Istri Miskin Presdir

Istri Miskin Presdir
KESEMPATAN DALAM KESEMPITAN


__ADS_3

Audrey tampak terkejut, dia heran kenapa Belle bisa tahu tentang itu. Bukankah saat itu dia tidak berada di sana. Jangankan dia yang tidak berada di sana, bahkan Embun yang berada di sana pun, dia sangat yakin kalau wanita itu tidak akan mengetahui tentang itu sama sekali.


Jadi, kenapa sekarang Belle bisa tahu?


Belle memicingkan matanya menatap Audrey. Melihat wajah Audrey seperti sedang menelan pisau, dia sangat puas. Lalu menepuk pundak wanita itu perlahan.


"Bukankah aku sudah pernah mengatakan, jangan mengancamku di rumahku sendiri?" bisiknya.


PLAKK


Bara menampar pipi Audrey sampai lebam dan ujung bibirnya terluka. Entah sejak kapan dia yang berdiri jauh dari Audrey, bisa berjalan secepat kilat ke hadapan wanita itu dan menamparnya.


"Ini adalah ganjaran untukmu, karena kau sudah berani mencelakai anakku!" Ucapnya menatap Audrey nyalang.


"Bara, dengarkan aku. Aku tidak melakukan itu. Dia memfitnahku, kau juga tahukan, kalau adikmu sangat membenciku. Mana mungkin aku berani melakukan itu!" Audrey terus saja berusaha mengelak karena, tujuannya saat ini adalah untuk membujuk Bara agar karirnya bisa kembali lagi.


"Aku memfitnahmu?" Belle mengeluarkan ponselnya dan menunjukkan sebuah Vidio hasil rekaman cctv yang menunjukkan kalau dia sedang memberikan beberapa buah kapsul kepada seorang pegawai.


"Campurkan ini ke dalam minuman yang satunya, dan berikan kepada temanku yang datang nanti." Ucap Audrey kepada pegawai wanita itu


"Apa ini, Nona?" Tanya sang pegawai heran.


"Campurkan saja sesuai instruksiku. Jangan banyak bertanya, bukankah kamu memerlukan uang?" Sahut Audrey.


"Ba, baik, Nona." Jawab sang pegawai menurut, karena sudah diiming-imingi dengan uang yang jumlahnya tak sedikit. Begitulah isi dari Vidio cctv yang diputar oleh Belle.


"Tidak. Aku hanya memberikan vitamin saja, Bara. Bukan seperti yang dituduhkan nya." Audrey tetap saja menyangkal dan berusaha mendekati Bara.


"Hem, aku masih punya satu Vidio lagi, loh!" Ujar Belle tersenyum.


Belle memutarkan rekaman suara antara pegawai cafe itu dengan Embun. Kalau mau tahu isi percakapannya, bisa baca kembali di episode 47, ya. Hehe!


Ternyata Embun merekam pengaduan dari pegawai cafe itu. Audrey langsung terdiam. Dia memang sudah tidak bisa mengatakan apa-apa sama sekali. Bukti yang Belle berikan, semuanya memang mengarah padanya.


"Aku peringatkan padamu. Jangan pernah menyentuh Istri dan anak-anakku! kalau kau berani menyentuhnya seujung kuku saja. Maka, ujung kukunya akan dibalas dengan nyawamu! Dan lagi, aku tidak akan pernah menarik semua bukti-bukti bejatmu itu. Yang ada, aku akan semakin menghancurkanmu perlahan-lahan!" Ucap Bara menggeram marah.


"Bara ... maafkan aku." Pintanya memohon sambil menangis.


"Satpam! Bawa wanita ini keluar! Jangan pernah biarkan dia masuk ke kediaman Wirastama lagi." Titahnya pada bawahannya.

__ADS_1


Setelah Audrey diseret keluar oleh satpam penjaga kediaman Wirastama. Bara langsung menghadap pada Adiknya.


"Belle, dari mana kamu mendapatkan rekaman itu?" Tanyanya tak sabaran ingin mendengar jawaban.


"Rekaman suara ini aku dapatkan dari Kak Embun. Setelah itu, aku datang ke cafe dan meminta rekaman cctv-nya. Awalnya, mereka tidak mau memberikannya, karena itu privasi. Dan dengan sangat terpaksa, aku menggunakan namamu untuk mengancam mereka. Dan aku berhasil mendapatkannya!" Ucapnya bangga.


"Tetap saja, kau berhasil mendapatkan itu karena menggunakan namaku." Ejek Bara.


"Kak, kamu tadi kenapa tidak ikut makan bersama kami?"


"Aku tidak berselera." Jawabnya lesu karena kembali teringat pada Embun.


"Kak, kalau kamu mau mencari Kak Embun, kamu juga harus mengisi tenagamu. Kalau kamu sakit, kamu tidak bisa mencarinya."


"Ya, besok aku akan makan." Bara langsung naik ke lantai atas dan masuk ke kamarnya.


Mereka kembali ke kamar masing-masing. Di kamar Bara berguling kesana-kesini karena tak merasa nyaman. Padahal, bukan hanya malam ini dia tidur tanpa Embun. Tapi, malam ini kerinduannya memuncak pada wanita itu.


