Istri Miskin Presdir

Istri Miskin Presdir
SEDIKIT TERBUKA


__ADS_3

"Sebenarnya, Ibumu memiliki seorang Anak yang bernama Amanda. Dia dan suaminya berperilaku egois pada anak semata wayangnya itu. Mengurungnya dalam aturan-aturan yang kejam. Amanda adalah seorang wanita yang suka kebebasan, jadi dia melarikan diri dan sampai sekarang belum ditemukan," jelas orang itu lagi.


"Anak bernama Amanda? Jadi, Anak Mama bukan cuma aku?" pertanyaan itu tercetus begitu saja dari mulut Joana.


"Ya, dan dia adalah Kakak kandungmu!" ungkap seorang pria di balik telepon.


"Kakak kandungku? Bagaimana mungkin? Bahkan aku tidak pernah merasa ada kehadiran orang lain di rumah ini selain aku dan Mama! Informasi palsu apa yang sedang kau ungkapkan kepadaku?!" pekik Joana kasar dengan mata yang mulai memerah menahan tangis.


Pria di balik telepon itu terkekeh mendengar tuduhan Joana untuknya.


"Joan, kau sangat mengenal aku ini orang yang seperti apa. Aku mengatakan informasi palsu padamu juga tidak ada untungnya sama sekali untukku bukan? Jika kau tidak percaya dengan informasi yang aku katakan, untuk apa kau mempercayakan semaunya padaku?" balas pria di balik telepon membuat Joana tersadar.


Benar, apa yang dikatakan olehnya semua benar. Selama ini aku memang selalu mempercayakan semua hal padanya dan tidak ada kejanggalan yang terjadi. Semua berjalan baik-baik saja sesuai rencana. Dan sekarang, kenapa aku tidak mempercayai apa yang dikatakan olehnya?


"A-apakah yang kau ka-katakan tadi benar-benar kenyataan? Apakah kau punya cukup bukti?" Joana kembali bertanya, suaranya masih tercekat karena dia belum sepenuhnya bisa menerima kenyataan yang baru saja ia dengar. Namun, dia harus memastikan kebenaran dari ucapan orang suruhannya itu.


Orang di balik telepon kembali terkekeh.


"Kau yang meragukan hasil kerjaku seperti ini, sama seperti sedang mempermainkan aku, Joan! Tapi kau tidak perlu khawatir, aku dapat memahami itu. Kau sedang gundah karena baru saja dilanda kenyataan yang tak pernah kau cium bau kebenarannya sama sekali," seloroh orang itu membuat Joana naik pitam.


"Black, aku tidak sedang bercanda denganmu. Aku tidak punya waktu untuk melakukannya! Jadi, kumohon untuk berbicara yang serius sebelum aku marah padamu," kecam Joana kesal.


Orang di seberang telepon malah tertawa kencang. "Baiklah, dengarkan aku baik-baik," sahutnya mulai memasang mode seriusnya.


"Alea memiliki dua orang putri, yang pertama bernama Amanda, dan anak bungsunya adalah dirimu. Aku banyak mendapatkan bukti dari orang-orang sekitar rumah lama milik orang tuamu," ucap orang itu menjelaskan.


"Rumah lama orang tuaku?" potong Joana bertanya dengan wajah bingung.


"Ya. Dan rumah itu dulunya ditempati oleh Amanda dan kedua orang tua kalian," jawabnya.


"Aku juga mendapatkan bukti dokumen dari rumah sakit tentang kelahiran kalian berdua di rumah sakit yang sama. Dan perbedaan usia kalian juga tidak terpaut jauh, hanya 3 tahun saja."


"Untuk alasannya...."


"Cukup! Aku tidak ingin mendengar itu darimu. Aku akan bertanya langsung pada Ibuku tentang hal ini. Aku ingin dia menjelaskan hal ini padaku sekarang juga! Jika kau berani berbohong padaku, aku akan membunuhmu!" ancam Joana.


"Silahkan saja," sahut orang itu santai. "Jika ibumu mengelak, aku masih punya cukup bukti untuk membuktikan ucapanku. Aku tidak takut."


"Dan yang pernah aku ceritakan itu, apakah kau sudah menemukan penyebabnya?" tanya Alea lagi.


