
"Ini anak kamu?" tanya wanita paruh baya itu.
"I-iya," jawab Rena.
"Cantik sekali. Mirip dengan anak perempuanku. Sangat mirip," ucapnya sambil mengusap pipi Valerie.
Awalnya Rena tak terlalu memperhatikan wanita yang masih bicara di hadapannya itu. Setelah mendengar pengakuan seperti itu, di langsung melihat ke arah wanita paruh baya yang masih sibuk memperhatikan Valerie.
Rena memindai wanita itu dari atas ke bawah. Dan matanya menatap lekat wajah yang mirip dengan Amanda, Ibunya Valerie.
"Memangnya mirip dengan siapa, Bu?" tanya Rena penasaran.
"Mirip dengan--"
Belum sempat ia menuntaskan kalimatnya, ada seseorang dari belakang yang memanggilnya.
"Ma! Siapa ini?" tanya seorang wanita cantik bergaya modis sambil berjalan mendekat ke arah mereka.
"Bukan siapa-siapa. Kamu sudah selesai?" tanya wanita paruh baya itu pada gadis muda yang baru saja menghampiri mereka.
"Sudah, Ma." gadis itu menjawab sambil bergelayut manja.
"Ya sudah, kalau begitu ayo kita pergi sekarang!" ajak sang Mama.
Sebelum pergi, wanita paruh baya itu sempat melirik beberapa kali ke arah Valerie. Lalu tersenyum pada Rena. Rena juga membalas senyuman itu sembari menganggukkan kepalanya.
"Rena, kamu tersenyum pada siapa?" tanya Rey yang datang dari arah samping.
"Ha? Pada wanita itu," jawabnya sambil menunjuk dua orang wanita yang berjalan semakin menjauh.
Rey melihat ke arah yang ditunjuk Rena, melihat dua orang yang sedang berjalan membelakanginya sambil bercengkrama dengan sangat bahagia.
Rey menyipitkan matanya, merasa mengenali kedua wanita itu.
"Kamu mengenali mereka?" tanya Rena membuat Rey menyudahi acara tatap menatapnya.
"Tidak. Aku tidak mengenali mereka," jawabnya cepat. Meski merasa kenal dengan kedua orang itu, tapi dia tidak mau ambil pusing.
Rena hanya membulatkan bibirnya sambil manggut-manggut.
"Rena, aku punya kejutan untukmu. Kamu mau lihat?" tutur Rey sambil mengambil alih Valerie dari gendongan Rena.
"Mau, mau! Kejutan apa? Ayo perlihatkan padaku," pinta Rena antusias.
"Panggil Sayang dulu, baru aku akan memperlihatkannya!" ucap Rey congkak.
Kalau tidak mau ya tidak apa-apa. Kita bisa pulang sekarang!" seloroh Rena pura-pura ngambek.
Ekspektasi memang tak selalu sesuai dengan kenyataan!
__ADS_1
"Ya sudah, ayo kita pergi lihat sekarang!" Rey memegang tangan Rena dan menggeret wanita itu ke toko sebelah.
"Tunggu dulu! Aku sudah memilih banyak pakaian untuk Valerie dan belum dibayar sama sekali. Jadi, ini dicancel saja?" tanya Rena.
"Sudah aku bayar semua. Nanti akan ada orang yang mengantarkan ke rumah," ucap Rey.
"Oh ya sudah. Kalau begitu, ayo kita lihat kejutan apa yang kamu berikan untukku!"
Rey kembali menuntun Rena, mereka memasuki sebuah toko khusus mainan-mainan bayi. Di sana juga tersedia stroller bayi dan ranjang khusus bayi.
"Ini, aku sudah membelikan ini untuk anak kita." Rey menunjukkan sebuah stroller jumbo berwarna hitam pada Rena.
"Dan itu!" tunjuknya lagi ke arah ranjang khusus bayi berwarna putih. "Itu juga untuk Valerie," lanjutnya.
Rena tersenyum, menatap Valerie dan mengelus kepala bayi itu.
"Terima kasih, Papa!" ucap Rena meniru suara khas bayi.
"Sama-sama, Sayang!" jawab Rey dan mengecup kening Valerie.
"Tapi menurutku, ranjang khusus bayi ini aku tidak membutuhkannya," ucap Rena.
"Kenapa?" tanya Rey heran.
"Karena aku mau Valerie tidur satu ranjang denganku," ucap Rena memberikan alasannya.
"Baiklah, sesuai keinginanmu!" jawab Rey menyetujui.
"Ma, ada apa? Kenapa berhenti?" tanya Joana pada Ibunya.
"Joan, ada sesuatu yang lupa Mama beli dan itu sangat penting," ucap Alea sambil menepuk dahinya.
"Lupa? Apa itu?" tanya Joana yang terlihat begitu penasaran.
"A-anak teman Mama baru saja lahiran. Dan besok teman-teman Mama mengajak Mama untuk menjenguknya di rumah sakit. Tapi, Mama malah lupa membelikan buah tangan untuknya," ucapnya yang berusaha mempertahankan mimik wajah tenangnya.
