
Bara yang sedari tadi selalu memperhatikan Embun dari tempatnya duduk, dia sangat terkejut dengan kehadiran orang itu. Dia langsung mendorong stroller anak-anaknya ke arah Embun dengan terburu-buru. Dia takut ada sesuatu yang mencelakai Embun. Bara tak ingin dia terlambat dan akan membuat dia kehilangan wanita yang kini sangat dicintainya.
"Audrey...?" Nama itulah yang terucap oleh Embun saat melihat kehadiran wanita yang tadi meneriaki namanya, dan kini wanita itu sudah berdiri dihadapannya.
"Bara...?" Kini tatapan Audrey beralih melihat Bara yang memegang stroller. Audrey tersenyum sayu saat melihat Hansel dan Hilsa yang kini sedang terjaga.
"Ternyata kamu sudah melahirkan, Embun?" ucap Audrey yang seakan gemas melihat Hansel dan Hilsa yang tubuhnya gempal berisi.
Namun, Embun malah terperanjat dengan ucapan Audrey barusan. Dia menajamkan matanya dan mengerutkan dahinya seakan sedang berpikir dengan keras, apa maksud ucapan Audrey barusan.
Dia menanyakan itu? Hanya berpura-pura, atau memang dia tidak tahu kalau aku sudah melahirkan. Dan tatapan matanya, kenapa seperti orang yang merasa paling bersalah di dunia,
Embun tak menjawab pertanyaan Audrey. Dan Deva terlihat seperti sangat membenci Audrey.
"Kenapa kau di sini?" Tanya Deva dengan intonasi tinggi.
"Aku hanya mau menemui Embun saja. Ada masalah untukmu?" Balas Audrey yang juga terlihat tak suka dengan Deva.
Audrey kembali melihat ke arah Hansel dan Hilsa. Seketika dia maju dan menaruh sesuatu di stroller milik Hansel. Agar tidak terlalu terlihat, dia memegang pipi Hansel dengan gemas.
"Kamu tampan sekali, Sayang." Ujarnya sambil mencuil pipi bayi yang masih belum mengerti apa-apa.
"Apa yang kau lakukan? Jangan sentuh mereka dengan tangan kotormu itu!" Bentak Deva dan mendorong Audrey sekuat tenaga.
BRUAKK!!
Audrey terjatuh dan kepalanya mengenai vas bunga besar yang terbuat dari bahan keramik. Dia terlihat meringis sambil memegangi kepalanya yang berdarah.
Karena terkejut dengan kejadian itu, tanpa memperdulikan siapa yang terluka, Embun langsung berlari ke arahnya dan berlutut untuk mensejajarkan posisi mereka.
"Audrey, kamu tidak apa-apa?" Tanyanya yang mulai panik, karena darahnya mulai bercucuran. Bukan hanya dari kepalanya, darah juga mengalir dari sela-sela paha Audrey.
"Embun, dengarkan aku. Kamu harus berhati-hati dengan Deva. Dan aku, a-aku minta maaf padamu." Ucapnya terbata-bata sambil menahan sakit.
Embun tak memperdulikan perkataan Audrey. Dia mendengar tapi karena panik, dia jadi tak terlalu menghiraukan ucapan itu.
"Embun, dengarkan aku! Merekalah yang membunuh kedua orang tu-tua Bara." Ungkap Audrey dengan nafas yang tersengal-sengal.
__ADS_1
Namun, kalimat yang ini terdengar jelas oleh Embun. Embun melihat ke arah Audrey dan ingin bertanya apa maksud dari ucapan Audrey barusan. Namun, Audrey malah sudah tidak sadarkan diri lagi.
Tak lama, ambulance pun datang, Audrey dibawa ke rumah sakit untuk mendapatkan perawatan intensif.
"Bara, izinkan aku pergi menemani Audrey ke rumah sakit. Hubungi Rena, minta dia menjemput Hansel dan Hilsa." Pinta Embun menggebu-gebu.
"Tapi, Jingga...."
"Bara, kumohon...." Embun mengatupkan kedua tangannya agar Bara membolehkannya untuk ikut menemani Audrey. Sebenarnya, bukan karena serta-merta keinginannya karena dia terlalu baik. Dia masih menaruh dendam pada wanita itu. Tapi, rasa ingin tahunya pada ucapan Audrey yang menurutnya harus diperjelas lah yang membuatnya harus ikut dan menuntut penjelasan Audrey saat dia sudah sadar nanti.
"Pergilah. Jika ada apa-apa yang membahayakanmu, segera hubungi aku."
"Hum! Aku titip mereka." Embun langsung ikut masuk ke dalam ambulance yang membawa Audrey ke rumah sakit.
Deva menertawakan sikap Embun yang menurutnya terlalu baik dan munafik.
"Cih, dasar bodoh. Sudah disakiti, masih saja mau mengurusi orang yang sebentar lagi akan mati! Ckck." Gerutunya, kemudian dia mengambil mobilnya dan pergi untuk menemui Albert.
