
"Joana antarkan, Ma. Joan juga ingin bertemu dengan Kak Amanda." saat membayangkan dia memiliki seorang kakak, hatinya menghangat. merasa senang karena akan ada seseorang lagi yang akan memeluknya dan menjadi tempatnya untuk berbagi. Terlebih dia yakin kalau bayi yang tempo hari dilihat oleh alea adalah anak amanda. pasti rumah ini akan semakin ramai dengan kehadiran seorang bayi.
"Kamu tidak marah pada Mama?" tanya Alea sambil mengusap sisa air mata di pipinya.
"Marah tidak, tapi Joana tidak bisa menyembunyikan rasa kecewa yang begitu besar terhadap Mama. Jika Joan jadi Kak Amanda, entah bagaimana hidup Joan saat itu. Pasti akan hancur dan urak-urakan," jawab Joana. Membayangkannya saja dia tidak sanggup, apa lagi kalau harus menjalani hidup seperti Amanda saat itu?
"Maafkan, Mama. Setelah kita bertemu dengan Amanda, kita pasti akan kembali berkumpul dan hidup bahagia. Mama akan menebus semua kesalahan masa lampau Mama padanya," janji Alea.
Kemudian mereka saling merengkuh dalam isakan tangis yang masih belum mereda. Sedikit tersengal-sengal karena oksigen yang mereka hirup seperti tinggal sedikit.
"Sudahlah, Ma. Yang terpenting sekarang kita menemui wanita itu dulu dan minta dipertemukan dengan Kak Amanda. Joan yakin sekali, Kak Amanda ada bersamanya," ucap Alea sembari melepaskan pelukan mereka. Tangannya mengusap jejak sisa air mata Ibunya yang menangis karena penyesalan.
"Mama juga sangat yakin kalau Amanda ada bersamaan. Dan bayi mungil itu, apakah itu Anaknya Amanda?" Alea kembali bertanya-tanya.
"Sudahlah, Ma. Kita tidak bisa menerka-nerka. Lebih baik sekarang kita menemui wanita itu dulu untuk memastikan segalanya."
Dengan berbekal sebuah alamat, mereka mulai menelusuri jalan untuk mencari orang yang selama ini telah mereka rindukan. Selama dalam perjalanan, hanya ada satu harapan mereka, yaitu agar alamat yang mereka tuju ini benar dan mereka bisa segera dipertemukan dengan orang yang ingin mereka temui.
Angin berhembus pelan, menyapu dedaunan yang terlintas olehnya, menerbangkan asa yang terpanjat oleh hati mereka dan menghembuskan nafas kegugupan karena takut apa yang mereka harapkan tak sesuai keinginan hati dan mata.
"Joan, apakah masih jauh?" tanya Alea, Joana bisa menangkap kegugupan yang sedang mendera Alea.
"Sebentar lagi, Ma. Mama gugup?" tanya Joana yang sebenarnya sudah tau jawabannya.
"Iya." hanya jawaban singkat itulah yang keluar dari mulut Alea.
"Kenapa harus gugup, Ma? Seharusnya Mama senang karena sebentar lagi akan dipertemukan dengan Kak Amanda, kan?" ujar Joana sambil terus mengemudikan mobilnya membelah jalanan.
"Seharusnya begitu. Tapi, rasa takut terus bermunculan di hati Mama, Joan!" jujur Alea.
"Mama takut tidak dimaafkan oleh Amanda. Mama takut dia mengutarakan rasa bencinya dan menolak untuk bertemu," ujar Alea yang menundukkan kepalanya, tangannya menangkup wajahnya.
Jika Amanda melakukan itu, kurasa itu adalah sebuah kewajaran. Jika aku berada diposisi Amanda pun aku pasti akan melakukan hal yang sama.
"Tenanglah, Ma. Amanda tidak akan melakukan itu. Semarah-marahnya anak pada orang tuanya pasti tetap akan terselipkan rasa rindu ingin bertemu," tutur Joana.
Joana memberhentikan mobilnya di depan rumah sederhana milik orang tua Rena. Sisa-sisa dekorasi bekas pernikahan kemarin masih tersisa. Saat mereka baru keluar dari mobil dan ingin melangkah ke rumah itu, telinga mereka menangkap suara tangisan bayi.
"Ma, apakah itu anal Kak Amanda?" tanya Joana sembari tersenyum.
__ADS_1
"Mungkin saja," jawab Alea.
Mereka kembali mengambil langkah menuju rumah orang tua Rena. Mereka berdiri di depan pintu, mendengar suara tawa kencang dari arah dalam.
TOK
TOK
TOKK
Joana mengetuk pintu, belum terdengar sahutan dari dalam.
