Istri Miskin Presdir

Istri Miskin Presdir
TANDA CINTA


__ADS_3

"Ya, Kak. Kak Embun, adalah istri yang baik. Dia menyiapkan makanan dari rumah. Tidak seperti beberapa orang wanita di luar sana, yang bukan siapa-siapa, tapi sudah menghabiskan uang laki-laki seenaknya saja. Bagaimana wanita seperti itu bisa dijadikan seorang istri!" sindirnya lagi


Mereka berjalan menuju kantin kantor. Semua mata pegawai itu langsung tertuju ke arah mehreka berempat yang sedang berjalan beriringan


"Lihat-lihat! Bukankah itu Pak Bara? Siapa wanita yang di samping Nona Belle itu?" pegawai yang sedang mengisi perut mulai berbisik-bisik


"Itu bukankah wanita kemarin yang diseret keluar oleh satpam? Kenapa dia kembali lagi?" ucap mereka


"Sial! Aku tidak melihat dia datang. Pak Bara sudah melarang dia untuk datang lagi ke kantor ini. Kalau dia datang lagi, maka kami lah yang akan dipecat." ucap salah satu resepsionis


"Iya kah? Tapi, dia datang bersama Nona Belle. Kalau pun kamu melihatnya, kamu yakin bisa mengusirnya?" jawab temannya yang lain


Sang wanita resepsionis itu hanya tersenyum cengir mendengar penuturan rekan kerjanya. Dalam hatinya, dia juga membenarkan ucapan mereka


"Bara, kamu pesan apa? Biar aku yang akan memesannya untukmu." seru Audrey


"Tidak usah! Istrinya sudah membawakan dia makan siang. Jadi, kamu tidak perlu susah payah untuk mengurusi suami orang lain!" ujar Belle skeptis


"Maaf! Aku, aku tidak bermaksud begitu." ucap Audrey tertunduk. Tadinya dia ingin beranjak, sekarang dia kembali duduk dan menundukkan kepalanya


"Belle, kenapa kamu berbicara seperti itu? Jangan berbicara sembarangan!" pekik Bara. Dia melihat ke sekeliling, pegawainya sudah menyorot ke arah mereka


"Sembarangan apa, Kak? Yang aku katakan memang benar, kan?" Belle tidak mau mengalah, dia begitu muak dengan wanita yang sedang duduk di samping kakaknya itu. Seharusnya, yang berada di situ adalah Embun, bukan wanita ular itu


"Dia saja tidak mengatakan apapun, kenapa kamu yang berisik?" ujar Bara sambil menunjuk dagu ke arah istrinya yang memilih diam sedari tadi


"Bara, sudahlah. Jangan bertengkar dengan adikmu karena aku." ucap Audrey yang terdengar lemah lembut


"Bukan begitu, Sayang. Aku hanya tidak mau kamu disalahkan." sangkal Bara, dia mengelus tangan Audrey


Aku masih penasaran dengan sikapmu saat berada di depannya. Ternyata berpura-pura lemah adalah kunci mu, ya? Kalau begitu, aku akan segera menunjukkan kelakuanmu yang sebenarnya pada dunia, batin Belle


Dia merasa perlu menceritakan semuanya pada Embun dan mengajari Embun bagaimana caranya bertindak agar ia tidak lagi terlihat lemah di mata mereka


Embun bukan memilih hanya diam. Tapi dia sadar, dia berbicara juga tidak ada gunanya. Yang ada, ucapan yang keluar dari mulutnya hanya dianggap angin lalu oleh suaminya itu. Bahkan, bisa-bisa dia akan dihukum seperti semalam

__ADS_1


Embun merasa gerah, rambutnya hanya di gerai. Dia menarik ke belakang rambut-rambut yang menutupi lehernya. Tanpa ia sadari, tanda cinta berwarna merah yang dilukis Bara di leher jenjangnya semalam telah terlihat oleh Audrey. Bukan hanya satu, bahkan ada beberapa


Audrey menyipitkan matanya, dia mengeram marah. Tangannya yang berada di bawah meja terkepal erat. Belle menyadari perubahan raut wajah Audrey, yang tadinya berwajah lembut, sekarang tampak garang


Dia mengikuti arah pandangan Audrey ke leher Embun. Awalnya Belle juga tampak terkejut, namun sedetik kemudian dia tersenyum


"Kak Embun, apa ini, kenapa lehermu merah-merah seperti ini?" Belle bertanya dengan suara yang sengaja ia besarkan suaranya


"Apa? Merah apa?" Embun juga meraba-raba lehernya sendiri


Bara juga melihat ke arah leher istrinya. Dia mengeram kesal karena Embun malah seperti sengaja mengekspos tanda yang tidak sengaja ia buat itu


"Itu karena semalam dia digigit nyamuk. Semalam di kamar kami banyak sekali nyamuk. Mungkin, karena dia lupa menutup jendelanya!" sahut Bara dengan gugup


