
Setelah rekaman cctv itu diputar, seseorang diantara mereka menutup mulutnya dan membelalakkan matanya karena merasa terkejut. Merasa mengenali orang yang mengemudikan mobil yang digunakan untuk menabrak Bara.
Kenapa, kenapa dia? Kenapa dia sangat tega? Aku sangat tidak menyangka dia sampai hati melakukan itu pada kak Embun.
Saat seseorang itu ingin mengatakan sesuatu, tiba-tiba ada suster yang menghampiri mereka, membawa kabar bahagia untuk mereka semua. Mengatakan kalau Embun sudah sadar.
Spontan, orang itu melupakan apa yang baru saja ingin dia katakan dan mereka berbondong-bondong berlari ke ruang rawat inap Embun, meninggalkan Bara sendiri yang meneteskan air mata dalam tidurnya lelapnya.
"Kak...!?" Panggil Belle dan Rena bersamaan setelah sampai di ruang rawat inap Embun. Terlihat Embun sedang di periksa lanjut oleh Dokter Livina.
Saat Rena dan Rey pergi keluar tadi, ada seorang suster yang masuk dan mengganti Rena menjaga Embun. Karena Embun belum sadar, jadi pihak rumah sakit tak.berani meninggalkannya seorang diri. Jadi, meskipun satu orang, tetap harus ada yang menjaganya. Saat Embun tersadar, suster itu menekan tombol interkom untuk memanggil Dokter.
"Bagaimana keadaan Kak Embun, Dok?" Tanya Rena yang terlihat menggebu-gebu berharap Dokter Livina segera menjawabnya.
"Tidak perlu khawatir, Nyonya Embun sudah tidak apa-apa. Hanya perlu beristirahat lebih saja. Dan, sudah bisa mulai belajar memberikan asi, ya!" Ujarnya sambil tersenyum.
"Asi?" Ucap Embun lemah, bibirnya terlihat sangat kering dan wajahnya masih sangat pucat. Dia lun masih terlihat seperti orang yang sedang kebingungan.
Kemudian, dia teringat kalau dia sedang hamil, secara spontan tangannya langsung meraba perutnya mencari-cari bayi yang kemarin masih ia kandung. Lalu, kenapa sekarang perutnya sudah datar?
"Ba-bayi ku, mana?" Pekiknya dengan wajah panik. Dia sangat takut kehilangan Anaknya.
Dan kejadian saat kecelakaan pun kembali terulang di pikirannya, seperti sedang menonton sebuah reka adegan. Dia memegang kepalanya yang terasa sakit. Dan dari bibir pucatnya, satu kata yang berhasil diucapkan, "Bara!" Ucapnya lemah.
"Kak, kamu tidak apa-apa, kan?" Melihat Embun seperti sedang kesakitan, Rena dan Belle langsung berlari ke arah Embun dan memegangi wanita itu agar kembali merebahkan tubuhnya dan jangan terlalu banyak bergerak.
Embun menggeleng pelan sambil tersenyum. Dia kembali bertanya dengan nada suara paling lemahnya. Karena dia merasa harus mengetahui tentang keadaan bayi kembarnya.
"Di mana mereka?" Tanya Embun sambil menatap Rena dan Belle secara bergantian.
"Mereka sehat, Kak." Jawab Belle tersenyum manis.
"Di mana mereka sekarang?" Tanyanya lagi.
__ADS_1
"Mereka sekarang sedang berada di ruang inkubator, Kak." Jawab Rena kemudian.
"Saya permisi dulu." Seru Dokter Levina.
Mereka yang berada di dalam ruangan pun kompak mengangguk. Belle kembali menggenggam tangan Embun.
"Apakah masih ada yang terasa sakit, Kak?" Tanya Belle.
Embun hanya menggeleng saja. Bibirnya terasa kelu saat dia ingin mengucapkan sepatah kalimat. Jadi, untuk memberikan respon atas pertanyaan orang-orang, dia hanya menggeleng atau mengangguk saja.
Tapi, itu sudah cukup membuat orang menjadi lebih lega.
Tidak lama, para suster kembali masuk dengan membawa dua bayi dalam gendongan mereka. Dari mereka masuk, Embun sudah memperhatikannya dan tersenyum simpul.
"Nyonya Embun, Anda sudah bisa belajar menyusui mereka." Ucap sang suster ramah sambil memberikan Anaknya.