"Benarkah? Kalau begitu, Mama tunggu di mobil saja, Ma. Biar Joana yang belikan gift untuk anak teman Mama itu," saran Joana menatap wajah Namanya serius.
"Ja-jangan!" cegah Alea cepat.
"Jangan? Kenapa? Bukankah sama saja, Ma?" Joana tambah serius menatap wajah Namanya yang terlihat gugup.
"Bu-bukan apa-apa. Kali ini, Mama hanya ingin memberikan pilihan Mama sendiri saja. Bukankah begitu lebih baik? Iya, kan?" Alea memaksakan senyumannya.
"Terserah Mama saja," tukas Joana cepat.
"Ya sudah, kamu tunggu Mama di mobil sebentar, ya? Mama tidak akan lama kok, pasti segera kembali," ucap Alea yang lebih terkesan memohon.
"Hem? Iya. Aku akan menunggu di mobil."
__ADS_1
Alea tak langsung pergi, dia masih berdiri di tempatnya untuk memastikan apakah Joana benar-benar masuk ke dalam mobil atau tidak. Dia takut dibuntuti oleh gadis itu.
Setelah benar-benar melihat dan memastikan, Alea buru-buru berjalan kembali masuk ke dalam area mall. Menaiki Eskalator dengan tidak sabaran. Berulang kali menghembuskan nafas lewat mulutnya sambil melirik ke sekelilingnya dengan raut wajah cemas tak menentu.
Semoga kamu masih berada di sana. Aku harus segera menemukanmu!
Alea membatin.
Setelah sampai di lantai dua, Alea langsung mengambil langkah besar. Berharap bisa secepat mungkin sampai ke toko tempat ia dan Rena bertemu tadi.
"Selamat datang, Nyonya!" kata sang pegawai toko menyapa dengan ramah tapi tak dihiraukan oleh Alea. Karena tujuannya kembali ke toko itu hanya satu, yaitu menemui Rena dan bayi mungil itu.
Alea tak lagi menemukan Rena di tempat tadi. Dengan pikiran yang sudah kalut, Alea mengitari toko luas itu. Matanya sibuk menelisik setiap orang yang ia temui. Tak ada satupun yang terlewat baginya. Namun, sudah sangat lelah ia mencari, tenaganya juga sudah habis. Orang yang ia cari belum juga ia temui.
Air mata Alea menetes bersamaan dengan keringatnya. Hanya itulah harapan satu-satunya yang ia miliki. Tapi, kenapa sekarang harapan itu malah pergi sebelum ia meminta sesuatu.
Alea terduduk di lantai, dia menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya dan mulai menangis. Wanita paruh baya itu berhasil menyita perhatian banyak orang.
"Maaf, Nyonya. Apakah ada yang bisa kami bantu?" tanya seorang penjaga toko menghampiri Alea dan menepuk pundak wanita itu pelan.
Alea menengadahkan kepalanya, menatap pegawai itu dengan wajah bersimbah air mata.
"Apakah aku boleh bertanya sesuatu?" tanya Alea.
Penjaga toko itu mengangguk mengiyakan, "Tentu boleh. Tapi, sebelum bertanya, bisakah Anda berdiri dan duduk di sana? Banyak pasang mata yang melihat ke arah kita," bujuk dah pegawai toko itu.
Alea menuruti permintaan penjaga toko itu. Namun dia tak duduk, dia berdiri di hadapan penjaga toko.
"Apakah kau melihat seorang wanita yang menimang bayi?" tanya Alea dengan segudang harapan.
"Wanita yang menimang bayi?" tanya sang pegawai toko mengulangi. Dia melihat ke sekeliling dan Alea mengikuti.
"Hem, maksudku ... maksudku...." Alea terdiam.
Bagaimana ini? Aku tidak tahu ciri-ciri wanita itu. Apa yang harus aku sebutkan?
"Yang mana, Nyonya?" tanya sang pegawai toko itu lagi membuyarkan lamunan Alea.
"Aku tidak tahu ciri-cirinya. Bisakah kau memperlihatkan rekaman cctv toko ini? Agar aku mudah mengenalinya," pinta Alea.
"Maaf, Nyonya. Rekaman cctv adalah data privasi toko kami. Kami tidak bisa menyerahkannya begitu saja pada orang luar," tolaknya.
"Aku mohon. Hanya itu satu-satunya harapanku," Alea kembali memelas.
Pegawai toko itu merasa Iba pada Alea.
"Sebentar, aku akan meminta izin pada manager toko terlebih dahulu," ucap sang pegawai toko itu menerbitkan secercah harapan baru bagi Alea.
Dukung karya ini dengan berikan like, komentar, gift dan vote sebanyak-banyaknya.
__ADS_1
Berikan juga rate 5 ya guys ❤️❤️❤️
Terima kasih ❤️❤️❤️