
"Ada. Tapi dia mencari seorang model, apakah kakak mau?" tanya Belle sambil memiringkan kepalanya
"Aku tidak berpengalaman. Jadi, aku takut kaku dan nanti fotografernya marah." jawab Embun dengan tersenyum tipis
"Jadi, kakak mau mencari pekerjaan apa?" tanya Belle
"Yang sesuai pengalamanku. Aku dulunya berjualan kue. Mungkin, bisa kalau aku bekerja di toko kue." jawabnya sekenanya
"Hem, toko kue, ya?" Belle tampak berpikir
Belle tampak berpikir sejenak. Kemudian, dia tersenyum seperti telah mendapatkan sebuah ide yang brilian
"Bagaimana kalau kakak mencoba membuka toko kue sendiri?" ucapnya sambil menjentikkan jari
"Membuka toko kue sendiri?" Embun malah kembali bertanya
"Ya, kakak bisa membuat sendiri kue-kue yang akan kakak jual untuk permulaannya. Aku yakin, kue buatan kakak pasti enak. Dan nanti, setelah usaha kakak sudah ramai, baru kita cari pegawai. Tenang saja, aku akan membantumu promosi." jelasnya
Embun tampak berpikir, dia sebenarnya setuju dengan usulan adik iparnya itu. Tapi, lagi-lagi dia harus berpikir beribu kali karena semua terkendala biaya. Pasti banyak biaya yang harus dikeluarkan untuk pemula sepertinya
Dari mana aku harus mendapatkan uang untuk membuka usahaku itu, aku tidak punya uang sepeserpun, batinnya teriris
Belle menatap Embun yang termenung, dia seakan mengerti apa yang sedang dipikirkan oleh kakak iparnya itu. Kemudian dia menggenggam tangan Embun dan tersenyum tulus
"Kak, untuk masalah biaya, aku bisa memberikannya untukmu." ucapnya
"Tidak usah, Belle. Itu semua tidak perlu." tolaknya
"Tidak apa-apa, Kak. Nanti, hasilnya kita bisa bagi dua menjadi Fifty-Fifty. Bagaimana?" Belle berusaha meyakinkan kakak iparnya itu
"Baiklah. Terima kasih, Belle." ucap Embun. Dia menindih tangan Belle dengan tangannya lagi
"Ah iya, Kak. Bulan depan, Kak Bara berulang tahun, kita bisa mulai mempromosikan usaha kue kita di pesta itu, Kak." ucap Belle dengan bersemangat
"Bulan depan dia berulang tahun?" Embun kembali mengulang ucapan Belle
"Ya, Kak." jawab Belle mengangguk cepat sambil menampakkan deretan giginya yang rapi
__ADS_1
"Kalau begitu, kita harus menyiapkan toko baru kita sebelum bulan depan dong?"
"Kakak tenang saja. Mungkin saja, dalam tiga hari ini, toko kita akan siap untuk di buka."
Embun terkejut mendengarnya. Dalam tiga hari? Memang ya, dunia orang kaya itu berbeda. Kalau ada uang, semuanya bisa menjadi lebih mudah
Embun hanya mengangguk saja. Dia percaya pada adik iparnya itu. Dia juga berpikir, kalau nanti tokonya sukses, dia juga bisa memperkejakan Rena bersamanya
"Kak, kamu tidak menyiapkan makan siang untuk, Kak Bara?" Belle pura-pura bertanya, padahal dia sudah tahu jawabannya
"Tidak. Aku ingin berkebun saja hari ini." jawab Embun. Dia masih takut kalau sampai kejadian kemarin terulang kembali
"Kak, kalau kamu memang ingin merebut hatinya, kamu harus benar-benar berusaha!" saran Belle sambil mengangkat tangannya ke atas sebagai bentuk semangat
"Tapi, sepertinya dia tidak ingin aku datang ke kantornya lagi." ucap Embun tertunduk. Baru kali ini dia jujur kepada orang lain
"Tenang saja, Kak. Aku akan menemanimu nanti saat bertemu dengan, Kak Bara."
