Istri Miskin Presdir

Istri Miskin Presdir
PERGI TANPA PAMIT


__ADS_3

Embun langsung menangis haru karena merasa sangat-sagat senang. Dia mendapatkan dua malaikat sekaligus. Dia merasa sangat bersyukur dengan berkah yang diterimanya sekarang ini.


Dan Belle juga merasakan sangat bahagia karena mendengar kabar yang bahagia pula. Dan dia juga turut sedih untuk Kakaknya, karena Kakaknya tidak bisa ikut merasakan kebahagiaan ini.


"Baiklah, hasil USG nya akan kita print, apakah ada yang ingin ditanyakan lagi, Nona?"


"Tidak ada. Terima kasih, Dok" Jawab Embun dengan senyuman yang tak henti-hentinya terlukis di wajahnya.


Setelah turun dari ranjang, Embun pergi ke kamar mandi karena ingin buang air kecil. Biasa, Sering buang air kecil adalah hal yang biasa bagi Ibu hamil.


Merasa mendapatkan kesempatan yang sangat bagus, Belle tidak menyia-nyiakan kesempatan itu. Dia langsung mendekati Dokter Livina untuk memintanya melakukan sesuatu.


"Dok, bolehkah saya meminta bantuan Anda?" Tanya Belle dengan sangat berharap kalau Dokter ini akan mau membantunya.


"Katakan saja. Jika memungkinkan, saya pasti akan membantu." Jawabnya ramah.


"Bisakah Anda men-double print hasil USG milik kak Embun?" Tanyanya penuh harap.


"Apakah ada alasan tertentu?" Tanya sang Dokter.


"Hem, terlalu sukar untuk menceritakannya, Dok. Karena ini adalah masalah pribadi. Jadi, bisakah Anda membantu saya?"


"Baiklah kalau begitu, saya hanya bisa membantu sedikit saja."


"Terima kasih, Dok. Dan tolong bantu saya lagi dengan merahasiakannya dari kak Embun." Pinta Belle lagi.


Dokter Livina hanya mengangguk tersenyum. Dia mau membantu Belle karena dia yakin, Belle meminta itu bukalah untuk sebuah kejahatan. Karena dia sendiri bisa melihat ketulusan Belle pada Embun.


Setelah hasil USG itu di print, Dokter Livina lebih dulu menyerahkannya pada Belle agar Embun tidak mengetahuinya nanti.


"Kalau begitu, kami permisi, Dok. Terima kasih." Ucap Embun dan Belle bersamaan.


Sesampainya di toko, Embun langsung memeluk Rena yang sedang mengaduk bahan-bahan kue menjadi satu. Dengan kegirangan Embun memeluk Rena dari arah belakang dengan erat.


"Rena, aku sedang sangat-sangat bahagia sekali." Ucapnya


"Kak, ceritakanlah perlahan, aku akan mendengarkannya. Jangan seperti ini, berbahaya untuk janinmu." Pungkas Rena yang memang sangat takut kalau ada sesuatu yang buruk terjadi.


"Lihat ini," Embun memberikan hasil USG tadi yang nampak terlihat dua bayi kecil dalam satu kantung ketuban. "Kamu akan memiliki dua keponakan sekaligus." Imbuhnya lagi dengan senang.


"Benarkah? Twins?" Rena juga terlihat sangat senang sekali.


Embun mengangguk. Dia berulang kali mengelus perutnya yang memang terlihat membuncit karena sedang mengandung dua nyawa di dalam perutnya.


"Ya sudah, ayo kita makan sekarang, Kak. Si twins pasti sedang butuh banyak asupan nutrisi sekarang." Sanggah Belle yang membuyarkan Embun dan Rena.

__ADS_1


Mereka makan siang bersama dengan karyawan lainnya. Embun tidak membeda-bedakan para pegawainya. Jika ada sesuatu yang ingin diberikan pada Rena, dia pasti akan memberikannya juga pada semua pegawai tokonya. Karena, menurutnya, semua karyawannya lah yang telah membesarkan nama tokonya.


"Sudah saatnya pulang. Ayo tutup tokonya." Ucap Rena pada rekan kerjanya.


"Rena, bisa ikut Kakak sebentar?" Sanggah Embun.


"Baiklah, ayo Kak." Rena mengekori Embun dari belakang. Belle juga ikut mengekor walaupun dia tahu apa yang akan dibicarakan oleh dua orang Kakak adik itu.


"Rena, mulai sekarang, bisakah kamu tinggal di sini menemaniku?"


"Tinggal di sini? Kak, bukankah kamu harus tinggal di keluarga Wirastama?"


"Mulai malam ini, aku akan tinggal di sini, Rena." Ucap Embun. "Apakah kamu mau?" Tanyanya lagi.


Rena melihat ke arah Belle untuk menanyakan pendapat, karena Rena tahu kalau Belle pasti sudah lebih dulu mengetahui hal ini. Mengerti arti dari tatapan Rena, Belle langsung menganggukkan kepalanya.


Jika Rena tidak mau tinggal di sini, itu akan sangat berbahaya untuknya dan calon keponakanku. Kalau ada Rena, setidaknya akan ada yang menjaganya dan segera menghubungiku jika terjadi sesuatu.


"Hem baik, Kak. Aku akan menemanimu." Jawab Rena membuat Embun dan Belle lega.


"Kak, sampai kapan kamu akan tinggal di sini? Kamu tidak mau kembali lagi ke rumah kami?" Belle sangat berharap kalau dia bisa membujuk dan membawa Kakaknya kembali ke rumahnya.


"Untuk sekarang aku akan tinggal di sini, Belle. Aku belum tahu, kapan aku bisa kembali, atau mungkin tidak sama sekali."


