
"Bara?" Kata itu juga lulus terucap dari mulut Embun yang hendak membuka pintu. Karena suaranya yang keras, mengalihkan perhatian Bara padanya.
"Jingga?" Bara berucap pelan saat melihat kehadiran Embun. Jarak mereka hanya terkikis oleh sebuah pintu kaca penghalang. Tubuh mereka seperti membeku dan berdiri di tempat, sementara saling bertukar pandang.
Lari, Embun. Kau harus segera melarikan diri dan menghindarinya!
Entah dapat bisikan dari mana, Embun akhirnya tersadar. Dia menyudahi aksi saling tatap itu dan langsung masuk ke dalam taksi yang tadi dia naiki. Entah keberuntungannya atau hanya kebetulan, taxi itu belum pergi setelah menurunkan Embun.
"Pak, cepat jalan!" Seru Embun buru-buru, mengagetkan sang supir yang sedang menghitung uang itu.
"Tidak jadi turun di sini, Nona?"
"Cepat jalan saja, Pak!" Embun sudah setengah berteriak. Dia kembali melihat ke arah Bara yang berusaha mengejarnya. Hampir saja Bara mau membuka pintu mobil, tapi taxi itu sudah jalan.
"Untung saja!" Embun menghela nafas lega dan menggosok dadanya, dia mengatur nafas karena merasa kelelahan.
"Sial! Hampir saja aku bertemu denganmu, Jingga!" Bara begitu kesal sampai-sampai dia meninju udara.
"Tuan, ayo kita kejar!" Ajak Bram yang sedari tadi hanya melihat pergerakan Tuannya.
"Tidak perlu. Dia memang tidak ingin bertemu denganku. Ayo kita kembali." Sahut Bara.
Rena juga melihat kejadian tadi. Dia hanya berdiri termangu di depan pintu toko. Bara yang melihat Renatermenung pun menghampirinya.
"Rena, apakah Jingga ada mengatakan sesuatu?" Tanya Bara yang berusaha mengorek informasi dari Rena.
"Maaf, Kak. Aku tidak mengetahui apa pun. Kak Embun tidak pernah menceritakan masalah pribadinya pada orang lain." Jawab Rena jujur.
"Benarkah? Dan apakah dia juga tidak pernah menceritakan hal-hal yang menyakitinya selama ini?" Selidik Bara lagi.
Rena menggeleng, "Kak Embun selalu mengatakan kalau kamu sangat baik padanya. Tapi, aku tahu kalau dia berbohong. Dia hanya tidak mau menceritakan sesuatu, yang dianggapnya sebagai aib. Tidak mungkin kamu baik padanya, sedangkan kamu saja bermain gila di luar sana!" Tandas Rena dengan wajah kesalnya. Baru kali inilah dia bisa melampiaskan rasa kecewanya pada orang yang bersangkutan langsung.
"Rena...?"
"Sudahlah, Kak. Aku sudah menganggap kamu sebagai Kakakku. Di rahim Kakakku sekarang sedang tumbuh anakmu. Tapi, jika kamu tidak bisa menghargai keberadaan mereka, kamu bisa melepaskan mereka." Ketus Rena. Dia langsung berbalik dan kembali masuk ke dalam.
Dengan langkah lunglai, Bara masuk ke dalam mobilnya yang sudah menunggu di depan pintu.
__ADS_1
"Ke Rex Club!" Titahnya. Tanpa mau menyela, Bram langsung mengemudikan mobilnya ke arah yang dipinta oleh Bosnya.
Dia masuk ke ruangan Daniel. Hanya Daniel yang berada di sana sambil membaca berkas-berkas laporan. Karena Rey masih banyak sekali pekerjaan di kantornya.
"Ada apa? Kenapa wajahmu begitu kusut?" Ucap Daniel yang melihat Bara hanya sekilas.
"Aku sudah bertemu dengan Jingga." Ucapnya.
"Lalu? Kenapa kau kelihatan tidak senang?"
"Jingga berusaha menghindariku. Dia melarikan diri saat melihatku." Sahut Bara yang tampak pasrah.
"Kau tahu itu apa?" Daniel menutup berkas-berkas laporannya dan berjalan menuju sofa, tempat Bara duduk.
Bara tidak menjawab, dia hanya bertanya lewat tatapannya saja. Daniel tentu saja mengerti arti tatapan itu. Dia tersenyum menyeringai dan menjelaskan,
"Itu semua adalah pembalasan untukmu." Celetuknya tanpa memikirkan perasaan Bara.
"Hufft...." Bara menghembuskan nafas kasar. "Aku sudah tahu, semua orang mengatakan itu. Tapi, apakah kamu, sebagai sahabatku tidak bisa mengatakan sesuatu yang lebih baik?" Bara terlihat pasrah dengan perkataan dari Daniel. Karena, secara tak langsung dia juga membenarkan itu.
"Aku ada saran untukmu." Daniel menjentikkan jarinya setelah beberapa saat berpikir.
