Istri Miskin Presdir

Istri Miskin Presdir
BELUM TUNTAS


__ADS_3

Albert kembali menambah kecepatannya. Dia menekan pedal gas lebih kuat, membuat mobil yang dia kendarai semakin kencang. Namun, saat tiba di jalan bercabang dua, Bara malah membelokkan mobilnya ke jalanan itu. Membuat mobil mereka terpisah.


"Apa yang dilakukan anak ingusan itu? Apakah dia sudah mulai merasa takut, hum?!" Albert kembali tertawa puas seolah dia sudah berhasil menakuti lawannya.


Bara berhenti di titik tempat dia dan dua sahabatnya membuat janji untuk bertemu.


"Bagaimana? Apakah semuanya sudah siap?" tanya Bara pada Rey.


"Tentu sudah. Kita hanya tinggal menjalankannya saja." sahut Rey


"Kau yakin itu dia?" tanya Bara pada Rey yang masih memegang seorang pria yang saat itu menjadi supir pribadi kedua orang tua Bara. Supir itu bekerja sama dengan Albert untuk melenyapkan orang tua Bara.


"Ya. Aku yakin ini dia. Albert telah membiayai biaya operasi wajahnya ini. Tapi tetap tak bisa membuang identitas aslinya." sahut Rey sangat yakin.


"Kalau begitu, langsung masukkan saja dia ke dalam mobil." titah Bara pada kedua sahabatnya.


"mmhh ... mmhhh ... mmmhhh...." mulut pria jgu disumpal dengan kain hitam berukuran besar. Pria itu terus menggelengkan kepalanya kuat-kuat seolah memberi tanda kalau dia tidak mau dimasukkan ke dalam mobil itu. Karena dia sudah tahu mengenai rencana mereka.


"Kenapa kau menggeleng? Bukankah kau sangat jago mengemudi, hum? Hingga bisa selamat dari kecelakaan maut. Orang tuaku meninggal dalam keadaan tak utuh, tapi kau selamat tanpa mengalami cidera sedikitpun,"


"Jadi jangan takut, aku tahu nyawamu ada sembilan. Jadi kau pasti akan selamat lagi kali ini." sindir Bara sambil tersenyum mencemooh.


Rey langsung menghempaskan tubuh pria tua itu ke dalam mobil mahal milik Bara. Bara terlihat tenang saja, namun berbeda dengan Embun.


"Bara, ganti saja mobilnya. Kasihan, kan?" ujar Embun yang masih merasa sayang pada mobil mahal itu.


"Jingga, jika kita mengganti mobil. Semuanya akan berantakan. Aku juga sengaja menggunakan mobil itu." paparnya kesal dengan permintaan Embun.


Mobil milik Bara sudah dimodifikasi, mobil itu bisa dikendalikan menggunakan remote control. Jadi, meskipun tidak ada yang mengemudikannya, mobil itu tetap dikendalikan oleh mereka. Dan mereka juga sudah memasang GPS di bagian bawah mobil agar mengetahui di mana mobil itu akan terjatuh nanti.


Dan untuk mengawasi dan memastikan, mereka melihat melalui Drone kecil agar tak bisa terlihat dengan mata telanjang oleh siapapun. Mereka memang sudah menyusun rencana ini dengan matang. Jadi bisa melakukan persiapan dengan matang

__ADS_1


Dan mobil itu kembali melaju, tapi bukan lagi Bara yang mengemudikannya. Dan kaca Tempered mobil itu pun sudah di ganti menjadi hitam gelap. Sehingga orang dari luar tak dapat melihat siapa yang mengemudikannya.


Bara tersenyum sinis mengiringi kehilangan mobil itu.


Deva masih merasa heran kenapa Bara malah berbelok arah. Bukannya tadi dia yang mulai mengikuti mereka. Apa benar yang dikatakan Albert, kalau dia mulai takut dengan Albert?


Saat dia masih sibuk dengan segala macam pikiran prasangkanya, dia kembali dikejutkan dengan kehadiran mobil itu di belakang mereka. Albert memastikan, apakah mobil itu memang milik Bara atau bukan.


Setelah dia memastikan, dia kembali menekan pedal gasnya kuat hingga mobil yang dikendarainya melesat kencang membelah jalanan lenggang itu. Tidak ada yang tahu pasti ke mana mereka akan pergi.


"Sepertinya bocah kecil itu mengambil jalan pintas agar bisa lebih dekat dengan kita. Huh! Tak akan aku biarkan." serunya yang mulai terpancing emosi dan menekan lebih dalam lagi pedal gas.


"Albert, apa kau gila? Ini jalanan tebing curam. Jika kita masuk ke sana, kita akan mati." pekik Deva yang merasa takut dengan kegilaan Albert. Namun semua yang dikatakan Deva hanya sia-sia saja, karena Albert telah dikuasai oleh api amarah akibat pancingan dari Bara.


