
"Bara, kenapa kamu bisa berada di sini?" Embun tergugu, bibirnya terasa kelu saat kembali melihat laki-laki itu di depannya, bahkan sedekat ini.
"Tentu saja untuk menemuimu, dan calon anak-anak kita." Ujarnya santai, sambil melihat ke arah perut Embun. Bahkan dia berani duduk selonjoran di ranjang Embun sambil menyandarkan punggungnya. Sebenarnya, Bara melakukan itu untuk menghilangkan rasa cemasnya. Pertemuan yang telah direncanakan ini, membuat jantungnya berdetak sangat cepat.
Sontak, Embun langsung meraba perutnya, dia mundur beberapa langkah, entah karena merasa belum siap untuk bertemu, atau memang tidak mau lagi bertemu sama sekali dengan laki-laki itu.
Melihat Embun mundur beberapa langkah, dengan sigap Bara langsung memeluk wanita yang masih sah menjadi istrinya itu.
"Jingga, ku mohon ... jangan pergi. Aku hanya ingin menemuimu dan mereka saja." Pintanya dengan memohon
Mereka? Apa jangan-jangan dia sudah tahu kalau anak kami kembar?
Embun kaget, tapi dia langsung menetralkan rasa gugupnya, dia mencoba melepaskan pelukan pria itu. Tapi percuma saja, karena tenaga Bara lebih besar, tapi tidak menyakiti Embun.
"Lepaskan aku! Pergi dari sini!" Embun tetap pada pendiriannya, dia mengusir Bara dengan sedikit berteriak.
"Tidak. Jingga, ku mohon jangan pisahkan aku dengan anak-anakku. Aku tidak bisa kehilangan kalian."
"Kau sudah kehilangan kami saat kau memilih wanita itu, Bara. Sekarang pergilah! Tempatmu bukan di sini!" Pungkas Embun sambil terus memberontak dari pelukan Bara.
"Aku minta maaf, Jingga. Aku sudah mencintaimu. Ku mohon, jangan pisahkan aku dengan anakku." Bara tak henti-hentinya memohon, Biasanya dia akan bersikap keras, merebut apa yang dia inginkan. Tapi sekarang, dia menjadi laki-laki cengeng seperti ini, biarlah dia menjadi badut di mata Embun.
"Tapi aku tidak lagi mencintaimu! Aku sudah membencimu!" Ucap Embun sambil memejamkan matanya.
"Kita bisa mengulang lagi dari awal. Kamu bisa mencoba untuk kembali membuka hatimu untukku. Ku mohon, demi dia." Bara mengelus perut Embun.
Saat Bara sedang memeluk Embun, tangannya tidak sengaja mengusap perut buncit itu, dan bayi-bayi mungil itu langsung bergerak-gerak tak henti. Mereka seperti senang dan sadar akan kehadiran Ayah mereka. Bara yang merasakan gerakan itu, sangat senang. Dia terharu sampai menangis.
"Aku tidak bisa lagi mencintaimu. Mencintaimu sama saja seperti memilih sebutir beras diantara tumpukan jarum,"
"Sulit dicapai, tapi malah tertusuk sampai terluka!" Imbuhnya lagi.
Mendengar itu, hati Bara terasa ikut berdenyut. Dia mengerti arti dari ucapan Embun. Tapi dia harus kembali memutar otak agar tetap bisa di sana malam ini.
"Jingga, ku mohon dengarkan aku. Malam ini saja! Hanya malam ini, izinkan aku untuk menemanimu dan dua bayi kecil kita ini. Setelah ini, aku berjanji, akan menyerahkan semua keputusan padamu." Bujuk Bara, dengan berat hati dia mengatakan itu. Meskipun tidak rela. Dia mengatakan itu agar Embun mau menerimanya di sini malam ini, Besok-besok akan dipikirkan lagi nanti.
Bayi yang masih berada dalam kandungan itu kembali menendang-nendang sampai membuat Embun merasa ngilu.
"Sssttt, ahh!" Embun menggigit bibir bawahnya dan memegangi perutnya yang terasa berguncang sedari tadi, karena pergerakan dua bayi mungilnya.
"Kamu kenapa?" Sekilas Bara mendengar lenguhan Embun, dia langsung memapah Embun menuju ranjang dan mendudukkannya di sana.
Bara mengelus perlahan-lahan perut Embun. Entah kenapa saat tangan Bara mengusap perutnya, bayi itu diam dan hanya bergerak sesekali saja. Melihat dan merasakannya langsung, Embun sedikit tersentuh.
"Baiklah, kamu boleh menginap di sini, tapi hanya malam ini saja. Jangan lakukan apa pun. Dan, setelah malam ini, aku tidak ingin lagi melihatmu, Bara!" Kecam Embun, saat mengatakan kalimat terakhirnya, dia melihat ke arah lain.
__ADS_1
"Tatap mataku, Jingga!" Ucap Bara.
"Apa?" Embun menatap Bara tak mengerti.
"Kamu boleh mengatakan kalau kamu membenciku, tidak ingin lagi bertemu denganku. Tapi, kamu harus mengatakan hal itu sambil menatap kedua mataku. Apakah kamu mampu?" Tantang Bara. Karena dia tahu, meskipun hanya tinggal sedikit, tapi rasa cinta itu masih ada.
Embun mulai memusatkan netranya menatap Bara. "A,aku ... aku...." Embun malah tergugu tak sanggup mengucapkan. Hatinya terasa perih tatkala ia harus mengatakan benci pada Suaminya sendiri.
"Kau tak sanggup, kan?"
"Aku sanggup, hanya saja sedikit gugup. Karena aku memang tak pernah membenci orang lain!"
