
"Aku yang ingin menemuimu." Sela Bara yang tiba-tiba entah muncul dari mana.
"Bara...?" Audrey begitu kaget melihat Bara yang sudah berdiri di depannya. "Kenapa kamu bisa berada di sini?" Tanya Audrey gelagapan.
"Bukankah seharusnya aku yang bertanya padamu, kenapa kamu bisa berada di sini?" Bara mulai berbicara dengan wajah datarnya.
"Aku ... aku di sini karena menghindari wartawan. Takut sewaktu-waktu kalau wartawan datang ke apartemenku." Alibi Audrey.
"Apakah yang menghubungimu tadi adalah wartawan? Makanya kamu langsung pergi begitu saja?" Selidik Bara.
"Bukan, tadi managerku menghubungiku, dia memintaku untuk tidur di sini karena takut dengan paparazi." Tentu saja itu semua hanyalah alasan yang dibuat-buat olehnya saja.
"Oh?" Bara menganggukkan kepalanya mengerti. "Kau tidak menyuruhku masuk?" Pertanyaan Bara itu kembali membuat jantung Audrey kembali bersenam.
"Ahh? Untuk apa, sebaiknya kau pulang saja. Aku merasa sangat lelah. Lebih baik kamu pulang saja." Audrey hanya tersenyum kikuk karena dia sudah sangat bingung dan merasa ketakutan.
Dipikir Audrey, mendengar Audrey mengusirnya, Bara akan menurut seperti biasa. Tapi, yang tidak diduganya adalah, Bara malah menerobos masuk. Audrey sampai terhuyung ke belakang karena di tabrak oleh badan tegap Bara secara tiba-tiba.
"Kau, ikut aku masuk." Ucap Bara pada resepsionis wanita tadi.
"Baik, Tuan." Jawab resepsionis itu hormat.
Akkhhh, senangnya. Tidak menyangka hari ini aku beruntung besar. Bisa menyaksikan langsung skandal aktris dadakan ini. Pasti sangat memalukan, batin si resepsionis yang berteriak kegirangan dalam hati.
Dengan langkah cepat dan tegas, Bara langsung mengarah ke kamar utama yang berada di hotel itu. Saat dia menyentuh handle pintu. Tangannya di cegat oleh Audrey.
"Bara, kenapa kamu masuk sampai ke sini, jangan terlalu lancang." Ucap Audrey yang sebenernya sudah ketakutan dan mengeluarkan keringat dingin.
Sebenarnya Bara juga merasa gusar. Dia takut kalau nanti akan melihat sesuatu yang akan membuatnya kecewa. Tapi, semuanya harus diselesaikan hari ini. Meskipun nanti dia melihat sesuatu yang sebenarnya tak ingin dilihatnya.
Tuan Harvey mendengar keributan di luar. Sayup-sayup dia mendengar ada orang yang menyebutkan nama Bara. Dia bukannya tidak tahu kalau Audrey adalah wanita yang dirumorkan dekat dengan Bara. Jadi, dia mengambil langkah cepat, turun dari ranjang dan hendak mengambil pakaiannya, mengenakannya dan melarikan diri atau bersembunyi.
Tapi, hari itu mungkin memang hari yang sial untuknya. Dia baru turun dari ranjang dan hendak melangkah mengambil pakaiannya. Ada orang yang membuka pintu. Dan terekspos lah tubuh telanjangnya.
Saat baru pertama kali membuka pintu, hal yang pertama terlihat oleh Bara adalah seorang laki-laki yang tengah berdiri telanjang dan terdiam kaku.
"Oh, apakah managermu juga meminta laki-laki ini untuk menemanimu tidur, untuk menghilangkan kelelahanmu?" Ucap Bara menyindir.
Dasar laki-laki tua sialan! Sudah tidak bisa memuaskanku di ranjang, malah memperlihatkan dirinya juga. Kalau bukan karena uang, aku malah merasa jijik dengannya, Umpat Audrey dalam hati.
"Tidak, Bara. Ini tidak seperti yang kamu lihat. Kamu sudah salah paham." Audrey buru-buru berusaha untuk menjelaskan.