"Daniel! Bisakah kau serius sedikit? Jingga sedang mengandung anakku, bahkan dia mengandung bayi kembar. Bagaimana bisa aku meninggalkan mereka dan menikah dengan orang lain?"
"Hahaha. Aku hanya bercanda saja,"
"Menurutku, kau tidak perlu menampakkan dirimu dulu untuk sementara waktu. Kau lebih baik melihatnya dari kejauhan untuk sekarang ini. Karena, sekuat apa pun kau berusaha untuk menemuinya, dia tidak akan pernah mau untuk bertemu denganmu. Yang ada, kalau kau terlalu memaksa, dia akan semakin membencimu." Jelas Daniel panjang lebar.
"Kau memang benar. Terima kasih atas saranmu."
"Yang terpenting, kau harus menjaganya dari bahaya, terutama dari orang yang bernama Audrey." Ucap Daniel memperingatkan, karena sebenarnya dia juga sedikit khawatir kalau Audrey sudah bertindak. Karena bisa dikatakan, Audrey adalah wanita gila, dia bisa melakukan apa saja untuk mewujudkan keinginannya.
*******
Sementara itu, di toko, Embun yang tadi melarikan diri dari pandangan Bara, kini sudah kembali lagi ke toko. Sebelum turun dari taxi, dia sudah menghubungi Rena untuk memastikan keadaan. Setelah Rena mengatakan kalau Bara sudah pergi sedari tadi, barulah dia tenang dan turun dari taxi. Tapi tetap dengan kewaspadaan yang tinggi.
"Kak, kamu tidak apa-apa, kan?" Rena langsung berhambur ke pelukan Rena.
__ADS_1
"Aku tidak apa-apa. Rena, kenapa Bara bisa datang ke sini?" Gurat keheranan terlukis di wajah Embun.
"Dia mencarimu, Kak." Sahut Rena.
"Kak Bara datang ke sini?" Sambar Belle yang tiba-tiba sudah berdiri di dekat mereka.
Rena hanya mengangguk. Dia sebenarnya juga terkejut kenapa Bara bisa datang ke toko itu untuk mencari Embun.
"Bukankah dia pergi ke luar kota selama sebulan? Kenapa dia bisa datang ke sini hari ini?" Gumamnya
"Kak, Aku pergi ke kantor dulu, ya. Tidak apa-apa kan aku tidak membantu hari ini?"
"Tidak apa-apa. Kalau kamu ada keperluan lain yang lebih mendesak, maka pergilah." Ucap Embun.
Setelah kepergian Belle, Rena mengambil kursi lain dan duduk di depan Embun. Dia menatap Embun intens.
"Kak, sebenarnya apa yang terjadi antara kamu dan Kak Bara?" Tanya Rena yang membuat Embun terkejut, karena baru kali ini Rena menanyakan masalah pribadi yang tak pernah mau ia ceritakan.
"Rena, bisakah kita lupakan saja masalah ini?"
"Kak, selama ini aku memang tidak pernah bertanya padamu, tapi bukan karena aku tidak mau tahu. Aku hanya ingin menjaga perasaanmu. Tapi sekarang, aku tidak bisa berpura-pura tuli lagi."
"Rena...."
"Kenapa, Kak? Kamu tidak bersedia menceritakannya karena aku bukan adik kandungmu, iya kan?" Rena sudah berkaca-kaca.
"Bukan begitu, Rena. Kakak hanya tidak mau membenbanimu lagi dengan masalah yang tidak seharusnya kamu pikul. Kakak tahu, masalah di rumah sudah sangat membuatmu terpukul."
"Itu bukan sebuah alasan, Kak. Tolong, berbagi beban denganku. Anggap aku ini adikmu, Kak." Rena memeluk Embun sambil terisak.
"Maafkan Kakak, Rena. Baiklah, Kakak akan menceritakannya."
Embun mulai menceritakannya, tapi dia tidak mengatakan kalau awal semua ini adalah malam saat Embun mencari Rena di Rex Club. Karena, sudah terbayang oleh Embun, kalau Rena pasti akan menyalahkan dirinya sendiri.
"Sebenernya, dari mana kamu kenal dengan laki-laki itu, Kak?"
"Dari ... tidak sengaja tertabrak. Dan dia meminta pertanggung jawaban." Bohong Embun.
__ADS_1
"Kak, apakah kamu tidak ada niat untuk memaafkan Kak Bara? Sepertinya dia sudah menyadari kesalahannya. Demi anak ini, Kak. Kasihan mereka kalau harus hidup tanpa seorang Ayah." Meskipun Rena juga kecewa dengan sikap Bara, tapi dia melihat kalau Embun sepertinya masih menaruh hati pada suaminya itu.
Jangan lupa tinggalkan jejak like, komentar, gift dan vote. Berikan rate 5 dan tambahkan ke daftar favorit kamu ya ❤️❤️