
"Anda memang tidak pernah berubah, Paman. Selalu saja banyak siasat dan sangat licik." Ucap seseorang dari balik pintu.
Mendengar ucapan yang menghina dirinya, Albert langsung menoleh ke arah pintu. Namun, dia masih belum bisa melihat orang yang mengatainya itu.
Bukan hanya Albert yang melihat ke pintu, semua orang yang berada di ruangan itu ikut menoleh ke sana.
"Siapa itu?" Tanya Albert yang sudah mengeraskan rahangnya sambil mengepalkan tangannya.
KREETT
Seketika pintu terbuka. Muncul lah Daniel bersama Rey dari balik pintu. Mereka berjalan masuk dengan santai. Bahkan, wajahnya tidak merasa menunjukkan rasa bersalah sedikitpun. Melihat wajah mereka yang tanpa dosa, membuat Albert kembali mengeram marah.
"Apa maksud kalian?" Hardiknya, matanya menatap tajam ke arah Daniel dan Rey, karena dia tidak tahu, siapa diantara mereka yang mengatainya tadi.
Seketika mereka langsung menoleh melihat Albert. Keduanya memasang senyum bodoh yang membuat Albert lagi-lagi bertambah marah.
"Tidak ada maksud apa pun. Maksudku, Anda dari dulu memang sangat pintar dan bijak." Cicit Daniel sambil menyeringai, melihat raut wajahnya itu, orang pasti tahu kalau dia sedang mengejek.
"Ya. Seperti seekor harimau tua. Penuh perhitungan dan hati-hati. Tapi, kancil yang bijak, pasti lebih pintar. Dia selalu bisa melepaskan diri dari cengkraman predatornya dengan kecerdikannya." Imbuh Rey sambil terkekeh geli.
Daniel dan Rey sama-sama tertawa. Albert hendak maju dan melayangkan tinjuan ke wajah mereka. Namun, tangan Deva langsung melingkar di lengan Albert, berharap Albert bisa meredakan emosinya.
Untung saja hal yang dilakukan oleh Deva berhasil. Albert dapat meredamkan emosi nya yang tadi sempat memuncak gara-gara mendengar ucapan dari Daniel dan Rey.
"Di mana anakmu, Bara?" Tanya Albert yang seolah tak perduli dengan sindiran Daniel dan Rey barusan.
Melihat kelakuan Albert yang tidak perduli, Daniel dan Rey saling pandang dan sama-sama mencebikkan bibirnya.
"Sudah berada di depan mata, tapi masih saja bertanya." Sahut Rey. Karena Bara memang sedang menimang anaknya di depan mereka semua. Tapi Albert masih saja bertanya seperti berpura-pura.
Sialan anak ingusan ini! Dari tadi selalu membuat emosiku naik. Jika bukan di sini, pasti dia sudah kuhabisi sampai tak bersisa.
"Jangan terlalu emosi! Nanti darah tinggi naik, malah masuk ke ruangan sebelah." Celetuk Rey yang masih saja menyindir Albert sambil tertawa.
Semua yang berada di sana tertawa lucu mendengar kelakar dari Rey. Walaupun tidak mengerti untuk siapa, tapi mereka tetap saja tertawa. Kecuali Albert dan Deva.
__ADS_1
"Biarkan Paman gendong, Bara." Albert sudah mengulurkan tangannya dan hendak mengambil Hansel, tapi ucapan Embun langsung menghentikan gerakannya.
"Bara Sayang, sepertinya anak kita sudah mengantuk. Biarkan mereka kembali ke ruangannya, ya?" Ucap Embun. Terlihat jelas kalau dia tidak mengizinkan Albert menyentuh anak-anaknya.
"Ya, sepertinya memang begitu. Ya sudah, biarkan lah mereka istirahat." Jawab Bara setuju. Dia langsung memberikan bayinya pada suster yang akan membawa bayi mungilnya ke ruangan mereka.
Lagi-lagi Albert dibuat tercengang dengan perlakuan tak hormat Embun padanya. Dia merasa jengkel dengan sikap wanita itu, tapi tak bisa berbuat apa-apa di depan Bara. Dia harus menjaga citra baiknya agar Bara tetap berprasangka baik padanya.
"Jadi, Paman, sekarang Anda tinggal di mana?" Tanya Bara.
"Aku masih di Amsterdam. Aku ke sini hanya karena ingin mengunjungi kamu saja." Jawabnya.
"Selama di sini, di mana Anda tinggal?" Tanyanya lagi.
