
"Terima kasih karena sudah mau menerima orang asing yang jahat sepertiku. Aku terharu, kau malah membalas semua perlakuan burukku dengan semua kebaikan." Air mata Amanda menetes, dia benar-benar malu terhadap dirinya.
"Dan terima kasih untuk semua makanan tadi, Rena. Terima kasih sudah mau menjadi teman baikku, pendengarku dan kamu tidak mencelaku sedikitpun yang membuat aku patah semangat. Dan sekarang, kamu juga memberikan rumah untukku dan anakku tinggal. Tidak membiarkan kami luntang-lantung di jalanan." Amanda tak henti-hentinya mengucapkan banyak kata terima kasih kepada Rena yang telah dianggapnya sebagai malaikat penolongnya.
"Sudah, sudah. Tidak perlu mengucapkan banyak terima kasih seperti itu. Aku hanya menjalani apa yang seharusnya dilakukan sesama manusia. Membantumu itu memang tugasku selama aku mampu," sahut Rena.
Amanda masih menyungging senyum. Senyum kebahagiaan dan terharu karena Rena berkenan menolongnya. Padahal, bisa dikatakan mereka bukanlah siapa-siapa. Tak ada ikatan persaudaraan ataupun kenalan. Mungkin, bisa dikatakan sebenarnya mereka adalah musuh.
"Sekarang aku akan mengantarmu ke toko. Setelah itu aku harus pergi. Kamu banyak-banyaklah istirahat. Tidak perlu mengerjakan apapun, hanya perlu menjaga calon anakmu dengan baik dan memastikannya agar tetap sehat," cecar Rena membuat Amanda kembali terharu. Merasa sangat diperhatikan oleh orang terdekatnya.
"Kau cocok menjadi figur seorang ibu," jawab Amanda dan keduanya pun terkekeh.
Setelah membayar semua makanan tadi, Rena dan Amanda keluar dan menunggu taxi yang lewat. Tak perlu menunggu lama, ada sebuah taxi yang melintas dan langsung mereka naiki.
"Rena, aku malu...." ucap Amanda sembari *******-***** tangannya. Terlihat kalau dia sedang gugup dan takut.
"Malu? Kenapa?" tanya Rena heran.
"Saat itu, pegawai tokomu semuanya melihat aksiku. Namun sekarang, kamu membawaku untuk tinggal di sana. Aku takut mereka mengataiku tak tahu malu dan mengolok-olokku," akunya dengan kepala tertunduk lesu.
"Amanda, mereka tidak berhak menghakimi orang lain. Kamu tenang saja, mereka tidak akan melakukan hal itu. Mereka semua orang yang baik," ucap Rena berusaha menghilangkan kegusaran pada Amanda.
Rena cukup mengerti, kekhawatiran dan kecemasan berlebihan pada Ibu hamil, dapat berpengaruh pada bayi dalam kandungannya. Jadi, dia tidak ingin bayi yang belum sempat melihat dunia itu terjadi sesuatu hanya karena merasa cemas dengan hal-hal yang belum tentu terjadi.
"Kamu yakin, mereka tidak akan melakukan itu?" tanya Amanda memastikan, dia mengintip sedikit wajah Rena yang ternyata sedang tersenyum padanya. Tingkahnya seperti anak kecil.
"Tentu tidak akan terjadi. Aku menjamin itu!" Rena mengangkat dua jarinya ke udara, menandakan ia sedang membuat janji.
Amanda terkekeh pelan. Dia memukul jari Rena yang masih mengambang di udara.
"Aw, apa-apaan kau ini?" pekik Rena sambil meniup-niup jarinya yang terasa sakit.
"Kau seperti anak kecil. Sedang berjanji pada temanmu untuk main bersama?" ejek Amanda.
Rena terhenti dari kegiatannya tiup meniup. Dia baru menyadari kalau mengangkat jarinya untuk membuat janji memang sangat kekanakan.
Aku ingat, Ibunya Om Rey juga pernah mengatakan aku sangat kekanakan
Rena tersenyum sambil melihat dua jarinya tadi. Dan hal itu ditangkap oleh Amanda.
"Tadi masih bersikap kekanakan. Sekarang malah tidak waras," sindir Amanda.
"Ayo turun! Kita sudah sampai," sungut Rena yah segera turun dari taxi.
__ADS_1
Meski dalam keraguan untuk melangkah, Amanda tetap melangkahkan kakinya perlahan dan mengekor di belakang Rena. Kebetulan saat itu toko sedang senggang. Para pegawai toko sedang duduk mengistirahatkan tubuh mereka sambil bercanda ria.
Saat Rena masuk masuk, wajah mereka tampak biasa saja. Tapi, saat Amanda yang membuka pintu dan ikut masuk ke dalam toko, wajah mereka semuanya menegang.
"Kalian kenapa?" tanya Rena setelah memperhatikan wajah para pegawainya yang tak biasa.
"Rena, wanita itu--" salah satu pegawai Rena menunjuk ke arah Amanda.
"Dia Amanda. Mulai sekarang dia akan tinggal bersama kita, tinggal di kamar atas," sela Rena memotong ucapan pegawainya.
Ucapan Rena membuat para pegawainya langsung menoleh ke arahnya dengan mata membulat.
