Istri Miskin Presdir

Istri Miskin Presdir
SEBUAH BUKTI


__ADS_3

Kini, Belle sudah duduk di tepi ranjang Bara. Dia memegang tangan yang masih terasa hangat itu kemudian menggenggamnya. Seperti anjuran Dokter, dia akan mencoba berbicara dengan Kakaknya. Mungkin, setelah Kakaknya mendengar bahwa kedua buah hatinya telah lahir ke dunia, dia bersedia membuka matanya, dan memberikan senyuman hangatnya untuk anaknya itu. Mengulurkan tangannya untuk menimang mereka dengan tangan kekarnya, dan mencurahkan kebahagian, karena kini statusnya telah berubah menjadi seorang Ayah.


"Kak, tahukah kamu? Sekarang, kedua Anakmu sudah lahir, mereka sangat menggemaskan. Ayo buka matamu dan lihat mereka, Kak." Sambil berkata, Belle menghapus air matanya yang menetes tanpa izin.


"Kenapa kau dan Kak Embun sangat nyaman dalam tidur kalian? Buah cinta kalian baru saja lahir ke dunia ini. Kalau kalian seperti ini, siapa yang akan menjaga mereka, Kak? Apakah kalian berharap padaku dan Rena?" Belle terkekeh pelan, namun air matanya terus-menerus mengalir. Setiap tetesan air matanya, dia langsung menghapusnya dengan kasar.


"Kami tidak mengerti bagaimana caranya merawat bayi. Tetap kalianlah yang harus hadir untuk memberikan kasih sayang pada mereka! Ayo, bangun, Kak! Buktikan, buktikan pada Kak Embun kalau kamu menyayangi mereka, tidak akan pernah meninggalkan mereka dalam keadaan apa pun!" Belle semakin tidak bisa menahan kegelisahan dalam hatinya. Dia sangat takut kalau Kakaknya akan tertidur untuk selamanya.


Bukankah masih ada yang harus di bahagiakan? Bukankah dia pernah berjanji untuk tetap berada di samping kedua Anaknya itu? Lalu, kenapa setelah mereka sudah hadir di dunia ini, malah dia yang tak mau menepati janjinya. Namun, sesungguhnya, dia bukan tidak bersedia menepati janjinya. Dia hanya belum mampu menunaikan janji yang pernah ia ucapkan dari mulutnya sendiri.


Mungkin saja, dalam tidurnya, dia mendengar keluh dari orang yang berbicara di sampingnya, dia kembali mengikat janji dalam hatinya untuk segera bangkit dan kembali menjaga orang-orang yang sangat ia cintai.


"Belle, sudah cukup. Kamu harus beristirahat, ya?" Rey memegang tangan Belle dan hendak menuntun wanita itu ke sofa yang berada di ruangan itu. Namun, tubuh Belle enggan untuk beranjak. Wanita itu masih kekeh ingin berada di samping Kakaknya.


"Kak Rey, aku ingin di sini saja. Menjaganya, merawatnya dan menungguinya agar dia bangun." Tanpa mengalihkan pandangannya, dia berbicara dengan Rey. Ini kali pertama Belle memanggil Rey dengan sebutan Kakak. Karena, biasanya setiap bertemu mereka pasti akan selalu bertengkar meski tak ada sebab.


"Belle, jika kamu masih di sini tanpa istirahat. Lalu, untuk sementara ini, siapa yang akan merawat dua bayi kecil itu? Bukankah kamu dan Rena sangat senang dengan kehadiran mereka? Tapi, kenapa tidak mau menjaganya. Hanya sementara saja." Bujuk Rey.


Bujukan itu membuat Belle tersadar. Dia melihat ke arah Rey yang sedang berdiri tepat di sampingnya dan mengangguk. Karena melihat Kakaknya yang seperti itu, dia seakan lupa dengan kehadiran dua malaikat itu.


Belle berdiri dan berjalan menuju ke sofa dan duduk bersandar di sana. Dia tidak melirik ke arah Daniel sekali pun. Dia juga tidak sadar kalau sedari tadi Daniel memperhatikannya terus menerus.


