
Bara membelalakkan matanya mendengar itu. "Ayahnya, Jingga?" Tanyanya lirih. Dia sampai tak berkedip beberapa kali karena merasa sangat terkejut.
"Hum!" Sahut Rey mengangguk membenarkan.
"Jadi, apakah Jingga sudah mengetahui tentang ini?" Tanya Bara, manik cokelatnya menatap Daniel dan Rey bergantian.
"Sudah. Dia tidak sengaja mendengar percakapan kami saat di mana kamu sadar." Kini Daniel yang menjawab.
"Lalu, bagaimana tanggapannya?" Tanya Bara. Dia takut, kalau Embun akan melepaskan Pras begitu saja. Karena hati wanita itu terlalu lembut dan baik. Jadi, dia takut tak bisa menghukum setimpal pria yang telah menyakiti keluarganya, hanya karena pria itu adalah Ayahnya Embun, jadi mungkin wanita itu akan memaklumi.
"Tentu saja dia tidak terima. Dia akan menjebloskan Pras ke penjara."
Bara tersenyum puas saat mendengar jawaban Rey. Ternyata wanita itu sudah banyak sekali berubah. Banyak perubahan dari dirinya, seperti lebih tangguh, lebih mesum, dan sekarang, dia bisa menguatkan hatinya pada orang-orang yang mencoba mencelakainya.
"Semoga dia tetap pada keputusannya hingga akhir nanti." Seru Rey yang sebenarnya merasa khawatir dengan kebaikan hati Istri sahabatnya itu.
"Aku yakin, dia akan tetap pada pendiriannya hingga akhir nanti." Tukas Bara.
"Bagus jika begitu."
"Tapi, Bara. Aku merasa, ada seseorang yang mengatur ini semua." Sela Daniel, karena dia sangat yakin dengan orang yang tengah ia curigai sekarang.
"Ya. Aku juga sepemikiran dengannya. Selama ini, Pras hanya memeras Embun dan calon Istriku. Tidak ada maksud menyakiti. Tapi sekarang, dia sampai mencelakai putri kandungnya sendiri, apakah tidak terlalu mencurigakan?" Cetus Rey berpendapat.
"Jadi, siapa yang kalian curigai?" Tanya Bara seakan mengerti kalau dua sahabatnya itu mulai mencurigai seseorang.
"Aku curiga pada Albert, Pamanmu!" Daniel dan Rey berucap bersamaan. Mengakui kalau mereka memang sedang mencurigai orang terdekat Bara.
Bara tersenyum, dia sudah bisa menebak siapa orang yang akan mereka sebutkan. Namun, dia tidak juga meminta bukti kepada dua sahabatnya itu. Karena Bara tahu, dua laki-laki itu tak akan mencurigai tanpa alasan yang kuat. Apa lagi, mereka sama-sama yakin pada satu orang. Sudah pasti, Bara lah yang harus mulai turun tangan untuk mencari bukti, apakah kecurigaan mereka itu benar adanya. Atau, hanya sebuah praduga batin saja.
"Mulai sekarang, kita bisa sama-sama mulai mengumpulkan bukti. Sekecil apa pun itu, agar bisa lebih menguatkan prasangka kalian."
"Ya. Kita hanya bisa mengikuti alur permainannya saja." Imbuh Daniel sambil menyesap minumannya dan memakan buah yang telah tersaji.
Setelah berbincang-bincang, mereka pun pulang. Sebelum Daniel keluar dari rumah itu, dia mengitari rumah Bara terlebih dahulu untuk mencari keberadaan Kevin. Jika pria itu masih berada di sana, dua berniat untuk menyeretnya pulang bersama mereka.
Entah sejak kapan kegiatan itu dia lakukan, biasanya jika mau pulang, ya dia langsung pulang.
__ADS_1
Dan dia juga tidak tahu pasti, kapan sikap kekanakan itu melekat pada dirinya. Entah apa yang harus dia lakukan, untuk menghilangkan rasa tak suka bila melihat Belle dekat dengan pria lain.
Malam tiba, Bara dan Embun sama-sama masuk ke kamar anak mereka. Mereka melihat kedua anak mereka sedang tertidur dengan sangat nyenyak, membuat senyum manis tersungging di bibir wanita itu.
"Bara, lihatlah Hansel. Dia begitu mirip denganku." Tutur Embun tanpa melihat lawan bicaranya.
"Ya. Dan Hilsa, sangat mirip dengan wajahku." Imbuhnya, Bara menarik pinggang istrinya agar lebih dekat dengannya. Kemudian dia melingkarkan tangannya di pinggang ramping itu.
"Ya, semoga sifat Hansel tidak sepertimu!" Ketus Embun yang sangat tidak rela bila sifat anak-anaknya mirip dengan Bara yang terkesan sombong dan arogan.
"Apa salahnya? Aku Daddy mereka!" Sanggah Bara yang tak suka dengan ucapan Embun. Seolah-olah sikapnya begitu buruk di mata wanita itu.
"Kau tidak salah. Sikap dan sifatmu itu yang salah. Sangat menyebalkan." Ejeknya sambil mengerucutkan bibirnya.