"Baiklah kalau begitu, aku akan menyiapkan makanannya sekarang." api semangatnya Embun kembali membara, dia membenarkan ucapan Belle, dia memang harus berusaha mengejar cinta suaminya sendiri
"Tidak usah, Kak. Lebih baik kamu meminta koki rumah kita saja yang menyiapkannya. Kalau kamu menyiapkannya sendiri, takut tidak sempat. Kamu kan juga butuh waktu untuk bersiap!" tentu saja itu hanya alasan Belle saja. Sebenarnya, dia tidak ingin ketulusan dari Embun di sia-siakan oleh Bara seperti kemarin
Embun langsung berjalan ke dapur sambil bersenandung ria. Dia kegirangan karena akan pergi ke kantor suaminya. Sebenarnya, masih ada keraguan yang terbesit di dalam hatinya, namun semua itu di tepian olehnya
******
Setelah semuanya siap. Mereka pun datang ke kantor Wirastama Corp. Kebetulan ini sudah tiba jam makan siang, para karyawan mulai berhenti sejenak dari pekerjaannya dan pergi untuk mengisi perutnya
Saat mereka akan masuk ke ruangan Bara, tampak Bara yang baru saja keluar sambil menggandeng lengan Audrey. Mereka keluar sambil tertawa ria layaknya pasangan kekasih yang harmonis
"Kak!" panggil Belle dari kejauhan
Bara langsung menoleh ke arah suara yang dikenalinya. Dia terkejut melihat Belle datang bersama Embun. Dia kesal kenapa Embun juga harus datang, bukankah dia sudah berpesan pada bawahannya untuk tidak memperbolehkan Embun masuk ke kantornya lagi
"Kenapa kamu ada disini?" tanya Bara pada adiknya
"Tentu saja untuk melihatmu. Aku takut kamu digigit ular!" sindirnya. Belle berulang kali memelototi lengan Audrey yang dengan tidak tahu malunya masih memeluk Bara
__ADS_1
"Hahaha. Kamu ini ada-ada saja. Mana mungkin di dalam kantor ada ular." Bara tidak mengerti arah pembicaraan adiknya, dia hanya tertawa dan menanggapinya dengan candaan
"Tentu saja ada, Kak. Bahkan, ular ini lebih bahaya karena berkepala dua. Racunnya lebih mematikan dari neneknya king kobra." Belle mengatakan itu sambil bergidik ngeri
Bara pun ikut geli, dia memang sangat anti dengan hewan-hewan reptil seperti itu. Jadi, dia tidak akan mau mendengar orang lain membicarakan hal-hal aneh begitu
"Ih, sudah diamlah. Mana mungkin ada yang lebih berbisa dari kobra." ujarnya
"Tentu saja ada, Kak. Mungkin saja ini nenek buyutnya king kobra kak. Makanya, kamu jangan dekat-dekat dengan manusia ular seperti itu. Eh, maksudku ular seperti itu!" celetuknya dengan tatapan sinis
Audrey tahu, yang dimaksud oleh Belle adalah dirinya. Tapi dia hanya diam saja karena masih ada Bara diantara mereka. Jadi, dia juga berpura-pura geli saat mendengar cerita Belle
"Aduh, apakah kamu pernah bertemu dengan ular berkepala dua seperti yang kamu ceritakan, Belle?" ucapnya yang semakin memeluk Bara karena merasa geli
"Tentunya sudah. Kalau tidak, bagaiman aku bisa memaparkannya. Bahkan, dulu aku sangat sering bertemu dengannya. Tidak sanggup ku usir lagi, selalu saja datang ke kehidupanku." ujarnya dengan seringainya
Embun hanya diam. Dia juga sama seperti Bara, yang tidak mengerti arah pembicaraan itu kemana. Dia hanya diam dan setia mendengarkan sambil sesekali bergidik ngeri juga
"Kenapa kamu tidak mengusirnya saja? Mengerikan sekali kalau ular yang sangat berbisa seperti itu selalu mengganggumu." sahut Embun yang memang tidak tahu apa-apa
"Dulu, ular itu sempat pergi dan meninggalkan kami, tapi dengan tidak tahu malunya dia kembali lagi!" celetuk Belle
Sialan! Dasar bocah ingusan. Lihat saja, setelah aku menikah dengan Bara. Akan ku pastikan kau akan ku tendang dari rumah itu, batin Audrey. Sebenarnya dia juga sudah sangat muak dengan tingkah Belle yang selalu jutek padanya, kalau bukan karena Bara kaya raya, dia tidak sudi harus tinggal di sisi Bara sampai sekarang
"Sudahlah. Ini sudah waktunya makan siang. Ayo, kita makan siang bersama." ujar Bara. Dia terpaksa harus mengajak Embun ikut, karena dia tidak ingin Belle mengetahui sikap kasarnya selama ini
"Tapi, aku sudah menyiapkan ini untukmu." ucap Embun sambil menampakkan tantangnya
"Benar, Bara. Kita harus menghargai usahanya, kan?" ujar Audrey dengan lembut, dia masih saja mengandeng lengan Bara
"Tentu saja. Kalau begitu, kita makan di kantin saja." usul Bara
"Ya, Kak. Kak Embun, adalah istri yang baik, dia menyiapkan makanan dari rumah. Bukan seperti wanita lain, yang bukan siapa-siapa, tapi sudah menghabiskan uang laki-laki seenaknya saja. Bagaimana, wanita seperti itu bisa dijadikan seorang istri!" sindirnya lagi
Jangan lupa tinggalkan jejak dengan like, komentar, dan gift ya
Berikan juga vote dan rate 5 nya
__ADS_1
Jangan lupa, tambahkan ke daftar favorit kamu, ya!
Terima kasih ❤️