Istri Miskin Presdir

Istri Miskin Presdir
BERTEMU KEMBALI


__ADS_3

Sudah seminggu waktu berlalu sejak mereka liburan bersama. Sekarang Bara sedang berada di kantornya. Dalam lubuk hatinya yang paling dalam, dia sungguh sangat merindukan Embun. Tapi dia tahu untuk datang dan menemui wanita itu.


TOKK TOKK TOKK


"Masuk!" Jawab Bara dari dalam.


"Pak, satu jam lagi Anda ada meeting dengan dewan direksi." Ucap Deva memberitahukan agenda Bara untuk hari ini.


"Lalu, tiga jam lagi nanti Anda ada kunjungan untuk meninjau proyek baru, Pak." Sambungnya.


"Apakah masih ada lagi?" Tanya Bara yang tak mau menatap Deva.


"Tidak ada, Pak!" Sahut Deva yang sedari dia masuk memang selalu menatap Bara dengan pandangan ketertarikan.


"Kalau begitu, kau bisa keluar sekarang!" Usirnya sambil melihat laporan yang membutuhkan bubuhan tanda tangannya.


Deva berdecak kesal. Sejak terakhir kali Deva merayu Bara saat mereka keluar kota, bukan hanya Bara yang meminta dia menghandle semua pekerjaannya. Tetapi juga Bara tak mau lagi melihatnya barang sedetikpun.


Dia langsung menutup pintu ruangan Bara perlahan, meskipun kesal, dia juga tetap harus menjaga tatakramanya agar Bara tak semakin membencinya.


Saat Bara sedang membubuhkan tanda tangannya, tinta ballpoint nya habis. Dia membuka laci bermaksud untuk mengambil ballpoint yang lain, tapi dia malah melihat sebuah kertas berlogo rumah sakit dari dalam lacinya.


"Apa ini?" Tanyanya dengan kening mengkerut.


Bara membuka kertas itu, ternyata itu adalah hasil pemeriksaan USG Embun yang dia dapat dari Belle saat itu. Dia kembali melihat-lihat tulisan-tulisan yang terukir di atas kertas itu. Dan matanya menangkap tanggal Embun harus kembali untuk melakukan pemeriksaan ulang.


"Kebetulan atau keberuntungan? Hari ini adalah jadwal pemeriksaannya. Aku harus bisa menemuinya dengan ini?" Tekadnya.


Bara menelepon Eson terlebih dahulu untuk memastikan apakah hari ini memang benar jadwal pemeriksaan Embun atau tidak.


"Eson, datang ke rumah sakit Central Medika. Apakah Jingga ada jadwal hari ini?" Titahnya.


"Baik, Tuan. Segera saya periksakan." Jawab Eson tanpa mau membantah.

__ADS_1


Hanya membutuhkan sepuluh menit, Eson kembali menghubungi Bara. Dia sudah mendapatkan informasi yang tentunya akurat.


"Tuan, memang benar Nona Embun ada pemeriksaan hari ini di rumah sakit itu. Dokter yang menanganinya bernama Livina." Jelas Eson.


Tanpa menjawab apa pun, Bara memutuskan sambungan teleponnya. Sekarang dia sudah terpikirkan bagaimana caranya agar dia bisa menemui Embun. Namun, dia teringat dengan jadwal-jadwal pentingnya hari ini.


Dia langsung menepi jadwal-jadwal yang sedang mennari-nari dipikirannya. Sekarang, yang hanya dia pedulikan hanyalah bertemu dengan Embun. Apa lagi ini jadwalnya periksa, dia jadi semakin berharap untuk bisa melihat anak-anaknya dari USG nantinya.


Bara langsung menelepon Deva agar segera membatalkan jadwal-jadwal yang menurutnya tidak sepenting bertemu Embun itu.


"Deva, batalkan semua jadwal hari ini!" Titahnya yang tak mau dibantah sama sekali. Tapi, Deva tetap saja membantahnya.


"Tapi, Tuan. Ini adalah pertemuan penting Anda. Anda tetap harus menghadirinya." Ucap Deva yang seakan tak terima dengan penolakan Bara.


"Deva, yang menjadi Presdir di sini adalah aku. Yang memiliki perusahaan ini juga aku. Kenapa kau yang mengaturku?" Bara berusaha menahan amarahnya dengan mengeraskan rahangnya.


"Maaf, Tuan. Saya tidak bermaksud seperti itu. Saya hanya takut kalau mereka semua akan marah dan...." Belum sempat dia menyelesaikan ucapannya, Bara sudah kembali menyela. Dia paling tak suka mendengar omong kosong.


"Aku tahu kau bisa menghandle semuanya. Buatkan ulang jadwal dengan mereka. Kalau kau tidak bisa melakukan itu, sepertinya aku harus mengganti posisimu dengan seorang sekretaris yang lebih kompeten!" Sanggah Bara.


Tanpa basa-basi Bara mendengus kasar dan menutup teleponnya. Dia langsung melengos pergi begitu saja dengan mengendarai mobilnya sendiri. Karena nanti dia sudah menyusun rencana agar bisa berlama-lama dengan Embun. Jadi, kalau dia yang menyetir sendiri, akan lebih memudahkannya.


