
"Paman, kenapa kamu datang kemari?" tanya Bara yang sudah memasang wajah datarnya.
"Aku mendapat kabar dari bawahanku, kalau orang yang hendak mencelakai kalian telah ditangkap. Jadi aku buru-buru datang ke sini untuk melihatnya." jawabnya dengan wajah resah nan gundah.
"Oh, dia sudah berada di dalam. Sedang diselidiki oleh polisi." Bohong Bara, dia tidak mengizinkan Albert untuk masuk, takut kalau dia akan mengancam Pras atau berbuat sesuatu yang kembali merugikan mereka.
"Bisakah aku bertemu dengannya? Aku ingin melihat wajah orang yang telah berani melukai keponakan kesayanganku ini." Pintanya sambil menepuk pelan pundak Bara.
"Huekk!" Embun berpura-pura muntah karena mendengar ucapan yang menurutnya sangat menjijikkan itu.
Mendengar itu, Albert langsung melihat ke arah Embun dengan tatapan dingin dan mengintimidasi.
"Kamu kenapa, Kak?" tanya Rena.
"Tidak. Aku hanya merasa mual saja karena ada sesuatu yang begitu menjijikan." Sahutnya sambil melihat Albert dan Deva secara bergantian.
Bara mengerti, apa yang membuat Embun jijik sampai harus berpura-pura muntah seperti itu. Dia tersenyum simpul karena merasa, Istrinya semakin berani sekarang.
"Sepertinya tidak bisa, Paman. Dia tidak diizinkan untuk bertemu siapa pun." Bohongnya lagi.
"Hem. Ya sudah kalau begitu." jawab Albert yang terlihat pasrah, sedangkan Deva tak henti-hentinya melihat Embun dengan tatapan dengki.
"Paman datang ke sini juga sekalian mau berpamitan denganmu. Karena tempo hari kamu tidak datang menemui Paman. Padahal, kata Deva, kamu sudah setuju dengan ajakan Paman." ujarnya seperti menyalahkan Embun yang telah menghalangi pertemuan mereka.
Cih, malah menyalahkanku. Mengelu-elukan nama Deva, anak kandungnya sendiri baru saja mati, tidak terlihat raut kesedihan sedikitpun di wajahnya.
Embun mendengus kesal dengan pria tua yang berada ditengah-tengah mereka. Dia berjalan menghampiri Bara dan memeluk lengan Suaminya dengan mesra sambil berucap manja.
"Maaf, Paman. Karena Suamiku lebih menyayangi aku dan kedua anak kami. Paman jangan marah padanya, ya? Salahkan aku saja, karena telah mengganggu rencana pertemuan kalian." ucapnya manja sambil menatap setiap inci wajah pria tua itu.
Deva menatap tajam Embun yang sedang memeluk Bara. Embun malah tersenyum mengolok ke arah Deva sambil menaikkan sebelah alisnya dan mengedipkan sebelah matanya.
Kenapa kau marah, aku memeluk suamiku sendiri. Bukan suamimu! Kasihan, mencintai tapi hanya bisa menahan rasa iri
Albert tertawa palsu mendengar permintaan maafan Embun dan berkata, "Hahaha, mana mungkin aku menyalahkanmu. Hal yang wajar jika suami sangat menyayangi Istrinya." sahutnya seolah-olah memaklumi semuanya.
Awas saja kau wanita jahanam! Aku pasti akan segera menghabisimu beserta anak-anakmu agar tak ada yang menjadi penghalang untuk Deva masuk ke keluarga itu dan mengalihkan semua harta itu padaku.
"Terima kasih Paman, karena sudah pengertian." Imbuh Embun.
__ADS_1
"Hem. Kalau begitu, kami pergi sekarang." pamit Albert kemudian mengelus pundak Bara pelan dan pergi dari sana bersama Deva yang masih menggemeretakkan giginya.
"Sudah saatnya kita beraksi! Ingat, semuanya harus sesuai rencana. Kalau rencana ini gagal, bukan hanya tidak ada peluang untuk kembali. Bisa saja, aku dan Jingga yang akan terkirim ke surga." seru Bara memberikan interupsi pada Istri dan rekan-rekannya.
Mereka semua mengangguk. Kemudian, Bara menoleh ke arah Embun yang berdiri di sampingnya. Dia tahu, Istrinya itu sedang gundah karena memikirkan anak mereka.
"Semua akan baik-baik saja, Jingga. Yakin lah kita akan bisa melewati semuanya. Setelah ini, kita pasti akan selalu hidup damai dan bahagia." Bara memberikan dukungannya untuk menyemangati Istrinya yang terlihat galau.
"Ya, aku tahu. Aku yakin karena ada kamu di sampingku." jawab Embun tersenyum.
"Ya sudah, ayo kita pergi sekarang. Jangan sampai tidak terkejar." Mereka langsung bergerak untuk mengikuti mobil Albert.
Sesampainya di parkiran, Embun melihat mobil yang telah mereka siapkan untuk melancarkan aksinya. Dia menatap ke arah mobil itu dengan tatapan sendu. Bara kembali melirik Istrinya.
Dia berpikir Embun khawatir karena dia yang akan mengemudikan mobil itu, jadi dia kembali menguatkan Embun untuk menghilangkan rasa khawatir itu.
