
"Selanjutnya, Nyonya Embun!" Panggil sang perawat.
Mendengar nama Embun yang dipanggil, Bara menjadi gelisah dan senang. Dia tidak sabar untuk bertemu dengan Embun dan calon buah hatinya itu. Bara terus senyum-senyum sendiri. Dan Dokter Livina juga sedari tadi memperhatikan laki-laki yang sebentar lagi akan menjadi Ayah itu.
Tidak salah aku telah menyetujui permintaanya.
KRIET
Pintu itu berdecit saat seseorang menolaknya dari luar untuk membuka. Seiring dengan terdengarnya tapak kaki, hati Bara juga semakin menjadi tak karuan. Entah apa yang membuatnya segugup ini. Padahal, hanya bertemu Embun saja.
Embun masuk dan langkah kakinya terhenti, dia tertegun sesaat karena melihat Bara yang akhirnya sampai mengikutinya ke sana. Dia melihat ke arah Dokter Livina yang hanya diam saja.
Dia ada di sini sebelum aku. Pasti dia bekerja sama dengan Dokter Livina. Aku memang tidak bisa menyembunyikan apa pun darinya.
"Jingga...?!" Sapa Bara dengan tersenyum menampilkan deretan giginya.
Sebenarnya Embun enggan memperdulikan laki-laki itu. Tapi, dia sungkan karena di sana ada Dokter Livina dan juga asistennya. Jadi, dia tidak ingin membuat Bara malu atau mati kutu. Embun tetap tak niat menyahut, dia hanya tersenyum saja untuk membalas sapaan laki-laki yang selalu saja menemukan tempat-tempat yang sering dia kunjungi.
"Nyonya Embun, bagaimana akhir-akhir ini? Apakah ada keluhan?" Tanya Dokter Livina.
"Tidak ada, Dok. Masih dalam batas normal." Sahut Embun. Dia memang tidak merasakan keluhan yang terlalu merepotkan. Keluhannya hanya hal yang umum terjadi pada Ibu hamil, karena dia sering membaca tentang tahap-tahap kehamilan, jadi dia sudah tahu dan sedikit mengerti tentang keluhan yang sering dia rasakan.
Dokter Livina memang mengatur jadwal untuk Embun melakukan pemeriksaan rutin setiap bulannya. Karena dia sedang mengandung anak kembar, dan semakin lama juga kandungannya semakin membesar. Jika Embun ikut mengantri, dia pasti akan merasa pengap dan jengah saat menunggu.
"Baik, seperti biasanya, ya. Ayo berbaring." Dokter Livina mulai mengenakan Handscoon, atau biasa disebut sarung tangan medis.
Dia mulai mengoleskan Clear Ultrasound Gel dan mulai mengarahkan Dopler untuk mendapatkan gelombang suara yang paling baik.
Bara langsung berkaca-kaca saat melihat kedua anaknya bergerak-gerak ke sana ke sini. Wajahnya juga terlihat mirip dengannya. Dia melihat sampai menangis haru.
__ADS_1
Seperti biasanya, Dokter Livina menjelaskan semuanya. Mulai dari lingkar kepala, berat badan, volume air ketuban, dan lain-lain.
Bara tidak mendengarkan apa yang dijelaskan oleh sang Dokter, dia hanya fokus dengan bayi yang bergerak ke sana ke sini yang membuatnya tersenyum dan menangis haru.
"Bagaimana, apakah kali ini tetap tidak ingin mengetahui jenis kelaminnya?" Tanya Dokter Livina sembari melihat ke arah embun dan Bara secara bergantian.
Embun memang tidak pernah mau mengetahui jenis kelamin Anak kembarnya itu. Menurutnya apapun jenis kelamin kedua anak kembarnya itu dia tetap bersyukur. Yang terpenting mereka sehat dan serba tidak kekurangan apapun. Begitu pula dengan Bara, dia hanya menggeleng pelan. Dia mengikuti kemauan Embun. Hal itu membuat Embun juga merasa semakin puas.
Dokter Livina tersenyum samar melihat sepasang calon orang tua itu. kemudian dia berkata sambil tersenyum bermaksud menggoda Embun, "Kalian kompak sekali ya? Apakah sebelum datang kemari, kalian sudah sepakat untuk tidak mengetahui jenis kelamin anak-anak kalian. Kalau begitu selamat penasaran sambil menunggu waktunya persalinan."
Embun hanya tersenyum sekilas menanggapi kelakar dari Dokter Livina. Lalu dia melihat ke arah Bara yang sedari tadi tidak henti-hentinya menatap ke arah layar. kemudian terpikir lah sesuatu oleh Embun, agar Bara tidak selalu mengikutinya ke rumah sakit untuk memeriksa. Meskipun Bara hanya ingin melihat anaknya saja, tetapi embun tetap merasa keberatan dengan kehadiran Bara.
Lalu, Embun pun bertanya kepada dokter Livina, "Dok, apakah aku bisa mengganti jadwal pemeriksaan ku?" pertanyaan Embun sukses mencuri perhatian Bara. Yang semulanya dia menatap kearah layar, setelah mendengar pertanyaan Embun, dia langsung menatap balik kearah embun dengan tatapan tajamnya. Dia merasa tidak terima kenapa embun melarangnya untuk melihat anak-anaknya meskipun hanya melalui USG.