"Sudahlah, ayo kita mandi terlebih dahulu." Ajak Bara yang sengaja menggoda Embun.
"Mandi bersama?" Mata Embun terbelalak sempurna. "Aku sudah bilang, jangan melakukan apa pun."
"Jangan berpikir yang tidak-tidak. Aku hanya mau membantumu mandi saja. Aku janji, tidak akan melakukan apa pun."
Embun hendak menjawab, tapi sebelum dia sempat menyela, Bara sudah mengendong Embun ala bridal style dan memasukkannya ke dalam bathtub.
Bathub itu baru saja di pasang, agar memudahkan Embun melaksanakan acara mandinya. Karena dia sudah tak kuat kalau harus berdiri lama, meskipun hanya untuk mandi.
Setelah mendudukkan Embun di bathtub. Bara beranjak ke luar kamar.
"Aku ingin memesan makanan untuk kita berdua. Aku tahu, cacing kecilmu sudah berontak sejak tadi, kan? Apakah ada sesuatu yang kau inginkan?" Tanya Bara.
"Aku ingin ramen pedas dan steak Barbeque!" Sahut Embun.
Setelah memesan makanan, dia kembali ke kamar mandi, dan melihat Embun sudah naked. Sebenarnya, hormon laki-laki Bara naik. Tapi karena dia sudah berjanji untuk tidak melakukan macam-macam, dia terpaksa mengubur keinginan itu.
Bara mulai menggosok punggung Embun dengan pelan, aroma strawberry yang dari dulu selalu ia rindukan, sekarang bisa ia hirup sampai puas. Aroma strawberry itu terasa seperti obat penenang bagi Bara.
Embun memang benar-benar sudah menjadi candunya sekarang. Ada terbesit rasa penyesalan di hatinya. Seandainya matanya bisa terbuka lebih awal, mungkin semua tidak akan menjadi runyam seperti ini.
PLAKK
Embun memukul tangan Bara yang berada di payudar* nya. Entah sejak kapan tangan itu sudah berada di sana sambil memijat halus.
"Hey, perhatian tanganmu!" Pekik Embun dengan wajah memerah.
"Maaf, Jingga. Aku tidak sengaja." Karena melamun tadi, Bara jadi tidak mengontrol tangannya yang mulai berpindah tempat dan mendarat di gunung kembar itu.
"Alasan!" Dengus Embun.
Selesai mandi, Embun memakai pakaiannya. Dia lagi-lagi memakai baju kaus oversize dan hotpants. Bara kembali tercengang melihat itu.
__ADS_1
Sial! Aku hampir saja mimisan, perutnya yang sudah membesar, dan badannya yang mulai berisi, membuat tubuhnya semakin terlihat ****
"Tubuhmu sudah semakin bersisi, Jingga." Ujar Bara sambil menyajikan makanan.
"Tubuhku tidak bisa dirubah. Kalau kau tidak suka, congkel saja matamu!" Jawabnya santai sambil menyuapkan nasi.
GLEKKK
Bara menelan Saliva mendengar jawaban ketus Embun. Sejak kapan dia berubah menjadi seperti itu. Tapi, setelah diingat-ingat, sepertinya dia memang seperti itu.
Saat mereka bertemu untuk kedua kalinya saja, dia mengatai Bara sebagai gigolo dan pelayan cafe. Mungkin, saat itu dia lemah karena berusaha mengalah untuk melindungi keluarganya.
"Akkk. Ayo buka mulutmu." Ucap Bara.
"Aku tidak mau. Kau makan saja untuk dirimu sendiri."
"Cepat, buka mulutmu! Pesawat akan segera mendarat." Serunya lagi sambil memainkan sendok yang dipegangnya seperti pesawat yang sedang bersiap untuk Landing
Embun membuka mulutnya dengan sangat terpaksa. Bola matanya memutar karena dia merasa jengah. Tapi, saat makanan itu sudah masuk ke dalam mulutnya dan mengalir di tenggorokannya. Dia membulatkan matanya.
Wah, enak sekali. Kenapa rasanya tidak seenak punyaku?
Embun langsung menyerobot makanan milik Bara. Walaupun Bara merasa kikuk dan terkejut, tapi dia berusaha mengerti. Mungkin itu memang bawaan Ibu hamil.
"Aku sudah selesai makan." Embun berdiri, mengelap mulutnya menggunakan tissue dan masuk ke kamarnya.
Bara juga sudah selesai makan, dia membereskan semuanya sebelum mengekori Embun. Mau-maunya dia mengerjakan pekerjaan yang tidak pernah dia lakukan. Biasanya selalu ada orang yang melayaninya. Tapi sekarang dia ikhlas melakukannya karena ini dia anggap sebagai bentuk dari perjuangannya.
Bara masuk ke kamar, terlihat Embun duduk di atas ranjang sambil meluruskan kakinya dan menyandarkan tubuhnya di kepala ranjangnya.
Bara datang-datang langsung memeluk Embun. "Hey, apa yang kau lakukan? Menyingkirlah!"
Bara tidak memperdulikan omelan Embun. Dia malah semakin mempererat pelukannya.
Embun beranjak ingin turun dari ranjang. Bara juga semakin mempererat lagi pelukannya.
"Bara, lepaskan!" Pekik Embun.
"Aku tidak akan membiarkanmu ke mana pun. Aku ingin selalu memelukmu seperti ini." Ucapnya sambil memejamkan mata.
Jangan lupa untuk tinggalkan like, komentar, gift dan vote. Berikan rate 5 dan tambahkan ke daftar favorit kamu ya!!
Setiap dukungan kecil dari kalian, sangat berharga untuk author, loh!!
Terima kasih ❤️❤️❤️
__ADS_1