"Jingga, kamu khawatir karena aku yang mengemudi? Tenang saja, aku sudah joki, jadi kamu tidak perlu khawatir lagi." seloroh Bara sambil memuji dirinya sendiri.
"Bukan, aku hanya sayang dengan mobil mahal itu, karena nanti pasti akan hancur. Kasihan, mana harganya mahal, kan?" Jujurnya sambil menatap Bara.
JLEBB!!
Dia yang sebagai pemiliknya saja tidak sayang, karena harus mengorbankannya demi keutuhan dan keselamatan keluarganya di masa depan. Memang, mobil itu adalah mobil keluaran terbaru. Limited edition, hanya ada lima buah di dunia.
"Sudah, ayo kita segera beranjak." ketusnya yang masih tak terima.
Saat Bara sudah masuk ke dalam mobilnya, dia menutup pintunya dengan keras. Tidak pernah dia melakukan hal demikian kalau bukan karena sekarang dia sedang dilanda cemburu pada benda mati.
Tidak sia-sia aku mengorbankanmu. Lihat saja, aku akan membuatmu hancur dan akan langsung membuangmu. Aku kesal padamu, Istriku lebih mengkhawatirkanmu dari pada aku!
BRUM BRUM BRUM
Bara menekan gas kuat sampai mengeluarkan suara kasar. Dia tidak peduli kalau mereka sekarang masih ada di. area kantor polisi.
Bara langsung membelah jalanan, dan membuka GPS. Karena saat di kantor polisi tadi, orang suruhan Bara sudah memasang GPS pada mobil Albert. Jadi sekarang dia hanya tinggal mengikuti jejaknya saja.
Terlihat mobil Albert di depan, berjalan dengan perlahan. Di belakangnya, mobil Bara menyeimbangi kecepatan mobil Albert. Dia sengaja, agar mobilnya terlihat oleh pria tua licik itu.
Ponsel Bara berbunyi, terlihat Daniel yang meneleponnya. Bara memasang earphone dan langsung menjawab panggilan sahabatnya itu.
__ADS_1
"Bara, semuanya sudah siap. Dan kami juga sudah berada di titik yang kita tentukan." ucapnya memberitahu.
"Baik. Mungkin sebentar lagi kami akan segera ke sana. Kalian bersiap-siaplah." jawabnya santai dan tersenyum.
Bara kembali melakukan mobilnya dengan santai, sesekali dia melirik ke arah Istrinya yang terlihat mengatupkan kedua tangannya, bibirnya juga seperti sedang merapalkan sesuatu.
Menyebalkan! Masih saja mendoakan mobil ini agar tidak rusak. Aku akan membuat harapanmu tidak menjadi kenyataan, Jingga. Agar kau hanya menyayangiku saja, bukan benda mati ini.
Padahal, Embun sedang berdoa agar rencanya berjalan dengan sempurna. Agar kedepannya, harapannya untuk hidup bahagia bersama keluarga kecilnya itu akan terwujud. Tapi, laki-laki di sampingnya malah berpikir yang macam-macam.
Terlihat mobil Albert mulai mengencangkan lajunya. Membuat Bara tersenyum dan ikut mengencangkan lajunya juga, agar terlihat mengikuti Albert.
"Ayah, kenapa Bara masih saja mengikuti kita?" tanya Deva khawatir.
"Aku rasa, mereka sudah tahu semuanya." jawab Albert yang sesekali melihat ke arah belakang menggunakan kaca spion dalam.
"Tidak. Ini tidak boleh terjadi. Dia tidak mungkin mengetahui semuanya." sangkal Deva.
"Kenapa? Ku rasa, ini adalah waktu yang tepat untuk kita mengakhiri semuanya." timpal Albert tertawa sinis.
"Apa maksudmu, Yah?" Deva seperti sudah menebak jalan pikiran orang tua jahat itu.
"Ingatkah Deva, kau menggodanya hanya untuk mengeruk hartanya untukku. Aku tidak menyuruhmu untuk benar-benar menyukainya." hardik Albert berang. Dia tidak ingin ada yang mengacaukan rencana yang sudah ia jalankan sejak lama.
Albert menambahkan kecepatan laju mobilnya. Semakin dia menambahkan kecepatannya, Bara juga semakin menambah laju mobilnya dan menyusul di belakang.
"Tapi, aku sudah mencintainya!" pekik Deva mengaku.
"Sudah kutebak. Aku akan membunuhnya!"
Albert kembali menambah kecepatannya. Dia menekan pedal gas lebih kuat, membuat mobil yang dia kendarai semakin kencang. Namun, saat tiba di jalan bercabang dua, Bara malah membelokkan mobilnya ke jalanan itu. Membuat mobil mereka terpisah.
"Apa yang dilakukan anak ingusan itu? Apakah dia sudah mulai merasa takut, hum?!" Albert kembali tertawa puas seolah dia sudah berhasil menakuti lawannya.
DUKUNG KARYA AUTHOR DENGAN LIKE, BERIKAN KOMENTAR, GIFT SERTA VOTE. AGAR AUTHOR TAMBAH SEMANGAT BUAT UPDATE ❤️❤️❤️
BERIKAN RATE 5 DAN TAPE ❤️ FAVORIT, AGAR KAMU SELALU DAPAT PEMBERITAHUAN UPDATE EPISODE BARU YA!!!
TERIMA KASIH ❤️❤️❤️
__ADS_1
.