Istri Miskin Presdir

Istri Miskin Presdir
KENAPA BERBEDA?


__ADS_3

Jika kau belum bisa menyadari perasaanmu sendiri, maka akulah yang akan membantu menyadari perasaanmu, Bara. Aku tidak mau kau dimanfaatkan oleh wanita berbisa itu, batin Daniel.


Karena terlalu banyak minum, akhirnya Bara tertidur di tempatnya duduk. Rey dan Daniel sengaja tidak membawanya masuk ke dalam kamar pribadinya, karena mereka tidak mau kesalahan yang sama akan terulang kembali dan Bara akan memiliki banyak istri nantinya.


Saat Bara terbangun, dia melihat ke sekeliling, masih ada Daniel dan Rey yang ikut tidur di dekatnya untuk menemaninya semalaman. Dia tersenyum melihat teman-temannya. Dia tahu, temannya paling setia dan paling baik dengannya.


"Kepalaku masih pusing sekali, sudah jam berapa sekarang." ucapnya pada diri sendiri.


Dia meraba ponsel yang berada disaku celananya untuk melihat jam. Karena pergi terburu-buru semalaman, dia lupa memakai jamnya.


Tanpa permisi dia pun pulang ke rumahnya. "Sepertinya tidak sempat untuk ke kantor lagi sekarang, kepalaku juga sangat pusing." Bara menghubungi sekretarisnya, Deva untuk mengabari kalau dia tidak datang ke kantor hari ini.


Setelah sampai di rumah, rumah tampak sepi karena Embun, Belle dan Brandon sudah pergi ke toko seperti biasanya. Bara tak ambil pusing, yang dia butuhkan sekarang hanyalah tidur dan merilekskan pikirannya, jadi dia masuk ke dalam kamar dan langsung merebahkan tubuhnya.


KRING KRING KRING


"Hem?" Bara tak melihat siapa yang menghubunginya.


"Bara, kamu kemana saja? Aku mencarimu ke kantor, tapi kata sekretaris sialan itu, kamu tidak datang." ucap Audrey


"Ya, aku tidak datang ke kantor hari ini." ucap Bara lemah karena sangat mengantuk.


"Bara, temani aku jalan-jalan, ya. Ayo temani aku." pinta Audrey.


"Audrey, lain kali saja, ya? Aku sangat pusing, besok aku akan menemanimu kemana pun kamu pergi." Bara memelas.


"Tidak. Aku mau hari ini. Jangan menolakku, Bara." Audrey sangat kesal. Kalau sedang kesal, secara tidak sengaja dia pasti akan mengeluarkan sifat aslinya.


"Sudah dulu, ya. Aku ingin tidur sekarang." ucap Bara yang tidak menanggapi ucapan Audrey.


"Tapi, Bara...?"


TUT


Bara langsung mematikan sambungan teleponnya tanpa menunggu Audrey menyelesaikan ucapannya terlebih dahulu. Audrey merasa sangat kesal, dia membanting ponselnya sendiri dan menggigit ujung kuku-kukunya.


"Kenapa Bara seperti semakin menjauh dariku. Pasti dia mulai menyukai wanita miskin itu. Tidak bisa dibiarkan, sebelum Bara menyadarinya, dia harus sudah menjadi milikku. Dan wanita miskin itu harus segera aku hancurkan." sumpahnya.

__ADS_1


Di toko, seperti biasanya. Dari hari ke hari, pelanggan semakin ramai dan ramai. Rena juga sudah mulai bekerja, jadi Embun bisa fokus untuk berada di dapur dan membuat banyak stok roti dan kue. Toko mereka juga banyak mengeluarkan varian baru yang dikembangkan oleh Embun sendiri.


"Kenapa ini, kenapa mendadak aku sangat pusing." gumamnya sambil mencampurkan bahan-bahan untuk membuat kue.


"Kak, kamu kenapa?" tanya Rena, dia sempat melihat Embun yang memegangi kepalanya saat masuk ke dapur untuk mengambil stok roti yang baru saja masak untuk dibawa ke depan.


"Tidak. Aku hanya tiba-tiba mendadak pusing saja." jawab Embun tersenyum lalu kembali melanjutkan kegiatannya. Namun, pusing tidak juga kunjung hilang.


"Minum obat dulu, Kak. Mungkin karena kamu kelelahan." ujar Rena yang berjalan menghampiri Embun sambil membawa loyang berukuran besar.


"Tidak perlu, nanti aku balurkan minyak angin saja. Ya sudah, kamu kembali ke depan saja, di depan kan sedang ramai."


"Kamu beneran tidak apa-apa, Kak? Atau aku pergi belikan obat dulu saja, ya. Aku tidak tenang kalau kamu masih sakit."


"Aku tidak apa-apa, Rena. Kamu tidak perlu khawatir." ujar Embun lembut sambil mengusap punggung adiknya


"Kamu selalu begitu, Kak. Aku sudah lebih jelas tahu bagaimana sikapmu itu. Berhentilah berpura-pura baik-baik saja, Kak. Jika kamu sedang sakit, maka istirahatkan lah dirimu." ujar Rena panjang lebar, meskipun mereka berbeda ibu, tapi Rena sangat sayang pada Embun.


