
"Hem ya. Belle, bisa, kan. Nanti kamu datang ke rumahku?"
"Untuk apa?" tanya Belle sambil mengernyitkan keningnya. Selama ini, jika mereka mau bertemu, pasti di luar. Belle tahu rumah Daniel karena saat usianya tujuh tahun, Bara membawanya ke sana.
"Aku lupa memberikan berkas penting padanya. Kamu bisa mengambilnya ke sini, kan?" alasannya.
"Serahkan saja pada kak Rey." tolak Belle. Entah kenapa, hati kecilnya menolak untuk datang. Biasanya, jika sudah mendengar nama Daniel saja, dia sudah sangat kegirangan.
Namun kali ini, sikap dan hatinya sangat bertolak belakang.
"Aku besok mau keluar negeri. Susah jika harus menitipkan padanya. Karena kamu sedang di luar, sekalian singgah saja sebentar. Sekalian, ada yang ingin aku katakan padamu." bujuknya.
Dengan keraguan di hatinya, akhirnya dia menyetujui. "Hem ... baiklah." dia diam sebentar, "aku akan datang setelah ini." jawabnya pasti.
"Aku menunggumu." ucap Daniel yang memiliki makna lain yang tersirat dalam ucapannya barusan.
Setelah memutuskan sambungan telepon dari Belle, Daniel mengirimkan sebuah pesan untuk Bara.
"Belle bersamaku. Jangan khawatir, aku tidak akan menyakitinya." isi pesannya.
"Siapa?" tanya Kevin yang sedari tadi memperhatikan Belle.
"Kak Daniel, temannya Kak Bara." jawabannya tersenyum sambil memasukkan ponselnya kembali ke dalam tasnya.
"Hem, Belle. Ada yang ingin aku katakan padamu." ujar Kevin gugup sembari berdehem beberapa kali untuk menghilangkan kegusarannya.
"Apa?" tanya Belle menatap Kevin intens.
"Aku menyukaimu!" ucapnya cepat dalam satu tarikan nafas.
"Aku tahu." jawab Belle.
"Kau tahu?" Kevin nampak terkejut karena ternyata Belle mengetahui isi hatinya.
"Ya, aku tahu." jawabnya sambil menaikkan sebelah alisnya.
"Lalu, apa kau mau jadi pacarku?"
Wajah Belle seketika merona. Selama ini, dia memang sengaja membiarkan Kevin untuk menunjukkan rasa sukanya pada Belle. Karena, dia juga sedang belajar untuk menghapus rasa sukanya, yang sudah ia pendam untuk laki-laki bernama Daniel.
Belle menganggap Daniel mempunyai seorang kekasih. Jadi, sesama seorang wanita, dia tidak mau menyakiti wanita lain dengan cara memperjuangkan cintanya pada laki-laki yang sudah mempunyai pacar.
Jadi dia memutuskan untuk mencoba membuka hati untuk siapapun yang bisa membuat hatinya lupa akan cinta yang lama.
Dan kebetulan, Kevin lah satu-satunya pria yang mencoba membuka hati itu, mematahkan cinta yang lama dan memberikan cinta yang baru untuk Belle. Dan tentu saja Belle menerimanya dengan suka rela.
Terbukti, selama dia bersama Kevin, dia bisa sedikit melupakan tentang Daniel, karena cinta tulus yang disuguhkan Kevin, membuat benih-benih cinta juga mulai bermekaran di hati Belle.
"Apakah aku harus menjawabnya sekarang?" tanya Belle.
"Hem! Ji-jika kamu masih membutuhkan waktu, aku akan menunggu." jawab Kevin gugup.
"Tapi, aku mau menjawabnya sekarang." kekeh Belle.
"A-apa? Jadi apa jawabanmu?" Kevin sangat gugup. Selama ini, dia baru ini menyatakan cinta pada seorang wanita. Apa lagi, wanita yang dia sukai ternyata adik dari Bara Wirastama.
Belle terdiam sejenak. Mengambil nafas lalu menghembuskannya kembali. Dia tidak tahu, dia yang memperlambat waktu seperti itu, membuat jantung Kevin semakin tak karuan.
Sepertinya dia sedang memikirkan cara menolakku. Apakah dia masih menyukai pria itu? Sebaiknya, aku tidak perlu terlalu banyak berharap.
Belle memang pernah menceritakan kalau dia sedang menyukai seorang pria. Dan cintanya tak terbalas. Hal itulah yang membuat Kevin gencar mendekati Belle.
__ADS_1
Tapi, dia sama sekali tidak tahu, kalau pria yang dimaksud Belle adalah Daniel.
"Aku menerimanya." jawab Belle membuat Kevin bersorak-sorai di depan banyak orang.
"Kevin! Cepat duduk!" Belle jadi malu sendiri, hingga dia menutupi wajahnya.
"Haha, maafkan aku." Kevin kembali duduk dengan perasaan senang.
"Terima kasih telah menerimaku sebagai kekasihmu." Kevin mengecup punggung telapak tangan Belle.
"Iya." Belle langsung menarik tangannya karena masih malu.
"Ayo aku antar pulang sekarang. Jika telat pulang, bisa-bisa pernikahan kita tak direstui."
"Kamu sangat percaya diri." Belle terkekeh mendengar ucapan Kevin.
"Ayo." Kevin menggenggam tangan Belle dan berjalan menuju mobilnya.
Setelah berada di dalam mobil, Belle sudah memasang seat belt nya.
"Kevin, antarkan aku ke ruang Kak Daniel saja." pintanya.
"Baiklah. Aku akan menunggumu di sana."
"Tidak usah. Sudah sangat larut, kamu pulang saja."
