
Embun lagi-lagi menolak tubuh suaminya. Setiap kali Bara melakukan hal ini, tubuhnya selalu aja bergetar hebat. Namun, tanpa ia ketahui, setiap penolakan dapat semakin memicu gairah seksual laki-laki itu
"Tuan, ku mohon jangan. Aku takut." ucapnya disela-sela isak tangisnya
"Kenapa takut, bukankah seharusnya kamu senang bisa melakukan hal intim ini denganku?" Bara sudah tidak dapat menguasai dirinya sendiri lagi
Bara pun mulai menanggalkan pakaiannya satu persatu. Embun ingin berlari dan mengunci dirinya di dalam kamar mandi, namun secepat kilat tangannya dicekal lagi oleh Bara
"Mau kemana? Temani aku bermain sebentar. Kebutuhan biologis ku sedang membutuhkan kamu." ucapnya
Tanpa berkata apapun lagi, dan tanpa menerima penolakan yang dilakukan Embun, dia merebahkan tubuh istrinya di atas ranjang empuk mereka. Dia mulai menghentakkan tubuh istrinya untuk masuk ke dalam inti tubuh istrinya
Suara erangan yang dikeluarkan oleh Bara bercampur dan bersatu padu dengan suara isak tangis Embun. Ruangan kedap suara itulah yang menjadi saksi bisu bagaimana kekejaman Bara menggauli istrinya
*********
Esok harinya, Embun keluar dengan raut wajah yang kusam dan lusuh. Matanya nampak membengkak. Berbeda dengan Bara, laki-laki itu tampak riang dan sering terdengar bersenandung ria sambil tersenyum cengir
Sesekali, Embun terlihat memegangi pinggangnya, mungkin pinggangnya mau patah gara-gara ulah Bara semalam yang tidak henti-hentinya menghujam inti tubuhnya
"Kak, kamu kenapa?" tanya Belle yang tampak cemas melihat Embun yang kacau, sungguh berbeda jauh dari biasanya
"Aku tidak apa-apa. Hanya sedikit kelelahan saja." jawabnya masih memasang senyum manis
"Kamu yakin? Kamu terlihat pucat, apakah kita perlu ke dokter, Kak?" Belle masih saja merasa khawatir dengan keadaan kakak iparnya
"Tidak perlu. Aku sungguh tidak apa-apa." ucapnya masih berusaha memaksa untuk tersenyum
"Jadi, apakah kita perlu ke tukang pijat?" tanyanya lagi
"Ha? Kenapa mesti ke tukang pijat, aku tidak mengalami masalah apa-apa dengan tulang ku." jawab Embun yang tampak bingung
"Kamu yakin? Kamu terlihat seperti orang yang sedang encok, Kak. Apakah kamu tidak sadar, sedari tadi kamu selalu saja memegangi pinggang mu!" celetuk Embun
Ucapan Belle membuat Bara mengalihkan perhatiannya dari kopi dan korannya. Dia memang tidak terlalu memperhatikan keadaan istrinya yang terlihat seperti nenek tua renta
__ADS_1
"Ah, iya! Pinggangku memang terasa sangat sakit sekarang." jawab Embun sekenanya dengan jujur
Audrey terpaku di tempatnya. Dia mendengar ucapan terakhir yang diucapkan oleh Embun Embun barusan. Dia sudah bisa menebak, apa penyebab dari sakitnya pinggang Embun itu. Dia bukanlah anak balita yang tidak mengerti maksud dari kata-kata ambigu seperti itu
Dia berpura-pura menulikan pendengarannya dan berjalan dengan riang menuju ke arah Bara yang masih sibuk membaca koran dengan khidmat
"Sayang...!" pekiknya sambil merentangkan tangan minta dipeluk
"Kenapa kamu datang ke sini?" Bara malah bertanya hal yang membuat Audrey langsung merasa jengkel, tapi dia tidak berani menunjukkan sikapnya kesalnya di depan Bara
"Kenapa? Apakah tidak boleh? Inikan akhir pekan. Kamu libur, kenapa tidak mengajakku untuk pergi berjalan-jalan keluar sih!" ucapnya sambil mengerutkan bibirnya
"Tentu saja tidak mengajakmu. Dia kelelahan karena habis bergulat dengan istrinya semalaman!" sahut Belle sambil memakan camilannya
"Sayang, jangan dengarkan dia. Dia itu masih kecil, mulutnya terlalu lemes. Selalu mengatakan yang tidak-tidak." sambar Bara sambil menangkup kedua pipi Audrey. Dia berusaha mengalihkan perhatian wanita itu agar tak salah paham. Padahal, apa yang dikatakan oleh Belle memang benar
"Aku percaya padamu. Aku tahu, kamu sangat mencintai aku. Jadi, tidak mungkin melakukan hal-hal aneh di belakangku. Iya, kan?" ucapnya berusaha menghibur diri
Padahal, hal yang dikatakan oleh mulut dan yang dikatakan oleh hatinya sungguh sangat lah jauh berbeda. Dalam hatinya dia memaki Bara dan mengatakan segala sumpah serapah karena tidak jujur dengannya
"Kamu mau kemana hari ini? Aku akan menemanimu." ucapnya membujuk
"Hei wanita, kau tidak malu apa? Di sampingmu ada istrinya. Tapi kau malah sok bermesraan dengan suaminya!" celetuk Belle. Dia sudah sangat jengah dengan pasangan tak tahu diri itu
Audrey langsung mengalihkan perhatiannya ke arah Embun yang sedari tadi terlihat diam dan memperhatikan saja. Hatinya sungguh teriris melihat suaminya yang sangat baik pada wanita lain, tapi memperlakukannya seperti orang lain
"Ah, maafkan aku. Aku tidak melihat mu barusan. Bolehkan, aku meminjam suamimu untuk berjalan-jalan, aku tidak punya teman lain. Lagi pula, dia ini masih berstatus pacarku, loh!" ucapnya tandas. Seakan dia sedang memperingatkan Embun kalau Bara adalah miliknya seutuhnya
"Maaf! Tapi aku tidak mengizinkannya. Dia adalah suamiku, dan mantan pacarmu. Kau seharusnya sadar diri." jawab Embun dengan berani
Sial! Wanita sialan ini berani mengataiku. Lihat saja, kau akan mendapat akibatnya dari mulutmu yang tidak bisa kau jaga itu!
