Istri Miskin Presdir

Istri Miskin Presdir
MAKSUD TERSELUBUNG


__ADS_3

"Kamu pasti tahu kan istilah mulutmu harimaumu?"


"Tentu aku tahu. Tapi, kamu juga tahu kan sebuah sikap yang ceroboh dapat membuatmu mati dalam sekejap!" balas Rena.


Sial! Apa maksudnya? Berani sekali dia mengataiku. Karena ada keluarga Rey di sini dia pikir bisa semena-mena?


"Rena, apa maksudmu? Aku benar-benar tidak mengerti," kilah Amanda dengan wajah memelas seakan sedang ketakutan.


"Itu artinya jika kamu berbuat sesuka hati tanpa mengenali musuh dengan baik, kamu bisa dikalahkan dengan mudah oleh sainganmu." bukan Rena yang menjawab tapi Ibunya Rey yang menjawab dengan semangat.


Dia merasa senang karena Rena akhirnya mau buka mulut dan melawan semua tuduhan anarkis tak berdasar itu padanya.


"Karena, musuh paling besar untuk diri kita sendiri adalah kecerobohan!" sambung Ibunya Rey.


Meskipun Ibunya Rey yang menjawab, tapi mata Amanda tetap menatap tajam ke arah Rena dia mengepalkan tangannya dengan raut wajah kesal yang tidak bisa disembunyikan lagi.


Bisa-bisanya mereka berkolusi untuk membuatku pergi!


"Tante, sepertinya Tante sangat senang bekerja sama dengan orang luar, ya?" sindir Amanda. Kini dia terang-terangan mencibir Ibunya Rey setelah beberapa hari yang lalu dia masih mencoba menjilat keluarga itu agar Rey masih berkenan untuk kembali padanya.


Ibunya Rey tersenyum menanggapi ucapan tak sopan Amanda.


"Karena kamu tidak diterima di sini, Amanda."


Mata Amanda terbelalak, namun sedetik kemudian dia menggantikan wajah terkejutnya dengan senyuman miring.


"Lalu, apakah kalian hanya menerima wanita ini" tanya Amanda sambil menunjuk ke arah Rena. Dia tersenyum meremehkan ke arah Rena kemudian kembali berkata, "Tapi wanita miskin seperti dia tidak pantas masuk ke keluarga kalian, Tante! Seharusnya kalian bisa membuka mata kalian lebar-lebar!" pekik Amanda dengan mata memerah, menahan amarahnya.


"Bisa dikatakan begitu. Karena aku sudah menganggapnya sebagai putriku sendiri. Jadi, maaf, Amanda. Orang luar sepertimu tidak berhak mencampuri urusan keluarga kami!" tegas Ibunya Rey. Menatap Amanda dengan tatapan datar, namun itu sangat menyakitkan untuk Amanda.


"Cih, pandangan kalian memang sangat rendahan, Tante." dia kembali mencibir namun mereka semua masih tak peduli.


Mereka masih menikmati makanan dengan tenang. Seperti tak terjadi apa-apa barusan.


Meskipun Rena juga ikut terhanyut dalam makannya, namun sesekali dia terus mencuri pandang ke arah Amanda yang sedari tadi tak menyentuh sedikitpun makanan di depannya.


Malahan wanita itu seperti sedang menahan sesuatu, menahan rasa mualnya yang tertahan di tenggorokan.


Setiap Amanda merasa mual, dia langsung menutup mulutnya dengan telapak tangannya. Berusaha menegakkan tubuhnya agar tak terlalu gemetar. Dan setiap kali itu terulang, matanya selalu mengawasi orang-orang sekitarnya. Seperti takut kalau sampai ada yang melihat ke arahnya.


"Amanda, kau kenapa?" tanya Rena setelah lama memperhatikan, dan yang dilihatnya memang sudah jelas.


"Ke-kenapa apanya? Aku tidak apa-apa!" sahutnya gelagapan.

__ADS_1


"Kau seperti sedang menahan rasa mu--"


"Tidak!" selanya tak mengizinkan Rena untuk menyambung katanya. "Kau jangan mengada-ada, ya! Aku tahu, kau pasti ingin memfitnahku agar keluarga Rey bertambah benci padaku, kan?" tuduhnya.


"Aku hanya bertanya. Memang ucapanku yang mana yang terdengar sebagai tuduhan untukmu?" tanya Rena, menatap Amanda dengan menyipitkan matanya.


"Ti-tidak tahu. Sudahlah, aku pulang saja! Lagi pula tidak ada yang menerimaku di sini. Untuk apa lagi aku tinggal," ucapnya. Setiap dia berbicara, terlihat sekali kalau dia sedang menahan gejolak dalam dirinya. Ingin mengeluarkan sesuatu tapi selalu di tahannya.


Mereka semua tidak menjawab apa-apa. Amanda menyambar barang-barangnya dengan cepat. Dan pergi dengan tergesa-gesa dari sana.


Aku yakin pasti ada yang tidak beres dengannya. Sepertinya aku harus mengejarnya dan mencari tahu, apakah tebakanku benar atau tidak.


"Bu, Rena permisi dulu, ya. Rena sudah ada janji dengan Kak Embun dan Belle sore ini ingin menemani Belle untuk fitting baju pengantin," pamitnya.


"Kalau begitu biar aku antar saja ya, Rena?" dengan cepat Rey mengajukan diri.


