
"Untung saja dia juga tidak minta dipeluk saat akan tidur." gumam Embun pelan.
Pagi hari, sebelum matahari terbit, Embun sudah lebih dulu bangun dan menata semua keperluan yang akan dikenakan suaminya nanti untuk pergi ke kantor.
Setelah sarapan siap. Seperti biasanya, Embun akan membangunkan semua anggota keluarganya, termasuk suaminya yang paling susah dibangunkan.
"Tuan, Ayo cepatlah bangun sekarang." teriak Embun yang entah sudah ke berapa kali.
Karena kesal melihat Bara yang sudah dibangunkan namun tidak ada pergerakan, Embun menarik guling yang dipeluk Bara agar laki-laki itu mau membuka matanya. Tapi, usahanya kali ini sia-sia. Akhirnya, jalan terakhir yang ada dipikirannya adalah menimpuk Bara dengan guling. Dan ya, cara itu benar-benar berhasil.
"Aw, kau memukulku barusan?" tanya Bara sambil memegangi kepalanya.
"Tidak, Tuan. Sepertinya Anda sedang mimpi buruk." jawab Embun, karena setelah Bara terbangun, embun langsung meletakkan kembali guling yang dia pegang.
"Awas saja jika kau berani memukulku!" ancam Bara.
Bara langsung bangun dan bergegas ke kamar mandi. Embun menunggu sambil duduk di sofa. Tidak lama setelah itu, Bara keluar hanya dengan mengenakan handuk berwarna putih yang tingginya sepangkal paha.
"Kancingkan kemejaku." titahnya.
"A,aku...."
"Cepat! Jangan buat aku terlambat." pekik Bara yang selalu saja berteriak.
Tidak bisa menolak lagi, Embun terpaksa mengancingkan satu persatu kancing kemeja berwarna putih yang dikenakan suaminya itu.
"Pakaikan jasku!" perintahnya lagi.
Embun melakukannya tanpa mengatakan apapun. Dia mengambil jas berwarna navy yang tergeletak di atas ranjang dan melepaskannya dari hanger kemudian membantu suaminya untuk memakai.
Setelah itu Embun duduk. Melihat Embun yang sudah duduk, Bara mengerlingkan matanya. "Kenapa kau sudah duduk? Pakaikan dasiku."
"Tapi, aku tidak tahu bagaimana caranya, Tuan."
"Kau tidak bisa?" tanya Bara tak percaya.
Embun mengangguk cepat. "Kemarilah, aku akan mengajarimu." ujar Bara.
Bara memegangi tangan Embun dan mengajarinya cara memakaikan dasi yang benar. Setelah Bara mengajarinya, dia meminta Embun mengulanginya sendiri.
"Coba kau ulangi." ucap Bara.
Embun mulai melakukannya sesuai dengan yang diperintahkan oleh Bara, walaupun lumayan lama, tapi akhirnya selesai. Tapi, hasil akhirnya bukan seperti yang diinginkan Bara, dasi yang dipakaikan Embun malah mencekik lehernya.
__ADS_1
"Aw, uhuk uhuk. Kau ingin secepatnya jadi janda, ya?" Bara terbatuk-batuk.
"Maafkan aku. Aku kan sudah mengatakannya, aku tidak bisa." jawab Embun sendu, terlihat sangat ketakutan.
Bara mengikat dasinya sendiri. Setelah itu, dia kembali mengatakan. "Kau harus banyak belajar, seperti Audrey yang ahli dalam segala hal."
Mendengar hal itu, Embun kembali tertunduk lesu. Dia hanya diam tidak berniat menjawab ucapan dari suaminya itu yang membanding-bandingkan dia dan mantan kekasihnya.
Bara tidak memperdulikan wajah Embun yang sudah murung. Dia mengambil ponselnya dan menelepon bawahannya di depan Embun.
"Kau siapkan acara konferensi pers siang ini. Undang karyawan sebanyak-banyaknya." titahnya.
"Baik, Tuan." jawab seseorang di balik telepon dan Bara langsung memutuskan sambungan teleponnya.
Mendengar hal itu, Embun langsung mengangkat wajahnya dan menatap suaminya dengan senyuman yang sudah menghiasi wajahnya yang tampak senang itu.
"Kamu akan mengadakan konferensi pers?" tanya Embun
"Hem." jawab Bara sambil memakai jam tangannya
"Kapan, dan pukul berapa?" tanya Embun lagi dengan senyuman yang masih belum menyurut dari wajahnya
"Nanti siang." jawab Bara kemudian berlalu meninggalkan Embun yang masih mematung sambil tersenyum-senyum seorang diri.
Embun juga menyusul Bara yang sudah duduk di meja makan, dengan sigap dia mengambilkan makanan untuk suaminya dan juga adiknya.
"Kak, ayo kita ke toko sekarang." ajak Belle setelah kepergian Bara.
"Ayo, rasanya hari ini aku sangat bersemangat." jawab Embun antusias.
"Brandon, kamu ikut tidak? Asik game saja." celetuk Belle pada adiknya itu.
Brandon tidak menjawab, dia langsung berjalan dan masuk ke mobil milik Belle dan langsung duduk di kursi belakang dan masih saja fokus dengan ponsel miliknya.
Sesampainya mereka di depan toko. Mereka terkejut dengan banyaknya orang yang sedang berkumpul di depan toko mereka dengan gelisah. Embun bertanya-tanya kenapa ada banyak sekali orang.
"Belle, ada apa ini. Kenapa banyak sekali orang-orang yang berkumpul di depan toko kita?" tanya Embun gusar.
