
Hargailah saat aku masih bertahan.
Karena setiap orang punya batas kesabaran.
Jika nanti aku pergi meninggalkan.
Jangan ada rasa penyesalan.
********
"Jingga, dengarkan ucapanku dulu. Aku minta maaf, Jingga. Aku mengaku salah karena selama ini sudah sangat-sangat melukaimu. Aku sadar, aku memang bukan lelaki baik, tapi tolonglah terima permintaan maaf ku ini. Aku sadar sekarang, aku benar-benar sudah mencintaimu." Ucap Bara sambil bersimpuh dan memegang tangan Embun.
Reflek, Embun menarik tangannya yang digenggam oleh Bara. Entah kenapa, mendengar permintaan maaf dan pernyataan cinta dari pria yang kini sedang bersimpuh di depannya ini, hatinya tidak tergerak sedikit pun.
"Kamu sudah mulai mencintai aku?" tanya Embun dengan pelan.
"Ya." Bara mengangguk cepat dengan sangat antusias. "Aku baru sadar kalau aku memang sudah mencintaimu, Jingga. Tolong maafkan aku dan kita bisa memulai semuanya dari awal." Pinta Bara dengan penuh harap
"Tapi, sayangnya sadarmu sudah terlalu terlambat, Bara. Aku sudah tidak lagi mencintaimu." Ucap Embun datar.
"Tidak mungkin. Kamu tidak mungkin bisa menghapus rasa cinta secepat itu." Kali ini Bara menggeleng cepat, air matanya juga menetes. Baru kali ini dia meneteskan air mata untuk seorang wanita selain Ibunya. Saat Airin pergi, dia hanya terlihat murung, tapi tidak menangis.
"Cinta bisa hilang kapan saja. Dan kau tahu, jika cinta sudah tak lagi bertahta di hati, yang tersisa hanyalah sebuah kebencian. Dan itulah yang aku rasakan sekarang." Ucapnya tegas. Bahkan, sorot matanya berubah menjadi datar.
"Jingga, pikirkanlah Anak kita ini. Bagaimana kelak dia besar jika kita berpisah."
"Kau sudah lupa? Kau yang mengatakan, jangan pernah menggunakan anak ini untuk sebuah alasan." Ucap Embun mengingatkan.
"Maaf, Jingga. Aku memang benar-benar sudah mencintaimu. Maaf karena aku telat menyadarinya."
"Kau sudah terlambat menyadari pentingnya kehadiranku. Karena sekarang aku sudah tidak bersedia lagi tinggal disisimu." Pungkas Embun.
"Jingga, ku mohon...."
"Keluar! Aku lelah." Embun mengusir Bara karena dia sudah muak, walau hanya sekedar melihat wajah laki-laki itu. Dan juga merasa kelelahan.
"Jingga, izinkan aku untuk tidur di sini, ya? Aku ingin menemanimu." Pintanya lagi.
"Keluar! Jika kau tidak keluar, biar aku yang keluar dari sini sekarang." Pekiknya kesal.
"Baik, kamu istirahat saja di sini, aku akan keluar sekarang juga." Ucap Bara. Kemudian dia buru-buru pergi
__ADS_1
Di depan pintu, dia menoleh sebentar melihat Embun lagi. Tapi orang yang dilihat malah sudah membalikkan badan membelakanginya, seperti sangat tidak sudi untuk melihatnya lagi.
Sepertinya, benar kata Daniel. Mulai sekarang, aku yang harus berjuang memperbaiki semua kesalahanku. Karena, aku tidak mau kehilangan istri dan anakku, batin Bara sambil berjalan ke arah kamarnya.
☀️☀️☀️☀️☀️☀️☀️☀️
Pagi harinya, semua orang sudah bersiap duduk rapi di meja makan. Tapi Bara tidak melihat kehadiran Embun. Dia mulai merasa cemas dan khawatir.
"Bi, di mana Jingga? Kenapa belum keluar dari kamarnya?" Tanya Bara pada asisten rumah yang sedang menyiapkannya makan.
"Nyonya, masih di dalam, Tuan." jawabnya tergugu.
"Kenapa? Apakah dia sakit, atau perutnya ada yang bermasalah?" Tanyanya lagi. Dia sudah berdiri hendak melangkah ke kamar Embun. Tapi, satu kalimat yang diucapkan oleh asisten rumahnya dapat langsung mengehentikan langkahnya.
"Nyonya berpesan, dia akan keluar untuk makan saat Anda sudah pergi bekerja, Tuan." Ucap sang asisten.
Bara tersenyum kecut mendengarnya. Dia langsung kembali lagi ke kursinya dan duduk. Dia tidak menyangka, sebegitunya Embun tidak mau bertemu dengannya.
Dia dengan cepat menghabiskan sarapannya agar Embun juga lebih cepat keluar untuk sarapan. Belle melihat itu tentu sangat prihatin pada Kakaknya. Tapi dia tidak bisa berbuat apa pun, karena Kakaknya memang harus menebus kesalahannya pada istrinya itu.
Dan benar saja, setelah Bara pergi, Embun juga langsung keluar. Entah mendapat telepati dari mana hingga dia bisa tahu kalau Bara sudah pergi.
*****
"Bara, aku ada hadiah besar tentang Audrey. Apakah kamu juga mau memasukkannya ke dalam acara konferensi pers ini, untuk memperlihatkan kepada dunia bagaimana sebenarnya wajah seorang Audrey itu?"
