Istri Miskin Presdir

Istri Miskin Presdir
SALING MEMBALAS


__ADS_3

"Tidak. Aku tidak mengatakan apa-apa, Kevin. Tapi dia sudah tahu semuanya. Bahkan, dia yang menyebarkan foto-foto itu, Kevin."


Kevin menoleh ke arah Belle yang terlihat menyedihkan.


"Tidak mungkin, dia itu wanita lemah. Tidak mungkin dia bisa melakukan hal-hal seperti itu." bisik Kevin penuh penekanan. Kemudian dia kembali mengatakan, "Dan bagus kalau ada yang menyebarkan foto prostitusi mu itu. Aku jadi tahu kalau kau adalah wanita kotor! Mulai sekarang, jangan dekati aku dan Belle! Kita putus!"


"Kamu lebih memilih wanita itu dibandingkan dengan aku? Kevin dengarkan aku, aku melakukan itu semua karena terpaksa. Please! Dengarkan aku, Kevin! Kamu akan hancur bila bersamanya. Dia itu wanita ular." Nita terus saja menghina Belle, membuat Kevin merapatkan giginya marah.


"Hentikan itu, Nita!" pekik Kevin sudah merasa jijik dengan wanita yang selama ini ia peluk cium. "Jangan teruskan omong kosongmu. Aku sama sekali tidak mau mendengarkannya. Mulai detik ini, jangan pernah perlihatkan wajahmu di depan aku dan Belle lagi. Dia ketakutan karenamu." pungkasnya dan mulai menjauhi Nita yang sudah dibanjiri air mata seiiring menjauhnya laki-laki yang dicintai, malah merangkul wanita lain. Padahal, di sini ia juga sedang menangis.


"Kau keterlaluan, Kevin! Aku tidak menyangka kalau kau akan menjauhiku hanya karena pacar taruhanmu itu. Dan kau, Belle. Aku akan membalaskan semua rasa sakit hatiku hari ini padamu. Jangan kira kau bisa bebas!" ucapnya geram menatap dua orang itu nyalang.


"Belle, maaf karena aku datang terlambat," ucap Kevin sambil memeluk Belle.


"Kevin, lepaskan aku! Aku tidak lumpuh, masih bisa jalan sendiri, Kevin!" pekik Belle yang mulai merasa kesal karena laki-laki itu sedari tadi memeluknya.


Melihat Kevin yang masih enggan melepaskan pelukan mereka, Belle menolak pelan tubuh Kevin agar tak terlalu terlihat bahwa dia sedang melakukan penolakan.


"Kevin, apa yang kamu bicarakan dengan Nita tadi, kenapa dia terlihat sangat sedih dan menangis tersedu-sedu begitu?" tanya Belle seolah penasaran. Padahal, dia sudah mendengar semua percakapan epik mereka.


"Tidak ada, aku hanya memarahinya karena dia berani menolak pacarku sampai terjatuh. Tidak ada lagi, mungkin dia sedih karena aku memarahinya," jawab Kevin yang tentu saja itu semua adalah kebohongan.


"Hum!" Belle mengangguk-angguk tanda mengerti. Dalam hati, dia tertawa riang Kate rencana awalnya berjalan dengan lancar. Masih ada beberapa langkah lagi, agar Belle bisa sampai pada tujuannya.


"Belle, bajumu kotor semua, bagaimana kamu bisa masuk kelas kalau seperti ini?" nada bicara Kevin terdengar khawatir, tapi sepertinya terselubung sesuatu di dalamnya.


Belle melihat jamnya, dia mendengus. Demi rencana ini, dia harus rela mengorbankan semuanya agar rencananya dapat berjalan mulus. Jika Bara tahu, pasti Belle akan dimutilasi.


"Ya, dan sekarang sudah telat juga. Ini juga jam terakhir. Lebih baik aku pulang saja," tukas Belle.


"Kalau begitu biar aku antarkan!" ajak Kevin yang sudah berdiri siap-siap.