"Benarkah? Apakah masih gatal, kak?" tanya Belle prihatin


"Tidak. Ini aneh sekali, entah nyamuk apa yang menggigitku. Rasanya tidak gatal sama sekali." jawabnya


Audrey bertambah mengepalkan tangannya. Dia menggemeretakkan giginya karena saat ini dia memang benar-benar sangat kesal dengan apa yang ia lihat


Akhirnya Belle tertawa dalam hati karena merasa menang. Dia tahu, hubungan antara Audrey dan Bara tidak sejauh itu. Itulah sebabnya Audrey tampak sekesal itu


******


Sore hari, sinar matahari sudah samar-samar karena sang Surya sudah kembali ke peraduan. Embun baru saja selesai mandi. Dia masih mengenakan handuk dan memilih baju untuk dikenakannya


CEKLEK


Saat dia sedang memilih baju, tiba-tiba pintu kamarnya terbuka. Terlihat Bara masuk sambil menenteng tas kerjanya. Embun yang melihat Bara masuk, dia buru-buru mengambil pakaiannya dan berlari karena ingin kembali masuk ke dalam toilet


Bara melihat Embun berlari mengenakan handuk, dia menebak Embun berlari karena dirinya. Dia segera melemparkan tas yang di bawanya ke sembarang arah. Dia juga berjalan setengah berlari dan menarik handuk Embun dari arah belakang dan memeluk istrinya yang sudah bugil itu


"Ahh! Apa yang Anda lakukan, Tuan!" teriaknya


"Kenapa? Kau tidak menyambut suamimu?" Bara malah menanggapinya dengan santai

__ADS_1


Tubuhnya sangat harum. Entah kenapa, belakangan ini aku selalu berpikiran mesum tentangnya. Setiap melihatnya seperti ini, gairahku semakin naik


Bara mencium aroma tubuh istrinya dalam-dalam. Aroma strawberry yang keluar dari Embun membuat dia betah berlama-lama memeluknya


"Bukan begitu maksudku. Lepaskan dulu, aku mau memakai pakaianku." pinta Embun memelas


"Bagaimana kalau aku tidak mengizinkanmu memakai sehelai benang pun? Dan, kamu juga harus membantuku untuk menanggalkan pakaianku juga? Jadi, kita bisa impas." ujarnya yang mulai menyusupkan wajahnya ke tengkuk istrinya


"Jangan begini, aku merasa sangat geli." ucap Embun. Dia menggeliat kesana-kesini menghindari wajah Bara


"Geli? Oh aku ingat, sepertinya kita harus menambahkan tanda merah yang ada di lehermu itu, ya? Jadi, kau bisa memamerkan nya pada orang-orang seperti tadi."


"Menambahkan? Anda ingin aku kembali digigit nyamuk? Untuk apa aku memamerkan bekas gigitan nyamuk? Bukankah semua orang pernah mendapatkan nya?" tanya Embun polos


"Kau benar-benar tidak mengerti dari mana tanda merah itu berasal?" tanya Bara, nafasnya terdengar semakin berat


"Aku benar-benar tidak mengerti." pekik Embun. Dia juga merasa semakin geli karena Bara semakin menciumi ceruk lehernya


"Kalau aku mengatakan itu adalah tanda cinta, apakah kamu percaya?"


Bara langsung membalikkan tubuh Embun, dia kembali mengulangi kegiatan yang bisa membuat tanda merah ditubuh istrinya itu. Dia membuat tanda merah itu di bukit kembar yang ranum milik istrinya


Entah kenapa, saat melihat tubuh istrinya dari depan. Dirinya kembali merasakan sengatan kabut gairah yang tidak bisa ia tahan lagi. Apa lagi, aroma strawberry makin kuat tercium di Indra penciuman nya


"Tuan, apa yang Anda lakukan! Ah!" Embun mengeluarkan jeritan aneh itu dan seketika dia menutup mulutnya karena suara yang barusan ia keluarkan terdengar aneh di telinganya dan dia juga merasa malu


"Jangan ditahan. Keluarkan saja ******* mu itu. Aku ingin mendengarnya!" ucap Bara, dia pun langsung meluma* bibir tipis istrinya dengan rakus


Embun lagi-lagi menolak tubuh suaminya. Setiap Bara melakukan hal ini, tubuhnya selalu bergetar hebat. Namun, tanpa ia ketahui, setiap penolakan yang dia lakukan, dapat semakin memicu gairah seksual laki-laki itu


Hai teman-teman!!


Terima kasih karena sudah mau membaca karya dari author remahan kerupuk seperti ku ini. Jangan lupa untuk tinggalkan jejak like, komentar, gift dan juga vote nya, ya! Agar author lebih semangat lagi


Jangan lupa untuk menambahkan cerita ini ke daftar favorit kalian, ya!

__ADS_1


❤️❤️❤️


__ADS_2