
"Panggil ART saja. Minta mereka panggilkan Rena," ucap Bara.
Embun mengangguk. Dia memanggil seseorang yang berdiri tidak jauh darinya.
"Coba kamu panggilkan Rena. Mungkin dia berada dalam kamar. Kalau sudah ketemu, langsung suruh dia datang ke sini!" pinta Embun dengan raut wajah cemas yang tak bisa dia sembunyikan dari siapapun.
"Baik, Nyonya." ART yang disuruh Embun pun langsung berlalu dan memanggil Rena. Tempat pertama yang ia tuju adalah kamar milik Rena, karena Embun pun berkata seperti itu tadi.
"Kamarnya terlihat senyap sekali, apakah ada orang di dalam?" gumam sang ART yang terlihat ragu.
TOKK TOKK TOKK
Namun dia masih tetap mengetuk pintu. Membuat orang yang berada di dalam, terkejut dan wajahnya terlihat muram karena ketakutan.
Rena langsung melihat ke arah pintu yang diketuk, kepanikan pun langsung menyerangnya. Berbeda dengan Rey, laki-laki itu terlihat santai dan malah tersenyum. Merasa punya kesempatan untuk mengancam Rena agar bisa menarik kembali kata-katanya tadi.
Siapa itu? Apakah Kak Embun, atau Kak Bara? Mereka pasti salah paham jika sampai melihat Om Rey berada di dalam kamarku.
"Kenapa kau tidak menyahut? Atau, bolehkah aku yang menyahut?" tanya Rey sengaja ingin menggoda Rena yang wajahnya terlihat pias. Sangat jelas jika ia memang sedang ketakutan.
"Tidak, jangan! Kumohon, pergilah dari sini Om." Rena menggelengkan kepalanya cepat. Memohon dengan wajah yang terlihat sangat tertekan. Namun Rey semakin gencar menggodanya. Sepertinya, inilah hobi barunya saat ini.
"Bagaimana kalau aku saja yang menyahut, apakah Bara dan Embun akan datang kemari?" ucapnya sambil berpura-pura berpikir. Padahal dia sendiri tahu, apa jawaban dari pertanyaan konyolnya itu.
"Om, kumohon ... jangan membuat Kak Embun susah," pintanya lagi dengan mata yang sudah berkaca-kaca.
"Hem, bagaimana kalau kita ganti rencana? Seperti ini saja, kita langsung melancarkan aksi yang sudah kurencanakan tadi, setelah itu kau berteriak sekuatnya agar semua orang datang kesini dan melihat kita. Kalau seperti itu, kita pasti akan dinikahkan di acara pertunangan Belle!" ucapnya seolah-olah memberi saran yang paling bagus. Dia sama sekali tidak memperdulikan Rena yang mulai menangis.
"Nona Rena, apakah Anda ada di dalam?" tanya sang ART lagi sambil mengetuk pintu berulang kali.
Sepertinya dia tidak ada di dalam. Kalau begitu, aku akan mencarinya ke tempat lain.
__ADS_1
Saat ART itu hendak melangkahkan kakinya untuk mencari Rena ke sudut rumah yang lain, samar-samar dia malah mendengar suara isakan tangis dari dalam kamar. Dia kembali menghentikan langkah kakinya dan menempelkan telinganya di daun pintu kamar Rena, berusaha memastikan apa yang baru saja ia dengar.
Keningnya berkerut, dia mendengar lagi isakan tangis seorang wanita yang dikenalinya sebagai Rena. Suara itu terdengar tertahan. Seperti agar tidak didengar oleh orang lain. Sang ART pun menjadi panik, dia kembali mengetuk pintu dengan menggebu-gebu.
"Nona, jawab saya! Apakah Nona Rena ada di dalam? Apakah Anda baik-baik saja?" tanyanya beruntun karena merasa khawatir.
Namun, masih tidak ada jawaban dari dalam.
"Biar saya ambilkan kunci cadangan, sekalian memanggil Nona Embun dan Tuan Bara, ya?"
GLEK!
Mendengar ucapan terakhir sang ART membuat Rena menelan ludah. Dia semakin takut dan memohon kepada Rey yang sedari tadi tak henti-hentinya melantunkan rencana-rencana aneh yang membuat Rena semakin dirundung kegelisahan.
", jadilah laki-laki sejati dengan menepati janjimu sendiri. Jika ucapanmu sendiri tak bisa dipegang oleh orang lain, lalu bagaimana caraku untuk menaruh kepercayaan padamu?" tutur Rena.
"Jika memang kamu ingin membuatku menjadi milikmu, buka seperti ini caranya. Aku sudah pernah percaya padamu, bersedia berada dalam pelukanmu. Namun, kamu sendiri yang membuatku menjauh. Seharusnya, kamu bisa menyelesaikan semua urusanmu di masalalu. Barulah mencari cinta yang baru!" ujar Rena mengatakan apa yang berada dalam benaknya.
CEKLEK
"Saya tidak apa-apa, Bi. Sampaikan pada Kak Embun sebentar lagi aku akan ke sana. Tadi aku ketiduran," ucapnya berbohong menyembunyikan keadaan yang sesungguhnya.
