
"Rena, maafkan aku. Aku dan dia memang...."
"Cukup! Pengakuanmu sudah aku terima. Mulai sekarang, jangan pernah temui aku lagi, Om!"
Dengan sigap Rey memegang lengan Rena, menahannya agar tak pergi dan bersedia mendengarkan penjelasannya terlebih dahulu.
Karena ini sangat penting untuk mereka bertiga.
"Rena, dengarkan penjelasanku terlebih dahulu. Ini sangat penting untuk kita," mohon Rey dengan mengatupkan kedua tangannya seraya menatap Rena dengan tatapan sendu.
"Penjelasannya sudah cukup, Om! Aku tidak butuh apapun lagi," ucap Rena lugas sambil menepis tangan Rey yang memegangi lengannya dan menghalangi jalannya.
Bayangan tubuh Rena perlahan hilang dibalik dinding. Mata Rey yang sedari tadi menatap kepergian Rena, kini mata elangnya beralih melihat Amanda yang berada di sampingnya.
Rey menyeret lengan Amanda dan membawanya ke tempat lain, setelah tiba di tempat yang tak banyak dikunjungi oleh orang. Rey menghempaskan tangan Amanda dengan kasar.
"Amanda, apa maksud dari semua ini?" tanya Rey menatap manik hitam itu lekat. Tidak ada perdamaian di dalamnya, hanya ada kebencian yang mendalam.
"Rey, kenapa kau sekasar ini sekarang?" pekik Amanda sambil mengelus pergelangan tangannya yang terlihat memerah. "Dulu kau sangat lembut padaku. Apakah karena dia? Jadi kau berubah dengan begitu cepat?" selidik Amanda dengan mata menyipit.
"Hentikan omong kosongmu, Amanda!" teriak Rey dengan mata yang semakin menajam. Amanda terkejut dengan sikap Rey yang menurutnya berubah. Saat dia menatap Amanda, seolah-olah tubuh wanita itu teriris perih. Namun, dia menyembunyikan semua ketakutannya.
"Rey! Turunkan intonasi suaramu. Aku ini tunanganmu!" kecam Amanda kesal melihat tingkah Rey yang semakin semena-mena padanya.
"Tunangan? Sejak kapan aku pernah berjanji untuk menikahimu?" tanya Rey seperti mengejek. "Kalau pun ada, itu semua sudah tidak bisa kau ungkit. Kau sendiri yang memilih meninggalkan aku sehingga aku menjadi seperti ini, Amanda!" teriak Rey yang tak puas-puas menyalurkan emosinya dengan membentak, memarahi wanita di depannya ini. Setiap melihat wajah Amanda, seperti ada sesuatu yang akan meledak dalam benak Rey.
"Aku minta maaf soal itu, Rey! Bisakah sekarang kita tidak membahas masalah itu lagi? Sekarang aku sudah kembali padamu, kau pasti senangkan Rey?" Amanda menggenggam tangan Rey dan meletakkan di dadanya.
"Lepaskan aku, Amanda! Kau tidak berhak menyentuhku lagi!" decak Rey kesal. "Pergilah, aku tidak lagi membutuhkanmu!"
"Tapi aku masih mencintaimu, Rey! Aku tidak bisa kehilanganmu, apalagi melepaskanmu untuk wanita lain. Itu lebih tidak mungkin!" pekik Amanda berurai air mata.
"Kenapa?" tanya Rey dengan suara lemah.
"Karena aku masih mencintaimu, dan kau tunanganku, Rey! Kenapa kau masih bertanya," jawab Amanda tak mengerti.
"Kenapa kau baru kembali sekarang, setelah kau melemparkan aku ke jurang kekecewaan dan kekelaman, Amanda! Kenapa kau memilih meninggalkan aku saat itu? Bisakah kau menjawab pertanyaan sederhanaku ini?" tanya Rey sembari tersenyum miring karena melihat Amanda yang mendadak gagu.
"A-aku tidak-"
"Apa? Sekarang aku tidak lagi membutuhkanmu, Amanda. Rena yang selalu aku butuhkan untuk hidupku, dia adalah wanitaku saat ini," ucap Rey menekan setiap kata-katanya. "Dan karena kau semua itu hancur, Amanda!" teriak Rey tepat di depan wajah Amanda membuat wanita itu tertegun.
__ADS_1
"Itu karena dia tidak mencintaimu, Rey. Makanya dia tidak bisa mempercayaimu. Rey, lihatlah aku, aku sangat mencintaimu."
"Aku tahu dia mencintaiku. Dia bersikap begitu karena sangat tahu bagaimana diriku,"
"Tidak, Rey!" Amanda menggeleng cepat.
"Amanda, menjauhlah dariku! Aku rasa, kau yang lebih mengerti bagaimana hubungan kita sebenarnya!" Rey langsung meninggalkan Amanda yang mulai menangis. Entah menangis karena menyesal atau karena tidak berhasil membuat Rey kembali ke pelukannya.
******
Malam pun datang, Di kediaman Bara sedang ramai orang berlalu lalang. Karena malam ini pertunangan Daniel dan Belle akan dilaksanakan.
Lampu-lampu berwarna putih dan dekorasi mewah menjadi pemanja mata tamu-tamu yang datang. Banyak orang yang terkagum-kagum dengan dekorasi yang tersusun rapi di ruangan terbuka itu.
"Rena, kamu kenapa murung dari tadi? Ada masalah?" tanya Belle yang masih di make over dan memperhatikan wajah muram Rena lewat kaca.
