
Tentu saja hal itu diabadikan oleh banyak wartawan yang sengaja mereka undang. Sinar cahaya kamera sangat menyilaukan mata pada saat itu, dan suara tepukan tangan menggema dari mereka yang membuat keadaan semakin riuh. Seolah-olah mereka juga sangat mendukung hubungan antara Audrey Valencia, sang aktris yang baru-baru saja terkenal dengan Bara Wirastama si Presdir paling kaya dan tertampan.
Hati Embun luruh seketika. Bagaimana tidak, bukan ini kabar yang ingin dia dengar, bukan ini yang dia inginkan. Dia hanya ingin diakui, tapi kenapa rasanya sangat sulit sekali. Bukan dia yang ingin masuk ke kehidupan mereka, tapi tangan Bara sendirilah yang menariknya, memaksanya untuk masuk ke dalam hubungan mereka
"Kenapa dia menyangkal pernikahan kami, apa arti kebaikan sikapnya kemarin padaku." gumamnya, air mata mulai mengucur dengan sendirinya
Embun terisak pelan karena hatinya terasa sudah tak sanggup lagi menampung beban terberatnya.
"Kak, ayo kita makan sekarang. Kami sudah hampir selesai tapi kenapa kamu belum menyusul." Belle terdiam seketika saat melihat Embun yang duduk sambil terisak.
Belle segera menarik tubuh lemah Embun ke dalam pelukannya. Dia masih belum mengerti kenapa Embun menangis.
"Kak, kamu kenapa?" tanya Belle
"Aku tidak apa-apa, Belle." jawab Embun memasang senyum bodohnya sambil mengelap sisa-sisa air mata. Namun sialnya, yang dilakukan Embun tak dapat membantu Belle percaya
Belle langsung merebut ponsel yang dipegang Embun. Dia melihat terpampang wajah Bara dan Audrey, dia langsung melihat ulangan siaran langsung itu agar dia mengerti kenapa Embun menangis.
Belle mengepalkan tangannya merasa geram. Dia tidak menyangka kalau Kakaknya bisa setega itu demi membela wanita yang sudah pernah menyia-nyiakannya.
"Kak, jika kamu ingin mengakhiri semuanya, maka akhiri saja. Aku tidak akan memaksamu lagi. Aku juga mengerti, dapat. merasakan bagaimana sakitnya menjadi kamu. Mulai sekarang, aku akan mendukung semua keputusanmu." ucap Belle sambil memegangi tangan Embun dan menatap netra Embun dalam-dalam
"Aku tidak bisa pergi begitu saja, Belle. Aku masih ingin memperjuangkan pernikahan kami. Belum ada alasan yang kuat, yang membuat aku harus pergi." jawab Embun
"Kak, aku kan sudah pernah mengatakannya padamu, kamu jangan sampai terlalu mencintai, Kak Bara. Jangan sampai bodoh karena cinta, Kak." Belle semakin mempererat genggamannya
"Mencintai suamiku sendiri adalah sebuah keharusan, Belle. Tapi, aku memang tidak dapat memaksakan dia untuk membalas rasa cintaku. Mungkin, yang dia lakukan adalah sebuah kewajaran, karena dia memang belum dapat mencintaiku." ujar Embun
"Tapi, bukankah dia yang menyeret kamu untuk masuk ke dalam hubungan mereka, dia yang memaksamu untuk menikah dengannya. Seharusnya, dia sudah siap untuk melupakan masa lalunya." seru Belle gusar, dia memang tidak pernah mengerti bagaimana jalan pikiran Kakak iparnya itu
"Tidak apa-apa. Aku akan menunggunya beberapa saat lagi. Namun, jika dia melakukan hal yang di luar batas, aku yang akan pergi sendiri tanpa pamit padanya." seru Embun berusaha meyakinkan Belle
"Terima kasih karena sudah tidak membencinya, Kak. Aku akan selalu mendukung semua keputusanmu ke depannya." Belle memeluk Embun
Entah rasa cinta atau kebodohan yang membuatku tetap memilih bertahan di tempatku sekarang. Yang pasti, aku hanya tidak ingin menyia-nyiakan yang namanya pernikahan. Aku ingin seperti orang lain, yang mencintai dan menikah dengan satu orang seumur hidupnya
__ADS_1
"Ya sudah, kamu makan saja, Kak. Biarkan aku yang melayani pembeli." ucap Belle, karena pembeli kembali ramai seperti pagi tadi
******
Di kantor Wirastama Corp, Bara dan Audrey sedang jalan berdampingan karena acara konferensi pers yang mereka adakan sudah selesai. Bara masih saja menggenggam tangan Audrey dengan lembut, mereka membuat setiap orang iri dengan pemandangan keserasian mereka.
Tapi, tiba-tiba saja Audrey melepaskan genggaman tangan Bara saat mereka sudah sampai di ruangan Bara.
