Istri Miskin Presdir

Istri Miskin Presdir
BALAS DENDAM SELESAI


__ADS_3

Pandangan mata mereka bertemu. saling melempar pandangan tajam nan bengis. Sejurus kemudian, mereka mulai sama-sama membidik ke arah lawan. Bara membidik kepala Albert, sedangkan Albert membidik jantung Bara. Mereka sama-sama menarik pelatuk dan sejurus kemudian...


DORR...


Mereka sama-sama melepaskan peluru dari senapan mereka.


"Akhhhh...." peluru Bara memang benar-benar menembus kepala Albert. Dia yang seharusnya bisa menghindar, tapi karena sudah terlalu pusing akibat darah yang terlalu banyak keluar sedari tadi, malah langsung terkena tembakan itu.


Kepala Albert langsung pecah, isi kepala dan darahnya berhamburan kemana-mana. Mengenai Deva yang memang sejak tadi berdiri di samping Albert.


"Aww, sangat menjijikkan!" Deva hampir menangis kala melihat adegan itu di depan matanya. Dia juga merasa mual karena jijik.


Tamatlah sudah riwayat Albert, dendam Bara juga sudah tuntas dibayarkan. Sekarang tinggal menuntut balas Deva, bagaimana akhir dari Deva?


"Hahahaha!" Bara tertawa karena peluru Albert memang mengenai tubuhnya. Dia memang tidak menghindar, tapi tubuhnya tak terluka sedikitpun, karena sejak awal dia sudah bersiap dengan memakai baju Anti peluru.


"Bara, kau sungguh keji!" gumam Deva yang masih terdengar oleh mereka semua.


"Aku memang keji. Karena aku membalaskan dendam untuk orang yang ku sayangi." sahut Bara enteng. Dia seperti sudah terbiasa dengan hal-hal seperti itu.


Embun mulai bergidik ngeri. Saat Bara menembak Albert, matanya langsung ditutup oleh sang suami. Jadi dia tak melihat apapun, hanya mendengar suara tembakan yang memekakkan telinga, dan suara jeritan Deva. Jadi, dia sudah bisa menebak, kalau Albert pasti sudah mati.


"Sekarang tinggal kau seorang diri." celetuk Rey.


"Kau pilih saja hukumanmu. Mau mati sekarang, atau menjadi mainan para bawahanku. Mereka pasti sangat senang mendapatkan wanita saat pulang dari sini." ejeknya tanpa memedulikan perasaan Deva.


"Tidak. Aku mencintaimu, Bara. Aku bersedia menjadi mainanmu, hanya mainanmu!" pekik Deva yang masih saja berusaha merayu Bara dititik akhirnya.


"Aku tidak menyertakan pilihan itu. Jadi, jangan pernah berharap lebih, Deva!" pungkas Bara sambi tertawa.


Embun memutar bola matanya, dia jengah dan merasa sangat muak dengan omong kosong Bara. Apakah Bara punya rencana untuk menciptakan Harem? kenapa laki-laki itu hanya basa-basi dari tadi.


Apakah dia bangga, dicintai oleh wanita seperti Deva ini?


Tanpa mau mendengar omong kosong itu lagi, Embun langsung merebut pistol yang dipegang Bara.


DORR

__ADS_1


DORR


DORR


Embun menembak tiga titik tubuh Deva. Paha, dada dan kepalanya. Kini nasib Deva sama seperti Albert. Melihat hal luar biasa yang dilakukan Istrinya, membuat Bara dan teman-temannya cengo.


"Wah, Kakak ipar, di mana kamu belajar menembak?" tanya Rey yang sangat antusias dengan kemampuan Embun yang tiba-tiba itu.


"Tidak pernah." sahutnya santai, namun sebenarnya dirinya sudah gemetaran. Karena baru kali inilah dia melakukan hal seperti menembak, dan membunuh orang.


"Jadi, dari mana kamu mendapatkan keahlian menembak yang sangat keren itu? Tidak mungkin otodidak, kan?" cetus Rey.


"Itu keahlian dadakanku, saat melihat suamiku malah mengobrol dengan saingan cintaku." sahutnya sambil memegang tangan Bara, dan membuka jari-jari yang menggenggam.


"Wanita bisa melakukan apa saja saat sudah terbakar api cemburu, menembak bukanlah satu-satunya. Jadi, pandai-pandailah menjaga perasaan istrimu. Karena kalau wanita sudah terbakar karena minyak yang kau siram. Dia akan berubah mengerikan. Kekuatannya juga akan meningkat berlipat ganda!" kelakar Embun sembari menyerahkan pistol yang ia pinjam tanpa permisi tadi. Dia seolah berbicara dengan Rey. Tapi, semua ucapannya itu ditujukan untuk Bara.


Setelah mengembalikan pistolnya, dan mengungkapkan fakta tentang wanita, Embun mendengus dan berlalu pergi. Tak sekalipun dia mendongak untuk melihat Bara.