"Sudah-sudah. Ayo kita kembali ke kamar dan beristirahat. Besok, aku akan mulai bekerja."
"Hem. Ayo!"
☀️☀️☀️☀️☀️☀️☀️☀️☀️☀️☀️☀️
Pagi harinya, Embun lebih dulu terbangun karena dia sudah memasang alarm. Dia tidur sangat nyenyak, karena dia sudah mem-pumping ASI-nya. Jadi, tidak ada yang membangunkannya lagi.
Embun bangun membersihkan dirinya. Sebelum dia mengurus keperluan suaminya, dia lebih dulu mengunjungi kamar anak-anaknya. Saat dia baru masuk, terlihat Hansel dan Hilsa juga masih terlelap. Tanpa mau menganggu, dia keluar kamar dan mulai menyiapkan segala keperluan Suaminya.
Hansel dan Hilsa, sejak lahir memang selalu tertidur. Entah sifat pemalas siapa yang menurun pada mereka berdua.
Setelah semuanya siap, Bara berangkat ke kantor seperti biasanya.
"Pak, tolong siapkan beberapa makanan kesukaan Bara, ya! Saat jam makan siang nanti, aku akan membawa ke kantornya." Pinta Embun pada koki di rumah itu.
"Baik, Nyonya." Jawab sang koki hormat.
Embun masuk ke dalam kamar si kembar. Kebetulan ada dua orang asisten rumah tangga itu yang berubah profesi menjadi baby sitter untuk Hansel dan Hilsa. Karena saat ini, Rena sudah pergi ke toko. Dan Belle sudah berangkat ke kampusnya sejak pagi tadi.
Embun meminta kedua baby sitter itu untuk meninggalkan mereka. Sekarang, Embun puas bermain bersama kedua Anaknya.
Setelah puas bermain, dia meminta baby sitter itu untuk mengganti pakaian dua bayinya.
__ADS_1
"Tolong gantikan pakaian mereka. Aku akan membawa mereka mengunjungi Daddy-nya." Pintanya pada dua baby sitter itu.
"Baik, Nyonya." Sahut mereka yang langsung memulai pekerjaan mereka dengan senang hati.
Sekarang Embun sedang dalam perjalanan menuju kantor Suaminya. Dia bersama kedua Anaknya di antar oleh supir kepercayaan Bara.
Di ruangan Presdir, Bara sedang memeriksa berkas-berkas laporan. Walaupun sudah jam istirahat, namun dia masih saja gigih bekerja.
"Bara...." Panggil Deva yang kini berani memanggil nama Bara.
"Hum?" Bara masih saja sibuk dengan berkas-berkas yang berada di tangannya.
"Bara, lihat aku. Ayah minta bertemu denganmu. Dia sangat merindukan kamu. Jadi, dia mengundangmu makan siang." Ungkap Deva mengutarakan maksudnya.
"Aku masih sangat banyak pekerjaan." Tolak Bara halus.
"Ayolah, Bara. Sekali ini saja. Ayahku ingin bertemu denganmu sebelum dia kembali ke Amsterdam besok!" Deva terlihat begitu memaksakan kehendaknya hingga dia menyentuh lengan Bara.
Bara langsung menepisnya dan melayangkan tatapan tajam dan Deva. Membuat nyali wanita itu menciut.
"Maaf!" Lirihnya.
"Baiklah. Bawa aku menemui Ayahmu." Ucapnya sambil menutup berkas-berkas yang sejak tadi menjadi prioritasnya.
"Baik." Deva menjawab dengan senyum cerah yang menghiasi bibirnya. Dia tentu sangat senang karena akhirnya Bara menerima ajakannya. Seakan-akan dia ingin melompat karena kegirangan. Kalau dia tak ingat, takut, Bara akan menjadi risih padanya.
Mereka mulai menyusuri koridor kantor dan masuk ke dalam lift untuk turun dari lantai tertinggi perusahaan itu. Senyum yang terpancar dari wajah Deva tak kunjung menyurut. Meskipun dia berdiri sedikit jauh dari pria pujaannya itu.
TING
Pintu lift terbuka, mereka keluar bersamaan dari lift dan kembali menyusuri koridor.
Suara sepatu pantofel yang bersahut-sahutan menyentuh lantai pun menggema di koridor. Senyum Deva juga masih berkembang. Sampai, senyumnya menyurut saat melihat orang yang sedang berjalan ke arah mereka.
Membuat wajah Deva menjadi masam dan penuh kebencian.
JANGAN LUPA UNTUK LIKE, BERIKAN KOMENTAR, BERIKAN GIVE DAN VOTE SEBAGAI BENTUK DUKUNGAN UNTUK KARYA INI. SETIAP DUKUNGAN SEKECIL APAPUN DARI KALIAN SANGAT BERHARGA UNTUK AUTOR LOH!!
__ADS_1
JANGAN LUPA FOLLOW AKUN AUTOR DAN BERIKAN BINTANG 5 SERTA TAMBAHKAN KE DAFTAR FAVORIT KAMU YA ... AGAR JIKA AUTHOR UPDATE KAMU BISA SELALU MENDAPATKAN NOTIFIKASINYA
TERIMA KASIH❤️❤️❤️