"Kenapa kamu melepaskannya, Sayang?" Bara merasa tak terima
"Aku masih kesal denganmu. Kamu tidak ingat, kemarin kamu meninggalkan aku begitu saja? Aku kemarin masih emosi, lho. Kamu tidak merasa khawatir kalau aku akan melakukan sesuatu hal yang membahayakan diriku sendiri?" cecar Audrey panjang lebar
"Maafkan aku. Aku hanya ingin kamu menenangkan dirimu saja. Kalau aku masih terus berada di sana, mungkin kamu akan semakin kehilangan kendali dirimu." jawab Bara memeluk Audrey dari belakang
Audrey kembali melepaskan pelukan Bara. "Jadi, kamu menganggap aku sebagai wanita jalan*, karena telah mencoba merayumu?" sungut Audrey
"Tidak, bukan begitu sayang." sangkal Bara. Padahal, mungkin memang iya, wkwkwk
"Aku melakukan itu semua karena aku ingin kau bisa selalu bersamaku, Bara. Aku mau kau membuktikan rasa cintamu itu. Jika kamu mencintaiku, pasti kamu mau melakukannya denganku." ucap Audrey yang masih tidak terima karena keinginannya tidak dituruti
"Apa? Keadaan bahwa kamu sudah beristri, begitu? Kalau begitu, maka akhiri saja hubungan kita!" ancam Audrey
"Kenapa kamu berubah menjadi seperti ini, Audrey? Di mana Audrey ku yang dulu selalu mengerti keadaanku." ucap Bara sendu
Aku memang tidak pernah menjadi Audrey mu, Bara. Karena aku adalah Audrey milik semua orang, aku minta kamu berhubungan denganku, itu pun karena aku tidak mau kalah dengan wanita miskin itu. Aku harus menunjukkan padanya, kalau dia bukanlah apa-apa. gumamnya
"Aku hanya kecewa saja. Aku pergi sebentar, saat aku kembali kamu malah sudah menikah. Kalau wanita itu bisa membuatmu jatuh cinta padanya, aku akan pergi." ujar Audrey
"Sudahlah, jangan ingat-ingat lagi yang lalu. Yang harus kamu ingat, jangan pernah pergi dariku lagi." ucap Bara lalu memeluk tubuh Audrey. Dalam pelukan Bara, dia tersenyum sinis
*********
Malam harinya, mereka sedang makan bersama seperti biasa. Sebenarnya Audrey sudah menahan Bara agar tidak pulang dan harus menemaninya. Namun, Bara tetaplah Bara yang tidak pernah bisa meninggalkan keluarganya, sesibuk apapun dia tetap akan pulang menyempatkan waktu walau hanya sekedar makan malam bersama di rumah.
"Kak, aku sudah melihat konferensi pers mu tadi pagi." ucap Belle sambil menyuapkan sendok berisi makanan ke mulutnya.
__ADS_1
Embun langsung menyenggol kaki Belle, saat Belle melihat, Embun memelototi matanya untuk memberikan kode agar wanita itu diam. Tapi, sepertinya Belle tidak akan mendengarkan ucapan Kakak iparnya kali ini.
"Konferensi pers apa?" tanya Bara santai, mungkin sudah saatnya adik-adiknya mengetahui keadaan yang sebenarnya.
"Konferensi pers tentangmu yang mengumumkan kalau kamu belum menikah. Dan wanita itu adalah pacarmu!" tandas Belle sambil menekankan setiap kata-katanya.
"Memang seperti itu kan kenyataannya? Audrey memanglah pacarku." jawab Bara
"Tapi Kak. Kak Embun adalah istrimu. Kamu jugak tidak bisa memungkiri fakta itu." Belle jelas tak mau kalah
"Jika Audrey sudah siap menikah denganku. Aku akan segera menceraikannya." ujar Bara. Tapi entah kenapa, saat dia mengucapkan itu, hatinya terasa sakit dan lidahnya terasa kelu.
DEGG
Hati Embun langsung merasa kecewa, sepertinya memang hanya dia yang berusaha memperjuangkan pernikahannya, tidak dengan suaminya.
"Kenapa kamu mempermainkan pernikahan, Kak. Dia sudah pernah meninggalkanmu, untuk apa kamu berharap pada wanita seperti itu."
"Kamu tidak mengerti apapun, Belle. Jadi jangan ikut campur." tegas Bara
"Kenapa kamu sejahat itu, Kak? Jika yang terjadi pada Embun hari ini, terjadi padaku di kemudian hari, apakah kamu akan merasa senang?"
"Tentu saja tidak. Bagaimana mungkin aku bisa merasa senang atas penderita adikku."
"Tapi sepertinya kau merasa senang, karena kau lah yang membawa karma itu untukku. Aku sudah selesai." Belle langsung membanting sendok yang dia pegang dan pergi dari sana. Brandon pun ikut mengekori Kakaknya, ada rasa tak suka dihatinya saat Bara seenaknya mengatakan hal yang sangat tabu itu.
"Tuan, jangan terlalu keras dengannya." ujar Embun memberi peringatan
"Ikut aku!" titahnya pada Embun
Bara beranjak dari duduknya, dan Embun juga mengekor di belakang mengikuti suaminya. Ternyata Bara masuk ke dalam kamarnya, laki-laki itu sudah duduk di atas ranjang mereka sambil menopang dagunya melihat lurus ke depan
Jangan lupa tinggalkan jejak like, komentar, gift vote. Berikan rate 5 dan tambahkan ke daftar favorit kamu ya
Terima kasih ❤️🤗❤️
__ADS_1