"Entahlah, Kak. Lebih baik kita turun dan memastikannya langsung." jawab Belle.
"Brandon, kamu jangan turun, ya! Nanti, setelah keadaannya membaik, kakak akan menjemputmu." ucap Brandon. Dia mengira kalau ada sesuatu yang salah dengan tokonya dan akan terjadi suatu masalah, sampai dia meminta Brandon untuk menunggu di mobil saja.
"Ada apa ini? Kenapa kalian berkumpul disini pagi-pagi seperti ini." tanya Belle pada kerumunan orang
__ADS_1
"Kami sedang menunggu toko ini buka. Kami takut tidak kebagian, jadi kami semua memutuskan untuk menunggu disini dan mengantri." jawab mereka bersamaan.
Embun terkejut, dia merasa sangat terharu. Bisa dikatakan, baru pertama buka saja, orang-orang yang berniat membeli sudah sangat ramai seperti ini. Dia sangat senang dan tersenyum kepada mereka semua.
"Terima kasih untuk kalian semua yang sudah rela mengantri dari pagi. Toko akan segera kita buka, semua orang pasti akan mendapatkan bagian varian rasa masing-masing yang kalian mau." seru Embun.
Tidak terasa, matahari sudah memancarkan sinar teriknya, yang menandakan kalau hari sudah siang. Embun dan Belle benar-benar sangat kelelahan karena melayani banyaknya orang yang seperti berebutan untuk membeli roti dan kue. Untung saja, stok yang dibuat oleh Embun kemarin masih bisa tercukupi.
"Kak, kamu sudah lihatkan, roti dan kuemu sangat banyak peminatnya.Jangan ragu untuk memanggil Rena untuk membantumu, Kak." ucap Belle.
"Benar. Dan sepertinya, setelah kamu aktif kuliah, aku juga harus mencari beberapa orang pegawai lagi." sahut Embun sambil mengelap peluhnya.
"Benar sekali. Aku yakin, semakin lama nanti orang yang datang pasti akan semakin ramai. Dan kalau kamu hanya berdua dengan Rena, pasti akan kelabakan."
"Ya. Mungkin, bernafas pun aku akan sulit nantinya." jawab Embun lagi. "Sudah waktunya makan siang, kamu ajaklah Brandon untuk makan." ujar Embun.
"Kamu tidak makan? Kita makan bersama-sama saja, Kak." ajak Belle.
"Aku belum lapar. Kalian makanlah terlebih dahulu. Sebentar lagi aku akan menyusul." desis Embun.
Belle mengangguk. Dia pergi untuk mengajak adiknya makan bersama-sama di ruang istirahat mereka. Sedangkan Embun, dia masih duduk di bangku luar tokonya. Dia melihat jam yang melingkar dipergelangan tangannya.
"Sudah siang, mungkin sudah waktunya." gumamnya lalu mengeluarkan ponsel dari sakunya. Dia sudah sangat tidak sabar untuk melihat pengakuan Bara pada media kalau laki-laki itu sudah menikah dan hidup mereka akan bahagia.
Walaupun sangat kelelahan, namun dia tetap menyempatkan dirinya untuk melihat pengakuan suaminya tentang hubungan mereka. Dia mulai mencari konferensi pers yang disiarkan secara langsung oleh media. Namun, matanya menangkap kejanggalan yang membuat hatinya terasa bercampur aduk.
"Kenapa ada Audrey juga di sana, apa yang dia lakukan disitu." gumamnya sambil terus memperhatikan konferensi pers yang akan berlangsung.
Meski sudah melihat kehadiran Audrey yang sedang berdiri sambil tersenyum di samping suaminya, tapi Embun tetap mencoba berpikir positif. Dia masih tidak berani menarik kesimpulan yang aneh-aneh sebelum melihat langsung isi konferensi pers yang mereka adakan.
"Mungkin dia ingin mengklarifikasi kalau mereka sebenarnya sudah tidak ada hubungan. Ya, pasti seperti itu." gumamnya pada dirinya sendiri.
Namun, saat acara konferensi pers itu dimulai, apa yang dikatakan Bara sangat berbeda dan bertolak belakang dengan pikirannya yang sedari tadi mencoba untuk tetap berpikir positif.
"Saya mengadakan konferensi pers kali ini, untuk mengklarifikasi tentang kejadian waktu lalu yang sempat menghebohkan dunia maya, saat beredarnya foto pernikahan saya dengan seorang wanita. Dan banyak pihak-pihak lain juga yang menuding Audrey sebagai orang ketiga," ucap Bara .
"Disini, saya ingin menjelaskan bahwa semua itu bohong. Foto itu adalah rekayasa semata. Dan wanita di samping saya ini, dia adalah pacar saya, bukanlah orang ketiga. Saya yakin, kalian disini juga mengetahui kalau saya dan dia sudah menjalin hubungan sejak lama. Jadi, saya ingin membersihkan namanya. Berita itu semuanya hanya rekayasa semata." jelasnya lagi lalu mencium punggung tangan Audrey.
Tentu saja hal itu diabadikan oleh banyak wartawan yang sengaja mereka undang, sinar cahaya kamera sangat menyilaukan pada saat itu, dan suara tepukan tangan menggema dari mereka yang membuat keadaan semakin riuh. Seolah-olah mereka juga sangat mendukung hubungan antara Audrey Valencia sang aktris yang baru-baru saja terkenal, dengan Bara Wirastama, sang Presdir terkaya dan tertampan.
Jangan lupa untuk tinggalkan like, komentar, gift dan vote. Berikan rate 5 juga dan masukkan ke daftar favorit kamu ya
Terima kasih
__ADS_1