Daniel merasa terenyuh dengan keadaan gadis itu. Tapi, tak ada yang bisa diperbuatnya. Bahkan, cara untuk menghibur pun dia tak tahu.


"Daniel, jaga mereka sebentar. Aku akan keluar mencari makanan untuk kita," Ucap Rey.


"Biar aku saja. Kau tunggu di sini saja. Aku juga ada sesuatu yang mau diurus." Sahut Daniel. Sebenarnya, dia merasa sungkan kalau harus berdua bersama Belle di ruangan yang sama. Terlebih lagi, keadaan Belle sedang seperti itu.


Rey mengangguk dan Daniel langsung pergi dari sana. Saat dia sudah berada di luar, dia menelepon Eson untuk segera menemuinya secepat mungkin.


Setalah dia membeli makanan, Eson pun datang menemui Daniel. Eson tahu kalau Bosnya sekarang sedang berada di rumah sakit. Namun, dia tak sempat datang karena sangat banyak pekerjaan yang harus diurusnya.


"Eson, kau tahu kan apa yang harus kau lakukan?" Tanya Daniel yang menatap tajam ke jalanan di sekitarnya.


"Tahu, Tuan. Tapi saya tidak bisa melakukannya sendiri. Karena Tuan Bara tidak berada di tempat, sangat banyak pekerjaan yang harus saya lakukan." Jawab Eson apa adanya.

__ADS_1


"Suruh siapa saja asalkan dia mampu bekerja dengan baik. Paling telat, sore inu kau harus sudah menyerahkan buktinya." Tekan Daniel yang kini sudah beralih melihat Eson.


"Jangan libatkan terlalu banyak orang. Cukup orang kepercayaanmu saja. Apa kau mengerti?" Tegasnya.


Eson mengangguk, Daniel meninggalkan Eson yang masih diam terpaku di tempatnya. Dia berjalan dengan gontai dan menemui Bram.


Daniel sudah kembali ke rumah sakit dengan membawakan beberapa jenis makanan. Dia memberikan semuanya pada Rey, agar pria itu memberikannya pada Belle.


Setelah Rey memberikan makannya pada Belle, laki-laki itu menuju ke ruang rawat inap Embun dan memberikan Rena makanan. Wajah wanita itu juga nampak sembab, mungkin karena terlalu sering menangis meratapi keadaan Kakaknya yang terbaring lemah.


"Rena, makan dulu?" Tanya Rey, tapi sebenarnya dia sedang memerintah.


"Taruh saja di sana, Om. Aku sedang tak berselera." Jawabnya lesu. Bahkan dia tak melihat Rey sedikit pun.


"Pertama kali melihatmu, aku kira kau adalah wanita yang kuat, tegar dan mandiri. Ternyata aku salah. Sebenarnya, kau adalah wanita yang cengeng, lemah dan selalu merasa ketakutan, kan?" Ejek Rey, Rena hanya diam tak bermaksud menanggapi ocehan laki-laki itu.


"Seharusnya, kau harus bisa menguatkan dirimu. Sedari kecil, bukankah Kakakmu itu yang selalu menjagamu? Sekarang, sudah waktunya kau membalas budinya dan menjaga dua malaikat yang telah ia lahirkan." Timpal Rey bermaksud menyemangati Rena.


"Om, kau ingin membuatku bangkit atau sedang menyumpahi Kakakku mati?" Dengus Rena sembari memicingkan matanya menatap Rey.


"Apa? Aku hanya menyuruhmu untuk makan. Sejak kapan aku menyumpahinya?" Tanya Rey bingung.


"Kau tak ingat? Kau mengatakan aku harus balas budi dan menjaga dua Anak Kakakku."


"Lalu, apa yang salah dengan ucapanku?" Rey malah bertanya balik.


"Kau ini!" Rena menghela nafas frustasi. "Bukankah itu sama saja?"


"Apanya yang sama? Aku tidak ada maksud lain." Kilah Rey, karena dia memang tidak bermaksud aneh-aneh.


