
"Tugas kita belum selesai. Kita harus menemukan mayat mereka. Memastikan kalau mereka memang benar-benar sudah mati. lalu menghilangkan jejak agar bawahan Albert tidak dapat menemukan apa-apa." seru Bara yang dijawab anggukan kepala oleh Embun teman-temannya.
Menggunakan mobil milik Daniel, mereka menyusuri jalan menuju titik jatuh mobil Albert. Ternyata, di sana Eson dan bawahannya sudah menunggu di sana. Mereka semua turun ke dasar jurang yang sangat curam menggunakan sebuah helikopter milik Bara yang memang sudah dipersiapkan dari awal.
"Bara, apakah mereka akan mati? Terjatuh dari tebing tinggi yang sangat curam seperti ini, sepertinya tubuh mereka tidak akan bernyawa lagi." ucap Rey yang melihat ke arah bawah, yang terlihat hanya hijaunya daun-daunan.
"Maka dari itu, kita harus memastikannya sendiri. Bagaimanapun caranya, kita harus bisa menemukan tubuh mereka,"
"Jika dalam keadaan masih hidup, segera lenyapkan. Jika dalam keadaan tak bernyawa, kita bisa membawanya untuk dijadikan makanan hewan-hewan hutan Amazon." jawabnya santai.
"Bara, kenapa kamu jadi mengerikan seperti ini?" decak Embun tak habis pikir dengan ide gila Suaminya.
"Aku gila karena mereka juga gila. Bukankah ini semuanya ide darimu? Harus membalas dengan cara yang sama? Jadi, menurutku, karena kita tidak tahu cara apa yang mereka gunakan untuk menghilangkan jejak, kita hanya bisa menggunakan cara kita sendiri untuk membalas mereka." sahutnya sambi tersenyum manis, menampakkan sederet giginya di depan Istrinya itu.
Embun malah beegidik ngeri dan memalingkan mukanya. Dia malah menganggap senyuman Bara tadi adalah senyuman Evil.
Tak butuh waktu lama, helikopter mereka pun mendarat di tempat yang lumayan dekat dengan tempat mobil Albert jatuh. Daun-daunan yang mulanya diam, kini tersapu habis oleh angin kencang yang tercipta dari helikopter mereka.
"Kalian jaga-jaga sekitar sini. Jika melihat sesuatu yang mencurigakan, langsung ambil tindakan dan kabari kami lewat Handy Talkie ini." tegas Daniel menerangkan pada semua bawahan Bara yang berada di sana.
"Siap, Tuan." jawab mereka serempak.
Bara, Rey, Daniel, Embun dan dua orang bawahan mereka, memulai pencarian mereka. Dari tempat mereka berada saat ini, untuk menuju ke titik jatuhnya mobil Albert hanya membutuhkan waktunya lima menit jika ditempuh dengan berjalan kaki.
Kini mereka sudah berada di hadapan bangkai mobil Albert
"Dilihat dari bangkai mobilnya, seperti rusak parah." cetus Daniel sambil menendang-nendang body mobil itu.
"Kalian, coba periksa, apakah ada orang di dalamnya?" titah Bara.
Bawahan Bara langsung melakukan pekerjaannya. Mereka berusaha sekuat tenaga untuk melihat keadaan di dalam mobil itu. Namun, mereka tak menemukan siapapun di dalam.
"Tuan, tidak ada siapapun di dalam." lapor mereka pada Bara.
"Kalian sudah benar-benar memastikannya?" tanya Rey dengan wajah datar.
"Sudah, Tuan. Memang tidak ada siapapun di dalam." jawab yang satunya.
Bara melangkah dan berdiri di dekat pintu mobil itu, dia melihat ada titik-titik darah yang terjatuh di atas daun-daunan di sekitar mereka.
__ADS_1
"Sepertinya mereka berhasil keluar, tapi belum sempat melarikan diri." ucap Bara yang sudah berdiri di dekat Embun untuk bersiap siaga melindungi Istrinya itu. Takut kalau sewaktu-waktu akan ada serangan mendadak dari Albert, karena mereka sendiri pun belum tahu pasti bagaimana keadaan dua orang itu.
Kemudian Daniel melihat keadaan mobil Bara yang juga sudah hancur lebur. Terlihat seorang pria di dalamnya. Keadaannya sangat mengenaskan, badannya terkoyak-koyak, lehernya pun nyaris putus akibat terkena pecahan kaca. Tanpa rasa jijik sedikitpun pada tubuh yang telah bersimbah darah itu, dia melihat pria itu. Ternyata nyawanya juga sudah melayang. Terdapat bekas dua jari di pipi pria itu, seperti sudah lebih dulu dilihat oleh orang lain.
Daniel kembali bergabung dengan teman-temannya. Dia mengatakan apa yang telah dilihatnya itu. "Bara, sepertinya Albert sudah melihat hadiah besar dari kita." seru Daniel sambil tertawa.
"Sudahlah, Albert! Segera keluar dan kita selesaikan semuanya sekarang! Jangan buang-buang waktumu sendiri. Aku tahu, kamu sendiri mengerti dengan keadaan yang sedang kau hadapi. Jika kau tidak kunjung keluar, kami tidak keberatan kalau harus mengadakan kemah di sini, sepertinya menyenangkan." teriak Bara memancing Albert yang diduganya bersembunyi di sekitar mereka.
"Lagi pula, kau tidak akan bisa melarikan diri. tempat ini sudah kami kepung. Kecuali, malaikat maut yang membantumu, hahaha!" imbuh Rey sambil tertawa.
Tiba-tiba...
Wush...
