Istri Miskin Presdir

Istri Miskin Presdir
MULAI BERBOHONG


__ADS_3

"Ya, benar! Aku akan memintanya untuk bicara berdua saja. Lihat saja, akan ku buktikan, aku bisa mendapatkannya!" ucapnya pada dirinya sendiri. Teman-temannya hanya saling pandang dan angkat bahu.


TING


TING


TING


"Ahh, akhirnya selesai juga!" ucap teman Belle sambil meregangkan otot-otot tubuhnya.


"Kau ini, memang paling malas kalau sudah berhubungan dengan yang namanya belajar," cibir temannya yang lain.


"Bagaimana, tempat sudah kita sesuaikan, yang sudah setuju untuk ikut, jangan sampai mengundurkan diri ya!" seru mereka yang begitu bersemangat saat akan berlibur seperti ini.


"Buat grup chat saja, jadi mudah untuk kita bisa berkomunikasi satu sama lain," usul Belle yang langsung disetujui oleh teman-temannya.


Belle yang mengetuai grup chat tersebut. Setelah selesai menambahkan beberapa orang anggota, mereka pun kembali bercengkrama sambil bertukar candaan. Seperti tidak ada niat untuk pulang saking asiknya.


"Belle, kamu yakin tidak membawa pacar? Kalau memang tidak ada, biar aku kenalkan," tanya temannya.


"Tidak apa-apa, aku sendiri saja. Tidak akan mengganggu, kan?" tanya Belle seloroh.


"Tentu saja tidak dong!" sahut mereka kompak.


Saat mereka sedang asik menukar bahan candaan guna untuk merilekskan pikiran. Ada yang mengganggu mereka, sampai membuat mereka mendesis kesal saat melihat wajah orang itu.


"Belle!" panggil Kevin yang sudah berdiri di ambang pintu. Entah sejak kapan, mereka semua tak menyadarinya.


"Kevin? Untuk apa lagi kau memanggil Belle? Pergi sana!" usir teman-teman Belle yang memang sudah sangat muak melihat wajah itu.


Terlebih lagi, yang mereka sakiti adalah teman mereka.


"Aku hanya ingin berbicara sebentar dengan Belle," ucap Kevin mengutarakan maksudnya.


"Pergi sana! Dia tidak mau bertemu denganmu lagi!" lagi-lagi teman-teman Belle yang membantunya berbicara.


Setiap perkiraanku selalu benar. Memang ini yang aku inginkan, Kevin. Semakin kamu mengejarku, kamu akan semakin menjadi bulan-bulanan seisi kampus.


"Sudah-sudah. Tidak apa-apa, biar aku berbicara dengannya sebentar," seru Belle, membuat Kevin yang masih berdiri di ambang pintu menerbitkan senyumannya.


"Terima kasih ... sampai bertemu kembali besok teman-teman!" ucap Belle sambil berjalan menghampiri Kevin.


"Ada apa?" tanya Belle dengan raut yang sudah berubah seratus delapan puluh derajat. Dari yang awalnya tertawa ceria bersama teman-temannya. Saat dia berhadapan dengan Kevin, senyuman itu luntur semua.


"Aku ingin berbicara denganmu," ujarnya.


"Aku tahu. Bisa cepat? Aku masih ada janji dengan orang lain," desak Belle yang memang tak ingin berlama-lama berhadapan dengan laki-laki ini.


"Ya sudah, ikut aku!" Kevin langsung menarik tangan Belle mengikutinya. Melihat sekeliling, merasa tempat itu tak dikenalinya, Belle langsung menghempaskan tangan Kevin.


"Ke mana? Aku tidak mau ke tempat yang tidak ada orang!" cekal Belle. Dia tidak mau keselamatannya terancam.


"Aku hanya ingin berbicara berdua denganmu. Aku janji, aku tidak akan menyakitimu, Belle." Kevin hendak meraih tangan Belle, tapi dengan cepat Belle menghindar.


