Istri Miskin Presdir

Istri Miskin Presdir
MENCOBA MEMBUKA HATI


__ADS_3

"Kau ini aneh sekali. Istrimu hamil, kenapa kau terlihat frustasi. Bukankah seharusnya kau senang karena sebentar lagi akan menjadi seorang Ayah?" tanya Rey yang memang kalau berbicara sering ceplas-ceplos tanpa melihat kondisi.


"Karena aku masih mencintai, Audrey. Lalu sekarang Jingga hamil, aku harus bagaimana?" tanya Bara yang sekarang memang sedang berada dalam kebimbangan. Padahal kebimbangan itu dialah yang menciptakannya sendiri, tinggal pilih istri sendiri aja kok repot sih bang Bara, wkwk.


"Orang terbodoh di dunia yang pernah kukenal, itu adalah dirimu, Bara Wirastama!" umpat Rey kesal.


Bara terpancing emosi mendengar umpatan Rey untuknya, dia langsung melihat ke arah Rey dengan tatapan tajam. Namun, biasanya Rey langsung lumer karena tatapan Bara, kali ini dia tak gentar sedikit pun. Karena dia sudah sepakat dengan Daniel ingin menyadarkan sahabat mereka yang bodoh ini.


"Apa maksudmu? Siapa yang kau katakan bodoh?" tanya Bara kesal.


"Dirimu! Kau merasa frustasi karena kehamilan istrimu? Karena masih mencintai pacarmu itu, kan? Kalau begitu, kenapa kau tidak menceraikannya saja?" ucap Rey.


"Aku tidak bisa menceraikannya karena dia masih mengandung. Haish! Apa yang harus kulakukan?" Bara malah memukul angin.


"Memangnya dia hamil karena kesalahan siapa? Itu juga karena kesalahanmu yang melepaskan benihmu di rahimnya."


"Sudah-sudah. Untuk apa kalian saling bertengkar seperti ini." Daniel mencoba menengahi.


Mereka sama-sama terdiam. Rey yang biasanya ceria dan jika menanggapi sebuah masalah biasa saja, kali ini entah kenapa dia malah menjadi terlalu sensitif seperti ini.


"Bara, apakah kamu tidak mau mencoba untuk mengenal lebih dalam siapa istrimu? Dia sedang mengandung anakmu. Kau bisa memberikan perhatian lebih padanya. Belajar mencintainya, dan menyayangi anakmu. Tapi, jika sampai dia melahirkan nanti kamu masih belum bisa membuka hatimu untuknya, semua keputusan ada di tanganmu." jelas Daniel.


"Jika nanti kamu belum bisa membuka hatimu untuknya, ceraikan lah dia, aku yang akan mengambilnya untukku." sambung Rey menyela ucapan mereka.


"Sialan kau, Rey." umpat Bara yang merasa tak terima.


"Kenapa? Apa salahnya kalau aku mengambil mantan istrimu, yang tidak kau anggap dan tidak kau cintai?" jawab Rey santai tanpa rasa bersalah.


"Baiklah, aku akan mencobanya." jawab Bara.


Setelah mengatakan itu, Bara memutuskan untuk pulang. Setelah Bara terlihat sudah menghilang dari pandangan mata mereka, Daniel melemparkan bantal sofa ke wajah Rey yang sedang memainkan gadgetnya.


"Kenapa kau melemparkan ini, Daniel?" tanyanya sambil melempar kembali bantal sofa itu ke arah Daniel.


"Hahaha. Kau tadi memancing kemarahan Bara, atau memang suka dengan istrinya itu?" tanya Daniel sambil tertawa terbahak-bahak.


"Aku hanya memancingnya saja. Sepertinya dia sudah mulai menyukai istrinya itu. Tapi, jika nanti dia mencampakkan istrinya, bisa jadi aku yang akan menampungnya." ucap Rey becanda.


"Ya. Aku juga melihat tatapan matanya dan kebimbangannya." jawab Daniel sambil menganggukkan kepalanya setuju.


Bara pulang dan mendapati istrinya sudah tertidur, dia melihat di atas nakas ada sebuah piring kosong yang masih ada beberapa butir nasi. Dia meyakini kalau itu adalah bekas makan istrinya tadi, mengingat tadi Embun tidak jadi makan karena terhambat oleh pertengkaran mereka.

__ADS_1


"Sepertinya ibu hamil memang gampang lapar, ya." Bara terkekeh pelan. Dia mengganti bajunya dengan piyama yang biasa dia gunakan untuk tidur. Setelah itu dia naik ke atas ranjang dengan perlahan karena takut membangunkan istrinya yang sudah terlalap.


Dia membaringkan tubuhnya menghadap ke arah Embun. Dia memperhatikan setiap inci wajah Embun yang menurutnya sangat enak di pandang itu.


"Ternyata kamu cantik juga, ya. Aku baru menyadarinya." ucapnya perlahan.


Bara mencoba mengelus pipi Embun perlahan, tapi, mungkin karena merasa geli, Embun menggeliat dan membalikkan badannya membelakangi Bara.


Aku harus mencoba untuk membuka hatiku untuknya, tidak ada salahnya jika mencoba. Lagi pula, kita tidak akan tahu hasilnya jika tidak mecobanya, batin Bara.


Bara bergerak memeluk Embun dari belakang, ada terbesit rasa kebahagiaan dalam dirinya yang membuatnya tersenyum manis. Tak berselang lama, dia pun ikut tertidur menyusul istrinya ke alam mimpi.