"Kamu sendiri yang mengatakan kalau ini sudah larut malam. Lalu, bagaimana denganmu?" tanyanya yang merasa khawatir.
"Hehe. Biasanya, dia akan mengantarku. Atau, supir pribadinya yang akan mengantarkan aku pulang. Kamu tidak perlu cemas, dia sahabat Kakakku. Jadi, aku akan aman bersamanya." Tuturnya agar Kevin tak merasa khawatir.
Hatiku menolak untuk ke sana. Tapi, aku sudah berjanji pada Kak Daniel. Dan, sepertinya aku harus mulai memesan taxi dari sekarang, batin Belle.
Dia memang sahabat Kakakmu. Tapi, aku melihat cinta di matanya. Dari cara dia memperlakukanmu, menatapmu dan semua itu terlihat sangat berbeda.
"Di sini," Belle memberhentikan mobil Kevin. "ini rumahnya." ucap Belle menunjukkan rumah megah.
"Aku turun, ya. Kamu hati-hati." seru Belle.
Belle baru mau membuka pintu mobilnya, namun tangannya di tahan oleh Kevin, membuat Belle kembali menoleh.
"Hem, apakah ada yang tertinggal?" tanyanya
"Ada." jawab Kevin.
"Apa?" Belle menatap Kevin heran
CUPP
Kevin mencium pipi Belle, dia belum berani mencium bibir wanita pujaannya itu. Belle terkesiap, lalu dia tersenyum.
CUPP
Kini giliran Belle mencium bibir pria itu. Dan semua yang mereka lakukan, tak lepas dari perhatian seseorang yang kini sedang berada di balkon kamarnya.
Daniel meninggalkan balkon, saat dia melewati meja yang terletak di kamarnya, dia melirik gelas yang berisi jus jeruk sambil tersenyum sinis.
Setelah melancarkan aksinya, Belle segera turun dan berlari masuk ke dalam rumah Daniel.
Belle masuk ke dalam sambil mengedarkan pandangannya menyusuri rumah yang terlihat asing itu. Sudah banyak berubah, terutama dekorasi dan warna cat rumahnya, terlihat lebih mewah.
"Di mana Kak Daniel?" gumamnya yang masih belum melihat kehadiran pria yang memintanya untuk datang ke sana. Dia ingin cepat-cepat mengambil berkas penting itu dan segera pulang untuk beristirahat. Karena tubuhnya sedang sangat lelah sekali.
__ADS_1
"Nona?" sapa ART Daniel yang melihat kedatangan Belle seperti mencari sesuatu.
"Eh, iya? Di mana Kak Daniel?" tanya Belle. Dari pada lelah mencari, lebih baik bertanya saja pikirnya.
"Tuan muda tadi berpesan, jika Anda sudah datang, langsung ke ruang kerja Tuan muda saja. Karena Tuan muda sedang di sana." ucap sang pelayan sambil tersenyum sopan.
"Baiklah, aku langsung ke sana." Belle langsung saja melenggang pergi dan menuju ke ruang kerja Daniel yang berada di lantai satu.
TOK TOK TOK
Belle mengetuk pintu terlebih dulu, langsung masuk ke ruangan orang lain, tentu sangat tidak sopan menurutnya.
"Masuk!" jawab orang di dalam.
KRIET...
Belle masuk sambil mengedarkan pandangannya lagi, dia tidak tahu kalau sekarang Daniel sedang menatapnya dengan pandangan tajam.
Baru kali ini dia masuk ke dalam ruang kerja Daniel. Ruang kerjanya sangat besar, terdapat beberapa rak buku, toilet minimalis dan set sofa berukuran besar. Ada sebuah lukisan wanita kecil. Belle memperhatikan lukisan itu, wajahnya mirip sekali dengannya.
Belle cukup kagum dengan besarnya ruangan kerja milik Daniel.
"Hem!" Daniel berdehem, karena sejak tadi Belle tak mempedulikannya, hanya sibuk melihat lukisan yang memang dirinya itu.
"Eh, mana berkasnya, Kak?" tanya Belle sambil menengadahkan tangannya.
"Kamu sama siapa ke sini?" tanya Daniel sambil menandatangani berkas-berkas miliknya.
"Kak, cepat berikan berkasnya! Aku ingin segera pulang ke rumah." Belle berdecak, Daniel malah membahas sesuatu yang menurutnya tak penting.
"Jawab dulu pertanyaanku."
"Bersama Kevin." jawab Belle malas.
"Pacarmu?" pancing Daniel.
"Ya. Kami baru saja jadian." Belle tersenyum saat mengatakan itu.
Karena merasa Daniel masih lama, Belle mendudukkan bokongnya di sofa empuk. Dia menyandarkan punggungnya dan memejamkan matanya sejenak, menghembuskan nafas untuk mengusir rasa lelahnya.
"Belle?" panggil Daniel. Dia mengira kalau Belle sudah tertidur.
"Ya? Mana berkasnya, Kak?" tagihnya lagi.
"Minum dulu. Kau pasti merasa lelah."
"Aku masih kenyang. Langsung berikan saja berkasnya padaku."
"Belle, aku mencintaimu!" jujur Daniel.
Seketika Belle langsung membuka matanya, tapi masih menyandarkan punggungnya.
"Tapi aku tidak!" jawabnya membuat Daniel mengepalkan tangannya.
*DUKUNG KARYA INI DENGAN CARA LIKE, BERIKAN KOMENTAR, GIFT DAN VOTE.
BERIKAN RATE 5 DAN TAMBAH KE DAFTAR FAVORIT.
DUKUNG KARYA BARU AUTHOR* SAHABATKU SUAMI MUHALLILKU
*MASIH ANGET GUYS.
__ADS_1
YUK RAMEIN
TERIMA KASIH ❤️❤️❤️*