
Embun memeluk surat yang masih digenggam eratnya itu. Dari setetes air mata yang keluar, dia malah menjadi terisak pelan. Saat-saat kecelakaan itu kembali berputar di kepalanya. Seperti ia sedang memutar sebuah Vidio. Teringat jelas, bagaimana Bara menyelamatkannya, mempertaruhkan nyawanya sendiri demi Embun dan anak-anaknya. Meskipun dia mendorong Embun, tapi itu adalah caranya menyelamatkan wanita yang sedang mengandung itu. Dan sekarang, anak-anaknya sudah berada dalam pelukannya. Hanya Bara saja yang belum hadir di sana, menerbitkan senyum kebahagiaan atas kelahiran buah hati mereka.
"Belle, bawa aku ke ruangan Bara." Pinta Embun yang menggoyang-goyangkan lengan Belle.
"Besok saja, Kak. Kamu belum pulih." Belle menolak karena dia juga merasa khawatir dengan kondisi Embun. Dia baru saja sadar, bagaimana mungkin langsung membawanya bergigi saja.
"Ku mohon ... bawalah aku menemuinya!" Embun mengatupkan dua tangannya di depan wajahnya. Memohon pada mereka agar membawanya pada Bara.
"Kak...." Sebenarnya Belle tak kuasa menahan gemuruh di dadanya. Dia begitu kasihan melihat embun yang mengiba padanya. Tapi, apa yang bisa dilakukannya.
"Sebentar. Biar aku tanyakan pada Dokter terlebih dahulu." Sahut Rey, dia juga tentu tak tega melihat hal yang seperti itu.
Mereka setuju. Rey langsung menemui Dokter Livina yang kebetulan sedang berada di ruangannya. Dan ternyata, jawaban Dokter Livina membuat mereka semua senang dan tenang.
"Bagaimana, Kak Rey?" Tanya Belle setelah Rey kembali.
"Boleh. Tapi Embun harus duduk di kursi roda. Aku juga sudah bertanya tentang bayinya, tidak apa-apa kalau kita mau membawanya ke sana." Seru Rey membuat mata Embun tambah berbinar.
Sebenarnya, dia juga menginginkan bayinya dibawa ke sana. Namun, karena bayinya masih terlalu kecil jadi dia takut karena masih rawan. Jadi, untuk sekarang dia hanya meminta dirinya yang bertemu Bara. Tapi, keajaiban pun datang.
Mereka mulai mendorong kursi roda Embun. Belle dan Rey menggendong bayi mungil itu, Rena mendorong kursi roda Embun dan Daniel hanya berjalan sambil memperhatikan Belle saja.
Setelah sampai di ruangan Bara, Embun terenyuh. Yang dilihat itu bukan seperti Bara yang biasanya menyebalkan, yang biasanya selalu memerintah dan bersikap ingin melindungi dirinya dan bayi dalam kandungannya. Sekarang ia tampak lemah, wajahnya yang pucat tak lagi memancarkan aura menyebalkan. Tubuhnya yang terbaring dengan banyaknya selang yang terpasang, terlihat tak mampu lagi melindungi Embun dan anak-anaknya.
Embun menjalankan kursi rodanya sendiri. Dia mendekati Bara dan menggenggam tangan pria itu, Embun menghela nafas lega karena masih merasakan kehangatan tangan Bara. Merasa masih punya kesempatan untuk bertemu dan bertatap mata lagi dengan pria yang pernah ia benci itu. Namun, setelah Bara melakukan perannya sebagai Ayah kemarin, hatinya menjadi tersentuh dan seperti ada tangan besar yang menarik paksa akar-akar rasa benci itu dari hati dan pikirannya.
__ADS_1
Embun menciumi tangan yang sedang digenggamnya. Air matanya kembali menetes, dia tidak bisa memungkiri, dia memang turut menyalahkan dirinya sendiri juga atas peristiwa ini. Karena keegoisannya, karena kekanak-kanakannya, membuat orang lain celaka.
"Bara...." Embun berbisik pelan sambil menahan air matanya yang terus-menerus mengalir tanpa mau berhenti. "Kenapa kamu masih betah dengan tidurmu?" Dia menghentikan kalimatnya dan mengambil nafas dalam-dalam.
"Ayo bangun. Kamu sudah berjanji ingin melihat mereka tumbuh. Sekarang, kamu tak perlu lagi melihat dari kejauhan. Karena, kita akan pulang bersama, kita bisa melihat kapan mereka mulai tumbuh gigi, mulai berjalan dan kita bisa mendengar kapan mereka bisa memanggilmu dengan sebutan Papa? Kamu tak ingin itu?" Embun kembali menciumi tangan kekar itu.
