Istri Miskin Presdir

Istri Miskin Presdir
PERTENGKARAN


__ADS_3

"Aku rasa, ada kemungkinan besar, dia sedang hamil!" ucap Daniel.


"Hamil?" Belle seketika langsung menganga mendengar penuturan Daniel.


"Tidak mungkin." sangkal Belle.


"Kenapa tidak mungkin? Mereka kan suami istri, jadi hal yang wajar jika Embun hamil." tutur Daniel.


"Tapi, bagaimana dengan nasib anaknya nanti jika dia benar-benar hamil?" Belle sudah mulai gelisah duluan tidak sanggup memikirkan nasib calon keponakannya, jika sikap Ayahnya yang seperti itu terhadap ibunya.


"Itukan masih tebakan kita. Lebih baik, kamu segera bawa dia untuk periksa ke dokter untuk bisa memastikan apakah dia benar-benar hamil atau tidak." ujar Daniel.


"Tapi bagaimana caranya? Dia pasti akan menolak." ucap Belle yang masih kebingungan.


"Hey putri dongeng, kenapa otakmu dangkal sekali?" umpat Daniel.


TUT


Belle memutuskan sambungan telepon mereka karena merasa kesal dengan ucapan Daniel yang terus saja mengumpatnya. Setelah itu, dia berjalan mondar-mandir sambil memikirkan cara untuk membawa Embun ke dokter, tanpa harus mencurigakan sang target.


"Ahhh sudahlah. Besok pasti akan ada caranya sendiri. Semoga aja kak Embun benar-benar hamil, agar aku punya keponakan lucu. Ahhh, gemasnya." Belle mencubit-cubit bonekanya sendiri membayangkan sedang mencubit seorang bayi yang menggemaskan.


Keesokan harinya, seperti biasanya, mereka semua sudah berada di meja makan. Entah kenapa hari ini Embun menginginkan sesuatu. Dari semalam dia sudah bermimpi-mimpi tentang makanan ini, hingga dia bangun pagi-pagi untuk memesannya pada koki agar dibuatkan untuknya.


"Nasi goreng tomyam milikku, mana?" tanya Embun sambil memegang sendok dan garpu di tangannya.


"Ini, Nyonya. Silahkan dinikmati." ujar seorang pelayan yang baru saja menyajikan nasi goreng tomyam pesanan Embun


"Sepertinya ini sangat enak. Lihatlah, asapnya masih mengepul." ucapnya yang terlihat sangat antusias, dia juga menghirup aroma dari nasi itu.


"Kak, aku juga mau." ucap Belle yang juga terlihat ingin mencicipi nasi seperti yang dimakan Embun.


"Maaf, Nona muda. Nasinya habis. Kami hanya membuat sepiring, sesuai pesanan Nyonya saja." jawab pelayan wanita yang berdiri di belakang Embun.


"Pesanan?" seru Belle mengulang.


"Ya, Nyonya sudah memesan sedari pagi tadi." jawab sang pelayan yang juga merasa heran. Karena biasanya, Embun tidak memilih dalam perihal makanan, jika dia menginginkan sesuatu, dia pasti akan membuatnya sendiri.


Apa benar ucapan, Kak Daniel. Sepertinya aku memang harus segera memeriksakan keanehannya. Bagaimana pun caranya, aku harus bisa menyeretnya ke dokter, batin Belle.


Bara hanya terlihat menikmati makannya saja. Dia tidak memperdulikan percakapan atau huru-hara yang terjadi di depannya.

__ADS_1


KRING KRING


Ponsel Bara yang terletak di atas meja tepatnya di samping piringnya bergetar, terlihat nama Audrey di benda layar pipihnya. Bara mengelap bibirnya dengan tissue dan langsung menerima panggilan itu.


"Bara, kamu sudah berjanji kalau hari ini akan menemaniku, kan? Kemana pun." ujarnya menagih janji.


"Maaf, Audrey. Sepertinya aku tidak bisa menepati janji itu. Hari ini aku ada meeting mendesak yang mendadak. Aku tidak bisa meninggalkannya begitu saja. Lain kali aku akan menemanimu, ya?" ucap Bara berusaha bernegosiasi.


"Aku tidak terima penolakan, Bara. Kemarin kamu sudah menolakku, sekarang membatalkan janji yang kamu buat sendiri. Aku tidak mau mendengar alasan apapun." ucapnya.


"Tapi aku memang tidak bisa menemanimu hari ini. Ini adalah rapat penting, aku memang harus hadir." Bara berusaha memberikan pengertian.


"Tapi, kan kamu seorang Presdir. Bukan suatu hal yang mustahil kalau kamu tidak menghadiri rapat itu, kan?" Audrey berusaha membujuk.


"Maaf, Audrey. Sudah kukatakan kalau ini rapat yang sangat penting. Aku akan menghubungimu lagi nanti." ujar Bara


TUT


Lagi dan lagi, Bara memutuskan sambungan telepon mereka secara sepihak. Membuat Audrey yang juga lagi-lagi menggemeretakkan giginya geram dan mengepalkan tangannya.


