Istri Miskin Presdir

Istri Miskin Presdir
KABAR BAHAGIA ATAU?


__ADS_3

"Kau sudah meninggalkannya jauh sebelum aku menikah dengannya. Aku tahu kau ingin bahagia, tapi bahagia juga tidak perlu sampai harus mengambil hak milik orang lain. Percayalah, akan ada orang yang lebih mencintaimu dan menghargai dirimu." Embun memberi nasihat. Karena jujur saja, dia juga jengah kalau harus selalu seperti ini.


"Diam! Aku tidak butuh nasihatmu. Yang perlu kau ingat, aku tidak akan melepaskan Bara begitu saja. Aku akan merebutnya darimu dan aku juga akan menghancurkanmu." sini Audrey sambil mencoba berdiri, sialnya tidak ada orang yang membantunya, membuatnya tambah kesal.


"Mengalah lah, Audrey. Dia sudah menjadi suamiku. Relakan yang bukan milikmu." sahut Embun.


"Tidak ada kata mengalah di kamus hidupku. Dia adalah milikku, dan selamanya tetaplah milikku." ucapnya kemudian melengos pergi begitu saja.


Di dalam mobilnya, Audrey nampak meringis karena merasa perih akibat luka disudut bibirnya. telapak tangannya juga lecet-lecet karena tadi dia menopang tubuhnya saat terjatuh menggunakan telapak tangannya.


"Awas saja kau, Embun! Kau akan segera mendapatkan balasan setimpal dari apa yang kau lakukan padaku." ucapnya menatap tajam ke arah Embun, Audrey pergi meninggalkan toko yang sudah banyak dikerumuni pembeli.


"Kak, kamu hamil?" tanya Belle berpura-pura.


"Tidak. Kata siapa?" bantah Embun.


"Tadi, kamu mengatakannya pada wanita itu, sambil mengusap-usap perutmu." jawab Belle.


"Oh, itu karena aku hanya ingin membuatnya kesal saja. Sebenarnya aku tidak benar-benar hamil." jawabnya kemudian tertawa.


Embun naik ke lantai atas menuju kamar kecilnya, entah kenapa setelah pertengkaran itu, dia terasa sangat kelelahan dan butuh istirahat sekarang.


"Rena, kamu tidak menangkap hal yang aneh dengan Kakakmu?" tanya Belle dengan berbisik-bisik.


"Aneh? Aku rasa tidak ada." jawab Rena sambil menaikkan bahunya.


Kemudian Belle menceritakan hal yang terjadi pada Embun. Rena tercengang mendengarnya, karena dia juga tahu dengan jelas kalau itu memang bukanlah sikap Kakaknya.


"Jadi, kita harus bagaimana?" tanya Rena dengan raut cemas.


"Aku yakin dia hamil. Tapi tidak ada yang menyadarinya karena dia tidak terlalu menonjolkan perbedaan itu. Kita harus berusaha membawanya ke dokter untuk memeriksakan, apakah dia benar-benar hamil atau tidak." jelas Rena


"Ya, ya, ya. Kau benar. Tapi bagaimana caranya?"


"Sekarang dia sedang beristirahat. Kita bawa saja dia langsung. Katakan saja kalau kita takut terjadi sesuatu padanya." Belle mencetuskan idenya begitu saja.


"Kak, kamu tidak apa-apa?" tanya Rena yang sudah masuk bersamaan dengan Belle.


"Aku tidak apa-apa. Hanya merasa sedikit kelelahan saja." jawab Embun.


"Ayo ke dokter, Kak. Kamu harus segera periksa." ujar Rena.


"Aku tidak apa-apa, Rena. Hanya sedikit kelelahan, untuk apa periksa ke dokter." tolak Embun.


"Aku khawatir, Kak. Kamu sudah tiga hari seperti ini, aku tidak tenang Kak. Ayolah, demi adikmu ini agar aku bisa tidur dengan nyenyak. Hanya periksa saja, jika tidak apa-apa, aku baru bisa tenang." Rena terus-menerus merayu Embun.

__ADS_1


"Rena, aku sungguh tidak apa-apa."


"Ayolah, Kak. Jangan beralasan lagi. Agar aku nanti malam bisa tidur dengan nyenyak, Kak." Rena memasang raut wajah sendu, hingga Belle hampir saja kelepasan tertawa.


"Baiklah. Ayo pergi bersama, agar kamu bisa yakin kalau aku memang tidak apa-apa." akhirnya Embun menyerah.


"Kalau kita semua pergi, bagaimana dengan tokonya?" tanya Rena kembali, karena dia hanya mau merayu Embun saja, tidak ada niatan untuk ikut sama sekali.


"Tutup saja. Besok baru buka lagi. Sehabis dari dokter, kita akan berjalan-jalan di mall sebentar." ujar Embun.


Belle dan Rena hanya mengangguk saja. Karena mereka tahu, apa tujuan dari Embun mengajak mereka singgah ke mall.


Setelah sampai di rumah sakit, Embun sudah mendaftarkan dirinya ke dokter umum, kini tinggal menunggu namanya dipanggil saja. Tak menunggu lama, namanya sudah dipanggil, dan adik-adiknya juga ikut mengintil masuk ke dalam.


"Embun Jingga Prameswari?" ucap seorang perawat yang berdiri di depan pintu memanggil pasien.


"Ah, ya. Saya." ucap Embun gugup.


"Silahkan ke sebelah sini, Nona." ucap sang perawat sopan.


Embun langsung di minta untuk berbaring di ranjang yang biasa digunakan untuk memeriksa keluhan pasien. Kebetulan, hari itu dokter yang berjaga adalah dokter wanita.


