
Tanpa menjawab, Rena dan Ibunya Rey berjalan masuk ke dalam cafe itu. Mereka langsung menuju sebuah meja yang sepertinya sudah dipesan duluan.
Namun, wajah Rena berubah pias kala mereka telah tiba di meja yang dituju. Di sana terdapat Rey, Ayahnya dan juga Amanda yang sedang duduk menunggu kedatangan mereka.
Ibunya Rey sudah duduk di kursinya, namun Rena masih saja berdiri diam terpaku di tempatnya. Membuat Amanda menyunggingkan senyum miringnya.
"Rey, terima kasih sudah mengundangku untuk makan bersama keluarga kalian," ucap Amanda sambil mengelus bahu Rey dengan manja, sengaja ingin memperlihatkan pada Rena kalau hubungannya dengan Rey semakin membaik.
"Kapan aku mengundangmu? Bukankah kamu sendiri yang da-"
"Ah Rey, kamu pasti malu, kan? Sudahlah jangan dibahas lagi," sela Amanda yang langsung memotong ucapan Rey. Tidak mau kebohongannya terbongkar, kalau dialah yang datang sendiri tanpa diajak.
Ibu Rey tak mempedulikan obrolan tak penting mereka. Dia melihat Rena masih saja terdiam di tempatnya.
"Rena, kenapa masih berdiri di sana? Sini, duduk di sini." Ibunya mengetuk kursi di sampingnya agar Rena mengikuti arahannya.
Menyunggingkan sedikit senyuman canggung, Rena mengikuti permintaan Ibunya Rey dan duduk di samping wanita itu.
"Tante, Tante terlihat semakin cantik saja, ya?" ucap Amanda basa-basi. Tapi, tujuannya yang sebenarnya adalah untuk menunjukkan pada Rena seberapa dekat hubungannya dengan keluarga Rey.
"Terima kasih. Kamu juga semakin cantik." pujian yang dilontarkan Ibunda Rey membuat Amanda terbang. Dia tersenyum malu-malu sambil menutup mulutnya.
Kau lihat Rena? Kau bukan tandinganku. Bahkan Ibunya berada dipihakku.
"Selama ini kamu ke mana saja, Amanda? Lama tidak pernah melihatmu lagi. Tante pikir kamu malah sudah menikah dan punya anak. Ternyata, masih belum ya?" seru Ibunya Rey.
Perkataan Ibunda Rey membuat wajah Amanda menegang karena malu. Senyuman yang tadinya merekah sempurna, kini perlahan lenyap terhempas ke dasar bumi.
"Ah? Hahaha belum, Tante. Aku masih menunggu Rey untuk menikah. Tapi ternyata Rey sudah punya kekasih lain. Kupikir, Rey akan setia padaku," ucapnya, entah dari mana datangnya, air matanya pun ikut menetes.
Ibunya Rey tersenyum menanggapi ocehan Amanda.
"Tante juga tidak menduga, setelah kepergian kamu Rey bisa menjadi seperti orang gila," tutur Ibunya Rey, membuat wajah Amanda kembali masam.
__ADS_1
"Karena dia bertingkah seperti itu, Ibu segera memintanya untuk mencari gadis lain," imbuhnya membuat wajah Amanda bertanggungjawab masam.
"Hem? Ternyata Tante ya yang memintanya? Sebenarnya aku sih tidak apa-apa. Asalkan Tante bisa merestuinya," celetuk Amanda, dia mengira kalau Ibunya Rey tidak suka dengan keberadaan Rena.
"Asalkan itu yang terbaik untuk Rey, Tante pasti merestuinya. Seperti Rena ini, dia gadis yang sangat manis. Namun sangat disayangkan, dia malah meminta Rey menjauh karena katanya ada seorang wanita yang mendatanginya tempo hari," ucap Ibunya Rey.
"Oh ya?" Amanda pura-pura tak paham.
Mendengar obrolan mereka, Rena jadi merasa percaya dengan pengakuan Rey tempo hari. Namun, jika untuk kembali membuka hatinya, dia masih merasa belum siap.
"Pesanan datang...." ucap seorang pramusaji di meja mereka. Datang sambil membawa banyak makanan.
Amanda mengambil beberapa jenis makanan dan menaruhnya di piring Rey, Rey hanya menerima itu dengan wajah datarnya. Tak merespon apapun.
"Rena, makan yang banyak, ya? Setelah banyak menguras tenaga, pasti harus kembali diisi," ujar Ibunya Rey sambil meletakkan beberapa jenis makanan di piring Rena.