********
Mobil ambulance telah sampai di rumah sakit, brankar Audrey sudah dibawa masuk oleh para petugas. Embun hanya duduk di kursi ruang tunggu di depan ruangan yang menangani Audrey. Dia mengatupkan kedua tangannya, berdoa agar Audrey bisa sadar dan menjelaskan maksud dari ucapannya tadi. Jujur saja, Embun sangat penasaran, dan mungkin saja itu bisa dijadikan bukti yang kuat untuk menjatuhkan Deva dan juga Albert.
Saat dia masih menunggu, tiba-tiba datang Belle dan duduk di samping Embun.
"Kak, kenapa kamu menemaninya? Lebih baik kita pulang sekarang." Belle menarik lengan Embun bermaksud mengajaknya segera pulang.
Embun menahan tangannya, "Belle, kamu ke sini bersama siapa?" Tanya Embun setelah melirik ke sekelilingnya.
"Aku datang sendiri, Kak." Belle masih menggenggam lengan Embun.
"Aku di sini bukan karena keinginanku. Tapi, karena rasa penasaranku, Belle." Jujur Embun, Belle pun mulai mengendurkan pegangannya dan memilih duduk di samping Embun.
"Penasaran dengan hal apa, Kak?" Tanyanya yang kini ikut penasaran.
Embun mulai menceritakan semuanya. Dari saat dia datang hingga saat Audrey ditolak oleh Deva. Tapi, dia tidak mengatakan tentang Audrey menyelipkan sesuatu di stroller bayinya, karena dia tidak mengetahui akan hal itu.
"Jadi maksudnya, yang membunuh...." Ucapan Belle terpotong karena dia tak sanggup mengatakannya lagi.
__ADS_1
"Ya. Makanya aku menunggu di sini, setelah dia sadar, aku akan meminta penjelasan atas ucapannya tadi." Sela Embun yang seolah mengerti dengan ucapan tak lengkap Belle barusan.
"Kalau begitu, aku juga akan menemanimu menunggunya sadar, Kak." Ujarnya yang juga menjadi penasaran dengan apa yang sebenarnya terjadi.
"Hem. Aku mau menghubungi Rena, menanyakan kabar Hansel dan Hilsa." ucap Embun dan Belle mengangguk.
Embun menghubungi Rena menanyakan kabar kedua anaknya. Ternyata Rena sudah sampai di rumah setelah menjemput mereka. Hati Embun pun mulai tenang. Setelah dia menghubungi Rena, dia kembali duduk di samping Belle.
Kini rada cemasnya hanya tinggal satu, yaitu menunggu Audrey sadar dan menceritakan semuanya yang ia ketahui.
CEKLEK
Pintu ruangan Audrey ditangani pun terbuka, keluar seorang Dokter wanita yang tadi menangani Audrey. Melihat kehadiran Dokter itu, Embun dan Belle langsung berdiri dan menghampiri Dokter itu.
"Saudara Nyonya Audrey?" Tanya sang Dokter melihat ke arah Embun dan Belle bergantian.
"Ya, Dok. Bagaimana keadaan Audrey?" Tanya Embun, jelas terlihat dari raut wajahnya jika dia sedang berharap kalau Audrey akan baik-baik saja.
"Maaf ... dengan sangat menyesal, kami tidak dapat menyelamatkan keduanya." ucap sang Dokter tertunduk.
"Keduanya?" potong Belle.
"Ya. Nyonya Audrey dan Anak yang dikandungnya." Terang sang Dokter.
Embun teringat, tadi saat dia terjatuh, selangkangannya juga mengalir darah yang cukup banyak.
"Nyonya Audrey mengalami pendarahan. Dan beliau juga mengidap penyakit HPV, dan juga kanker serviks stadium akhir." Jelas sang Dokter lagi menjabarkan kenapa nyawa Audrey tak bisa tertolong.
HPV(Human Papillomavirus) adalah penyebab infeksi menular seksual yang paling umum terjadi. Dilansir dari Centers for Disease Control and Prevention , hampir setiap orang yang aktif secara seksual akan mendapatkan HPV seumur hidup, kecuali mereka telah mendapatkan vaksin HPV.
HPV mempunyai berbagai tipe virus. Namun, virus-virus ini tidak selalu menyebabkan gejala. Tetapi beberapa jenis tertentu dapat menimbulkan gejala tertentu, seperti kutil kelamin dan kanker tertentu. Kebanyakan pengidap HPV tidak mengetahui ketika mereka memiliki HPV, sampai virus ini terdeteksi saat melakukan skrining.
Pupus sudah harapan Embun untuk mengetahui kejelasannya. Setelah mengurus semuanya dia memutuskan untuk pulang. Namun, ucapan Audrey terus saja terngiang-ngiang di kepalanya.
JANGAN LUPA BERIKAN DUKUNGAN DENGAN LIKE, KOMENTAR, VOTE DAN BERIKAN BUNGA-BUNGA UNTUK AUTHOR, YA😗
FOLLOW AKUN AUTHOR, BERIKAN RATE 5 DAN TAMBAH KE DAFTAR FAVORIT KAMU YA!!
__ADS_1
THANK YOU SHAY!!❤️❤️❤️