Maafkan Mommy kalian, Nak. Karena sudah memisahkan kalian dari Ayah kalian. Mommy berjanji akan menjaga kalian sekuat tenaga Mommy. Akan menjadi Ayah sekaligus Ibu yang baik untuk kalian. Semoga nanti kalian dapat mengerti, dan tidak membenci Mommy karena keputusan Mommy yang sudah menjauhkan kalian dari Ayah biologis kalian, batin Embun, dia mengelus perutnya sambil meratapi nasibnya.


*******


Sesampainya di rumah, terlihat Bara sedang duduk di ruang Tivi sambil menunggu kehadiran Embun dan juga Belle. Selama ini Brandon tidak lagi ikut karena dia sudah mulai masuk sekolah. Dan besok, Belle juga sudah mulai aktif di kampusnya.


Melihat Belle masuk seorang diri, Bara menatap heran. "Belle, di mana Jingga? Kenapa kamu pulang sendiri?" Tanyanya khawatir karena takut terjadi sesuatu dengan Istri dan calon anaknya.


"Kak Embun mengatakan padaku, sementara waktu ini dia ingin tinggal bersama adiknya. Untuk menenangkan hati dan pikirannya." Jawab Belle sekenanya.


"Di mana tempat tinggal adiknya? Aku akan menjemputnya sekarang!"


"Aku tidak tahu, Kak. Dia tidak mengatakannya."


Maaf, Kak. Aku harus menjaga kepercayaan kak Embun. Dan aku mengatakan kalau dia bersama Rena, agar kamu tidak terlalu cemas berlebihan, batinnya menatap kasihan pada Kakaknya.


"Apakah dia ada menonton konferensi pers yang aku adakan?"


"Ada. Aku yang menunjukkan padanya."


Bara menyisir rambutnya ke arah belakang menggunakan jari-jarinya. Dia semakin bingung, bagaimana caranya meluluhkan hati Embun. Sedangkan wanita itu saja sudah pergi dari rumah ini, dan Bara tidak tahu di mana dia sekarang.

__ADS_1


"Tapi, kemarin aku melihat tas yang berisikan pakaiannya masih ada di dalam kamar tamu?"


"Dia tidak mau membawa pakaian yang bukan miliknya. Jadi, dia sudah membeli pakaian lain untuk dirinya sendiri." Jelas Belle.


Bara semakin gelisah mendengar penjelasan adiknya. Dia terduduk lemas karena merasa sangat bersalah pada calon ibu dari anak-anakku itu.


Itu artinya, konferensi pers itu tidak bisa membuat hatinya kembali padaku. Aku sudah terlalu menyakitinya. Bagaimana dengan anakku, aku tidak bisa belajar menjadi Ayah dan Suami yang sempurna untuk mereka.


Saat Bara masih dalam pikirannya sendiri, Belle merogoh tasnya pura-pura mau mengambil ponselnya. Padahal, dia punya niat terselubung pada Kakaknya itu.


TRAP


Sebuah hasil pemeriksaan yang diklip dengan dua buah foto hasil USG terjatuh tepat di kaki Bara. Bara yang kebetulan sedang menunduk langsung melihat ke arah foto hasil USG itu.


Belle juga sudah setengah berjongkok karena pura-pura ingin buru-buru mengambilnya. Dia berlagak seperti tidak sengaja telah menjatuhkan barang itu dari dalam tas jinjing nya.


Dengan secepat kilat Bara mengambil kertas hasil pemeriksaan itu. Dia menatap Belle dengan tatapan tajam karena sempat salah mengira kalau itu adalah milik Belle.


"Belle, kamu hamil?" Bara langsung menuduh adiknya tanpa melihat kertas itu. Dia sungguh sedang merasa frustasi karena kepergian istrinya. Dan sekarang, apakah adiknya hamil?


"Tidak, Kak. Itu bukan milikku!" Jawab Belle langsung menyangkal.


"Bukan milikmu? Kenapa bisa terjatuh dari dalam tas mu?"


"Tadi siang aku habis mengantar kak Embun untuk check kehamilannya. Jadi hasil pemeriksaannya aku masukkan ke dalam tasku. Dan aku lupa mengembalikan padanya." Jelas Belle yang tentu saja itu adalah hasil rekayasanya.


"Untung saja aku bisa langsung memikirkan alasan yang tepat dengan sangat cepat. Kalau tidak, pasti semuanya akan terbongkar. Termasuk tempat tinggal Kak Embun." Gumamnya, tapi tidak sampai terdengar oleh Bara.


"Milik Embun?" Bara langsung mengalihkan perhatiannya pada selembar kertas yang sedang digenggamnya.


Dia membaca, memang nama Embun yang tertulis di kertas itu, sesuai dengan yang dikatakan oleh Belle. Tapi, ada suatu hal yang membuatnya tercengang, terbelalak dan merasa ingin pingsan saat membaca hasilnya lebih lanjut.


"Kembar?" Ucapnya setengah berbisik.


"Belle, Jingga mengandung baby twins?" Tanya Bara antusias.


"Benar, Kak. Seperti yang kamu baca dari hasil pemeriksaan itu."


Jangan lupa untuk tinggalkan like, komentar, gift dan vote. Follow akun author juga ya 🤭


Berikan rate 5 dan tambahkan ke daftar favorit kamu ya


Terima kasih ❤️❤️❤️


Maaf kalau ceritanya author gantung, karena seperti biasa, author akan update dua kali. Dan juga agar memancing rasa penasaran dari pembaca 🤭😁 Terima kasih atas setiap dukungan kalian Kakak-kakak

__ADS_1


__ADS_2