"Terima kasih, Bu." Rena tersenyum senang. Dia benar-benar diperlakukan dengan baik oleh wanita yang telah menganggapnya anak.
Rey memperhatikan mereka dengan mendengus nafas kesal. Bagaimana bisa dia merasa tidak dipedulikan seperti ini. Namun, ada kesenangan juga dalam dirinya, karena Ibunya belaku baik seperti itu pada Rena, bukan pada Amanda.
Melihat kelakuannya, mereka semua terdiam.
"Amanda, Ibu tidak bisa memakan itu, kolesterol Ibu tinggi!" ucap Rey berdecak.
^^^Memang sangat menyusahkan! batinnya.^^^
"Maaf, Tante. Amanda tidak tahu," akunya dengan wajah memelas.
"Tidak apa-apa."
Ibunya Rey mengangkat tangannya, memanggil pelayan cafe.
"Ada yang bisa kami bantu, Nyonya?"
__ADS_1
"Tolong gantikan piringku dengan yang baru," titahnya dengan wajah datar. Tidak sekalipun dia melihat ke arah Amanda yang sudah mendadak gagu, merasa malu diperlakukan seperti itu.
"Baik, Nyonya. Mohon untuk menunggu sebentar." pelayan itu segera mengambil piring yang baru dan menukarnya.
Amanda mengepalkan tangannya dan menggemeretakkan giginya. Kenapa dia harus diperlakukan seperti itu. Apalagi di depan Rena! Dia sungguh tidak terima dengan semua perlakuan mereka.
Bukankah itu sudah terlalu jelas, keluarga Rey menolak keras kehadirannya di tengah-tengah mereka. Lalu, kenapa tidak mengatakannya dengan terus terang. Kenapa masih menerimanya untuk makan bersama dan dengan sengaja mempermalukannya.
Padahal, sikap tak tahu malunya lah yang membawa dia untuk datang. Rey sudah mati-matian untuk menolak kedatangannya. Namun, dia berusaha meyakinkan laki-laki itu dengan alibi kalau Ibunya Rey pasti sangat merindukan dirinya. Dengan alasan klise itulah, Rey membiarkan dia bergabung bersama mereka yang sebenarnya benci padanya.
Amanda terus-terusan menatap Rena dengan tatapan tajam. Namun Rena tak sekalipun menatap ke arahnya, Rena terlihat makan dengan tenang. Membuat darah Amanda naik.
Kenapa wanita seperti dia bisa diterima oleh mereka? Dan aku? Diusir secara halus. Aku tidak bisa membiarkan ini semua. Seharusnya dialah yang pergi, bukan aku.
"Wah Rena, kelihatannya kamu sangar lahap ya? Makan yang kenyang ya. Pasti kamu jarang bisa makan enak seperti ini, kan?" entah apa maksud dari ucapan Amanda, entah sindiran atau memang nasihat untuk Rena.
Rena mendongak, menatap Amanda yang tengah melihatnya dengan tatapan merendahkan.
"Ya. Tapi untungnya sekarang aku sudah mulai bosan dengan makanan seperti ini," jawabnya santai.
"Kenapa? Apa karena terlalu mahal untukmu?" tanya Amanda sengaja dengan menyipitkan matanya, namun senyuman merendahkan itu belum juga hilang.
"Tidak. Mungkin karena aku sudah terlalu sering mencobanya," jawabnya sambil kembali menyunggingkan senyum. Jika dilihat sekilas, senyuman Rena memang terlihat seperti senyuman ramah. Namun Amanda tahu jelas, Rena sedang membalasnya secara halus.
Amanda juga ikut tersenyum.
"Oh, kamu sangat beruntung. Sejak mengenal Rey, kamu sering mencoba makanan mewah," sindir Amanda. Seolah-olah sedang mengatakan kalau Rena hanya bisa mengandalkan Rey.
"Sepertinya kamu salah paham. Aku bekerja, dan itu aku gunakan untuk diriku sendiri. Tidak seperti wanita lain, yang hanya bisa mengandalkan laki-laki untuk menuruti semua keinginannya," sela Rena. Kini tak ada lagi senyuman di wajahnya. Jika harus berperang sekarang, dia sudah merasa siap.
"Rena, terkadang kita harus menjaga mulut sendiri agar tak menimbulkan masalah," ucap Amanda sambil tersenyum manis.
"Lalu?" tanya Rena dengan mengangkat sebelah alisnya.
__ADS_1
"Kamu pasti tahu kan istilah mulutmu harimaumu?"
"Tentu aku tahu. Tapi, kamu juga tahu kan sebuah sikap yang ceroboh dapat membuatmu mati dalam sekejap!" balas Rena.