Setelah melihat anak-anaknya melalui USG barusan, dia merasa bahwa dia juga berhak memiliki anak-anaknya. Kesalahannya pada masa lalu, tidak bisa menjadi patokan alasan kalau dia harus dijauhkan dari anak-anaknya. Sebenarnya, Bara merasa sedikit kesal karena Embun seperti menjauhkannya dari calon anak-anaknya itu. Tetapi dia tidak berani meluapkan rasa kesalnya.Takut kalau-kalau Embun akan melangkah pergi semakin jauh. Tentu saja, dia nanti akan semakin susah bertemu dengan Anaknya.
"Sepertinya tidak bisa, Nyonya. Semakin hari, sangat banyak orang yang ingin mendaftar untuk memeriksa kandungannya. Yang ada, susah untuk kami mencari jadwal yang pas untuk Anda." Alibinya menolak permintaan Embun.
"Hem, kalau begitu tidak apa, Dok. Saya permisi." Ucap Embun. Dia tidak merasa curiga karena jawaban Dokter Livina sangat masuk akal menurutnya.
Setelah Embun keluar, Bara mengeluarkan dompetnya, bermaksud memberikan sedikit ucapan terima kasih karena sang Dokter memperbolehkannya menunggu Embun di sana dan melihat proses USG nya.
"Tidak perlu, Tuan. Saya hanya melakukan kewajiban saya." Tolaknya.
Bara kembali memasukkan dompetnya ke dalam saku. Karena Embun sudah keluar terlalu lama, dia memutuskan untuk mengejar Embun secepatnya.
Setelah melihat Embun, Bara langsung menghadang jalan Embun. Benar dugaannya, dengan perut sebesar itu, mana mungkin Embun bisa melangkah cepat. Tapi, untung saja Embun lewat jalan utama. Kalau tidak, mungkin pun Bara tetap akan kehilangan jejak Embun.
"Ada apa lagi, Bara?" Tanya Embun sambil memutar bola matanya.
__ADS_1
"Jingga, ayo kita makan terlebih dahulu." Ajak Bara.
"Maaf, Bara. Tapi aku tidak bisa pergi denganmu. Aku harus membantu pegawaiku di toko. Toko sedang ramai." Cetus Embun.
"Jingga, kamu harus sering istirahat. Dengan perutmu yang sebesar ini, seharusnya kamu bisa lebih sadar. Untuk apa kamu punya banyak pegawai, kalau tetap harus kamu yang ikut bekerja. Kalau begitu, besok aku akan mengirimkan beberapa bawahanku untuk membantumu di toko roti, pastinya yang berkompeten." Tegur Bara yang tak mau ada terjadi sesuatu pada Embun dan Anaknya.
"Bara, sekarang aku sendiri. Jadi, jika bukan aku yang berusaha lebih keras, tidak akan ada yang mau membantuku."
"Siapa bilang kau sendiri, Jingga? Aku masih sah menjadi suamimu. Aku masih berhak atas dirimu, aku berhak menafkahimu dan melarang apa pun yang kau lakukan! Kau harus mendengarkan aku, karena itu juga bukan untukku. Tapi untuk kebaikanmu dan keselamatan anak-anak kita." Tandas Bara yang tak ingin pasrah jika sudah menyangkut keselamatan Anaknya.
"Kenapa? Kau baru tersentuh sekarang, karena tadi melihat anak-anakmu yang bergerak-gerak? Selama ini ke mana saja? Setelah kau tahu bagaimana wajah Audrey, kau meninggalkan dia, barulah mengejar kami? Jangan bermimpi, aku tidak akan pernah mau menjadi seorang figuran!" Cerca Embun.
"Jadi, selama ini kau berpikir, aku meminta maaf padamu, semua itu aku lakukan karena aku dan wanita itu sudah tidak bersama?" Bara memang terkesiap mendengar penilaian Embun terhadap maafnya.
"Benar! Memang seperti itu, kan?" Tanya Embun berang.
"Kalau kau menilai diriku seperti itu, tidak apa-apa. Tapi, aku mohon padamu. Ikut aku sekali ini saja, aku ingin membawamu dan calon anak kita jalan-jalan bersama. Mungkin, yang terakhir. Karena setelah ini, aku tidak akan menganggu kalian lagi." Bara tersenyum miris mendengar ucapannya sendiri. Kali ini dia bersungguh-sungguh, bukan seperti saat itu.
"Baik. Tapi setelah ini, aku berharap kau bisa menjaga janjimu itu." Ucap Embun.
Mereka jalan menuju parkiran, tempat di mana mobil Bara. Embun masuk ke dalam mobil, di dashboard mobil itu ada foto pernikahannya dengan Bara. Dia hanya melihat sekilas lalu membuang pandangannya.
"Aku akan menepati janjiku. Tapi, untuk hari ini, jadilah istriku yang sesungguhnya. Meskipun hanya berpura-pura saja ... untuk hari ini saja." Pintanya lagi. Setetes air mata jatuh melewati hidung mancungnya.
Jangan lupa berikan komentar, tap like, berikan gift. Dan, mumpung hari ini Senin, ayo kasih votenya untuk karya remahanku ini dong, hehe
🤭
Terima kasih untuk semua dukungan kalian❤️❤️❤️❤️❤️
__ADS_1