"Tidak usah, Kevin. Aku naik taxi saja," tolaknya.


"Kenapa? Apa kamu curiga padaku?" Kevin kembali duduk dengan wajah cemberut, seolah ingin menarik perhatian Belle.

__ADS_1


"Di rumah tidak ada orang. Kak Bara ke kantor, Kak Embun dan Rena pasti di toko. Tidak enak kalau sampai dilihat tetangga. Mereka pasti berpikir yang bukan-bukan," papar Belle.


"Bukannya lebih bagus kalau di rumahmu sepi? Kita bisa...." Kevin tak melanjutkan ucapannya, dia hanya tersenyum nakal sambil mengedipkan sebelah matanya.


"Bisa apa?" tanya Belle galak dengan intonasi suara meninggi.


Cih, kupikir kau masih akan melanjutkan peran orang baik ini sampai berapa lama lagi. Ternyata, sudah hampir menunjukkan belangmu ya? Sudah tidak sabar mencari mangsa baru?


"Kenapa kamu berteriak begitu, Belle?" wajah Kevin yang tadinya genit, berubah menjadi sendu. Sepertinya, itulah yang menjadi daya tariknya untuk memikat wanita. Seakan-akan, jika wajahnya sedih seperti itu, wanita akan luluh dan menyetujui semua permintaannya, dan dengan senang hati melemparkan dirinya pada Kevin?


Tapi tidak dengan Belle, dia malah semakin tergoda untuk mempermainkan laki-laki berotak dangkal ini. Hanya bermodalkan tampang dan mobil yang mungkin dia dapatkan dari taruhan dengan teman-temannya, berharap bisa meluluhkan harga diri yang dijunjung tinggi oleh Belle? Oh tidak, sama sekali tidak mungkin! Jika kau sempat berpikir begitu, maka itu hanya sebuah mimpi belaka.


Daniel saja, yang mempunyai segala-galanya, tidak bisa membuat Belle menyerahkan harta paling berharga yang dia punya. Dia mempersiapkan untuk suaminya kelak.


Karena Belle sadar, pergaulan bebas itu memang menyenangkan di awal. Tapi, jika sudah terjadi sesuatu yang tak diinginkan, maka diri kita sendiri lah yang akan merugi.


Misalnya jika tertular penyakit kelamin, bagaimana nasib kita kelak? Kita tidak tahu, pasangan kita itu sudah melakukannya dengan orang lain atau tidak. Dan jika sampai hamil, jika tidak ada yang mau bertanggung jawab, bagaimana nasib dirimu dan anakmu kelak? Aborsi? Itu bukanlah jalan keluar. Kau sudah berbuat dosa besar, jangan menambahkan dosa lagi dengan membunuh bayi tak bersalah.


Bayi mungil itu tak akan hadir kalau bukan karena kalian yang menghadirkannya. Setiap kesalahan pasti akan ada konsekuensinya tersendiri. Jadi, sayangilah diri kita sendiri.


"Maaf, Kevin. Tapi aku tidak bisa melakukan sesuatu yang kamu harapkan."


"Aku pulang, Kevin. Sampai jumpa besok." Belle melambaikan tangan sambil berlari. Dia langsung naik taxi yang memang sudah ada di depan kampusnya.


"Huh! Dasar buaya, kau pikir aku akan masuk dalam rayuanmu itu? Tidak akan! Jika kau melakukan hal-hal itu, aku pastikan kau akan dibunuh oleh Kak Daniel," gerutunya.


"Ahh ... gara-gara menyebut namanya saja, aku jadi merindukannya." Belle memejamkan matanya sambil merasakan kalau dia sedang memeluk prianya.


******


Di depan Rex Club, Nita berjalan masuk ke dalam dengan pakaian mini kesukaannya. Nita memang bekerja di sana, melayani beberapa pria untuk mendapatkan uang, agar biaya hidup mewahnya terpenuhi. Miris sekali, mau gaya serba mewah, tapi malas bekerja. Hanya perlu mengangkang, mengerang dan memuaskan bisa mendapat uang banyak? Tentu itu sangat salah.