"Baiklah, baiklah. Aku akan pergi istirahat sekarang. Bisakah kamu membelikan beberapa obat untuk meredakan kepalaku yang pusing ini?" tanya Embun sambil tersenyum menampakkan deretan giginya.


"Belle, gantikan aku sebentar, ya. Aku pergi ke apotek seberang, untuk membelikan obat pusing untuk, Kak Embun." ucap Rena pada Belle yang sedang melayani beberapa pembeli.


"Kak Embun, sakit? Baiklah, pergilah sekarang. Jangan lama, ya. Agar dia bisa langsung meminum obat secepatnya." Belle juga tampak khawatir.


Rena hanya mengangguk sambil mengangkat jarinya menandakan mengerti. Dia tersenyum karena melihat Belle yang begitu khawatir dengan Kakaknya. Sebenarnya dia tahu bagaimana perlakuan Bara terhadap Embun. Tapi, selama bukan Embun yang berinisiatif untuk menceritakannya langsung padanya, dia tidak akan bertanya. Karena dia tahu, Kakaknya akan merasa sangat malu kalau permasalahannya diketahui oleh keluarganya. Jadi, dia hanya bisa berpura-pura tidak tahu, menutup mata dan telinga sampai Embun sendirilah yang mulai memberitahukannya.


Tidak lama dia pergi, dia sudah kembali dengan membawa sekantong obat ditangannya. Dia menyerahkan obat itu pada Belle dan meminta Belle untuk memberikannya pada Embun.


"Pastikan dia meminumnya, Belle. Dia sangat susah kalau sudah menyangkut perihal obat." ujar Rena.


"Siap. Aku akan membantu membuka mulutnya agar bisa memastikan dia menelan obatnya." seru Belle kemudian tertawa.


"Kak, ini obatnya. Ayo di minum sekarang!" titahnya


"Ya, nanti aku akan meminumnya. Kamu kembali ke depan saja."


"Tidak-tidak. Aku akan berdiri di sini sepanjang hari kalau kamu tidak mau segera minum obat ini." Belle berkeras agar Embun mau minum obatnya.

__ADS_1


Dengan terpaksa, Embun meminum obat yang diberikan oleh Belle. Setelah menelan obatnya, dia buru-buru minum air karena obat yang sudah ditelannya tadi, hampir saja akan kembali muntah keluar.


"Sudah." seru Embun yang merasa sangat bangga karena sudah berhasil minum obat.


"Kak, Minggu depan adalah hari ulang tahun, Kak Bara. Kamu sudah menyiapkan kado istimewa?" tanya Belle.


"Belum. Aku bingung ingin memberikan apa untuknya, dia sudah punya segalanya. Jadi, apa yang harus aku berikan untuknya?" jawab Embun gusar


"Berikan apa saja, Kak. Kado darimu lah yang paling berharga untuknya. Meskipun harganya tidak seberapa, tapi apapun yang berasal darimu, semuanya terasa istimewa." jawab Belle


"Aku rasa tidak begitu, yang paling dia tunggu pasti bukanlah dariku. Tapi aku akan tetap memberikan kado untuknya." ucapnya sambil tersenyum.


"Ya sudah, ayo kita makan siang. Tadi aku sudah memesannya secara online." ajak Belle


"Aku sangat tidak berselera, Belle. Kalian saja yang makan. Aku nanti akan makan sendiri." tolak Embun perlahan


"Aku tidak percaya padamu. Kalau kamu tidak makan, kamu akan bertambah sakit, Kak. Kalau kamu sakit, kamu tidak bisa mengurus toko ini dan membuatnya menjadi semakin. berkembang." bujuk Belle


Embun membenarkan apa yang dikatakan Belle, akhirnya dia setuju untuk makan siang walaupun dia masih pusing dan tidak punya selera makan.


Saat mereka sampai di kursi tempat biasa mereka makan, sudah terlihat Brandon dan juga Rena yang menunggu mereka di meja. Rena tersenyum saat melihat Kakaknya datang untuk makan bersama mereka.


"Ini untukmu, Kak. Kamu paling suka makan ini, kan?" ujar Rena sambil menyodorkan sekotak makanan untuk Embun yang baru saja duduk.


Embun membuka kotak makanannya, namun entah kenapa, yang biasanya dia sangat suka dengan makanan itu, tapi kali ini dia terlihat jijik dengan makanan yang berada di depannya itu. Embun mendorong ke depan agar sedikit menjauh makanan yang membuat perutnya terasa berputar itu.


"Loh, kenapa, Kak? Tidak enak, ya?" tanya Rena heran.


"Bahkan dia belum mencicipinya." sahut Belle.


"Aku memang tidak ***** makan. Kalian makanlah, aku akan memakannya nanti." sahut Embun.


Kenapa denganku ini, perutku sudah sangat lapar sekali. Aku sangat ingin mencicipi makanan kesukaanku ini, tapi kenapa aku juga merasa sangat jijik dengan makanan ini, batinnya. Tapi dia tidak mengatakan apapun pada adik-adiknya.


Jangan lupa tinggalkan jejak like, komentar, gift dan vote. Berikan rate 5 dan tambahkan ke daftar favorit kamu ya


Terima kasih ❤️❤️❤️

__ADS_1


__ADS_2