"Baik, Nona." sang ART pun berlalu dari sana. meninggalkan Rena yang menarik nafas lega karena si ART tidak curiga padanya.
*********
Setelah menyelesaikan riasannya yang sempat acak-acakan tadi, Rena dan Rey keluar secara bergantian agar tidak ada orang yang menaruh curiga pada mereka.
"Ya, tiba saatnya acara yang kita tunggu-tunggu. Sudah pasti acara pertukaran cincin, yang membuat acara malam ini berjalan sempurna!" sang MC mulai berbicara dengan suara lantang. Memeriahkan acara yang sedang berlangsung itu.
"Dimohon kepada Nona Belle dan Tuan Daniel untuk segera naik ke atas pentas. Agar acara sakral kalian bisa disaksikan oleh semua orang," tambah sang MC.
__ADS_1
Tidak lama, terlihat orang yang berjalan berdampingan sambil mengaitkan tangan dan mengumbar senyuman. Mereka berjalan dengan perlahan menuju pentas yang sudah menunggu mereka.
"Sebelum acara tukaran cincin kita mulai, sepertinya bisa ya kalau kita minta pasangan ini untuk mengucapkan suka cita mereka karena sebentar lagi akan terikat satu sama lain." para tamu pun bersorak membenarkan apa yang dikatakan MC.
Namun Belle nampak sedikit terkejut karena sesi ini tidak ada dalam susunan rencana. Berarti dia harus merangkai sendiri kata-kata yang harus diucapkannya.
Daniel memegang kedua tangan Belle, dia menatap wajah Belle lekat dengan senyuman merekah di bibirnya.
"Belle, aku akui, aku sempat menyesal karena pernah membiarkanmu berjuang mencintaiku seorang diri. Itu semua karena kebodohanku yang tidak mengerti dengan kemauan hatiku sendiri. Malah membiarkanmu bersatu dengan orang lain. Tapi sekarang aku sadar. Bahkan sangat-sangat sadar, ternyata sedari dulu aku memang sudah mencintaimu. Mungkin, sebelum kamu mulai menyukaiku, aku sudah lebih dulu mencintaimu. Aku tidak sanggup kehilanganmu dan selalu ingin berada di sisimu. Jadi, hari ini di acara khusus yang kita buat, aku ingin melamarmu, membuatmu menjadi milikku seutuhnya dengan caraku sendiri," Daniel menghentikan kalimatnya,
"Belle Wirastama, maukah kamu menjadi istriku ? Menemaniku bermain bersama anak-anak kita, menghabiskan waktu bersama selamanya dan menemani hari-hari tuaku, apakah kamu bersedia untuk itu semua?"
Mendengar ucapan Daniel yang begitu menyentuhnya, setitik air jatuh di sudut mata Belle. Namun, bibirnya menyunggingkan senyuman yang menyiratkan kalau dia sedang bahagia saat ini.
"Kak Daniel, aku juga pernah kecewa terhadapmu. Aku yakin, saat itu kamu sudah tahu kalau hatiku telah berlabuh padamu. Namun, kau selalu mendiamkan semua perasaan itu seakan tidak tahu apapun. Masa bodoh dengan apa yang kulakukan, tak acuh dengan siapa aku dekat. Hingga hari itu, kau melakukan sesuatu yang ekstrim untuk membuatku tetap tinggal di sisimu, aku tersanjung."
"Dan, aku mau menjadi istrimu. Menikmati hari-hari kita berdua. Produksi anak yang banyak, agar tua nanti ada yang mengurusi kita. Yang pasti, aku akan selalu bersedia tinggal bersamamu sampai kapanpun!" sahut Belle dan disambut dengan suara tepukan oleh para tamu yang hadir di sana.
Ekstrim? Hal apa yang dilakukan Daniel hingga membuat adikku begitu candu padanya? gerutu Bara dalam hati. Tapi tangannya tetap saling beradu bertepuk tangan.
"Kita semua sudah sama-sama mendengar, mereka bersedia menjadi pasangan yang harmonis. Sekarang, tiba waktunya untuk saling memberi tanda kepemilikan," seru MC sambil memberikan isyarat pada orang yang membawa cincin untuk segera mendekat.
Dengan menebar senyuman yang tak henti-hentinya, sampai para tamu merasa muak melihat mereka yang selalu menampilkan sederet giginya. Daniel mengambil cincin bermata biru yang khusus ia persiapkan untuk sang pujaan. Daniel memegang tangan Belle dan mulai memasukan cincin itu ke jari manis sang kekasih.
Tapi, belum pun cincin itu sampai ke tempat tujuan, ada suara seseorang yang berteriak meminta mereka untuk segera menghentikan acara itu.
"Berhenti! Kalian tidak bisa melanjutkan acara ini!"
Dukung karya ini dengan berikan like, komentar, gift dan vote sebanyak-banyaknya.
Berikan rate 5 ya kak ❤️❤️❤️
__ADS_1
Terima kasih ❤️❤️❤️