TOK TOK TOK


"Mohon jaga ketenangan pasien." Ucap Suster yang sedang berjaga, membuat Rena kembali mendelik melihat Rey.


KRING KRING KRING

__ADS_1


"Halo, Bu?" Ternyata yang menghubungi Rena adalah Mika, dia langsung mengangkat panggilan itu karena berpikir kalau mungkin Mika sudah tahu tentang kabar Embun yang mengalami kecelakaan dan mengkhawatirkannya.


"Rena, aku menghubungi Embun tapi tidak aktif. Di mana dia?" Tanya Mika.


"Ya, Bu. Ponsel Kak Embun mati. Sekarang dia sedang berada di...." Belum sempat Rena mengatakannya, Mika lebih dulu menyela ucapan Rena.


"Katakan padanya aku sedang membutuhkan uang! Tadi aku melihat sebuah tas yang sangat bagus dan mahal. Sangat cocok untukku. Sampaikan padanya untuk segera mengirimkan aku uang." Cetusnya lagi.


"Cukup, Bu!" Pekik Rena. Rena yang tak pernah kesal terhadap Ibunya, kini dia meninggikan suaranya, karena sikap Ibunya yang sudah diambang batas, membuat emosi yang yang selama ini ia pendam, akan meledak.


"Kak Embun sekarang sedang terbaring di rumah sakit. Dia mengalami kecelakaan, Bu. Bahkan dia sudah melahirkan kedua Anaknya sebelum waktunya. Tidak bisakah ibu merasa simpati sedikit saja?"


"Lalu, apa hubungannya denganku? Aku hanya ingin minta uang. Kenapa kau malah mengadu padaku? Kau ingin meminta biaya rumah sakitnya padaku?"


"Ku sarankan, kalau kalian tak sanggup membayar biaya rumah sakit, segeralah pulang. Jangan membuat malu. Jangan minta padaku, aku tak punya uang." Setelah mencela, Mika langsung mematikan sambungan teleponnya.


Rena kembali menghela nafasnya kasar. Kemudian dia menggenggam erat-erat ponselnya karena kesal. Rena menyeret Rey untuk keluar dari ruangan itu.


"Bawa makanannya, Om. Kita makan di luar." Titahnya.


Setelah makan, Rena minta di antarkan ke ruangan tempat Bara dirawat. Dia melihat Belle yang juga baru selesai menyantap makanannya. Dia mendekati ranjang Bara dan melihat, ternyata Bara lebih parah kondisinya sekarang. Sampai sekarang laki-laki itu masih kritis.


TOK TOK TOK


Pintu diketuk dari luar. Setelah memperkenalkan dirinya, orang yang tadi mengetuk pintu pun masuk. Ternyata yang datang adalah Bram dan Eson.


Eson menghampiri Daniel, kemudian dia bertanya, "Bicarakan di sini, atau di luar saja, Tuan?" Tanya Eson pada Daniel.


"Di sini saja. Tapi, jaga mulut kalian. Jangan sampai mengeluarkan suara yang terlalu besar." Daniel sudah mengeluarkan ancaman diawal.


Eson mengangguk mengerti, dia langsung mengeluarkan sebuah tab dari dalam tasnya. Kemudian memutar sebuah rekaman cctv.


"Ini adalah rekaman cctv yang terpasang di jalan itu, Tuan. Cctv ini awalnya dipasang untuk mengawasi dan mengamankan para pedagang itu dari para preman jalanan." Jelas Eson sambil menyerahkan tab itu pada Daniel.


Mendengar penjelasan Eson. Rey, Belle dan Rena langsung merapat. Mereka juga menyaksikan rekaman cctv itu bersama.

__ADS_1


Setelah rekaman cctv itu diputar. Seseorang diantara mereka menutup mulutnya dan membelalakkan matanya karena terkejut. Merasa mengenali orang yang mengemudikan mobil yang digunakan untuk menabrak Bara.


Jangan lupa tinggalkan jejak like, berikan komentar dan berikan gift serta vote, agar author tambah semangat untuk up episode selanjutnya. ❤️❤️❤️


__ADS_2