Istri Miskin Presdir

Istri Miskin Presdir
MEMBATALKAN KONTRAK


__ADS_3

"Gaya baru? Jingga, kamu juga harus mengerti. Meskipun kita menemukan banyak referensi gaya baru, tapi kita tetap saja belum bisa melakukannya." Sahut Bara. Jawaban laki-laki itu membuat Istrinya menaikkan sebelah alisnya.


"Bara, apa yang kamu pikirkan?" Tanya Embun dengan wajah yang mulai memerah seperti tomat matang. Dia bukannya tidak mengerti, ke mana arah perkataan Bara itu.


"Bukan gaya baru untuk kita itu...?" Jawabnya yang menatap serius Embun.


"Gaya baru apa? Katakanlah!" Seru Rey yang melihat Embun kelimpungan karena malu akibat ulah suaminya yang salah paham.


"Ya, apa lagi kalau bukan...." Belum sempat Bara menyelesaikan ucapannya, tangan Belle sudah membekap mulut Kakaknya itu. Dia tidak mau Bara mengatakan hal-hal yang seharusnya tak di dengar olehnya.


Embun menghembuskan nafasnya sambil menahan kepalanya dengan tangannya. Dia begitu gemas dengan mulut suaminya itu yang tidak bisa dikondisikan. Apakah selama ini sikap Bara memang tak tahu malu begitu? Atau baru ini, akibat kecelakaan jadi otaknya bergeser sedikit. Dia pun tak tahu pasti, karena dulu sikap Bara tak begitu.


"Maksudku, referensi interior gaya baru untuk merenovasi kamar kita dan si kembar! Aku ingin merubah tatanan kamar kita. Agar tak teringat lagi ke masa lalu, masa-masa kelam." Cecar Embun. "Hitung-hitung sekalian buang sial!" Embun kembali menimpali.


"Ah? Maafkan aku, Jingga." Ucap Bara.


"Biarkanlah yang telah berlalu. Sekarang, kita harus selalu melihat ke depan." Jawabnya.


Mereka semua sudah keluar ruangan untuk melihat keadaan si kembar. Bara juga ikut melihat keadaan kedua Anaknya itu. Meskipun masih tertatih-tatih karena belum terlalu kuat berjalan, dia tetap berusaha agar kakinya kembali kuat untuk digunakan berjalan seperti sedia kala.


Dokter memeriksa si kembar, Bara dan Embun melihat itu sambil harap-harap cemas. Takut mereka belum diizinkan pulang oleh Dokter.


Namun, ternyata pernyataan Dokter sesuai dengan keinginan mereka. Si kembar dibolehkan pulang bersamaan dengan Bara dan juga Embun.


"Kak, aku dan Rena pulang duluan, ya? Kami ingin mempersiapkannya perlengkapan si kembar." Kata Belle meminta izin, karena Embun memang belum sempat membeli perlengkapan kedua Anaknya, karena dia tidak menduga kalau hal seperti ini akan terjadi.


"Rena, tolong kemasi barang-barangku, bawakan ke rumah Wirastama." Pintanya pada Rena.


Mendengar itu, mata Belle menjadi berbinar. Dia sangat senang dengan keputusan Embun yang mau kembali ke rumahnya. Jadi, dia bisa selalu menimang-nimang dua keponakan lucunya setiap hari.


"Baik, Kak." Jawab Rena sembari tersenyum.


"Kenapa Rena tidak sekalian tinggal bersama kita, Kak? Kan bisa sekalian membantu Kakak menjaga Hansel dan Hilsa." Usul Belle, Embun tampak berpikir sejenak, menimbang-nimbang usulan Belle.


"Hem, menurutku boleh. Tapi, kembali lagi dengan Bara. Apakah dia mengizinkannya?" Tanya Embun.

__ADS_1


"Tentu saja Kak Bara akan mengizinkannya, Kak. Kakak pasti nanti akan kelimpungan kalau mengurus mereka seorang diri. Kalau ada Rena, Kakak pasti lebih banyak waktu untuk mengurus Kak Bara." Goda Belle sambil menaikan turunkan sebelah alisnya.


"Kamu masih kecil. Tapi pikiran mu sudah dewasa, ya?" Embun menyenggol lengan Belle karena merasa malu dengan perkataannya.


"Hahah, iya dong. Umur boleh kecil. Tapi pikiran tentu harus dewasa." Ucapnya percaya diri.


"Pria tadi, siapa kamu, Belle?" Tanya Rena.


"Kevin? Dia Kakak seniorku di kampus, Rena." Jawabnya jujur.


"Tapi, saat kamu mengenalkan Kevin pada Kak Bara. Sepertinya ada yang cemburu." Kini gantian Rena yang menggoda Belle, membuat wajah wanita itu mengkerut dalam karena bingung.