Setalah membelah jalanan yang lumayan lenggang. Bara kini telah sampai di parkiran rumah sakit Central Medika. Bara memarkirkan mobilnya dan melangkah dengan mantap ke ruangan pemeriksaan Embun. Sudah banyak Ibu-ibu yang mengantri di sana. Bara memperhatikan mereka satu persatu, semua ibu hamil itu didampingi oleh Suaminya. Sepertinya, hanya Embun yang mau menjadi Ibu hamil mandiri.


Setelah menerawang sesaat, dia menemukan bangku kosong dan langsung duduk di sana. Saat asisten Dokter memanggil pasien berikutnya, Bara langsung menyelonong masuk membuat orang yang berada di sana tercengang.


"Loh, siapa itu yang menyerobot antrian? Saya sudah menunggu lama tapi kenapa dia yang masuk?" Pasien itu berkomentar karena merasa tidak terima saat Bara yang menggantikannya.


Sang perawat hanya tersenyum canggung menghadapi keadaan seperti itu. Dia juga dapat melihat dengan jelas, kalau yang barusan masuk adalah Bara Wirastama.


"Maaf, Bu. Barusan Tuan Bara masuk. Mungkin ada sesuatu yang ingin dia konsultasikan. Jadi dia langsung masuk begitu saja." Perawat itu berusaha menjelaskan agar Ibu hamil itu mau mengerti.


"Jadi, mentang-mentang orang kaya, boleh mengambil jatah antrian orang lain?" Ibu itu terus saja mengomel, mungkin bawaan bayi kali ya.

__ADS_1


Di dalam, Dokter Livina terkejut melihat kedatangan Bara. Bukankah nama yang dipanggil seorang wanita, lalu kenapa yang masuk malah seorang Bara? Tapi, Dokter Livina tetap berusaha profesional.


"Ada yang bisa saya bantu, Tuan?" Tanya Dokter Livina.


Bara langsung duduk dihadapan Dokter itu, melihat name tag nya. Kemudian dia mengatakan sesuatu, bukan mengatakan sih, tapi lebih ke menceritakan. Tampak Dokter wanita itu mengangguk-angguk kepalanya mengerti.


"Jadi, apakah boleh melakukan seperti permintaanku?" Tanya Bara memasang wajah datarnya. Sungguh tidak terlihat seperti orang yang sedang meminta bantuan pada orang lain.


Dokter Livina tampak ragu, seperti sedang menimbang-nimbang. Sejurus kemudian, dia menganggukkan kepalanya dan tersenyum.


"Tentu saja boleh. Tapi, bisakah Anda menunggu di luar terlebih dahulu? Anda sudah menyerobot antrian orang lain. Dengar, Ibu itu masih saja mengomel pada asistenku!" Tandas Dokter Livina.


"Terima kasih!" Ucap Bara kemudian berlalu pergi, meninggalkan Dokter Livina yang terkejut karena mendengar Bara mengucapkan kata terima kasih.


Bara keluar, membuat Ibu yang sedang mengomel itu seketika terdiam.


******


Sekarang, Embun semakin sibuk dengan toko rotinya. Kehamilannya juga sudah menginjak delapan bulan, jadi dia juga semakin kewalahan meskipun banyak yang membantunya.


Hari ini adalah jadwalnya kembali USG, karena kandungannya sudah kian membesar, karena dia hamil anak kembar Dokter Livina sangat menyarankan agar Embun sering-sering berkonsultasi agar janinnya selalu terpantau dan sehat. Seperti hari ini, meskipun di toko sedang sangat ramai, tapi dia tetap akan menyempatkan waktu untuk pergi ke Dokter. Baginya, tidak ada alasan untuk tidak memeriksakan kesehatan kandungannya.


"Rena, Kakak tinggal sebentar ya. Kamu bisakan mengurus semuanya bersama mereka?" Tanya Embun yang tak enak hati meninggalkan tokonya disaat ramai seperti ini. Tapi mau bagaimana lagi, dia tetap harus melakukan USG, dia juga sudah mengatur jadwal bersama Dokter Livina.


"Ahh, Kak Embun. Jangan khawatirkan kami! Seharusnya aku yang harus mengkhawatirkan kamu. Lihatlah perut besarmu itu, untuk berjalan saja kamu sudah sangat kesusahan. Biarkan aku mengantarmu, ya?" Rena berkali-kali memohon untuk mengantar Embun, tapi wanita keras kepala ini tak pernah mau mendengar. Seolah-olah dia bisa melakukan pekerjaannya sendiri. Padahal, Rena sangat takut kalau ada sesuatu yang terjadi pada Embun dan calon anak-anaknya itu.


"Tidak usah, kamu bantu mereka saja. Ya sudah, aku pergi sekarang. Sudah hampir tiba waktunya." Embun langsung pergi dengan taxi online yang sudah dipesan melalui online.


Tiba di rumah sakit, Embun langsung duduk dan menunggu namanya dipanggil untuk menjadi pasien yang selanjutnya masuk.


Embun duduk dengan santai sambil mengistirahatkan dirinya dari kelelahan.


"Selanjutnya, Nyonya Embun!" Panggil sang perawat.

__ADS_1


Mendengar nama Embun yang dipanggil, Bara menjadi gelisah dan senang. Dia tidak sabar untuk bertemu dengan Embun dan calon buah hatinya itu.


Jangan lupa tinggalkan like, komentar, gift dan vote. Terima kasih ❤️


__ADS_2