
Tapi, belum pun cincin itu sampai ke tempat tujuan, ada suara seseorang yang berteriak meminta mereka untuk segera menghentikan acara itu.
"Berhenti! Kalian tidak bisa melanjutkan acara ini!"
Belle dan Daniel kompak melihat ke arah suara lantang yang memberhentikan mereka. Terlihat Kevin berdiri di bawah pentas, dekat dengan mereka.
Kevin menatap mereka dengan tatapan murka. Wajahnya yang menyiratkan kemarahan sangat jelas terlihat.
"Ckck, ada apa lagi ini?" decak Belle kesal.
"Belle, kau tidak bisa melakukan ini. Kau pacarku, bagaimana bisa kau tiba-tiba melangsungkan pertunangan dengan orang lain?" cecar Kevin dengan suara lantang. Membuat semua orang melihat ke arah mereka sambil berbisik-bisik.
"Satpam!" teriak teman-teman Belle memanggil petugas keamanan. Setelah para petugas keamanan berdatangan, mereka mulai memegangi lengan Kevin. "Usir dia dari sini. Jangan biarkan dia masuk lagi."
"Lepaskan aku! Kenapa kau memperlakukan aku seperti ini? Kau takut aku akan membuka semua cerita kita dan kau akan kehilangan wajahmu?" pekik Kevin tertawa menyeringai.
Belle menghela nafas dan ikut tertawa.
"Lepaskan dia, aku mau mengatakan sesuatu padanya," titah Belle.
Belle menatap wajah Kevin dengan kesal. Lalu, mulai membuka mulut dan menjabarkan semua kesalahan laki-laki tak tahu malu itu.
Dengan masih berada di atas pentas, dia mulai berkata pada Kevin, yang masih menatap Belle seperti menunggu apa yang akan dikatakan Belle.
"Aku merasa menyesal telah mengundangmu datang, Kevin!" keluh Belle berdecak.
"Karena kau takut aku mempermalukanmu, kan? Seharusnya kau sadar, aku ini kekasihmu."
"Namun, aku mengundangmu karena masih menganggapmu sebagai teman yang baik." Belle melanjutkan ucapannya, dia tidak memperdulikan ucapan-ucapan Kevin yang menyahutinya.
"Tapi, sepertinya kau tidak menyambut itikad baikku ini. Bahkan di hari bahagiaku, kau masih berniat merusaknya. Jujur kukatakan, aku benci tipe orang seperti dirimu ini," imbuh Belle.
"Belle, kenapa setiap kata-katamu terdengar menyudutkanku? Padahal, seharusnya akulah yang marah padamu!" protes Kevin, merasa tidak terima dengan pernyataan-pernyataan yang diucapkan oleh Belle di depan umum.
"Aku tidak akan menjelaskan panjang lebar. Aku telah menyiapkan sebuah bukti untuk kalian. Kalian bisa melihatnya sendiri." Setelah ucapan Belle selesai, ponsel para tamu undangan pun berbunyi pertanda adanya notif berita masuk.
Para tamu undangan melihat Vidio yang terkirim ke ponsel mereka. Vidio yang memperlihatkan saat Kevin bersama teman-temannya dan mengakui hanya mau mempermainkan Belle saja dan sebenarnya dia juga sudah memiliki seorang kekasih.
Kevin melihat ke sekelilingnya, mata orang-orang menatapnya tajam seolah siap menekannya hidup-hidup.
Mulai mencibir, mengomeli mengumpat dan memarahi sikap Kevin yang terlalu berani mempermainkan seorang Belle Wirastama. Bahkan, ada yang blak-blakan melabelinya dengan kata-kata laki-laki tidak tahu malu.
"Aku memang berteman baik dengannya, tapi tidak pernah ada ikatan hubungan spesial diantara kami. Teman-temanku juga mengetahui hal itu." Belle menambah penjelasannya.
__ADS_1
Belle turun dari pentas dan berjalan mendekati Kevin. Dia mulai mendekatkan tubuh mereka dan membisikan sebuah kalimat yang dapat membuat bola mata Kevin membulat sempurna seraya tubuhnya pun ikut menegang.
"Kevin, apakah ini sudah sebanding dengan perbuatanmu? Ya aku akui, kita memang pernah menjadi sepasang kekasih yang sangat manis, tapi sekarang kita tidak punya hubungan itu lagi. Lain kali, ada baiknya mengukur kemampuan diri sendiri. Jangan menganggap diri terlalu tinggi!"
"Ahh aku hampir lupa. Orang tuamu sudah menandatangi perjanjian untuk tidak akan ikut campur lagi dengan semua masalahmu. Jadi, selamat jalan, Kevin. Mungkin setelah keluar dari sini, kau akan merasakan hidup luntang-lantung di jalanan!" ucapnya sambil sesekali tertawa mengejek.
Belle kembali menegakkan tubuhnya, berjalan menjauh dari Kevin yang masih termangu karena kalimat-kalimat yang terucap dari mulut Belle.
"Apa yang ingin kukatakan, sudah selesai kusampaikan," ucapnya. "Kalian, bawa dia keluar dari sini!"
Kevin terkejut saat sekuriti kembali memegangi dirinya. Menyadarkannya secara paksa dari lamunan.
"Kau tidak bisa seperti ini Belle!" pekik Kevin sembari meronta dari pegangan para sekuriti yang siap melemparkannya keluar.
Kevin terus saja berteriak-teriak sampai suara dan bayangan tubuhnya menghilang dari pandangan mata.