"Apa?" pekik mereka kompak.
"Yang benar saja?" seru mereka lagi.
"Benar. Kenapa?" tanya Rena santai.
"Tapi, dia...."
"Dia temanku. Dan sekarang, dia juga sudah menjadi teman kalian," sambung Rena. Selalu memotong ucapan pegawainya. Seperti sedang melindungi Amanda dari perkataan ketus teman-temannya itu. Dia juga merasa takut kalau Amanda akan merasa tersinggung perasaannya.
"Ha-hay?" Amanda melambaikan tangannya sambil tersenyum kikuk pada teman-teman barunya itu.
"Kalian bantu dia untuk naik ke atas, ya. Aku harus pergi sekarang!" ucapnya yang menatap semua para pegawainya yang sudah dianggap sebagai teman.
Mereka semua kompak mengangguk.
"Amanda, aku pergi dulu. Nanti aku akan membelikan beberapa pasang baju ibu hamil untukmu. Kalau butuh sesuatu, minta saja pada mereka. Jangan merasa takut atau sungkan," terang Rena.
Setelah mendapat anggukan, Rena pun pergi dengan taxi yang tadi.
Setelah dia sampai di butik, Embun dan Belle sudah duduk menunggunya.
"Rena, kenapa lama sekali?" tanya Belle kesal.
"Maaf, tadi aku mengurus sesuatu yang mendesak. Kalian kan sudah di sini, kenapa tidak langsung pilih gaun saja?"
"Bagaimana mungkin! Kau sudah berjanji untuk menemaniku. Aku tetap menunggumu walaupun sampai besok kau belum datang!" sungut Belle.
Rena terkekeh. Dia memang sudah hafal dengan sikap Belle yang akan selalu menagih janji.
"Kalau begitu, sepulang kira dari sini kalian juga harus menemaniku ke mall. Aku ingin beli banyak baju untuk ibu hamil," terang Rena.
__ADS_1
"Baju ibu hamil? Untuk siapa, Rena? Apakah kau sudah mendahului aku dengan mengandung anak Kak Rey?" Belle langsung merapatkan duduknya pada Rena dan mengelus perut Rena yang masih terlihat rata.
Rena menepis tangan Belle.
"Geli! Bukan untukku. Tapi untuk temanku," jawabnya.
"Kalau begitu aku ikut tenang dengan jawabanmu. Jangan sampai kau berbuat yang tidak-tidak sebelum menikah," sambung Embun.
"Kak, apakah temanku boleh tinggal di kamar toko kita?" tanya Rena sembari menatap Embun dan Belle bergantian.
Embun dan Belle kompak menatap Rena sambil menautkan alis. Merasa mengerti, dia buru-buru menjelaskan.
"Dia sedang hamil, Kak. Pacarnya tidak mau bertanggung jawab dan keluarganya juga sudah membuangnya. Dia tidak punya uang dan tempat tinggal, aku kasihan padanya."
"Ya sudah. Lagipula kamar itu juga kosong. Kalau bisa minta seseorang untuk tinggal menemaninya karena dia sedang hamil. Kalau terjadi sesuatu, ada yang menemaninya dan ada yang memberi kabar padamu," saran Embun.
Rena mengangguk, dia sangat menyetujui saran Embun. Mereka mulai melihat referensi dan memilih model gaun yang akan dikenakan Belle nanti saat acara pernikahan Belle dan Daniel.
"Yang ini bagus, bagaimana menurut kalian?"
"Ya, itu terlihat sangat bagus jika kamu yang mengenakannya," sahut Rena sambil mengangguk.
"Ya. Tapi aku ingin bagian lehernya dirubah menjadi V-neck."
Setelah sang desainer membuat rancangan yang pas untuk Belle, mereka menuju tujuan selanjutnya. Yaitu mall. Seperti permintaan Rena tadi.
"Rena, dia orang yang seperti apa? Tinggi atau pendek?" tanya Belle sambil memilah-milah deretan baju ibu hamil, membantu Rena.
"Dia tinggi, kamu pilih saja yang banyak. Sekarang dia tidak memiliki satupun baju untuk dipakai," sahut Rena yang juga sedang memilih.
"Nanti ambil saja baju-baju milikku dulu, mungkin saja bisa dia gunakan untuk selang-seling," sambar Embun.
"Rena! Kak Embun! Coba lihat, ini bagus tidak?" Belle menunjukkan sebuah gaun berwarna navy yang terlihat cocok untuk Ibu hamil.
"Belle, kamu sedang memilih untuk dirimu sendiri? Ingin mengumpulkan untuk persiapan kamu hamil nanti?" seloroh Embun.
"Siapa bilang?" bantahnya. "Ini juga untuk temannya Rena, Kak. Aku akan membelikan ini untuknya. Agar dia bisa menghadiri pesta pernikahanku juga nanti," imbuhnya.
Rena terkejut.
"Kamu mau mengundangnya juga?"
Dukung Karya ini dengan berikan like, komentar, gift dan vote sebanyak-banyaknya. Berikan juga rate 5 ya guys ❤️❤️❤️
__ADS_1
Terima kasih untuk setiap dukungan yang kalian berikan untuk author ❤️❤️❤️