"Nita?" sapa seorang laki-laki yang menjadi manager di Rex Club. Dia sangat suka dengan permainan Nita yang begitu memuaskan hasratnya. Dia baru satu bulan menjabat sebagai manager, tapi sikapnya sungguh sangat berani. Daniel memang tidak pernah melarang bawahannya untuk melakukan apapun. Yang penting, mereka tidak mencemari nama Rex Club saja.


"Pak, apakah kau menginginkanku malam ini?" goda Nita berbisik di telinga pria itu. Nita bisa bebas masuk ke ruangan manager sesuka hatinya, karena manager itu sendiri lah yang memberikannya kebebasan. Itu sudah menjadi rahasia umum di sana.

__ADS_1


"Tentu saja. Aku selalu menginginkanmu," sahut sang pria, dimatanya hanya ada Nita seorang. Apa lagi, melihat Nita meliuk-liukkan tubuhnya seperti itu, membuat birahinya meningkatkan pesat.


"Aku punya penawaran yang bagus untukmu, Pak! Jika kau berhasil melakukannya, aku akan menjadi milikmu selama sebulan, tidak akan menerima tamu lain," ucap Nita yang mulai duduk dipangkuan pria itu, melingkarkan tangannya di leher.


"Katakan sekarang, jangan lama-lama. Aku sudah tidak sabar karena kau terus saja menggesek juniorku."


"Aku mau kau merusak seorang wanita. Terserah mau kau apakan, yang penting aku mau kau menghancurkannya. Buat dia sampai kehilangan akal sehatnya. Karena aku sangat membencinya!" seru Nita penuh penekanan di setiap kata yang dia ucapkan.


"Itu adalah hal yang mudah. Bawahanku bisa melakukannya untukmu, Nita Sayang. Jangan ragukan kekuasaanku. Kau tahu, Rex Club ini tempat apa, kan?" laki-laki itu mulai menciumi leher Nita dan memainkan put*ng kesukaannya.


"Tunggu dulu, aku akan mengirimkan fotonya padamu, agar memudahkan bawahanmu bekerja. Jika dinanti-nanti, aku lupa."


Nita mengambil ponselnya dan mengirimkan foto wanita yang dia maksud. Setelah menerimanya, laki-laki itu melihat dan tersenyum mesum.


"Cantik juga. Tubuhnya juga sangat menggairahkan," ucapnya mesum.


"Aku yakin, dia masih polos, Pak! Kau bisa mempermainkannya. Namanya Belle!" ucap Nita menjelaskan, membuat laki-laki itu tersenyum penuh gairah.


Pengumuman sedikit!!!


Ahhh iya, aku mau cerita dikit nih...


Banyak juga yang nanyain si Brandon kecil dingin itu. Nah, aku mau kasih info buat kalian.


Brandon lagi hibernasi proses dewasa. Karena, setelah cerita yang ini tamat, aku mau lanjutkan season duanya cerita si Brandon. Dan langsung lanjutnya di novel ini aja si.


Kira-kira, kalau aku buat cerita tentang si Brandon dingin nan ketus itu, ada yang suka ga ya? Kalau ga ada yang minat, aku ga jadi buat, hehe. Takut ga ada yang baca 🤭🤣


Nah, gitu aja.


Semoga kita semua berada dalam lindungan Allah SWT. Dijauhkan dari segala penyakit 😊


Jangan lupa, jangan lelah, selalu berikan dukungan untuk karya ini dengan like, komentar, gift dan vote. berikan rate 5 juga.🤍💚


Dukung karya baru author SAHABATKU SUAMIKU MUHALLILKU 🙏🙏 masih sepi guys....💚🤎

__ADS_1


Jangan lupa tinggalkan jejak 👣 ya


Terima kasih❤️❤️❤️❤️


__ADS_2