
"Pacar? Jadi, mereka membawa pacarnya masing-masing ke sana? Tapi, kenapa Belle tidak mengajakku?" gumam Daniel.
"Kau sudah mulai pintar berbohong kelinci putihku," ucapnya lirih. "Dan ternyata, kau yang mengetuai grup ini? Benar-benar pintar!" puji Daniel sambil tersenyum miring.
Melihat Belle kembali, Daniel langsung meletakkan kembali ponsel Belle di atas meja. Bertepatan dengan Belle duduk, makanan pun dihidangkan. Mereka langsung makan dalam diam, karena Belle terlihat sangat menikmati makannya.
"Habis makan, mau ke mana lagi?" tanya Daniel yang akhirnya membuka suara.
"Langsung pulang saja, Kak Daniel. Aku mau berkemas untuk besok," jawabnya.
"Sepertinya, kamu senang sekali ya, besok pergi bersama teman-temanmu," sindir Daniel tapi tak disadari oleh Belle.
"Tentu. Baru kali ini aku merasakan berlibur bersama teman-teman baikku, Kak," ucapnya yang terlihat sangat antusias.
"Ya sudah, besok sebelum aku ke bandara, aku akan menyempatkan diri untuk mengantarmu terlebih dahulu," ucap Daniel, membuat Belle langsung tersedak.
"Uhuk ... uhuk ... tidak usah, Kak."
"Kenapa? Bukankah seharusnya kamu senang? Karena aku menyempatkan waktuku?" tanya Daniel sengaja.
"Besok, temanku akan menjemputku langsung, Kak." Daniel tahu, semua alasan yang diucapkan oleh Belle adalah kebohongan.
Lanjutkan berbohong sesukamu. Karena besok, aku akan tahu kenapa kamu lebih memilih berbohong padaku, dari pada jujur padaku. Padahal, jika kamu lebih memilih jujur, aku tidak akan melarangmu pergi, asalkan kamu membawaku ikut denganmu.
"Baiklah, hati-hati," ucap Daniel membuat Belle menghembuskan nafas lega.
"Kenapa kamu menghempaskan nafas seperti itu? Ada yang kamu sembunyikan?" selidik Daniel lagi membuat wajah Belle kembali menegang.
"Ti-tidak, bagaimana mungkin," jawab Belle buru-buru.
"Ya sudah, ayo kita pulang sekarang." Daniel berdiri dan diikuti oleh Belle. Mereka menuju mobil dan mengantarkan Belle pulang ke rumah.
"Hati-hati Kak Daniel!" ucap Belle sambil melambaikan tangannya, menunjukkan senyuman terindahnya.
Setelah mobil Daniel menghilang dari pandangan matanya, Belle langsung berlari masuk ke dalam rumah menuju ke kamar. Mengambil koper berukuran sedang dan mulai mengemasi semua barang-barang yang sekiranya diperlukannya nanti.
"Apa aku juga harus bawa bikini?" gumamnya sambil memegang benda itu. Tapi kemudian dia kembali meletakkannya ke dalam lemari karena enggan untuk membawanya.
"Aku tidak boleh mengkhianati Kak Daniel, di sana juga ada pria. Tidak boleh berpakaian seperti itu jika tidak ada Kak Daniel," ucapnya sambil terus memasukkan pakaian-pakaiannya.
Saat Belle sedang sibuk mengemasi barang-barangnya, pintu kamarnya yang tidak dikunci dibuka dari luar oleh Embun.
"Kamu mau ke mana, Belle?" tanya Embun.
"Liburan, Kak. Besok, teman-temanku mengajak ke villa dekat pantai," sahutnya sambil tersenyum sumringah.
"Ohh, hati-hati nanti saat di sana."
"Iya. Kakak tidak ke toko?" Belle bertanya balik.
"Tidak, Hansel dan Hilsa demam. Jadi, hanya Rena saja yang ke toko," sahutnya sambil memperhatikan Belle mengemasi barang-barangnya. Saat Belle memasukkan setumpuk lingerie ke dalam kopernya, Embun mengerutkan keningnya.
