Istri Miskin Presdir

Istri Miskin Presdir
NELANGSA


__ADS_3

"Rey!" panggil seorang wanita, menghampiri Rey dan mencium pipi Rey lalu meluma**bibir Rey sekilas.


Rey hanya melotot tapi juga tak menolak. Sedangkan Rena hanya diam memperhatikan kejadian itu di depan matanya tanpa berkedip.


"Rey, kau di sini?" tanya wanita yang bernama Angelica.


"Ya, seperti yang kau lihat." jawab Rey ketar-ketir. Jantungnya sudah jedag-jedug akibat aksi Angelica tadi. Rey sesekali melihat Rena yang terlihat tak peduli dan kembali memilih bahan-bahan yang diperlukannya. Tapi, masih berada di sekitar situ.


"Kenapa kau tak pernah datang ke rumahku lagi? Aku sangat merindukanmu, Rey!" ucap Angelica manja sambil memegang lengan Rey.


"A-aku...." Rey tergagap sendiri karena tak mampu menjawab pertanyaan itu.


"Teman-temanku juga sangat merindukan belaian mu." imbuh Angelica. Tidak ada rasa sungkan saat dia mengatakan itu. Yang ada, Rena yang malu sendiri mendengarnya.


"Angel, bisakah kamu tidak mengatakan hal-hal itu lagi?" bisik Rey sambil menahan suaranya.


"Hahaha, kenapa? Apakah karena dia?" tunjuk Angelica pada Rena, Rena pura-pura tak tahu.


"Ternyata sekarang kau sudah suka daun muda yang polos ya? Kalau begitu, akan kukatakan pada teman-temanku, tidak perlu mengharapkan Rey si Casanova bercinta lagi, ya?" sambar Angelica tertawa.


"Sial!" gumam Rey kesal dengan perkataan Angelica.


"Aku pergi, ya? Masih banyak yang harus dilayani." Angelica mengedipkan sebelah matanya dan berlalu.


Saat Angelica selesai berbicara dengan Rey, Rena pun selesai memilih barang-barang yang diperlukannya. Dia langsung membawa ke kasir untuk membayar semua belanjaannya.


"Sini, aku bantu." Rey mengulurkan tangannya hendak mengambil troli Rena.


"Tidak perlu, Om bisa menungguku di mobil saja." jawab Rena dan melengos sambi mendorong trolinya yang lumayan berat.


*******


Di dalam mobil, mereka hanya diam saja. Meskipun sesekali Rey melirik Rena, tapi ia tak berani untuk angkat bicara.


"Kita mampir dulu untuk makan?" tanya Rey memberanikan diri.


"Aku sudah sarapan, Om." jawab Rena yang masih fokus melihat ke depan.


"Hem, begitu ya." Rey terlihat kikuk. Dia yang biasanya bisa bicara apa saja di depan siapa saja, hari ini mendadak jadi pendiam.


"Wanita tadi siapa, Om?" tanya Rena tanpa melihat Rey.


"Dia temanku." jawab Rey cepat.


"Teman tidur?" cetus Rena tak bermaksud menyinggung. Karena, dari apa yang dia dengar tadi, memang begitulah faktanya.

__ADS_1


Rey hanya diam, menggigit bibirnya bungkam. Karena merasa tak bisa menampik kenyataan yang ada. Dia melihat Rena sekilas, wajahnya tampak biasa saja.


"Ciuman pertamaku diambil olehmu. Tapi, ciuman pertamamu entah untuk wanita mana." ucap Rena, merasa getir di hatinya. Entah sejak kapan, dia mulai peduli dengan laki-laki di sampingnya itu. Yang selalu ada untuknya, selalu menemaninya. Walaupun sering asal bicara, itu membuatnya terhibur.


Sebenarnya, Rena bukanlah orang yang melihat seseorang dari covernya. Namun kali ini, untuk pertama kalinya, saat mengetahui kebenaran tentang orang yang dia pedulikan, hatinya terasa menciut dan melemah. Ada rasa pedih yang entah berasal dari mana. Dia juga tak tahu pasti, sejak kapan rasa peduli itu tumbuh di hatinya.


Mungkin, sebelum rasa pedulinya berubah menjadi cinta, lebih baik dia menjauhi laki-laki yang pertama kalinya mampu menggetarkan Sukma dan hatinya ini.


"Kenapa? Kamu cemburu?" tanya Rey terkekeh pelan.


"Tidak. Aku tidak cemburu sama sekali." jawabnya yang masih terlihat dingin.


"Lalu?"


"Tapi ... jijik!" jawab Rena membuat Rey menghentikan mobilnya, dan kebetulan itu tepat di depan toko roti Embun.


Rena langsung turun, mengambil barang-barangnya. Meninggalkan Rey yang terdiam dengan sejuta rasa yang bercampur aduk.