TOK
TOK
Joana kembali mengetuk pintu. Mendengar suara pintu rumahnya diketuk berkali-kali, Mika melihat siapa yang datang. Dia mengerutkan kening karena merasa tidak kenal dengan tamunya itu.
"Kalian cari siapa?" tanya Mika.
"Kami mencari wanita ini," ucap Joana sambil menunjukan ponselnya yang terdapat foto Rena. Entah dari mana dia mendapatkannya.
"Kenapa kalian mencari dia?" tanya Mika, jika kedua orang ini hanya mau mencari masalah dengan anaknya, tidak akan dibiarkan bertemu, begitu pikirnya.
"Keperluan penting apa?" tanya Mika lagi, merasa was-was.
"Saya Ibunya Amanda!" ucap Alea mengaku, Mika sangat terkejut dengan pengakuan Alea.
"Sebentar, saya panggilkan Rena!" Mika langsung masuk dan memanggil Rena.
Rena keluar sambil mengendong bayi kecil yang sedang menyusu, mata mereka langsung terpaku pada bayi mungil itu.
"Kalian mencariku?" tanya Rena membuat Ibu dan anak itu tersadar.
"Ya, kami berdua mencari kamu," sahut Joana.
"Silahkan masuk!" ucap Rena mempersilahkan.
Beberapa menit mereka terdiam, hanya saling bertukar tatap dan yang terdengar hanya suara deruan nafas yang bersahut-sahutan.
__ADS_1
"Jadi begini, apakah kamu mengenal Amanda?" tanya Joana mulai membuka suara. Dia tahu, Ibunya tidak bicara sejak tadi karena masih merasa takut.
Mendengar nama Amanda, wanita yang pernah menjadi sahabatnya secara singkat itu Rena langsung menoleh melihat Valerie yang mulai terlelap selepas menyusu.
"Kenal," jawab Rena ragu-ragu. "Kalian siapa?" tanya Rena lagi.
"Saya Joana, adik Amanda!" jawab Joana mengakui.
"Dan saya Alea ... ibunya Amanda!"
DEGG!
Mata Rena terbelalak, tubuhnya ikut menegang saat tahu siapa wanita yang sedang bertamu ke rumahnya saat ini.
Tanpa sadar Rena langsung mendekap Valerie, takut bayi mungil itu direbut dari tangannya.
"Saya datang ke sini ingin menemui Amanda, bisakah saya bertemu dengannya?" pinta Alea dengan suara yang teramat pelan.
Rena menggelengkan kepalanya berkali-kali, membuat Joana dan Alea salah mengira bahwa Rena tidak mengizinkan mereka untuk bertemu dengan Amanda.
"Rena, kumohon ... pertemukan Amanda dengan kami!" pinta Joana yang ikut-ikutan memohon pada Rena. Berharap Rena akan berbelas kasih pada mereka.
"Iya, Rena. Aku tahu salah tapi aku sudah sangat menyesal telah memperlakukan Amanda seperti itu. Aku hanya ingin bertemu dengan Amanda dan meminta maaf padanya. Kami tidak ada maksud untuk kembali menyakiti perasaan Amanda," jujur Alea dengan isakan tangisnya yang menderu.
Rena dan Mika saling pandang, wajah mereka berubah bingung melihat Joana dan Alea yang memohon padanya untuk mempertemukan mereka dengan Amanda.
Apakah mereka tidak tahu kalau sebenarnya Amanda telah tiada? Amanda memang pernah menceritakan hubungannya dan kedua orang tuanya tidak baik. Tapi, apakah seburuk itu hubungan Amanda dan orang tuanya, sampai kabar kematian Amanda pun tak sampai ke telinga mereka.
Lalu, bagaimana tanggapan mereka saat tahu kalau orang yang mereka cari di rumah ini, kini sudah menetap di surga dengan bahagia?
Rena segera buka suara, tak ingin mereka salah paham padanya lebih lanjut.
"Maaf, Joana, Tante Alea, saya bukan tidak ingin mempertemukan Amanda dengan kalian. Hanya saja, Amanda sudah tidak lagi berada di sini," sanggah Rena berhasil menghentikan tangisan Alea.
"Lalu, di mana Amanda sekarang?" tanya Alea lagi.
"Amanda sudah meninggal dua Minggu yang lalu saat melahirkan anaknya, Valerie!" ucap Rena.
Dukung karya ini dengan berikan like, komentar, gift dan vote sebanyak-banyaknya.
__ADS_1
Berikan juga rate 5 ya guys ❤️❤️❤️
Terima kasih ❤️❤️❤️