Rena melihat Ibunya Rey, ingin melihat tanggapan apa yang diberikan wanita itu. Namun, masih belum menunjukkan ekspresi apapun.


"Ti-tidak perlu, Om. Aku sudah pesan taxi online tadi," tolaknya secara halus.


"Tapi, Rena...."


"Sudahlah, Rey. Biarkan dia pulang sendiri saja," tukas Ibunya.


Mereka mengangguk sembari tersenyum.


Rena pergi dengan terburu-buru, mengejar langkah Amanda, takut kehilangan jejak.


Setelah Rena menghilang dari pandangan mata, Rey langsung menatap datar ke arah Ibunya.


"Bu, kenapa Ibu malah menjauhkan aku dari Rena?" tanya Rey meminta penjelasan rinci pada Ibunya yang malah terlihat santai menanggapi pertanyaan anaknya yang terlihat mulai berapi-api.


"Menjauhkan apa? Matamu yang mana melihat Ibu menjauhkan kalian? Dia sendiri yang duduk di samping ibu karena ada Amanda di sampingmu," jawab Ibunya.


Rey menghela nafas sepanjang rel kereta api. Merasa lelah dengan jawaban tak nyambung Ibunya.


"Bukan itu maksudku, Bu! Kenapa Ibu malah melarang aku untuk mengantar Rena pulang?" cecarnya lagi.


"Kan dia sendiri yang menolak untuk diantar olehmu. Kenapa kamu menuduh Ibu?" jawab Ibunya santai.


"Bahkan tadi dia melihat ke arah Ibu untuk meminta persetujuan. Pasti di wajah Ibu ada tulisan 'tolak' makanya dia menolak tawaranku. Aku bisa melihat itu, Bu."


Ibunya Rey mengambil ponsel dan melihat wajahnya sendiri.

__ADS_1


"Rey, kamu berbohong! Di wajah Ibu tidak ada tulisan apapun," sangkalnya. "Tidak ada kan, Pa?" Ibunya Rey bertanya pada suaminya untuk kembali memastikan, dan mendapat gelengan dari sang suami.


"Tuh, Papa kamu bilang aja tidak ada. Kamu ya bohongi orang tua."


Rey menghembuskan nafas panjang. Jujur saja, dia sangat lelah kalau harus berdebat dengan Ibunya yang selalu menjawab tidak sesuai pertanyaan. Namun, dia tetap harus berjuang agar semuanya menjadi jelas.


"Sudahlah, Bu. Bisakah Ibu menjawab pertanyaanku dengan benar sekali saja? Tolonglah, Bu! Ini berhubungan dengan perasaanku," mohon Rey memelas.


"Bu, kenapa Ibu menjauhkan aku dari Rena? Ibu kan tahu, aku sangat mencintai Rena. Tapi, Ibu malah mengangkatnya sebagai anak. Itu membuatku tidak bisa memperjuangkan cintaku, Bu!" desis Rey. Wajahnya benar-benar ditekuk.


"Rey, memperjuangkan cinta itu tidak selamanya harus berada di sampingnya, memberinya perhatian atau bersedia mengantarnya ke manapun. Membiarkan dia berpikir dan kembali menata hati itu juga sebuah cara."


"Terkadang dia malah akan merasa illfeel jika selalu melihat wajah orang yang telah membuatnya patah hati. Makanya dia memintamu untuk menjauhinya, kan? Itu karena dia belum siap untuk selalu bertemu denganmu seperti sedia kala. Kamu harus sabar, biarkan dia berpikir langkah apa yang harus diambilnya. Tapi, tetap selalu jaga dia dari samping. Jangan biarkan dia membuka hati untuk orang lain."


"Bagaimana aku bisa menjaganya dari samping. Bertemu dengannya saja sangat sulit," ungkapnya gelisah.


"Dasar bodoh! Menjaganya dari samping, bukan berarti kau harus berdiri di sampingnya selama 24 jam. Kau bisa mengawasinya, seperti yang Ibu lakukan."


Rey masih mengerutkan kedua alisnya. Menatap Ibunya dengan wajah bodoh.


"Dengan Ibu menganggapnya sebagai anak, dia akan selalu mengunjungi Ibu. Ibu bisa bertukar cerita dengannya. Mengawasinya dan menasehatinya. Apa kau paham?"


Rey mengangguk. Wajah bodohnya berubah menjadi senyuman senang.


...******...


Setelah keluar dari pintu, Rena mencari-cari keberadaan Amanda. Setelah melihat ke segala sudut, akhirnya Rena menemukan Amanda.


Terlihat wanita itu seperti sedang menunggu taxi di pinggir jalan.


Rena datang menghampiri Amanda. Menyenggol lengan Amanda dengan sengaja agar Amanda melihatnya.


"Ada apa lagi? Kau juga diusir oleh mereka?" tanya Amanda sambil bersedekap.


Rena tidak memperhatikan ucapan Amanda, dia hanya fokus melihat ke arah perut Amanda, membuat wanita itu merasa risih dan menutupi bagian perutnya dengan tas.


"Hey, jaga matamu! Lancang sekali kau!" ucap Amanda geram.


"Mengakulah, kau sedang hamil kan, Amanda?"


Dukung karya ini dengan berikan like, komentar, gift dan vote sebanyak-banyaknya.


Berikan juga rate 5 ya guys...❤️❤️❤️

__ADS_1


Terima kasih❤️❤️


__ADS_2