"Tidak," tolaknya tegas. "Kalau kau mau bicara, kita bisa ke taman dekat sini. Tapi kalau kau tidak mau, berarti tidak ada yang perlu dibicarakan lagi."

__ADS_1


"Baiklah," jawab Kevin pada akhirnya. Karena dia tahu, jika kali ini mereka gagal bicara, lain kali, Belle tidak akan lagi meluangkan waktunya.


Sekarang, giliran Belle yang mengarahkan Kevin untuk mencari tempat duduk. Tapi dia tak mau jalan berdekatan dengan laki-laki itu. Dia berjalan jauh dengan jangkauan Kevin.


"Bicaralah!" desak Belle yang sudah mendudukkan bokongnya ke kursi taman.


"Belle, apa maksudmu yang mengatakan di depan umum kalau kita tidak ada hubungan apa-apa?" tanya Kevin langsung pada intinya.


"Kevin, kurasa itu semua sudah jelas. Tidak ada lagi yang perlu kita bicarakan mengenai hal itu. Jika kau mengajakku kemari hanya untuk membicarakan hal tak penting ini, maaf aku harus pergi sekarang! Banyak hal penting lain yang harus aku urus," ketusnya sambil menghembuskan nafas kasar. Tidak lupa, dia juga memutar bola matanya.


"Belle, itu adalah hal yang penting untukku!" pekik Kevin sambil menyugar rambutnya, seperti mengisyaratkan kalau dia sedang dilanda frustasi.


"Tapi, menurutku tidak!" Belle berdiri hendak pergi. Dengan sigap Kevin langsung menghalanginya.


"Belle, berikan aku sedikit waktu!" mohon Kevin.


"Sudah kukatakan padamu, kalau kau hanya mau membahas masalah tak penting ini, lebih baik aku pergi sekarang!" ucap Belle.


"Tapi ini penting bagiku, Belle!" ucap Kevin yangsambil menelisik kedua manik cokelat Belle. Berusaha mencari secercah rasa cinta yang masih tersisa di sana.


"Bagaimana mungkin aku bisa tidak peduli, saat orang yang paling aku cintai mengatakan kalau kita tidak ada hubungan apapun lagi. Belle, aku yakin, kamu pasti ingat kalau kita memang pernah punya hubungan spesial,"


"Lalu, apa kamu bisa menjelaskan bagaimana hubunganmu dengan Nita?" satu kalimat Belle itu pun berhasil membuat Kevin bungkam.


"Semua sudah aku jelaskan tadi, Kevin. Kamu hanyalah salah paham tentang hubungan kita!" tegas Belle, tak ada kegusaran sedikitpun di wajahnya saat dia mengatakan itu.


"Belle ... kenapa kamu begitu tega?" lirih Kevin.


"Aku tega? Lalu, bagaimana dengan dirimu yang mempermainkan pertemanan kita dengan sebuah taruhan?" tanya balik Belle.


"Aku tidak ada maksud seperti itu Belle," sangkal Kevin.


"Sial! Lagi-lagi aku tidak bisa berkutik di hadapan Belle! Ini semua gara-gara Nita!" umpatnya kesal sambil meninju angin. Dia memperhatikan langkah Belle ke sebuah mobil yang dikenalinya. "Sepertinya, Belle sering diantar jemput oleh mobil itu. Menyerupai mobil milik Kak Daniel, temannya Kak Bara," gumamnya.


Begitu masuk Belle langsung menebarkan senyuman termanisnya pada Daniel. Dia langsung mengecup bibir Daniel dan memeluk pria itu.


"Kamu sedang menyogokku agar aku tidak marah karena telah melihatmu bersama laki-laki lain?" tanya Daniel yang mulai menjalankan mobilnya.


"Tidak. Aku hanya sedang merindukanmu," sahut Belle. "Kita makan dulu, Kak." Belle merasa perutnya mulai keroncongan.


"Hem!" jawab Daniel. "Belle, nanti malam aku ada perjalanan bisnis. Kamu jangan nakal di sini."