"Siapa, siapa yang cemburu?" Tanyanya serius, karena dia memang tidak tahu.


"Pikir saja sendiri. Ayuk, nanti kita bisa telat dan keduluan mereka." Rena langsung menarik tangan Belle agar tak lanjut bergosip di sana.


Setelah selesai mengemaskan barang-barang mereka selama di rumah sakit, mereka pun bersiap-siap untuk pulang.


Mereka diantar menggunakan mobil Daniel, ada dua orang suster yang mereka bawa untuk menjaga Hansel dan Hilsa.


Saat masuk, dia melihat Kevin yang duduk di ruang tamu. Daniel langsung memicingkan matanya karena tak suka melihat pemandangan itu.


"Kenapa kamu belum pulang?" Tanya Daniel pada Kevin to the point.


"Tadi Belle memintaku untuk menunggu sebentar, Kak." Jawab Kevin sopan karena melihat Daniel lebih tua darinya.


"Sekarang kamu sudah bisa pulang! Tidak baik jika lama-lama berada di sini." Ketusnya, Kevin terkejut karena Daniel mengusirnya. Pasalnya, bahkan Belle pun belum mengatakan apa-apa.


"Tapi Belle memintaku untuk menunggu di sini, Kak." Sahutnya yang jelas-jelas menolak pengusiran Daniel itu.


"Lebih baik kau pulang sekarang. Dari pada Bara jengah melihatmu yang kelamaan di sini." Timpal Daniel yang mengolah kata, bagaimana pun Kevin harus enyah dari pandangan matanya.


"Bara, atau kau yang jengah karena melihatnya di sini?" Tangkas Rey yang baru saja masuk ke dalam. Dia sudah bisa melihat pertarungan sengit antara mereka.


"Ada apa ini?" Tanya Belle yang baru saja datang. Dia keluar hendak menawari Kevin minum, namun dia seperti melihat kegaduhan dari arah tiga laki-laki itu.

__ADS_1


"Tidak ada apa-apa." Sahut Kevin.


"Ya sudah yuk masuk. Aku sudah membuatkan minum untukmu." Belle langsung menggenggam tangan Kevin dan menariknya paksa dari tengah-tengah Daniel dan Rey.


Daniel melotot melihat Belle yang menggenggam tangan Kevin. Dia mengeraskan rahangnya dan mengepalkan tangannya. Nafasnya terlihat naik turun tidak teratur.


******


Embun dan Bara baru saja masuk ke kamarnya. Setelah memastikan kedua anaknya tidur pulas, mereka juga masuk kamar dan mengistirahatkan tubuh mereka. Sampai di kamar, Bara malah melarang Embun untuk tidur.


"Jingga, tunggu sebentar, aku ingin memperlihatkan sesuatu padamu." Ujarnya.


"Apa?" Tanya Embun penasaran.


Tanpa menjawab, Bara langsung berjalan menuju meja kerjanya dan mengambil selembar kertas. Lalu dia membawanya pada Embun dan menyerahkannya pada wanita itu.


Embun mengambil kertas itu kemudian membacanya satu persatu.


"Surat kontrak pranikah?" Kata itu yang tercetus dari bibir ranum Embun. Dia kembali melihat Bara dan seperti mempertanyakan apa maksudnya ini. Karena itu adalah surat yang ditandatangani olehnya saat akan menikah dulu. Lalu, kenapa sekarang diberikan lagi padanya.


Bara mengambil kertas itu dan langsung mengoyaknya di depan mata Embun. Kemudian sisa-sisa kertas itu di masukkan ke dalam tong sampah kemudian langsung dibakarnya. Perlakuan Bara itu membuat Embun terpelongo.


"Kita akan memulai semuanya dari awal. Tanpa kontrak itu. Karena pernikahan kita adalah sesuatu yang sakral. Jadi, tidak perlu kontrak-kontrak aneh seperti itu." Jelas Bara.


Bukankah dia sendiri yang meminta aku tanda tangan surat kontrak itu? Dasar aneh.


Ingin sekali Embun mengatakan itu, tapi dia hanya berani mengatakannya dalam hati.


"Jadi, kapan kita bisa merenovasi kamar ini?" Tanya Embun.


"Terserah kamu saja." Bara diam sejenak, kemudian lanjut berkata, "Tapi, aku akan membantumu mencari-cari referensi gaya terbaru. Tapi, gaya terbaru tentang itu." Ucapnya sambil memeluk Embun dari belakang.


"Tidak perlu mencari gaya terbaru kalau tentang itu. Karena aku lebih suka gaya batu, karena bisa sambil menikmati kenikmatannya." Jawab Embun sambil tergelak.


Jangan lupa tinggalkan like, komentar gif dan vote. Follow akun author dan klik favorit ya. Jangan lupa berikan rate 5

__ADS_1


Thank you ❤️❤️❤️❤️❤️❤️


__ADS_2