Dia kembali naik ke pentas dan memposisikan dirinya di samping Daniel.
"Lanjutkan acaranya!" titahnya pada sang MC.
MC mengangguk dan mulai mengeluarkan suara-suara kemeriahannya.
"Maaf karena tadi acara kira terganggu. Sekarang, kita bisa kembali fokus dengan acara intinya," senandung sang MC yang kembali memeriahkan suasana yang tadinya sempat canggung.
"Sekarang, ayo kita lanjutkan pertukaran cincinnya!" seruan sang MC bersanding dengan tepukan tangan para tamu. Membuat suasana menjadi riuh dengan semangat.
"Jangan nakal-nakal lagi, Belle. Sebentar lagi kau akan menjadi milikku!" bisik Daniel membuat Belle bergidik ngeri.
"Kak, ayo kita berdansa...." ajak Belle mengalihkan ucapan Daniel.
"Ayo!"
Lagu khusus untuk menemani dansa pun dihidupkan. Banyak juga pasangan yang ikut berdansa bersama pasangan mereka. Lagu pengiring itu sangat romantis, hingga banyak yang terhanyut dalam dansaan yang mereka mainkan.
Melihat para orang dewasa yang berlaku romantis di hadapannya, ada seorang anak kecil berdecih kesal. Menganggap semua itu hanya urusan tak penting.
"Cih, menyebalkan sekali!" gerutunya sambil berdecih kesal.
"Lebih baik aku mengembangkan potensiku dari pada harus berada di sini, mengotori mata murniku. Melihat orang dewasa yang tidak tahu malu ini." Brandon beranjak dari duduknya namun ditahan oleh Embun.
"Brandon, kamu mau ke mana?" tanyanya pada laki-laki yang sudah berumur lima belas tahun itu.
"Ke kamar, Kak. Aku bosan di sini," sahutnya tanpa melihat ke arah lawan bicaranya.
__ADS_1
"Tunggu acaranya selesai dulu. Nanti baru kembali, ya?" pinta Embun yang masih menahan Brandon dengan memegang lengan Brandon.
"Ada sesuatu yang harus kulakukan, Kak. Jadi aku harus kembali sekarang," ucapnya memberi alasan.
"Baiklah. Jika kamu merasa bosan di kamar, datang saja lagi kemari."
Brandon hanya mengangguk. Tanpa berkata apa-apa lagi, dia masuk ke dalam kamarnya.
Saat dia sedang berjalan di tangga, ada seorang gadis kecil yang sedang memegang sebuah gelas yang berisi minuman tak sengaja menabraknya.
"Maafkan aku, Paman!" ucap gadis kecil itu dengan bahasa cadelnya.
"Hey, matamu yang mana pernah melihatku menjadi pamanmu?" hardik Brandon pada gadis kecil yang masih menundukkan wajahnya ketakutan.
"Ta-tapi, kamu lebih dewasa dariku, Paman. Sudah seharusnya aku memanggilmu Paman, kan?" ucap gadis itu lagi dengan lutut yang terlihat gemetaran.
"Dasar gadis pembawa sial! Sudah jalan tidak pakai mata, menabrakku, mengotori bajuku dan malah memanggilku paman? Pergi kau!" cerca Brandon kesal dengan wajah merah.
Mendengar ucapan yang menghinanya, gadis itu mengangkat kepalanya mendongak menatap Brandon dengan tatapan tajam dan bengis. Lututnya yang gemetaran sudah kembali tenang. Tampangnya yang tadi sudah benar-benar lenyap.
"Hei, Paman! Coba kau lihat wajahmu itu, memang lebih tua dariku, kan? Kau lihat aku ini anak kecil, tapi kau mengomeliku hanya karena tidak sengaja menabrakmu? Kau benar-benar seorang Paman yang kejam. Bahkan umurku saja baru tiga tahun, tapi kau sudah sangat keterlaluan!" celoteh gadis kecil itu dengan bahasa cadelnya. Bacanya dengan bahasa cadel juga ya, niat lebih menjiwai, hehe.
Brandon melihat gadis kecil itu dengan seksama, kembali memperhatikan lutut yang tadi bergoyang namun kali ini tidak.
Hey hey, ke mana rasa takutmu tadi itu? Lututmu gemetaran, wajahmu menunduk. Tapi sekarang, kau menantangku?
Bosan mendengar gadis kecil itu terus mengoceh, Brandon menutup mulut gadis itu dengan telapak tangannya hingga gadis kecil itu berhenti dari celotehan panjangnya.
"Jika kau tidak mau diam, aku akan memotong lidahmu agar kau tidak dapat berbicara selamanya! Mau?" ancam Brandon.
Gadis kecil itu langsung menggeleng.
Brandon melepas mulut gadis itu, dan gadis kecil itu langsung berlari menuruni anak tangga secepat kilat.
"Dasar Paman jahat!" teriak gadis itu sebelum benar-benar menghilang.
"Dasar gadis aneh, kuharap kita tidak akan pernah bertemu lagi," dumelnya dan kembali menuju kamarnya.
Maaf karena udah lama belum update, soalnya kemarin-kemarin moodku ambyar😭 Tapi setekah minim energ*n kacang hijau udah bailk kok.
Terima kasih karena kalian masih bersedia membaca karya recehku ini
Seperti biasanya, dukung karya ini dengan berikan like, komentar, gift, dan vote sebanyak-banyaknya.
__ADS_1
Berikan rate 5 ya kak ❤️
Terima kasih ❤️❤️❤️❤️