"Sial! Semenjak menikah dengan wanita miskin itu, dia menjadi semakin jarang mau menemui aku. Aku harus memberikan pelajaran pada wanita itu." ucapnya pada dirinya sendiri.


"Aku pergi!" ucap Bara setelah itu, rasanya dia sudah tidak berselera lagi untuk melanjutkan makannya.


"Kau habiskan saja jika kau mau." ucapnya ketus kemudian berlalu pergi.


"Ayo, Kak. Kita juga berangkat. Rena pasti sudah menunggu kita." ujar Belle pada Embun yang juga sudah selesai makan.


"Hem." jawab Embun, mereka pergi dengan menggunakan mobil Embun.


"Itu mereka. Mata-mataku memang benar, mereka selalu saja pergi." ucap seorang wanita yang memang sedang mengintai dan sudah menunggu sedikit jauh dari jarak rumah milik Bara.


Wanita itu membuntuti mobil milik Belle, dia memberikan jarak agar Belle tidak mencurigai kehadirannya. Setelah beberapa saat mengikuti, tibalah mereka di toko milik Embun.


"Toko milik siapa ini, dan siapa wanita itu?" tanyanya saat melihat Rena.


Rena mulai membuka pintu toko itu, tapi kegiatannya terpaksa terhenti karena ada seorang wanita yang memanggil Embun dari kejauhan.


"Embun!" teriak wanita itu menghentikan langkah kaki Embun.


"Audrey?" ucap Belle dan Embun bersamaan.

__ADS_1


"Ada apa?" tanya Embun datar.


"Kenapa Bara tidak mau bertemu denganku? Kau pasti menghasutnya yang tidak-tidak, kan?" Audrey datang-datang langsung menuduh Embun yang aneh-aneh.


"Kenapa kau bertanya padaku? Kenapa tidak bertanya langsung pada orang yang bersangkutan! Aku tidak tahu apapun." jawab Embun sekenanya.


"Hahaha. Apa dengan tubuhmu ini, kau berusaha menarik perhatian, Bara? Apa kau pikir Bara akan lama bersamamu. Jika dia sudah puas dan bosan dengan tubuhmu, dia akan mencampakkanmu." ucap Audrey sinis.


"Wah ... apa maksudnya ini, kalau Nona Audrey yang terhormat ini, sudah termasuk dalam kategori yang dibuang, ya? Ckckck, kasihan sekali Anda!" ucap Embun yang tak mau kalah.


"Ap...Apa? Aku bukan wanita yang dibuang, Bara masih membutuhkan aku, dia masih mencintaiku, aku..."


"Kalau begitu, kenapa kau takut dia masuk ke dalam pelukanku? Dan, apa kau tahu apa yang sedang tumbuh di dalam perutku ini?" Embun membuat Audrey gusar, dia mengelus perutnya sendiri sambil sesekali mencuri pandang melihat wajah Audrey yang tampak masam. Dia terkekeh dalam hati.


Audrey mengangkat tangannya berusaha untuk menampar Embun.


Tap...


Dengan secepat kilat, embun menahan tangan Audrey. Dan...


PLAKK!!!


Embun malah yang menampar lawannya. Tamparan yang tak kalah keras dari yang diterimanya saat itu. Audrey hingga tersungkur di tanah dan disudut bibirnya juga sedikit terluka.


"Kak, Embun..." ucap Belle dan Rena secara bersamaan, mereka seolah tak percaya dengan yang mereka lihat. Sedari tadi mereka memang hanya diam saja menyaksikan pertempuran antara istri sah dan pelakor tak tahu diri.


"Kurang ajar! Dasar kau tidak tahu sopan santai wanita miskin, wanita..." Audrey memegangi pipinya yang terasa perih


"Hentikan! Jangan menghinaku lagi!" lawan Embun, dia menunjuk ke arah Audrey yang masih terduduk sambil memegangi pipinya.


"Harusnya kau berkaca terlebih dahulu sebelum mengataiku. Siapa yang tidak tahu sopan santun, aku atau kau?" ucapnya lagi,


"Kau yang mengacau duluan, datang dan marah-marah. Dan kau juga merebut suamiku."


"Dia itu pacarku. Kau yang merebutnya, menggodanya hingga dia menikahimu."


"Kau sudah meninggalkannya jauh sebelum aku menikah dengannya. Aku tahu kau ingin bahagia. Tapi bahagia juga tidak perlu sampai harus mengambil hak milik orang lain. Percayalah, akan ada orang yang lebih mencintaimu dan menghargai dirimu." Embun mencoba memberi nasihat.


Jangan lupa tinggalkan jejak like, vote, komentar dan gift ya


Berikan rate 5 dan tambahkan ke daftar favorit kamu ya❤️

__ADS_1


Besok hari Senin, loh. Ada vote mingguan. Kalau memang suka dengan karya author ini, sumbangin aja vote gratisnya buat author🤭Karena setiap dukungan yang kalian berikan, sekecil apapun itu sangat berarti untuk author😁✌️


Terima kasih❤️❤️❤️


__ADS_2