Jujur saja, Audrey sangat kesal mendengar ucapan Embun yang berani-beraninya melawannya. Tapi, dia tetap tidak akan bergerak sembarangan dan hanya akan menggunakan kartu as nya sendiri
"Sayang, benarkah yang dia katakan? Kamu sudah menganggap ku sebagai mantan kekasihmu?" ucapnya manja dan memasang wajah sedihnya
__ADS_1
"Tidak. Jangan pedulikan ucapan tak berdasar nya! Dia tahu apa tentang hubungan kita." Bara malah mencium kening Audrey
"Kamu dengar sendiri, kan? Dia tidak pernah menganggap ku mantan kekasihnya. Berarti, dia masih sah sebagai pacarku!" ucapnya dengan lembut. Tapi raut wajah yang dia perlihatkan pada Embun seperti sedang memperingati dan mengejek
"Tuan, kamu adalah suamiku. Tidak seharusnya kamu membela orang luar seperti ini." seru Embun dengan berteriak
"Tuan? Kau memanggil suamimu sendiri dengan panggilan tuan? Hahaha, lucu sekali kau ini!" tawa Audrey pecah karena melihat kebodohan Embun
Embun seakan teringat dengan tanda merah yang membuat Bara marah karena Embun tidak sengaja memperlihatkannya di depan Audrey. Jadi dia berpikir, pasti ada sesuatu yang salah. Wanita ini pasti cemburu melihat tanda merah di lehernya itu
Dia sengaja mengikat rambutnya untuk mengekspos tanda merah yang sudah kian bertambah di berbagai tempat. Seperti dugaannya, Audrey terbelalak melihat tanda merah yang semakin bertambah banyak itu
"Ah, maaf! Semalam aku kembali di gigit oleh nyamuk-nyamuk nakal. Kamu tidak sengaja melihatnya, ya? Apakah kamu sempat melihat yang berada di dadaku juga? Di dadaku sangat banyak. Untung kamu tidak sempat melihatnya." ujar Embun sengaja, dia berpura-pura menutup dadanya menggunakan tangannya
Audrey langsung melihat ke arah Bara. Dia menatap Bara dengan tajam. Belle bersorak-sorai di dalam hatinya. Dia mengacungkan jempol pada keberanian Embun yang menunjukkan kunci pamungkasnya
"Dia memang digigit nyamuk, Sayang! Kenapa kamu memelototiku?" tanya Bara tak bersalah
Kau malah bertanya kenapa aku melihat mu? Kau pikir aku bodoh sampai bisa kau bohongi, aku tahu, nyamuk nakal yang dia maksud itu adalah kau, Bara! gerutunya dalam hati
Hahaha. Bagus sekali kak Embun, akhirnya kau bisa membungkam wanita ular ini dengan jurus terakhir mu. Aku bangga padamu, batin Belle sambil tertawa ria
Audrey hanya mendengus kesal. Dia kembali memeluk Bara seakan memperlihatkan pada mereka kalau dia tidak goyah dengan apa yang telah diperlihatkan Embun. Padahal, dalam hatinya dia mengutuk laki-laki yang sedang dipeluknya
"Tunggu sebentar di sini. Aku akan berganti pakaian." ujar Bara sedikit menolak Audrey
"Aku ikut denganmu, ya?" pinta Audrey tak tahu malu
"Tidak perlu, kamu tunggu di sini saja. Aku tidak akan lama." jawab Bara sambil mengelus rambut Audrey
Audrey hanya mengangguk menurut. Selepas kepergian Bara, dia menatap tajam ke arah Belle dan Embun. Dia mendekat ke arah mereka
"Kau pikir, dengan tanda merah seperti itu, sudah bisa membuatku goyah? Jangan bermimpi! Aku tetap akan merebut Embun darimu. Kau bukan apa-apa dibandingkan dengan ku. Dasar wanita miskin." hina nya
"Ternyata kau sudah tidak sabar menunjukkan belang mu, ya?" sahut Belle
__ADS_1
"Lebih baik kau tidak usah ikut campur. Atau, setelah aku menjadi Nyonya Wirastama, aku akan membuatmu pergi dari rumahmu sendiri." ucapnya pada Belle
"Audrey!" suara bariton Bara mengejutkan Audrey yang namanya disebut