"Aku menginap di apartemen Deva." Sahutnya sambil melirik ke arah Deva.
"Tinggal di rumah kami saja, Paman. Rumah kami selalu terbuka untukmu." Seru Bara sambil tersenyum.
Albert merasa senang karena Bara memintanya untuk tinggal di rumahnya. Tapi, saat dia melihat raut wajah Embun yang kurang senang dengan keputusan suaminya itu. Rasa senang Albert seketika memudar. Dia tahu, Embun jelas-jelas tak menyetujuinya.
"Tidak usah, Bara. Aku tinggal bersama Deva saja."
Kenapa dia harus menolaknya sih! Bukankah ini kesempatan yang bagus. Aku juga bisa sering-sering ke rumah itu dengan alasan menemui Ayah!
Setelah berbincang-bincang beberapa saat. Albert dan Deva berpamitan untuk pulang. Mereka merasa tak nyaman di sana karena ada Rey dan Daniel.
Sesampainya di koridor rumah sakit, mereka berjalan beriringan. Deva berusaha mensejajarkan langkahnya dengan Albert.
"Ayah, kenapa kamu menolak tawaran Bara tadi? Bukankah itu kesempatan bagus untuk kita?" Tandasnya, Deva masih saja merasa kesal.
"Deva, kita harus mempertimbangkannya baik-baik. Kita tidak boleh salah melangkah." Sahut Albert.
"Tapi, mungkin saja kita tidak akan bisa mendapatkan kesempatan bagus seperti itu lagi, Yah." Cecarnya.
"Kamu tenang saja. Kesempatan akan selalu datang pada kita. Rencana kita akan berjalan dengan mulus." Sahutnya percaya diri.
__ADS_1
"Rasanya aku ingin sekali menghabisi wanita itu!" Ucap Deva dengan nada kesal. Wanita yang dimaksud adalah Embun.
"Sudahlah. Jangan berbicara yang aneh-aneh lagi. Takut nanti ada yang mendengar, akan membahayakan kita." Seru Albert memperingati.
Deva menyetujui ucapan Albert. Namun, dia tetap saja mengerucutkan bibirnya merasa tidak terima dan merasa benci dengan Embun.
*******
Di kampus, kini Belle sedang mencari-cari keberadaan Kevin. Sejak kejadian waktu itu, dirinya sama sekali belum bertemu dengan Kevin. Laki-laki itu seolah menghilang dari pandangan mata Belle.
Setelah lama mencari, akhirnya Belle menemukan Kevin sedang berada di perpustakaan bersama dengan teman-temannya. Dia langsung mendatangi Kevin untuk mengajaknya bicara.
"Kevin, aku ingin berbicara denganmu." Ucap Belle yang tiba-tiba sudah berdiri di samping Kevin.
Kevin mengangguk, kemudian dia berpamitan pada teman-temannya terlebih dulu.
"Kenapa, Belle?" Tanya laki-laki yang selalu menatapnya dengan tatapan sendu itu.
"Aku hanya ingin berterima kasih padamu." Jawab Belle.
"Tidak perlu sungkan. Menolong sesama itu memang sudah tugas sesama manusia." Sahutnya sambil tersenyum manis.
"Dan, bisakah kamu menjaga rahasiaku?" Belle bertanya dengan suara lirih, karena takut dengan jawaban laki-laki itu jika tak sesuai dengan keinginannya.
"Rahasia apa?" Tanya Kevin yang pura-pura tidak tahu.
"Hem ... rahasia kalau aku adalah Adik dari Bara Wirastama." Ucap Belle mantap. Dia harus segera menyelesaikannya agar rahasia yang selama ini ia jaga tak bocor kemana-mana.
"Rahasia itu? Oh...." Kevin tampak ber-o ria.
"Ya. Bisakan?" Belle sangat berharap kalau laki-laki itu mau menjaga rahasia yang telah ia simpan selama ini.
"Hem ... tapi aku punya satu syarat untukmu." Seru Kevin kemudian setelah sekian detik berpikir.
Jangan lupa tap like, berikan komentar, berikan gift dan vote. Berikan rate 5 dan tambahkan ke daftar favorit kamu ya.
__ADS_1
Semoga tidak pernah bosan dalam menunggu novelku up ya Akak-akak. Karena, dalam beberapa hari ini aku memang lagi sibuk banget sama real life ku 😁
Thank you atas dukungan kalian ❤️❤️❤️❤️❤️