"Itu untuk apa, Belle?"
"Yang mana, Kak?" tanya Belle sambil melihat ke arah yang ditujukan Embun, tapi tidak menemukan sesuatu yang salah.
"Itu yang di tangan kamu," tunjuk Embun.
"Ini? Lingerie ini, Kak?" Belle mengangkat setumpuk lingerie yang masih dipegangnya.
__ADS_1
"Hu'um, untuk apa kamu membawa itu?"
"Oh Kak Embun masih tidak tahu ya. Sedari kecil, aku memang sangar suka tidur memakai pakaian terbuka seperti ini, lebih nyaman saja rasanya," jawab Belle.
"Kan ada AC, kamu masih merasa gerah?"
"Ya, pernah beberapa kali aku coba pakai piyama saat tidur. Rasanya sangat gerah, Kak. Padahal, AC nya juga sudah sangat dingin, tidurku juga tidak nyenyak," jelasnya sambil melanjutkan memasukan barang-barang miliknya.
"Berarti, kamu pengoleksi lingerie?" Embun bertanya sambil menahan tawanya.
"Hehe, bisa dibilang begitu sih. Karena, aku punya berbagai macam bentuk dan warna. Kalau Kakak atau Rena mau pinjam, ambil saja di sana." tunjuk Belle ke arah almari yang berada dipojok dan sedikit tertutup.
"Kamu punya dua almari?" tanya Embun terkejut. Dia sering keluar masuk kamar Belle, tapi tak pernah melihat almari itu jika tidak diberitahu oleh Belle sendiri.
"Iya, Kak. Yang itu, khusus untuk pakaian haram ini," sahutnya tersenyum malu-malu.
"Ya sudah, lanjutkan saja. Aku mau kembali ke kamar melihat Hansel dan Hilsa," ujar Embun.
☀️☀️☀️☀️☀️☀️☀️☀️☀️☀️☀️☀️☀️☀️☀️
Pagi datang kembali, hari ini matahari juga sangat cerah. Secerah senyuman Belle yang merasa sangat senang, karena rencana liburannya bersama dengan teman-temannya yang lain.
Sekarang, Belle sedang duduk di meja makan bersama keluarganya. Kebetulan ini adalah hari weekend, jadi semuanya berkumpul termasuk Brandon.
"Kak, kenapa sih wajahmu tersenyum saja? Melihat senyummu itu, selera makamku menghilang!" ketus Brandon sambil mengaduk-aduk nasinya.
"Memangnya kamu pernah lihat orang yang sedang bahagia menangis?" ketus Belle balik.
"Menganggu saja!" gerutu Brandon.
"Hey anak kecil! Kalau bicara jangan terlalu pedas! Nanti, wanita tidak ada yang mau denganmu. Kamu jangan menangis padaku ya. Jangan sampai minta dicarikan istri!" ejek Belle membuat semua orang menahan tawanya, kecuali Brandon. Dia hanya diam tak bergeming karena tak pernah peduli dengan ucapan orang lain.
"Terserah! Yang ada, aku bertanya-tanya, kenapa Kak Daniel mau dengan wanita cerewet sepertimu! Kalau tidak ada yang mau denganku, ya tidak usah menikah! Jadi tidak ada akan ada orang yang akan cerewet sepertimu ini!" ucapnya panjang lebar.
"Cih, lihat saja! Aku akan berdoa setiap hari, kau harus mendapatkan seorang istri yang lebih banyak bicara daripada aku! Itu janjiku!" pekik Belle kesal.
"Sudah-sudah! Kalian ini, semakin dibiarkan, semakin saja ya. Tidak pernah berubah!" ucap Bara menengahi. Dia juga merasa pusing sendiri dengan tingkah kedua adiknya itu. Yang satu cerewetnya kelewatan. Yang satu lagi, dinginnya kelebihan.