"I-ini anak-anakku?" Tanya Embun tak percaya. Tanpa terasa, air matanya mengalir. Sukar untuk dipercaya, dia menikah dengan orang yang tak dikenalnya, selalu disakiti, dan baru kemarin dia mengandung. Dan sekarang, kedua bayi mungil itu berada dihadapannya.
"Berikan padaku, aku mau menggendongnya." Ucap Belle. Suster itu langsung memberikannya pada Belle, setelah itu mereka pun pamit.
Rena terlihat mencuil-cuil pipi kedua keponakannya, dia terlihat sangat gemas pada dua bayi kembar itu. "Lihatlah, yang ini terlihat sangat mirip dengan Kak Embun!" Ucapnya senang sambil kembali mencuil pipinya.
"Sepertinya kau senang sekali dengan Anak kecil. Bagaimana kalau kita memprosesnya sedari sekarang?" Tutur Rey, ucapannya itu tertuju untuk Rena.
Gerakan Rena langsung terhenti saat mendengar ucapan Rey yang pasti untuknya. Embun yang mendengar juga bukannya marah, dia malah tersenyum karena dia tahu kalau Rey menyukai Adiknya itu.
"Apa maksudmu?" Rena berbalik dan memelototi Rey.
Kenapa kak Daniel tidak mengatakan itu padaku? Kalau dia mengatakan itu, aku pasti senang sekali dan langsung menyetujuinya.
"Rena, di mana tas milik Kakak?" Tanya Embun.
"Ada. Sebentar aku ambilkan." Sahut Rena.
__ADS_1
Rena langsung mengambil tas milik Kakaknya yang disimpan di dalam nakas. Untung saja tas beserta isinya itu tidak hilang. Ada seorang pedagang yang memasukkan tas Embun ke dalam mobil saat itu. Embun bermaksud mau mengambil ponselnya, tapi dia malah melihat selembar kertas putih bertinta emas yang juga berada di dalam tasnya.
"Apa ini?" Gumamnya, kemudian Embun membuka kertas itu. Terukir tulisan bertinta emas yang tampak bagus dan rapi.
"Jingga, maafkan lah atas kesilapanku.
Karena telah membuat hatimu ragu dan berakhir kecewa.
Sudah sekian lama aku menggantungkan harapanmu. Tapi, hanya bimbang dan kecewa yang kamu rasakan.
Memang sudah sepantasnya diriku kau salahkah. Karena hatiku sempat hanyut dalam lamunan.
Aku baru tersadar diakhir waktu, sesal dalam hatiku. Maafkan aku karena tak hargai cintamu.
Mungkin memang sudah takdirku, cinta kita terhenti di tangan jalan.
Maafkan atas kesilapanku.
Tapi, aku tetap akan selalu menemani kalian dari kejauhan. Jangan jauhkan aku dari anak-anakku. Meski dari kejauhan, aku tetap ingin melihat mereka tumbuh.
Aku tetap selalu di sini, melindungi kalian dari kejauhan."
Air mata embun menetes, sekelibatan kecelakaan itu kembali terlintas dalam pikirannya.
Bara, maafkan aku juga karena sudah mengabaikan maafmu. Harusnya, aku tak egois, bisa berpikir jernih demi anak kita.
Embun memeluk surat itu dan menitikkan air matanya. Orang-orang yang berada di sana pun heran melihatnya. Mereka tak tahu apa surat itu. Surat itu dimasukkan Bara ke dalam tas Embun saat mereka hendak turun untuk membeli gulali.
Dia menulis surat itu sudah lama, tapi dia merasa ragu karena dalam benaknya, dia tetap harus berusaha untuk mencari maaf Embun. Namun, pada saat di rumah sakit itu, dia sudah membuat janji untuk tak lagi mengganggu Embun. Makanya, surat yang selalu dia bawa itu dia masukkan ke tas Embun. Meskipun dia tak lagi menemui mereka, tapi setidaknya dia mendapatkan maaf dari wanita itu.
Tapi, Tuhan berkata lain. Dia malah harus mempertaruhkan nyawanya sekali lagi untuk melindungi Anaknya baru benar-benar pergi. Entah pergi untuk selamanya, atau pergi untuk sementara waktu.
Mungkin, dengan mempertaruhkan jiwa dan raganya, dia bisa mendapatkan seuntai kata maaf dari Istrinya itu.
__ADS_1