Embun terbangun tengah malam karena tenggorokannya terasa kering. Dia ingin bangun dan mengambil minum, tapi tubuhnya terasa berat sekali. Seperti ditimpa oleh karung beras


Dia terkejut melihat Bara yang sedang memeluknya, dia tersenyum senang karena Bara mau memeluknya, walaupun tidak sengaja karena tidak sadar saat tertidur, namun tetap saja dia merasa senang.


"Nak, Ayahmu memeluk kita. Apakah kamu merasa bahagia?" Embun berbicara dengan perut datarnya sambil mengelusnya perlahan.


Dia beranjak mengambil minum, saat kembali ke kamar, dia melihat Bara yang sudah meringkuk kedinginan. Dia mengecilkan suhu AC dan menyelimuti Bara.


☀️☀️☀️☀️☀️☀️☀️☀️☀️☀️☀️☀️☀️


"Sudah jam berapa ini?" serunya yang tiba-tiba terjingkat dari tidurnya.


"Selamat pagi, Jingga!" ucap Bara yang juga baru terbangun.


"Apa? Anda mengucapkan apa barusan, Tuan?"


"Selamat pagi, kenapa?" Bara mengulangi ucapannya sambil mengernyit bingung.


Embun menyentuh dahi Bara untuk memeriksa suhu tubuhnya. Tapi dia merasa kalau suhu tubuh Bara sedang normal-normal saja.


"Tidak panas. Tapi kenapa menjadi aneh." gumamnya yang tentunya masih bisa di dengar oleh Bara.


"Apanya yang aneh?" tanya Bara yang memasang wajah super bingung.


"Hem, tidak apa-apa, Tuan. Kenapa Anda juga ikut-ikut baru bangun?"


"Entahlah, aku merasa hari ini tidurku sangat nyenyak sekali." jawab Bara sambil menaikkan bahunya.


Mereka mandi, setelah selesai mandi mereka baru turun untuk sarapan. Terlihat Belle yang sedang duduk di depan Tivi sambil memainkan ponselnya. Dia hanya melihat sekilas Embun dan Bara yang turun bersamaan.

__ADS_1


Melihat Belle di ruang Tivi, Embun menghampiri Belle. "Belle, maaf ya aku bangun telat. Kabari Rena saja untuk menunggu sebentar lagi." ucap Embun yang merasa tidak enak, karena dirinya yang malas, malah membuat orang lain jadi menunggu lama.


"Tidak apa-apa, Kak. Kami memaklumi, kamu kan ibu hamil, jadi kelelahan. Aku sudah meminta supir kita untuk mengantarkan kuncinya untuk Rena. Dan Rena juga sudah mencari beberapa orang untuk dijadikan karyawan untuk membantu kita, Kak." jelas Belle.


"Terima kasih. Kamu tidak sarapan?"


"Aku sudah sarapan sedari tadi. Tidak sanggup menunggu kalian. Kak, aku pernah membaca artikel, ibu hamil muda itu tidak boleh terlalu banyak berhubungan loh! Kasihan dek bayinya terguncang terus." ucap Belle menggoda Kakaknya itu.


Embun langsung merona mendengar ucapan Belle. Padahal mereka kan tidak melakukan apapun. Hanya sama-sama tidur saja.


"Ah? Hahaha. Aku sarapan dulu ya, Belle." sahut Embun yang terlihat salah tingkah.


"Bara...?" ucap seorang wanita yang datang saat Bara dan Embun sedang sarapan bersama.


"Audrey?" Bara terlihat kaget melihat kedatangan Audrey yang tiba-tiba.


Pantas saja kamu tidak ada di kantor, ternyata dugaanku benar. Kau sedang memadu kasih dengan istrimu disini


"Wah, romantis sekali, ya! Sarapan berduaan. Apakah aku menganggu?" ucapnya menyindir.


"Tidak. Ada apa, Audrey?" tanya Bara yang masih melanjutkan makannya.


"Kenapa? Bara, bukankah kamu berjanji untuk menemaniku jalan-jalan kemana pun aku mau?" ucapnya manja memeluk lengan Bara, sambil sesekali melirik ke arah Embun yang berpura-pura tidak dengar.


"Maaf aku lupa, Audrey. Ya sudah, hari ini kita jalan, ya." ucap Bara. Dia melihat wajah Audrey dan dia membelalakkan kaget.


"Audrey, kenapa dengan wajahmu?"


"Ah? Tidak apa-apa, Bara. Aku tidak apa-apa." jawabnya sambil menutupi wajahnya.


"Katakan, Audrey! Kenapa wajahmu menjadi seperti ini?"


"Aku hanya tidak sengaja di pukul oleh seseorang saja. Seorang wanita." ucapnya sambil melihat ke arah Embun.


Bara mengikuti tatapan mata Audrey, dan melihat ke arah Embun yang juga sedang menatap mereka.


"Apakah, Jingga?"


"Tidak, Bara. Jangan salahkan dia, dia hanya tidak sengaja saja. Mungkin dia terlalu marah karena aku berpacaran dengan suaminya. Tapi, aku lah yang terlalu ceroboh karena menemuinya untuk berbicara baik-baik." ucap Embun yang memelas seperti orang ketakutan dan membujuk Bara untuk tidak marah pada Embun.


Jangan lupa tinggalkan jejak like, komentar gift dan vote. Terima kasih

__ADS_1


__ADS_2