"Apa keluhan Anda, Nona Embun?" tanya dokter ramah.


"Saya sering pusing, Dok. Kelehan, sering merasakan mengantuk tidak pada waktunya dan juga belakangan ini Indra penciuman saya menjadi sangat aktif." jelas Embun.


"Apakah belakangan ini Anda sering begadang atau telat makan?" tanyanya lagi.


"Tidak. Tetapi akhir-akhir ini nafsu makan saya menurun, Dok." jawab Embun sambil menggeleng polos.


Dokter itu kembali tersenyum, dia seperti sudah menebak sesuatu dari Embun. Dokter itu kembali ke meja kerjanya dan mengambil sesuatu di laci mejanya, kemudian kembali ke tempat Embun.


"Apakah suami Anda juga datang?"


"Tidak, suami saya sedang bekerja. Saya hanya datang bersama adik saya." jawab Embun.


"Kapan terakhir kali Anda datang bulan?" tanya sang dokter sambil membuka kemasan benda yang dipegangnya.


Embun tampak berpikir sejenak, kemudian dia tersenyum dan menggeleng, "Saya tidak ingat, Dok." jawabnya kemudian.


"Baiklah, Anda bisa mengetes menggunakan tespack ini agar lebih jelas. Celupkan ke dalam wadah berisi urine Anda sampai batas di bawah garis maximal ini. Tunggu sampai 5 detik saja. Jika sudah, bawa kembali kepada Saya agar saya bisa mengetahui hasilnya." jelas sang dokter yang mempersilakan Embun masuk ke dalam kamar mandi di ruangan itu.


Embun masuk ke dalam kamar mandi sambil membawa benda kecil itu dengan ragu-ragu. Dia juga bingung, kenapa Dokter malah memberinya benda ini, bukankah hanya periksa, diresepkan obat lalu pulang? Embun bukannya tidak tahu kegunaan benda kecil ini untuk apa, makanya jantungnya sudah dag dig dug ser sedari tadi.


Embun melakukan sesuai dengan arahan dari sang dokter. Setelah itu dia membawanya kembali pada Dokter itu sesuai instruksi di awal.

__ADS_1


Dokter itu tampak menunggu beberapa menit sebelum dia membacakan hasilnya.


"Selamat, Nona Embun. Anda positif hamil." ucap sang dokter sambil tersenyum ramah.


JEDERR


"A,apa? Hamil?" Embun terbata-bata, hatinya bergemuruh seperti sedang dihantam oleh hujan badai.


Ternyata benar dugaanku. Tapi, kenapa raut wajah kak Embun tampak kecewa seperti itu. Apakah dia tidak suka bisa mengandung keturunan Wirastama? batin Belle yang sedari tadi mengamati perubahan raut wajah Embun.


Kakakku hamil? Ini kabar yang sangat mengharukan untukku, akhirnya aku akan punya keponakan juga, batin Rena.


"Iya, untuk mengetahui lebih lanjut. Aku akan merekomendasikan Anda langsung ke dokter obgyn." jelasnya, kemudian dia mengisi berkas-berkas yang perlu.


"Ayo, Nona. Ikuti saya, kita langsung ke dokter obgyn untuk melakukan USG transvaginal, agar mengetahui apakah Anda benar-benar hamil atau tidak, dan untuk mendeteksi umur kandungan Anda." jelasnya lagi


Embun mengikuti dokter itu dari belakang, tidak lupa dengan Belle dan Rena yang juga ikut mengekor di belakang, mereka sudah tidak sabar untuk melihat hasil USG nya.


"Silahkan berbaring di sini, Nona." ucap dokter obgyn yang juga sangat ramah.


Embun mulai berbaring sesuai dengan instruksi sang Dokter obgyn. Dokter itu mulai melakukan USG.


"Anda memang benar hamil, kehamilan Anda sudah menginjak 6 Minggu, ya." ucapnya tersenyum


"Yang ini adalah jantungnya yang sudah berdetak, dan dua titik hitam ini adalah titik yang akan berkembang menjadi matanya." jelas sang dokter lagi.


Rena dan Belle terlihat sangat antusias mendengar penjelasan sang dokter wanita itu. Tak lupa, mereka juga merekam dengan ponsel mereka.


Setelah selesai, Embun kembali duduk di hadapan dokter itu dengan wajah yang sulit dibaca.


"Dalam masa kehamilan di usia 6 Minggu ini, jika Anda mengalami kelelahan, mual dan muntah, perubahan suasana hati yang cenderung sering, itu adalah hal yang biasa."


"Baik, Dok."


"Panggil saja saya Livina." jawab sang dokter agar terasa lebih akrab.


"Dok, apa saja yang harus dihindari selama masa kehamilan ini?" tanya Belle


"Selama masa kehamilan, usahakan untuk membuat suasana hati si Ibu selalu bahagia. Karena, suasana hati Ibu juga dapat mempengaruhi perkembangan janin." jelas Dokter Livina.


"Terima kasih, Dok." jawab Rena.


Dokter Livina meresepkan obat untuk embun, setelah itu mereka keluar dari ruangan itu. Suasana hati mereka berbeda-beda. Belle sedari tadi terus memperhatikan raut wajah Embun yang sangat sulit dibaca, tidak seperti biasanya.


"Kak, kamu kenapa? Aku perhatikan, sedari tadi kamu murung. Apakah kamu tidak senang dengan kabar gembira ini?" tanya Belle yang akhirnya memberanikan diri untuk bertanya.

__ADS_1


Jangan lupa untuk tinggalkan like, komentar, gift dan vote. Terima kasih atas dukungan kalian❤️❤️❤️❤️❤️


__ADS_2