Dia juga membayangkan kalau sebelum tidur dia akan selalu mengelus perut buncit istrinya itu.


Tapi, semua hanya khayalan nya saja.


☀️☀️☀️☀️☀️☀️


Pagi hari, Bara dan Belle dan juga Brandon sudah duduk rapi di meja makan. Mereka bersiap-siap untuk mulai mengisi perut mereka agar kuat menjalani rutinitas sehari-hari.


"Eson, mulai cari di mana keberadaan Embun! Cari di seluruh pelosok, di seluruh sudut mana pun. Di kota ini atau di seluruh dunia ini. Kau harus menemukannya secepat mungkin." Titah Bara pada bawahannya.


"Baik, Tuan." Jawabnya penuh hormat. Namun dalam hatinya komat-kamit.


Saat sudah pergi saja dicari dan diperjuangkan. Saat masih ada di depan mata, malah di sakiti, batin Eson yang sebenarnya merasakan sedikit sakit hati tatkala melihat perlakuan Bara terhadap Embun.


Tapi kembali lagi, dia hanya seorang bawahan Bara saja, tidak bisa berbuat apa-apa, atau hanya sekedar menasehati pun dia merasa tidak berhak.


"Aku akan ke luar kota selama satu bulan karena ini urusan mendesak. Harus aku langsung yang menangani. Aku harap, setelah kepulanganku, Embun sudah berada di rumah ini." Imbuhnya tegas.


"Siap, Tuan." Jawab Eson lagi.


"Belle, jika kau sudah mendapatkan di mana alamat Jingga, beritahukan pada Eson!" Ucapnya kemudian pergi.

__ADS_1


"Brandon, jangan nakal selama Kakak pergi, ya? Kakak menyayangimu." Ucap Bara pada adiknya dan mencium puncak kepala Brandon.


"Iya, Kak." Jawab Brandon mengangguk.


"Tuan, semuanya sudah siap. Kita bisa berangkat sekarang." Ujar Deva yang baru saja datang.


"Kakak pergi bersama dia?" Tanya Belle pada Bara, tapi tatapan matanya melihat Deva.


"Ya. Dia sekretaris Kakak. Jadi memang harus pergi bersamanya." Jawab Bara seadanya.


"Deva, jangan sampai kamu jadi Audrey selanjutnya, ya!" Ucap Belle memperingatkan.


Deva hanya mengangguk mengiyakan. Tapi dalam hati dan pikirannya dia bertanya-tanya, apa maksud dari ucapan Belle, kenapa sangat ambigu, begitu pikirnya.


Setelah itu, mereka semua mulai pergi ke tujuan masing-masing. Dalam perjalanan, Deva selalu saja melirik ke arah Bara yang hanya diam fokus ke depan. Bara memang terlihat diam, tapi pikirannya sedang berkelana, mengingat semua tentang Embun.


Sekarang dia ada di mana, sedang apa, dan apakah dia hidup dengan baik dengan meninggalkan aku? Meski pun iya, aku tetap tidak akan membiarkannya. Setelah aku tahu dia berada di mana, aku tetap akan memaksanya untuk kembali pulang padaku.


Sekarang, rasa rindunya begitu menyiksanya, dia sangat takut kalau Embun tiba-tiba mengenal laki-laki lain dan hidup bahagia bersama laki-laki itu. Memikirkannya saja sudah membuatnya marah, apa lagi jika yang sedang dia pikirkan saat ini menjadi kenyataan. Pastilah dia akan membunuh orang itu. Dia tidak terima kalau istrinya akan menikah dengan pria lain, dan anaknya diakui oleh orang lain. Sangat tidak bisa diterima.


Deva hanya terdiam memandang sempurnanya ciptaan Tuhan yang kini berada di sampingnya. Sedikit banyak, tadi dia mendengar percakapan antara Eson dan Bara. Dia menyimpulkan kalau Embun sekarang sedang tidak berada di rumah. Dengan kata lain, wanita itu sedang tidak diketahui di mana keberadaannya.


Ini adalah kesempatanku untuk masuk ke dalam hati Tuan Bara. Meskipun sangat sulit, tapi aku tetap harus berusaha, batinnya.


Yang tidak dia ketahui adalah, Bara sudah jatuh cinta pada Embun, istrinya yang kini menghilang karena ulahnya. Dan bisa saja, hatinya tidak akan berpindah ke wanita mana pun lagi.


CKITT


Mobil mengerem secara mendadak membuat orang yang berada di dalam terhuyung ke depan.


Tapi berbeda dengan Deva, dia malah terhuyung ke pangkuan Bara. Entah sengaja atau tidak, lengannya menyentuh benda pusaka milik Bara.


"Maaf, Tuan. Ada kucing di depan yang tiba-tiba melintas." Ucap supir pribadinya buru-buru.


Bara mengeraskan rahangnya karena Deva sedari tadi tak kunjung memindahkan lengannya dari benda pusaka miliknya.


Jangan lupa untuk tinggalkan jejak berupa like, vote, komentar dan gift. Berikan rate 5 dan tambahkan ke daftar favorit kamu ya


Terima kasih ❤️❤️❤️

__ADS_1


__ADS_2