"Aku tidak apa-apa, hanya kelelahan saja," jawabnya.
"Maafkan Kakak ya, Rena. Hansel dan Hilsa belum bisa ditinggal. Jadi Kakak terpaksa merepotkan kamu," ucap Embun tak enak hati.
"Bukan begitu maksud Rena, Kak."
"Rena, keluarga Kak Rey sudah datang. Kamu tidak menyapa mereka?" tanya Belle.
Rena masuk ke kamarnya, dia merebahkan tubuhnya ke atas ranjang, kakinya bergelantungan. Matanya menatap langit-langit kamarnya. Lampu kamar yang temaram menemaninya dalam isakan tangis.
"Sebenarnya apa salahku, kenapa hidupku kacau seperti ini? Hal buruk apa yang sudah kulakukan di masa lalu, sehingga kebahagiaan pun tak sudi singgah terlalu lama padaku?" keluhnya, tak bisa dipungkiri air matanya pun ikut keluar bersamaan dengan kata-kata yang dia ucapkan.
"Bahkan sekarang orang yang kucintai, orang yang memberikan aku kebahagiaan sudah ikut pergi meninggalkan aku sendiri dalam keabu-abuan ini," tuturnya lagi sambil terisak.
Namun, tiba-tiba ada yang mengelus pucuk kepalanya lembut.
"Jangan menangis, aku tidak ke mana-mana. Orang yang kau cintai, selalu berada disisimu, Rena," ucap orang itu membuat Rena tertegun sesaat. Namun, sejurus kemudian Rena langsung bangkit dari tidurnya. Dan matanya terbelalak, dia pun buru-buru melihat ke arah pintu yang tertutup.
"Om, kenapa kamu bisa masuk?" tanya Rena yang semakin berjalan mundur menjauhi Rey.
"Itu tidak penting!" Rey juga semakin berjalan maju mendekati Rena, sampai tubuh mereka terbentur tembok.
"To...."
Rey langsung membungkam mulut Rena menggunakan mulutnya. ******* habis mulut yang hendak berteriak tolong itu.
__ADS_1
"Berjanjilah akan mendengarkan aku, Rena! Kalau tidak, aku akan menidurimu agar kita bisa menikah sekarang!" ancam Rey. Itu memang hanya sebuah ancaman semata, karena dia tahu Rena paling takut dengan ancaman seperti itu.
"Aku mohon, pergilah, Om! Jangan menyusahkan aku. Aku tidak ingin melihatmu lagi," pinta Rena memaksa.
"Aku tidak akan pergi sebelum kau mendengarkan penjelasanku. Setelah kau mendengar, selebihnya terserah padamu mau bagaimana dengan hubungan kita. Aku tidak memaksa," ujar Rey yang masih menghimpit tubuh Rena ke dinding.
Rena terdiam, dia seperti sedang berpikir. Membuat Rey semakin gemas Kate Rena terlalu lama terdiam.
"Rena, kamu malam ini sangat cantik. Pilih pilihan yang kedua saja, aku sudah tidak sabar ingin memakanmu sekarang!"
Rena menutup mulut Rey yang mulai semakin dekat ke wajahnya. Kemudian menolak tubuh laki-laki itu. Dia berjalan ke arah sofa dan mengajak Rey ikut duduk bersama.
"Duduk sini kalau kamu mau cerita, Om!"
"Pilihan yang kedua saja, bagaimana?" tanya Rey tawar menawar.
"Duduk di sini, Om!" pekik Rena.
Rey tersenyum, dia pun ikut duduk di samping Rena, tidak menyisakan jarak dengan wanita itu.
"Semua yang dikatakan Amanda itu tidak sepenuhnya benar. Setengah benar dan setengahnya lagi tidak, Rena!" ucap Rey mulai menjelaskan.
Rena melihat wajah Rey dengan gurat kebingungan.
"Yang benar yang mana? Jelaskan dengan benar. Aku tidak mengerti."
"Amanda adalah teman semasa kecilku. Kami juga pernah punya hubungan spesial layaknya seorang kekasih."
"Lalu, tunangan yang dia katakan?" tanya Rena yang langsung menuju ke intinya.
"Itu hanya perjanjian kami sejak kecil. Kamu pasti mengerti, bahwa anak-anak itu punya banyak cita-cita aneh. Apa lagi, setelah tumbuh dewasa pun kami masih bersama dan menjadi semakin dekat," jelas Rey.
Rena hanya diam mendengarkan lanjutan penjelasan Rey, tak mau memotong dengan sepatah kata pun.
"Namun, saat hubungan kami sedang baik-baik saja, tiba-tiba dia menghilang entah ke mana. Aku berusaha mencarinya ke mana-mana namun tidak pernah menemukan apapun,"
"Aku sempat depresi berat, karena tak kunjung menemui tanda-tanda keberadaannya. Hingga aku bangkit kembali, aku tidak lagi percaya pada wanita. Mempermainkan wanita sesukaku, melampiaskan segala emosiku pada makhluk yang bernama wanita."
Dukung karya ini dengan berikan like, komentar, gift dan vote sebanyak-banyaknya. Berikan juga rate 5 ya kak ❤️
Dukung juga karya baru author SAHABATKU SUAMI MUHALLILKU 🙏
__ADS_1
Terima kasih untuk setiap dukungan yang kalian berikan. Setiap dukungan itu sangat berarti untuk Author ❤️❤️❤️