"Hahahaha! Lihatlah, Albert benar-benar bodoh. Dia berhasil terpancing oleh kita." Rey tertawa jahat menertawakan Albert yang dikatainya bodoh.


"Yap, kau benar. Aku masih mengira kalau dia sangat pintar. Ternyata, dia sangat bodoh." sahut Daniel yang ikut menertawakan bodohnya Albert yang mulai terpancing permainan mereka.


Mereka kembali tertawa karena melihat Albert yang berlomba-lomba dengan mobil tanpa pengemudi di belakangnya.


"Sudah saatnya. Sudah semakin dekat dengan titik tujuan kita." seru Bara sembil memicingkan mata pada Daniel. Karena laki-laki itulah ysng memegang remote control.


"Hum!" Daniel mengangkat alisnya mengiyakan.


Menggunakan remote control, Daniel menekan gas untuk mengejar mobil Albert. Dia mensejajarkan mobil mereka.


Kemudian dia menabrakkan body mobilnya pada mobil Albert berulang kali, hingga mobil Albert terdesak ke sisi jurang yang sangat curam.


Di dalam mobil, Albert tak henti-hentinya memaki tindakan ekstrim Bara, yang jika berhasil dilakukan, akan langsung menghilangkan nyawanya. Bibir Deva sudah gemetaran.


Setiap kali mobilnya bergetar karena terhuyung akibat tabrakan body sampingnya, dia selalu melihat ke arah jurang dan menelan saliva-nya kasar.

__ADS_1


"Sialan! Bocah ini mempermainkanku." caci Albert sambil menekan klakson panjang karena kesal.


Orang yang berada dalam mobil Bara pun gemetar ketakutan. Dia tahu, kali ini tamatlah sudah hidupnya. Tak henti-hentinya dalam hati dia meminta pengampunan pada Tuhan karena pernah membunuh orang dengan sengaja.


BRAKKK


Terkahir, Daniel menghantam body mobil itu dengan kuat dan mobil Albert terjatuh ke dalam jurang. Namun, entah karena malaikat Izrail belum mau menyabut nyawanya saat itu, mobil Albert malah tersangkut di ranting besar pohon yang sangat rimbun.


Albert dan Deva merasa pusing karena terhentak berulang kali dan kepalanya juga membentur dashboard mobil dengan kuat hingga mengeluarkan darah segar.


"Sepertinya malaikat Izrail masih banyak pekerjaan, masih sibuk mencabut nyawa orang yang berprilaku lebih baik dari si Albert Paman mu ini, Bara." celetuk Rey dengan wajah polosnya.


Di dalam mobil, Albert dan Deva berusaha menahan nafas dan membatasi ruang gerak mereka agar mobil yang nangkring di atas pohon itu tidak goyang dan tetap seimbang.


"Gara-gara kau, hidupku juga berada dalam bahaya." tuduh Deva tak terima degan situasi yang dihadapi sekarang.


"Siapa suruh kau mau ikut denganku. Jangan banyak bicara, cepat hubungi orang-orangku agar mereka segera datang ke sini dan menolong kita." titah Albert yang mulai geram karena Deva malah menyalahkanku dirinya.


"Ponselku berada di bawah. Aku pusing, tidak bisa mengambilnya." sahut Deva jujur. Terlihat darah sudah mengalir dari dahinya.


"Ckck, dasar anak ingusan sialan! Aku sudah tua begini, malah ditempatkan dalam situasi berbahaya. Apa mereka tidak ingat, bagaimana jika penyakit jantungku kumat!" celetuknya memarahi Bara.


"Hey, Pak tua. Memang itu yang mereka inginkan. Mereka menginginkan kau mati!" ucap Deva menyadarkan Albert. Membuat laki-laki itu kembali berdecak.


"Daniel, langsung timpa dengan mobilku, agar mobilnya langsung terjatuh ke dasar jurang." titah Bara yang diangguki oleh Daniel. Sejurus kemudian, Daniel menunjukkan jempolnya pertanda dia telah melakukannya.


"Jangan lupa unjuk gigi di hadapan malaikat Izrail, Albert." teriak Rey kemudian tertawa puas.


"Tugas kita belum selesai. Kita harus menemui mayatnya, memastikan kalau mereka benar-benar mati. Lalu, menghilangkan jejak agar bawahannya tidak dapat menemukan apa pun." seru Bara membuat mereka semua menganggukkan kepalanya.


DUKUNG KARYA INI DENGAN LIKE, BERIKAN KOMENTAR, GIFT DAN VOTE. FOLLOW AUTHOR, BERIKAN RATE 5 DAN TEKAN FAVORIT AGAR MENDAPATKAN NOTIFIKASI UPDATE EPISODE BARU.

__ADS_1


TERIMA KASIH ❤️❤️❤️


__ADS_2