"Tentu saja. Aku berharap, dengan ini Jingga bisa memaafkan aku dan mau kembali padaku." Ucapnya.
"Kalau begitu, aku sudah tidak sungkan lagi." Ujar Daniel sambil tersenyum sinis.
TOKK TOKK
"Masuk!" Sahut Bara kepada orang yang mengetuk pintunya.
"Tuan, semuanya sudah selesai. Anda bisa memulainya sekarang." Ucap Eson.
Bara hanya berdehem saja. Kemudian dia bersama dua orang sahabatnya itu menghadiri tempat di mana akan diselenggarakannya konferensi pers.
"Tuan Bara. Apakah kali ini Anda mengadakan acara konferensi pers ini adalah untuk mengklarifikasi tentang berita yang sedang beredar saat ini?" Ucap seorang wartawan yang memang sengaja diundang.
"Benar sekali. Dan saya, ingin mengklarifikasi bahwasanya berita itu memang benar adanya!" Tegasnya.
__ADS_1
"Benar? Bukankah saat acara konferensi pers pertama, Anda menentang kabar itu? Kenapa sekarang Anda membenarkannya?" Tanya wartawan yang lain lagi.
Bara tersenyum kecut. Kemudian dia mengatakan, "Saat itu memang adalah sebuah kesalahan. Saya memang sudah menikah sejak empat bulan yang lalu. Dan jauh sebelum itu, hubungan saya dan Audrey memang sudah diputuskan olehnya."
"Seperti yang kalian ketahui dari Vidio yang juga ikut beredar. Dia memutuskan hubungan kami karena ingin mengejar karirnya." Lanjutnya lagi.
"Apakah saat itu, Anda sudah mengenal istri Anda ini?" Tanya para wartawan yang sangat penasaran. Sangat langka ada momen Bara Wirastama mengadakan konferensi pers seperti ini. Dan yang lebih menghebohkan, Bara Wirastama mengklarifikasi tentang kehidupan pribadinya sendiri.
"Tentu saja belum. Karena dia mengenal wanita miskin itu saat dia merasa frustasi karena ku tinggalkan. Lalu, pergi ke bar untuk minum-minum, dan wanita miskin itu naik ke ranjangnya untuk merayunya!" Tandas seorang wanita yang tiba-tiba keluar dari kerumunan para media.
"Nona Audrey?" Semua orang terkesiap karena melihat kedatangan Audrey yang tiba-tiba.
"Bagaimana, Bara. Benarkan apa yang aku katakan barusan?" Ucapnya merasa puas. Dia melipat tangannya di dada sambil tersenyum sinis.
Para bodyguard sudah mulai mendekati Audrey, ingin menyeretnya keluar dari sana. Namun, Bara menghentikannya karena menurutnya, acara konferensi pers kali ini akan semakin menarik karena pemeran utamanya sudah hadir.
"Pak Bara, apakah benar yang diucapkan olehnya? Apakah Anda menikah dengan istri Anda karena sebuah kesalahan dan keterpaksaan?" Mereka semakin menggebu-gebu, karena berita ini pasti akan menjadi trending topik besok.
"Kami memang bertemu disaat itu. Dan kami melaksanakan pernikahan juga karena sudah terjadinya sebuah kesalahan." Sahut Bara yang menambah rasa penasaran orang-orang yang mendengarnya
"Tapi, kesalahan itu akan segera kami perbaiki. Dan kau, jangan lupa dengan kesalahanmu sendiri." Ucap Bara menunjuk Audrey.
"Kesalahan? Aku tidak punya kesalahan apa pun. Aku memang meninggalkanmu karena aku ingin mengejar karir. Tapi ternyata kamu sudah lebih dulu menikahi wanita yang naik ke ranjangmu." Seru Audrey tak berperasaan.
Salahku? Aku memang punya banyak kesalahan. Tapi dia tidak pernah tahu sama sekali, karena seorang ratu akting sepertiku bisa menutupi semuanya dengan baik. Dan tidak ada gunanya jika berbicara tanpa adanya bukti. Audrey tertawa senang dalam hati.
"Oh, aku lupa. Apa yang kita ucapkan memang memerlukan sebuah bukti." Ujarnya.
Dia memberikan isyarat pada orang yang memegang kendali untuk menghidupkan layar yang berada di belakangnya.
Tap...
Layarnya hidup dan menampakkan beberapa foto Audrey sedang berhubungan intim dengan para pria, dari yang muda hingga yang tua. Dan di setiap foto-foto itu, ada tertulis tanggal kapan saat foto itu diambil.
Mulai dari saat dia belum pergi ke luar negeri, saat dia di luar negeri. Bahkan, sampai yang kemarin diciduk oleh Bara. Semuanya sangat banyak dan semuanya terpampang jelas tanpa ada pengeditan atau diburamkan.
"Selain foto, pihak kami juga mempunyai semua Vidio-Vidionya. Kalau kalian ingin melihat yang lebih jelas. Dengan senang hati, kami akan memperlihatkannya pada kalian." Ucap Daniel sambil memicingkan mata kearah Audrey yang sudah terkesiap dan tidak bisa mengatakan apa pun lagi.
Jangan lupa untuk tinggalkan like, komentar, gift dan vote. Berikan rate 5 dan tambahkan ke daftar favorit kamu ya
Terima kasih❤️❤️❤️
__ADS_1