"Lalu, sebenarnya situasinya seperti apa? Coba jelaskan!" Pungkas Bara. Dia melipat kedua tangannya di depan dada menunggu Audrey berbicara.
"Kami ... kami hanya sedang ... membicarakan bisnis! Ya, begitu." Audrey berbicara ngelantur.
"Bisnis? Tuan Harvey, apakah bisa kalau kamu yang menjelaskan?" Ucap Bara yang berjalan masuk dan duduk di sofa yang berada di dalam kamar itu.
__ADS_1
"Tuan Bara, kami memang hanya...."
Merasa laki-laki tua itu juga akan berkelit, Bara langsung memotong ucapannya begitu saja.
"Sepertinya, anak dan istrimu harus tahu tentang ini, ya? Ah, tapi kalau semua keluargamu mengetahuinya juga semakin menarik." Bara melipat kakinya. "Dan, jika perusahaanmu aku masukkan ke daftar hitam, apakah kamu masih bisa tertawa?" Bara mengucapkan itu sambil tersenyum mengejek.
"Maafkan saya, Tuan Bara. Maaf saya sudah berani bermain dengan wanita Anda." Tuan Harvey bersimpuh di kaki Bara.
"Pakailah pakaianmu. Kau seperti ini terlihat sangat menjijikkan." Bara menendang laki-laki itu agar menjauh darinya.
Tuan Harvey langsung berlari mengambil sebuah handuk dan melilitkan di pinggangnya. Yang penting tertutup, begitu pikirnya.
"Maaf Tuan karena saya sudah mengganggu wanita Anda. Saya tidak akan berani lagi." Tuan Harvey kembali bersimpuh.
"Siapa yang mengatakan padamu kalau dia adalah wanitaku?" Tanya Bara santai.
Tuan Harvey terdiam. Dia mengerutkan keningnya karena bingung.
"Maksud Anda, Tuan?"
"Dia hanyalah mantan kekasihku. Bukan wanitaku. Karena, aku sudah menikah dan juga sudah akan menjadi seorang Ayah. Kau mengerti?" Ucap Bara sambil tersenyum.
"Saya mengerti, Tuan." Tuan Harvey buru-buru mengangguk dan bersujud.
"Jadi, bisakah kamu katakan, sudah berapa lama kalian melakukan seperti ini?"
Mata Audrey melotot tak senang. Dia tidak menyangka laki-laki tua itu berani membongkar semua ucapannya.
"Tidak, Bara. Jangan percaya dengan apa yang dia katakan. Aku sama sekali tidak pernah mengatakan itu. Dia mengada-ada untuk membuat nama baikku hancur di depanmu." Audrey menyangkal dengan tegas.
"Sssttt!" Bara meletakkan jari telunjuknya di bibirnya. "Ternyata kau memang bukan wanita baik, Audrey Valencia."
"Bara, bukan seperti itu."
"Seharusnya aku mendengarkan ucapan semua orang. Aku terlalu dibutakan olehmu. Aku sampai membuat istri dan calon anakku membenciku. Semua ini karena mu!" Bentak Bara.
"Jangan menyalahkanku karena aku berbuat seperti ini. Ini juga karena kesalahanmu, Bara. Aku selalu ingin dan meminta kau menyentuhku, tapi sudah sangat lama kita berpacaran, kau tidak pernah melakukannya sekalipun." teriak Audrey kesal.
"Kau malah melakukan itu dengan wanita miskin itu. Apa baiknya wanita jalan* itu dibandingkan aku?" Pekik Audrey.
"Diam!" Pekik Bara kesal, dia kembali mengatakan, "Jangan pernah mengatakan yang tidak-tidak tentang istriku." Ucapnya penuh peringatan.
"Kenapa? Dia memang jalan*! Jalan* yang sudah merebutmu dan naik ke ranjangmu. Kenapa aku tidak boleh mengatainya. Aku menyumpahinya, dia akan celaka dengan anaknya itu!" Teriak Audrey.
