
"Hem ... tapi aku punya satu syarat untukmu." Ujar Kevin setelah sekian detik berpikir.
Belle membulatkan matanya, dia terkejut karena ternyata tingkah Kevin masih seperti anak kecil. Memintanya menjaga satu rahasia saja, masih harus pakai syarat.
Tapi, yang lebih membuat Belle penasaran adalah, syarat apa yang ingin diajukannya.
"Sya-syarat apa?" Tanya Belle yang masih belum bisa mengatur keterkejutannya.
"Hahaha. Aku hanya bercanda saja. Jangan terlalu menganggapnya serius." Tawa Kevin seketika pecah karena melihat raut wajah Belle yang mendadak panik. Sebenarnya, dia memang mempunyai satu permintaan untuk wanita itu, bukankah inilah kesempatan yang bagus untuk mendekati wanita pujaannya itu? Tapi, jika dengan cara ini, mengurangi nilai dirinya di mata wanita pujaannya, lebih baik diurungkan saja. Dia akan berjuang untuk mendapatkan hati wanita idamannya itu.
Cinta memang punya sejuta cara untuk kita gapai. Namun, dalam sejuta cara itu, kita juga harus memilah cara yang akan kita lalui. Jangan sampai membuat sang pujaan menjadi pergi karena merasa jalan yang kita tempuh tak cukup tulus untuknya.
Wajah pias Belle seketika berubah. Dia memasang senyuman manisnya pada pria yang rela meluangkan waktunya untuk menolong keluarganya itu. Meskipun laki-laki itu tahu, hatinya masih menggantung, belum berlabuh pada dermaga yang telah disiapkannya.
"Bolehkah aku menemui Kakakmu?" Tanya Kevin harap-harap cemas.
"Tentu saja boleh. Lagi pula, tidak ada alasan untuk menghalangi Kak Bara bertemu dengan penyelamatnya." Jawabnya mantap. Tapi jawaban itu membuat Kevin terkekeh, merasa lucu dengan yang dikatakan Belle.
"Ya sudah, ayo kita pergi sekarang! Aku tahu, mobilmu masih di bengkel, kan?"
"Huh? Hehe, iya!" Belle tertawa salah tingkah.
Awalnya dia ingin menolak dengan berbagai alasan. Dia berniat, mereka pergi masing-masing ke rumah sakit. Tapi, sepertinya rencana yang telah ia rangkai itusudah lebih dulu tercium oleh laki-laki itu.
Mereka pun menuju ke rumah sakit. Selama di perjalanan, Belle hanya memilih diam dan melihat ke arah jalanan yang cukup lenggang itu. Wajahnya begitu dingin karena terkena hempasan angin. Daun-daun yang jatuh berguguran, sinar matahari yang tertutup awan, membuat perjalanannya menjadi semakin nyaman. Namun, tidak untuk kedua insan itu. Dalam hati mereka masing-masing, mereka merasa sungkan untuk mengeluarkan suaranya meskipun hanya sepatah dua kata.
Suara yang hendak keluar seakan tercekat di tenggorokan. Tapi, Kevin tetap berusaha keras untuk memulai percakapan mereka agar semuanya kembali terasa nyaman. Dia tidak mau, kesempatan yang di dapat sesekali ini harus tercampur dengan rasa tak nyaman. Membuat wanita idamannya, menjadi semakin menjauh dari jangkauannya.
"Belle, kenapa kamu lebih memilih merahasiakan identitasmu?" Tanya Kevin yang sesekali menatap ke arah wanita yang masih duduk di sampingnya itu.
__ADS_1
"Hem ... bolehkan aku merahasiakannya untuk diriku sendiri?" Bukannya menjawab, Belle malah balik tanya.
"Sebenarnya, tanpa kamu beritahu pun, aku sudah tahu alasannya." Jawab tangkas Kevin sambil tersenyum.
"Tahu?" Sela Belle sambil mengernyitkan dahinya.
"Alasan pastinya aku sih tidak tahu. Tapi, aku bisa menjabarkan alasan umumnya," Tuturnya santai.
"Pasti, karena kamu ingin mendapatkan teman yang tidak memandang siapa kamu, kan? Tapi, kamu ingin mencari teman yang bisa tulus berteman denganmu. Seperti ... aku ini!" Celotehnya panjang lebar.
"Ujung-ujungnya tidak enak!" Decih Belle menimpali.
Tanpa terasa, mereka sampai di rumah sakit. Belle dan Kevin langsung berjalan beriringan di koridor rumah sakit. Setibanya mereka di depan pintu ruangan Bara, terdengar suara orang yang tertawa bersahut-sahutan dari dalam. Terdengar suara Rey yang sepertinya mengajak Daniel berbicara.
"Kenapa kamu selalu melihat jam itu? Takut jam mahalmu lari?" Tanyanya yang terdengar mengejek.
"Tidak. Aku sedang menunggu untuk bertemu seseorang." Jawabnya sambil kembali melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya lagi.