"Belle, bawa mereka ke sini!" Pinta Embun. Kemudian dia mengambil bayi yang di tangan Rey.
"Kamu lihat, anak kita sudah lahir. Anak kita laki-laki dan perempuan. Lihat yang perempuan ini, wajahnya sangat mirip denganmu. Kamu tidak ingin menggendong mereka?" Tanyanya dengan suara pelan sambil memperlihatkan wajah bayi yang berada dalam gendongannya.
Anak Embun memang sepasang. Laki-laki dan perempuan. Dan yang lebih dulu lahir adalah yang perempuan, berarti adiknya yang laki-laki.
Seolah mengerti perasaan Ibunya yang sedang mengalami gundah dan takut. Dua bayi itu pun langsung menangis kencang bersamaan. Mereka seperti ingin memberitahukan kehadiran mereka pada Ayahnya yang tengah terbaring di ranjang sempit itu.
Dua bayi mungil itu terus saja menangis dan sangat sulit di tenangkan. Saat dua bayi kecil itu masih menangis, tiba-tiba tubuh Bara seperti bereaksi. Tubuhnya seperti kejang-kejang tapi matanya masih tetap terpejam.
Melihat keadaan Bara yang seperti itu Embun terus-terusan saja menangis. Dia merasa panik, dan dua bayi mungil itu langsung diambil oleh para suster yang sebelumnya menangani mereka. Mereka berusaha memberikan susu formula dikarenakan Embun memang belum mempunyai Asi yang cukup untuk keduanya. Walaupun mempunyai ASI yang cukup, Embun tidak bisa memberikan ASI-nya kepada kedua bayinya dalam keadaan sambil menangis begitu. Dia berusaha memeluk Bara. Dalam keadaan lemah ia berusaha berlari ke arah Bara, tetapi kursi roda yang diduduki embun langsung ditarik keluar oleh para suster agar mereka lebih fokus menangani Bara.
Rey, Daniel, Bella dan Rena memang sudah berada diluar. Mereka langsung keluar setelah para Dokter masuk ke ruangan itu.
Daniel mengepalkan tangannya karena dia tidak bisa menahan emosinya melihat kondisi Bara yang memprihatinkan seperti itu. Dia sangat menyayangi Bara sebagai sahabatnya.
"Rey sepertinya aku harus cepat-cepat menemukan orang yang menabrak Bara. aku harus membuatnya merasakan kehancuran. Paling tidak menjebloskannya ke penjara seumur hidup." Geram Daniel.
"Ya. Dia harus mendekam dan membusuk di penjara." Sahut Rey.
__ADS_1
Mata Rena terbelalak mendengar percakapan Daniel dan Rey. Belle hanya menangis saja melihat keadaan Bara yang seperti itu. Kedua bayi itu sudah dibawa kembali ke ruangannya.
Apa aku harus mengatakannya pada mereka? Kalau aku tidak mengatakannya pun, dengan bukti yang kuat di tangan mereka, mereka pasti akan sangat mudah menemukannya.
Lagi pula, dia sudah sangat keterlaluan, mencelakai Anaknya sendiri.
Jika tidak ditindaklanjuti sekarang, mungkin akan ada hari lain di mana Kak Embun akan kembali celaka. Aku harus mengatakannya.
Setelah menimbang-nimbang, Rena telah mengambil keputusan. Benar kata Rey, dia harus membalas kebaikan Embun.
"Telepon Eson sekarang. Minta dia untuk segera menyelidiki laki-laki yang menabrak Bara." Usul Rey.
Daniel mengangguk setuju. Dia sudah mengambil ponselnya bermaksud ingin menghubungi Eson. Namun, secepat kilat Rena menghentikannya.
"Jangan! Tidak perlu menghubungi Eson!" Cegah Rena membuat Rey dan Daniel saling pandang dan melihat Rena dengan tatapan tak mengerti.
"Apa maksudmu, Rena?" Tanya Rey.
"Karena aku tahu siapa laki-laki yang mengemudikan mobil untuk menabrak Kak Bara itu." Ucapnya gugup sambil menunduk.
"Siapa? Cepet katakan!" Tanya Daniel tak sabaran.
"Di-dia adalah Pras. Ayak kami, Ayah kandung Kak Embun!" Akunya. Akhirnya keluar juga pengakuan itu.
"Apa?" Pekik Embun yang kaget karena mendengar siapa yang telah sampai hati menabraknya.
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan jejak like, berikan komentar, berikan gift dan vote. Agar author tambah semangat ❤️❤️❤️❤️