"Kak, Belle pergi!" pamit Belle pada Bara dan Embun.
"Hati-hati. Jangan aneh-aneh di sana," seru Bara mengingatkan.
"Tenang saja, Kak."
Belle pergi dengan dijemput oleh teman-temannya. Di dalam mobil itu, merek berpasang-pasangan. Hanya Belle yang sendiri.
Saat semua orang sibuk dengan pasangan mereka masing-masing, Belle lebih memilih sibuk dengan ponselnya. Melihat-lihat madia sosialnya.
TING
Daniel mengirimkan sebuah pesan untuk Belle. Belle cepat-cepat membuka pesan yang dikirimkan oleh Daniel. Ternyata foto Daniel di bandara. Saat Belle sedang sibuk menatap foto pria itu, masuk lagi pesan lain dari Daniel.
"Aku pergi, ini fotoku di bandara. Mana fotomu di pantai?" tulusnya.
"Aku masih belum sampai." balas Belle.
"Tidak apa-apa, foto di dalam mobil juga boleh."
Belle mendadak bingung, dia tidak tahu apa yang harus dibalas untuk Daniel. Alasan apa yang harus dia berikan pada laki-laki tukang curiga itu. Masih pusing memikirkan alasan, ponselnya kembali berdering. Seketika Belle bertambah bingung, karena Daniel melakukan panggilan Vidio.
__ADS_1
Tanpa pikir panjang, Belle langsung menolak panggilan Vidio itu. Berkali-kali Belle menolak panggilan Vidio, berkali-kali juga Daniel menelponnya lagi.
Agar tak ketahuan bahwa dia pergi dengan laki-laki, Belle menonaktifkan ponselnya.
"Maaf, Kak Daniel. Sampai di villa nanti aku akan kembali mengaktifkannya. Kuharap, Kakak tidak khawatir," gumamnya resah.
"Apakah kita masih lama sampai di villa tujuan?" tanya Belle pada teman-temannya yang sibuk pacaran.
"Tidak, hanya lima menit lagi dari sini," sahut salah satu teman Belle.
"Nah, itu villanya sudah mulai terlihat." sorak teman-temannya senang.
Mobil yang ditumpangi mereka mulai masuk ke dalam area villa. Salah satu teman Belle sudah membooking kamar untuk mereka semua. Kamar yang di pesan pun pas dengan jumlah mereka yang berpasang-pasangan. Hanya Belle yang tidur sendiri selama mereka di sana.
"Ahh, pemandangan yang sangat memanjakan mata," ucap Belle girang.
Saat mereka menurunkan barang, ada sebuah mobil yang sangat dikenali Belle menghampiri mereka.
TIN
TIN
"Siapa sih?" teman-teman Belle bertanya-tanya.
Belle memperhatikan mobil yang kini berada di dekatnya dengan seksama, dia masih menerka-nerka, apakah benar itu milik Daniel.
"Tidak mungkin! Barusan Kak Daniel mengirimkan foto dirinya sedang berada di bandara."
Belle tak lagi memperhatikan mobil itu, dia kembali fokus menurunkan kopernya dari dalam mobil.
Pemilik mobil itu pun turun, membuat semua orang terkesima, tapi Belle masih tidak peduli hingga seorang laki-laki memegang tangan Belle yang sedang menarik koper dari bagasi. Membuat Belle langsung menoleh.
"Kak Daniel?"
Nih aku kasih visual Daniel, Belle, Rey dan Rena ya. Soalnya kan visual Embun dan Bara sudah ada di cover. Sebenarnya aku takut ngasih cover ini, takut gak sesuai dengan ekspektasi kalian.
Maaf kalau visual yang aku kasih melukai ekspektasi kalian 🙏😂
Daniel
Belle
Rey
Rena
Nih bonus Brandon pas udah besar ya, hehe🥰
Jangan lupa like, komentar, gift dan vote ya
__ADS_1
berikan rate 5
dukung karya baru author SAHABATKU SUAMI MUHALLILKU 🙏