Mendengar Jawaban Daniel, Belle seketika menegang di depan pintu. Dia berpikir kalau Daniel sedang menunggu waktu yang tepat untuk mengunjungi pacarnya.
Dengan menepis segala prasangka dan sakit hati, Belle yang sedari tadi memang sudah memegang gagang pintu, dia segera membuka pintu dan masuk seperti biasanya. Wajahnya terlihat ceria seperti tidak terjadi sesuatu.
"Kak...!?" Sapa Belle yang langsung berjalan ke arah Bara dan Embun. Dia mengecup pipi Embun kemudian kembali berdiri di sebelah Kevin.
Dia hanya tidak memperhatikan. Sedari tadi, ada sepasang mata tajam yang terus memperhatikannya. Bak elang yang ingin menerkam mangsanya. Jika diibaratkan seperti pisau, pisau itu siap untuk memotong dan mengiris-iris daging mangsanya.
"Kak, perkenalkan ini Kevin. Dia adalah Kakak seniorku di kampus." Belle menepuk pelan bahu Kevin sambil tersenyum. kemudian dia kembali mengatakan, "Kevin lah yang telah menolong Kakak dan Kak Embun pada saat kejadian kecelakaan waktu itu." Imbuhnya.
Mendengar penuturan Belle. Bara langsung tersenyum tulus pada Kevin. Bukan karena Kevin telah menyelamatkan nyawanya, tetapi dia merasa sangat berterima kasih karena Kevin telah menyelamatkan Embun dan kedua anak kembarnya itu.
__ADS_1
Bara berbincang-bincang dengan Kevin. Dia berulang kali mengucapkan kata terima kasih kepada laki-laki itu. Bara berpikir kalau Kevin mungkin adalah pacar adiknya itu. Jadi, dia menitipkan Belle pada Kevin agar laki-laki itu menjaga adik perempuannya itu. Tentu saja Kevin pun menyanggupi hal itu dengan senang hati. Tetapi ada dua orang yang merasa tidak nyaman dengan permintaan Bara tersebut.
Belle langsung memasang wajah masamnya saat mendengar Kakaknya meminta Kevin untuk menjagany. Dia merasa kurang senang dengan permintaan Kakaknya tersebut. Tetapi, dia juga tidak bisa mengatakan apapun. Belle tahu, keputusan Kakaknya tidak dapat diganggu gugat. Jadi dia hanya bisa memasang wajah senyum terpaksa saja.
Apa maksudnya ini? Aku kan bukan anak kecil yang harus diawasi begitu. Dan, kenapa dia belum pergi juga. Bukankah dia harus pergi menemui pacarnya? Mungkin dia ingin mendengar dan ingin melepaskan tanggung jawabnya untuk menjagaku dan Brandon selama ini. Huh! Menyebalkan.
Berbeda dengan Belle, Daniel yang sedari awal sudah tak suka tatkala melihat keakraban Belle dan Kevin. Kini, setelah mendengar permintaan Bara dia lebih menggelapkan wajahnya, seakan-akan awan hitam yang berhiaskan guntur tengah menari-nari di wajahnya.
Apa-apaan Bara. Kenapa dia menyerahkan tanggung jawab menjaga Belle pada orang yang baru dikenalnya. Sangat tidak etis.
Saat mereka sedang berperang dengan perasaannya masing-masing. Dokter dan beberapa orang pun masuk ke ruangan itu. Mereka menyampaikan kabar bahagia untuk mereka semua yang berada di ruangan itu.
"Tuan Bara, Nyonya Embun, Hari ini kalian sudah diizinkan pulang." Seru Dokter itu sambil tersenyum ramah.
"Ah, benarkah? Apakah hanya kami yang sudah diizinkan pulang?" Tanya Embun yang sedikit kecewa karena berpikir anak-anaknya belum diperbolehkan untuk pulang.
"Untuk kedua bayi kembar kalian, kami harus memeriksanya sekali lagi. Jika sudah benar-benar sehat dan tidak memperlihatkan gejala apa pun pada mereka. Mereka juga diizinkan pulang." Jawab sang Dokter yang seakan mengerti dengan raut kecewa Embun tadi.
Tidak perlu dijelaskan lagi. Dengan kecanggihan teknologi zaman sekarang, dan dengan alat-alat yang lengkap. Dapat mempermudah penyembuhan seorang pasien.
Embun merasa sangat senang dengan kabar ini. Dia memang sudah tidak betah kalau harus berlama-lama lagi di sana.
"Uhh senangnya. Akhirnya bisa pulang." Ucapnya tertaw. "Mulai sekarang, kita bisa mulai mencari referensi gaya baru." Lanjutnya.
"Gaya baru? Jingga, kamu juga harus mengerti. Meskipun kita menemukan banyak referensi gaya baru, tapi kita tetap saja belum bisa melakukannya." Sahut Bara
Jawaban laki-laki itu membuat istrinya menaikkan sebelah alisnya.
Jangan lupa tinggalkan like, berikan komentar dan gift beserta vote. Berikan rate 5 dan tambahkan ke daftar favorit kamu ya
__ADS_1
Terima kasih ❤️❤️