Dia langsung menemui Eson dan minta untuk diantarkan pulang.


"Eson, ayo kita pulang sekarang. Hansel dan Hilsa pasti sudah terlalu lama menunggu Mommynya." pintanya pada Eson.


"Tidak perlu. Dia masih lama karena harus mengurus mayat mantannya." ketus Embun.


"Mantan?" Eson mengulangi perkataan Embun dengan kening berkerut dalam.


"Mantan sekretaris! Ayo, cepat!" Ketusnya lagi.


Melihat raut wajah Embun yang tak bersahabat, Eson tak lagi banyak bicara. Dia langsung mempersilahkan Embun masuk ke dalam helikopter, untuk mengantarkan Embun ke atas, nanti di sana sudah ada supir yang menunggu dan mengantarkan Embun ke rumah.


"Kalian bereskan semua ini. Pastikan kalau mereka dibuang di sarang ular atau buaya!" titahnya yang sudah fokus karena memikirkan Embun.


Bara, Daniel dan Rey berjalan berdampingan menuju helikopter yang akan mengantarkan mereka. Di sana sudah ada Eson, dan helikopter yang baru saja mendarat setelah mengantarkan Embun ke atas.


Kening Bara berkerut karena tak mendapati Embun di sana.


"Di mana, Jingga?" tanyanya pada Eson.

__ADS_1


"Nyonya sudah lebih dulu pulang, Tuan. Katanya, Nyonya sudah sangat merindukan Tuan muda Hansel dan Nona muda Hilsa." jawab Eson apa adanya.


" Kenapa kau tidak memintanya menunggu sebentar?" geram Bara. Dia hanya takut kalau akan ada sesuatu yang buruk terjadi pada Embun.


"Kata Nyonya Anda sedang mengurusi mantan." jawabnya lagi, membuat Bara tak bisa berkata apa-apa lagi dan langsung maduk,ke dalam helikopternya.


Dalam perjalanan menuju ke rumahnya. Bara hanya diam, pikirannya dipenuhi dengan ucapan Embun tadi. Dan, telinganya hanya mendengar celotehan-celotehan tak bermanfaat dari kedua temannya yang membuat telinganya berdengung panas.


"Daniel, menurutmu, apakah yang dikatakan oleh Embun tadi benar?" tanya Rey.


"Ku rasa memang benar. Awalnya, aku juga tidak percaya. Tapi, saat aku melihatnya secara langsung di Club milikku, aku langsung percaya." jawab Bara yang membesarkan telinganya untuk mendengar cerita Daniel yang menyangkut ucapan Embun tadi.


"Bagaimana? Coba ceritakan!"


"Tidak mau. Sudah diamlah, nanti dipikir Bara kita terlalu banyak bicara. Membuatnya pusing." ujar Daniel.


"Bagaimana, Bara? Apakah boleh kami membahasnya di sini?" Rey malah bertanya pada Bara. Sesuai harapan Daniel.


"Terserah kalian." jawabnya acuh seolah tak peduli dengan percakapan tak penting dua orang itu. Padahal, dia juga mau dengar.


"Ayo ceritakan, Bara sudah memberi izin."


"Kau pasti tahu, di Club ku sangat banyak orang yang datang ke sana hanya untuk mencari kesenangan semata. Jadi, aku sering sekali melihat, saat om-om datang, pasti di belakangnya ada Istrinya yang menyusul.


Saat om-om itu sedang fly, tiba-tiba istrinya datang."


"Langsung ke intinya saja." sambar Bara yang terlihat acuh tapi terbukti mendengarkan.


"Ya, istrinya memukul suaminya sambil memukul wanita yang melayani suaminya itu secara bersamaan. Coba kau bayangkan, bagaimana kuatnya seorang wanita jika dia sudah berubah wujud menjadi seekor singa?" Daniel malah membentuk tangannya seolah sedang menggambarkan seekor singa.


Sepertinya, pulang dari sini aku harus segera minta maaf pada Embun. Jangan sampai dia berubah menjadi singa dan mengamuk.


DUKUNG KARYA AUTHOR DENGAN LIKE, BERIKAN KOMENTAR, GIFT DAN VOTE. JANGAN JADI READERS GAIB, DONG 🤭


SOALNYA DUKUNGAN KECIL ITU, SANGAT BERARTI UNTUK AUTHOR LOH. LIKE DAN KOMEN GRATIS KOK, TIDAK MENGHABISKAN BANYAK WAKTU JUGA.


APALAGI KALAU ADA YANG MAU NYUMBANGIN BUNGA DAN VOTE, WAHH MAKIN SEMANGAT 💪

__ADS_1


HEHE, TERIMA KASIH ❤️❤️❤️


SEMOGA KITA SEMUA SELALU DALAM LINDUNGAN ALLAH


__ADS_2