"Kamu sedang mengabariku atau mengeluarkan ultimatum?" sungut Belle kesal.


"Dua-duanya!" cetus Daniel.


"Tidak apa-apa, pergi saja. Besok aku juga mau pergi dengan teman-temanku," ucapnya.


"Ke mana? Apakah ada pria yang ikut?" tanya Daniel yang kini mulai memasuki area parkir.


Kami mau ke pantai, menginap di Villa di bibir pantai. Menikmati hangatnya api unggun," jawab Belle dengan wajah senang yang tidak bisa disembunyikan.


"Turunlah!" titah Daniel.


Mereka turun dan mulai mencari meja kosong untuk berdua. Memesan makanan dan kembali berbincang dengan hangat.

__ADS_1


"Kamu belum menjawab pertanyaanku tadi, Belle."


"Per-pertanyaan yang mana, Kak?" tanya Belle pura-pura lupa.


"Apakah ada pria yang ikut bersama kalian?" tanya Daniel menyelidik.


"Tentu, tentu saja tidak ada, Kak. Mana mungkin ada pria diantara kami para wanita, hehehe." Belle menjawab dengan tersenyum kikuk serba salah. Berusaha menutupi semua kebohongan yang baru saja dia buat agar diizinkan pergi oleh Daniel.


Belle bukan tidak mau mengajak prianya itu. Dia hanya tidak mau mengganggu pekerjaan Daniel. Karena Belle sendiri tahu, seberapa sibuknya Daniel. Di tambah lagi, besok Daniel akan melakukan perjalanan bisnis. Belle tidak mau, urusan pekerjaan Daniel terhambat hanya karena dirinya. Karena menurut Belle, urusan pekerjaan lah yang lebih penting.


"Yakin?" selidik Daniel yang masih tidak puas dengan jawaban Belle.


"Hem! Kapan aku pernah membohongimu," sahut Belle dengan keyakinan yang meningkat pesat.


"Mau ke mana kamu?" tanya Daniel saat melihat Belle sudah berdiri dari duduknya.


"Ke kamar kecil, Kak."


"Pergilah!"


Saat Belle pergi, Daniel menunggu dengan memainkan ponselnya. Tapi, bunyi ponsel Belle yang tidak berhenti-henti sangat menganggu telinganya. Karena Daniel merasa terusik, dia berniat mengecek siapa peneror pesan itu.


TING


TING


TING


TING


TING


TING


"Benar-benar tidak ada habisnya. Berisik sekali!" umpatnya mulai membuka ponsel Belle dan melihat isi-isi pesan.


"Grup Besti?" gumamnya sambil terkekeh pelan. "Ternyata kamu sudah banyak teman setelah putus dari anak ingusan itu."


Saat Daniel telah membuka pesan dari grup yang sangat ribut itu, matanya menyipit dan senyuman di bibirnya pun lenyap saat membaca pesan dari beberapa anggota grup.


"Aku senang sekali, pacarku langsung mau ikut bersama kita besok!"


"Pacarku juga, dia sangat senang bisa bergabung bersama kita."


"Ya benar. Pacarku juga begitu."


"Pacarku juga. Kita harus menghabiskan waktu dengan sebaik-baik mungkin besok, gril!"


"Pacar? Jadi, mereka membawa pacarnya masing-masing ke sana? Tapi, kenapa Belle tidak mengajakku?" gumam Daniel.


"Kau sudah mulai pintar berbohong kelinci putihku," ucapnya lirih. "Dan ternyata, kau yang mengetuai grup ini? Benar-benar pintar!" puji Daniel sambil tersenyum miring.


Jangan lupa untuk tinggalkan like, komentar, gift dan vote ya❤️❤️❤️


Berikan rate 5 juga guys agar author tambah semangat lagi.

__ADS_1


Dukung juga karya baru author SAHABATKU SUAMI MUHALLILKU 🙏🙏


Terima kasih atas dukungan dari kalian ❤️❤️❤️


__ADS_2