"Jingga, awas!" pekik Bara yang duluan menangkap adegan pisau terbang yang memang diarahkan pada Embun.
Pisau itu sedikit menggores lengan Embun, setelah itu pisau tajam itu menancap disebuah batang pohon besar.
Meskipun merasa perih akibat luka itu, namun Embun tak meringis sedikitpun. Dia menahan rasa sakitnya sebisa mungkin agar Bara tidak merasa khawatir dalam keadaan seperti itu.
Melihat lengan Istrinya terluka dan mengeluarkan sedikit darah, Bara mengeraskan rahangnya, dia menyobek ujung bajunya dan langsung membalut luka Embun yang darahnya semakin banyak.
"Keluar kau, Albert! Sudah cukup kau menjadi pengecut dengan bersembunyi. Beraninya kau menyakiti Istriku dengan sengaja! Dasar bajinga*!" teriak Bara marah, matanya juga sudah mulai memerah karena kini emosinya benar-benar sedang memuncak.
Mereka langsung memicing matanya saat mendengar suara ranting patah. Lalu, sama-sama tersenyum smirk karena mengetahui kalau itu pasti Albert dan Deva.
DORR!!
Bara menembak ke arah pohon besar itu, mengenai daun yang berada dua centi dari kaki Albert. Spontan, Albert langsung mengangkat kakinya menjauh dari bekas tembakan Bara.
Karena sudah tak punya pilihan lain lagi, akhirnya dia dan Deva keluar bersamaan dari persembunyian mereka.
Jangan tanyakan lagi bagaimana kondisi mereka. keduanya sangat memprihatinkan, darah mengucur dari setiap bagian tubuh mereka. Dahi Deva terkoyak, membuat wajah putihnya berbuah menjadi merah.
Lengan Albert juga koyak, sebelah kakinya patah. Tapi, mereka masih terlihat sangat menantang.
"Hahaha! Dasar bocah tidak berbakti. Aku Pamanmu, tapi kau malah mencelakaiku." ucapnya mendelik menatap Bara tak suka. Baru kali ini dia menatap Bara seperti itu secara terang-terangan.
"Seharusnya kau sadar, orang tua. Aku melakukan hal seperti ini juga karena kau yang duluan membakarku." sahut Bara.
__ADS_1
"Ya. Tidak akan ada asap jika tak ada api." celetuk Rey membenarkan ucapan Bara.
"Kau wanita lemah, untuk apa kau datang ke sini?" sungut Deva kesal melihat Bara yang sangat perhatian pada Embun.
"Cih, tentu saja untuk membuatmu cemburu. Kemudian, menghabisimu. Lalu, apa lagi." jawaban Embun membuat Deva menjadi geram.
"Kau, ingin menghabisiku?" tanya Deva meremehkan. "Kau lihat, Tuhan masih sayang padaku, sudah jatuh dari atas sana dengan begitu tinggi, masih belum mati. Jadi kau, jangan terlalu percaya diri." sungutnya lagi sambil menahan rasa pusing.
Embun tertawa mendengar kalimat yang diucapkan Deva. Deva terlihat begitu lemah, karena darah yang terus mengucur dari semua bagian tubuhnya. Tapi, kalimat yang dia ucapkan terdengar begitu sombong.
"Kau memang makhluk Tuhan, Tuhan juga menyayangi semua Makhluknya. Tapi, mengirimmu kembali pada Tuhan adalah tugasku." balas Embun sombong, membuat Bara menahan tawanya karena perkataan Embun yang menurutnya begitu menohok.
DORR
Bara menembak ke atas, membuat Albert yang sedang meringis terkejut. Bara menodongkan pistolnya di kepala Albert. Jarak mereka berdiri sekarang hanya tiga meter saja. Jadi, bisa dengan mudah membidikkan lawannya.
Saat Bara sedang membidikkan Albert, laki-laki tua itu juga mengeluarkan pistol dari balik jaketnya. Dia menodongkan pistolnya ke arah jantung Bara.
"Ayo, kita adu. Kecepatan pistol siapa yang paling cepat!" tantang Albert membuat Bara tersenyum sinis.
"Kau yakin? Apakah pistolmu mempunyai banyak peluru?"
"Tentu saja. Apa kau mau mencobanya? Mari kita bermain-main sebentar. Sudah sangat lama aku tidak bermain denganmu."
"Hahaha, kau memang Paman yang baik, Albert. Sudah berada diambang kematian pun masih mengajak keponakanmu bermain,"
"Tapi sayangnya, aku tidak suka bermain denganmu. Aku hanya ingin, segera mengeluarkan nyawamu dari tempatnya." sindir Bara.
"Kau jangan terlalu sombong, Bara."
"Aku tidak sombong. Aku hanya ingin mengukur kekuatan peluru Tungsten ini." ucapnya sambil meniup pistol miliknya.
Mata mereka bertemu, saling melempar pandangan tajam ke arah lawan dengan wajah datar nan bengis. Sejurus kemudian, mereka sama-sama mulai membidik ke masing-masing lawan. Bara membidik kepala Albert, Albert membidik jantung Bara.
Kemudian mereka sama-sama menarik pelatuk, dan sejurus kemudian
DORR!!
Mereka sama-sama melepaskan peluru dari senapan mereka.
__ADS_1
DUKUNG KARYA INI DENGAN LIKE, BERIKAN KOMENTAR, GIFT DAN VOTE. FOLLOW AKUN AUTOR. BERIKAN RATE 5 DAN TAMBAH KE DAFTAR FAVORIT KAMU YA
TERIMA KASIH ❤️❤️❤️