"Jijik? Huh! Apakah aku tidak boleh merubah diriku sendiri?" Rey menertawakan dirinya sendiri yang terlihat bodoh kali ini.


Rey menyusul Rena ke dapur. Terlihat Rena sedang merapikan barang-barang yang dibelinya tadi, disusun pada tempatnya.


"Rena, aku perlu bicara denganmu."


"Besok orang tuaku berkunjung. Bisakah kamu menemani untuk menemui mereka?"


"Besok aku sibuk, Om. Hari weekend, pasti di toko sangat ramai." jawab Rena. Tak sekalipun dia melihat Rey.


"Rena, can you not judge someone by the cover?"


"Aku tahu, masalaluku mengganggumu. Semua orang punya masalalu, ada yang baik ada yang tidak. Dan, masalaluku termasuk yang tidak baik karena aku sering melakukan hal-hal yang sekarang merugikan diriku sendiri. Aku mau berubah, agar bisa lebih baik. Agar aku pantas untukmu, untuk mendapatkan cintamu,"


"Jadi, bisakah berikan aku kesempatan sekali saja, untuk membuktikan ketulusan hatiku. Membuktikan kalau aku bersungguh-sungguh. Kalau kamu tidak bisa menerima kekuranganku, aku tidak akan memaksakan mu. Tapi, aku yakin kamu orang yang bijak."


"Jika kamu bersedia menemaniku besok, hubungi aku." Rey meletakkan kartu namanya di dalam gelas dan pergi.


*****


Belle baru saja tiba di sebuah bandara. Dia memakai masker, topi dan kacamata untuk menutupi identitasnya. Karena dia tahu, orang-orang Daniel akan mencarinya ke ujung dunia sekalipun.


Belle mencari taxi untuk membawanya ke hotel yang sudah ia booking untuk beberapa hari sampai dia menemukan kampus baru yang cocok.


"Mr, singgah ke toko ponsel sebentar." pinta Belle.


Sang supir hanya mengangguk. Setelah menyelesaikan semua kebutuhannya, Belle langsung chek-in di hotel.

__ADS_1


Belle langsung mengaktifkan ponsel barunya, mengirimi Embun pesan, kalau dia sudah tiba di tujuannya dengan selamat. Setelah itu, dia langsung menghubungi Kevin, sang kekasih.


"Untung saja aku mengingat nomor ponselnya." gumamnya sambil menunggu Kevin menjawab panggilan teleponnya.


"Halo?" sapa Kevin dari sana.


"Kevin, ini aku Belle."


"Belle? Benarkah?" Kevin begitu senang karena Belle menghubunginya.


"Ya. Maafkan aku karena tidak menghubungimu. Aku sudah pindah ke negara lain." ucapnya.


"Ya aku tahu, pagi tadi aku menjemputmu. Kata Kak Embun, kamu sudah pindah. Aku pikir, kamu terpaksa menerimaku, jadi menghindariku." jujurnya sambil terkekeh, membuat Belle merasa bersalah.


"Mana mungkin." bantah Belle.


"Ya. Karena kamu sudah menghubungiku, sekarang aku bisa tenang. Nanti, jika ada waktu luang, aku akan mengunjungimu." ucapnya.


"Terima kasih. Sudah dulu, ya. Aku baru saja tiba, sekarang mau istirahat."


"Ya. Hati-hati selama di sana, Sayang."


Setelah sambungan telepon mereka terputus, Belle menggenggam ponselnya sambil tersenyum, membayangkan wajah Kevin.


KRING KRING KRING


"Katakan! Apa kau menemukan keberadaan gadis yang kucari?" tanya Daniel dengan wajah datarnya.


"Benar, Bos. Dia sudah chek-in di salah satu hotel milik Anda." ucap bawahan Daniel yang bertugas sebagai resepsionis hotel, tempat di mana Belle menginap sekarang.


"Benarkah? Awasi dia secara diam-diam. Jangan sampai buat dia curiga dan chek-out. Aku akan segera menyusul ke sana."


Jika tuhan menakdirkan kita untuk bersama. Sejauh apapun kau berlari, tidak akan bisa mengubah garis takdir jodoh kita.


Lihat, bahkan sekarang kau yang kembali ke dalam pelukanku.


SEPERTI BIASA, DUKUNG KARYA INI DENGAN LIKE, BERIKAN KOMENTAR, GIFT DAN VOTE


FOLLOW AUTHOR, BERIKAN RATE 5 DAN TAMBAH KE DAFTAR FAVORIT ❤️


DUKUNG KARYA BARU AUTHOR SAHABATKU SUAMI MUHALLILKU


MASIH ANGET GUYS!!!!


TERIMA KASIH ❤️❤️❤️❤️

__ADS_1


__ADS_2