PLAKK
Bara menampar pipi Audrey hingga menampakkan lebam. Audrey sangat kaget. Selama dia mengenal Bara, baru kali ini lah dia melihat Bara marah karena orang menghina wanitanya.
__ADS_1
Bahkan dia memukulku karena wanita itu?
Audrey memegangi pipinya yang terasa panas sekaligus perih.
"Jangan mengatakan hal yang tidak-tidak untuk istri dan anakku. Dan jangan pernah muncul di hadapanku lagi!" Ucapnya pada Audrey dengan tatapan membunuh.
"Dan kau, Aku akan memberitahukan kelakuanmu pada istrimu."
Setelah itu Bara langsung melenggang pergi. Audrey menangis, dia menangis bukan karena menyesal, tetapi karena takut Bara meninggalkannya dan semua harta yang dia dapatkan dari laki-laki itu juga akan hilang begitu saja.
Bara masuk ke dalam mobilnya. Dia memukul-mukul setirnya dan mencengkeram setirnya dengan kuat. Bahkan dia menjambak rambutnya sendiri.
"Aku memang terlalu bodoh, tidak bisa melihat yang mana yang benar-benar baik dan pura-pura baik." Umpatnya untuk dirinya sendiri.
"Bahkan sekarang Jingga sudah meminta cerai. Bagaimana denganku dan anakku nanti. Kenapa sesakit ini saat dia minta pisah. Apakah aku memang sudah mencintainya?" Bara terus saja mengutuk dirinya sendiri. Udah gak guna kali bang Bara, hehehe
Bara menelepon Rey dan juga Daniel agar mereka berkumpul di Rex Club. Karena hanya bersama mereka lah dia bisa melepaskan beban pikirannya walaupun sesaat.
Setibanya dia di Rex Club, Rey dan Daniel memang sudah berkumpul. Daniel tentu saja sudah tahu dengan apa yang terjadi pada Bara. Karena bawahannya sudah menghubunginya dan menceritakan semuanya.
"Kenapa akhir-akhir ini aku selalu melihatmu seperti pakaian kusut?" ejek Rey yang tidak tahu apa pun.
"Rey, Jingga sudah minta cerai denganku, aku harus bagaimana?" Bara berbicara sambil menangkup wajahnya. Tapi dia tidak minta untuk dituangkan minuman seperti biasanya.
"Cerai? Bagus sekali, beritahukan aku kalau kalian sudah resmi bercerai. Agar aku bisa langsung mengejarnya." Ucap Rey antusias.
Mata Bara langsung terbelalak marah, dia mencengkram kerah baju Rey dan menatapnya tajam.
"Apa maksudmu? Dia sedang mengandung anakku, dan kau senang kalau dia menceraikan aku? Sahabat macam apa kau ini!" Umpatnya lalu melepaskan cengkeramannya.
"Kenapa? Dia berhak mencari kebahagiaannya sendiri. Aku juga tidak masalah kalau harus membesarkan anak sahabatku sendiri. Tenang saja, aku pasti akan menyayanginya seperti anak kandungku." Ujar Rey membuat darah Bara kembali naik.
"Rey, jaga ucapanmu."
"Kau sudah menyia-nyiakannya begitu lama demi wanita lain. Kau juga harus sadar, Bara. Dia berhak bahagia, apa lagi sekarang dia sedang mengandung." Rey juga turut memberikan peringatan pada Bara.
"Aku khawatir, muncul lagi berita tentangku. Dan berita itu sudah menjadi berita pencarian terpanas. Apakah dia akan tertekan atau tidak dengan berita itu, bahkan wajahnya juga tidak diburamkan seperti yang sudah-sudah." Bara terlihat sendu.
"Kau khawatir dengannya?" Daniel angkat bicara, Bara hanya mengangguk.
"Sebenarnya, aku yang telah menyebarkan berita itu. Semua, aku yang mengirimkannya pada media." Ucap Daniel.
Jangan lupa tinggalkan jejak like, komentar, gift dan vote. Follow akun author juga ya
Berikan rate 5 dan tambahkan ke daftar favorit kamu ya.
Terima kasih.❤️❤️❤️
__ADS_1