuh Embun begitu saja. Terbukti, bahkan sampai di sini pun dia masih membayangkan tubuh bugil istrinya seperti pria mesum.


Tangannya terangkat dan mengibas-ngibaskan bayangan tubuh bugil Embun yang sedari tadi menari-nari dipikirannya. Perbuatan Bara itu menyita perhatian kedua sahabatnya yang sedari tadi memang memperhatikan tingkah Bara yang sejak datang tadi hanya diam.


Daniel dan Rey saling melempar pandangan dan sejurus kemudian mereka sama-sama menaikkan bahu karena merasa tak mengerti.


"Hem!" Daniel berdehem memecah lamunan Bara yang konyol.


Deheman itu berhasil, Bara langsung melihat ke arah orang yang mengeluarkan suara. Dia menaikkan sebelah alisnya tanda bertanya. Tapi, bibirnya yang sejak tadi terkatup, tetap dia buka untuk berbicara.


"Ada yang ingin kami bicarakan." Kata Rey yang kini gantian angkat bicara.


"Bicara apa? Ya tinggal bicarakan saja." Cetus Bara tanpa melihat lawan bicaranya.


"Ini penting, kita harus memastikan dulu, kalau disekitar sini hanya ada kita bertiga." lirih Rey sambil melirik kanan kiri takut kalau ada yang mencuri dengar ucapannya barusan.


Bara melihat raut wajah Daniel. Sepertinya ini memang pembicaraan yang serius menurut laki-laki itu. Kalau tidak, pasti laki-laki itu akan menimpali dengan kelakarnya sambil berkata kalau jangan terlalu serius. Tapi kali ini, laki-laki itu hanya diam dan bahkan ikut andil dalam berbicara.


"Kalau memang sangat penting, kita bicarakan di ruang kerjaku saja. Ayo!" Ajaknya yang langsung berdiri dan diikuti kedua sahabatnya itu.


"Bi, bawakan minum dan buah ke ruangan kerjaku. Harus cepat, ya!" Titahnya pada salah satu asisten rumahnya.


"Baik, Tuan." Jawab asisten itu dengan hormat.


Bara langsung berlalu masuk ke dalam. Meski mereka sudah berada di dalam, tapi salah satu mereka belum kunjung mengatakan sepatah kata pun. Mereka masih menunggu asisten rumah Bara membawakan pesanan tadi.

__ADS_1


TOKK TOKK TOKK


"Masuk!" Ucap Bara dari dalam.


Asisten rumah tadi membawa pesanan mereka, setelah meletakkannya di atas meja, asisten itu langsung pamit undur diri.


Setelah asisten rumah itu keluar, Bara langsung mengunci pintu dan menghidupkan mode peredam suara di ruangannya.


"Katakan!" Desak Bara. Dia sungguh penasaran dengan apa yang ingin dikatakan dua sahabat baiknya itu. Sebenarnya, ada kejadian apa yang tidak dia ketahui.


"Apa kau tahu siapa pelaku yang menabrak kau dan Embun?" Tanya Rey to the point.


"Tidak. Aku baru saja mau meminta bantuan kalian untuk mencari tahu, tapi sepertinya kalian sudah lebih dulu mengetahuinya."


"Ya. Kami sangat terluka saat melihat keadaanmu saat itu. Jadi, kami langsung mencari tahu siapa pelakunya." papar Rey apa adanya.


"Lalu, siapa pelakunya?" Tanya Bara yang sudah tak sabaran ingin tahu pelakunya dan langsung memberikan hukuman yang setimpal pada orang itu karena sudah sangat berani berurusan dengan keluarga Wirastama. Bahkan, sampai mengancam kedua anak kembarnya itu.


"Dia, Pras!" Ungkap Rey.


Bara mengerutkan keningnya karena merasa tidak mengenali siapa itu Pras. Namun, itu adalah sebuah kewajaran menurutnya. Mana mungkin dia mengenal seorang penjahat yang membahayakan dirinya dan keluarganya.


"Siapa itu, Pras?" Tanyanya dengan wajah datar. Mendengar pertanyaan aneh Bara. Kini giliran Rey yang mengerutkan keningnya.


Sedangkan Daniel, mengerti kenapa Bara tak mengenal Pras.


"Kau tidak mengenalnya?" Tanya Rey lagi yang belum menyurutkan wajah herannya.


Bara menggeleng tanpa dosa. Memantapkan jawabannya, kalau dia memang tak mengenal seseorang yang bernama Pras.


"Aduh, Bara! Dasar kau menantu durhaka. Dia itu mertua kita!" Tukas Rey. Kemudian sadar dengan ucapan tak wajarnya, dia langsung membekap mulutnya sendiri. "Maksudku, dia itu mertuamu." Imbuhnya yang membenarkan ucapannya tadi.


Bara membelalakkan matanya mendengar itu. "Ayahnya, Jingga?" Tanyanya lirih.


JANGAN LUPA TAP LIKE, BERIKAN KOMENTAR, SERTA GIFT DAN VOTE. GRATIS' LOH!!


FOLLOW AKUN AUTHOR DAN BERIKAN RATE 5 YA. TERIMA KASIH UNTUK SEMUA DUKUNGAN DARI KALIAN. KARENA SEKECIL APAPUN DUKUNGAN DARI KALIAN, MEMBUAT AUTHOR TAMBAH SEMANGAT 💪

__ADS_1


LOVE-LOVE DI UDARA ❤️❤️❤️🤭


__ADS_2