"Sudah. Penyebabnya karena sewaktu di mall saat itu, Ibumu menemukan seorang gadis yang sedang mengendong bayi kecil yang wajahnya sangat mirip dengan Anaknya, Amanda. Tapi, karena kedatanganmu saat itu, dia tidak bisa mengintrogasi gadis itu. Dan saat dia kembali, ternyata gadis itu sudah menghilang. Makanya dia merasa kecewa, karena selama ini dia juga sedang mencari keberadaan Amanda," ucap orang itu menjelaskan.


Benar. Saat itu Mama kembali ke toko yang sama dengan alasan lupa membeli bingkisan untuk anak temannya. Apakah Mama sedang mencari gadis itu?

__ADS_1


"Terima kasih untuk informasi yang telah kau dapatkan," ucap Joana.


"Sama-sama, Joana." balas pria itu.


"Apa aku boleh mengajukan sebuah permintaan lagi padamu?" tanya Joana takut-takut karena merasa segan.


Orang di seberang telepon kembali tertawa, kali ini tawanya sangat menggelegar dan terdengar seperti mengejek dan Joana tidak memperdulikan hal itu.


"Tentu, kau tentu boleh meminta bantuan apapun padaku. Yang penting bayarannya setimpal!" timpal orang itu.


"Dasar laki-laki mata duitan!" cibir Joana. "Aku mau kau mengantarku ke alamat rumah lama orang tuaku yang ditempati oleh Amanda dulu," terang Joana.


"Kapan?"


"Sekarang!" jawab Joana.


"Aku akan menjemputmu sekarang!" ucap orang itu dan langsung memutuskan sambungan teleponnya


...*****...


"Joana, kau yakin mau mencari tahu sendiri kebenaran ini?" tanya teman Joana sambil menyetir.


"Ya. Aku memang harus mencari tahu sendiri semua ini sampai jelas. Ibu tidak akan mengatakan apapun padaku, jadi aku tidak perlu menunggu untuk hal besar seperti ini, kan?" tutur Joana, dia melemparkan pandangannya ke arah jalanan.


"Mungkin saja dia masih butuh waktu untuk mengatakan yang sebenarnya."


"Atau mungkin ada alasan tertentu. Makanya terasa sangat sukar untuk dikatakan," ucap temannya lagi.


"Iya, kah? Seberat apapun alasannya, tak seharusnya dia menyembunyikan rahasia sebesar ini dariku," ucap Joana kekeh dengan pendiriannya. "Terlebih, tentang status Kakak kandungku sendiri," imbuhnya lagi.


Laki-laki di samping Joana hanya mengangguk saja. Dia tahu bagaimana kerasnya sikap Joana.


Mereka pun tiba di sebuah rumah yang terlihat sederhana namun asri. Rumah itu masih terlihat terawat meskipun agak gelap.


"Ini rumahnya?" tanya Joana sambil memperhatikan keadaan sekitar.


"Benar. Mau turun atau langsung kembali?"


"Kembali? Rugi kalau langsung kembali!" celetuk Joana. Joana turun dan mengetuk pagar rumah itu, berulang kali menekan lonceng. Lama sekali, barulah ada seorang wanita paruh baya yang berlari tergopoh-gopoh ke arah pagar.


Joana menyipitkan matanya kala melihat gelagat seseorang yang ia kenali. Mata yang mulanya menyipit seketika membelalak saat telah memastikan, wanita paruh baya yang datang padanya memang dikenalinya.


"Bibi? Kamu di sini?" tanya Joana kaget.

__ADS_1


Sang ART lebih kaget, dia terjingkat kala melihat seroang yang datang ternyata bukanlah Alea, melainkan Nona mudanya.


"Nona Joana? Ada keperluan apa kesini?" tanya sang ART yang jelas terlihat kikuk.


"Buka dulu pintu pagar ini. Aku mau masuk!" titah Joana.


"Masuk ... kesini?"


"Jadi?" tanya Joana kesal. Menurutnya sang ART terlalu bawel karena sedang menutupi sesuatu.


Tanpa pikir panjang, sang ART langsung membuka pintu pagar itu dan membiarkan Joana dan temannya masuk ke dalam.


Pertama kali Joana melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumah, pemandangan yang tersuguhkan membuatnya benar-benar tak berkedip, matanya terus mengawasi setiap foto-foto berbingkai besar yang tertempel di dinding. Joana menutup mulutnya sendiri bukan karena kagum, namun karena tak menyangka dengan apa yang sedang dilihatnya.


Ada banyak foto keluarga. Mamanya, Papanya dan juga seorang gadis kecil. Ada juga foto keluarga saat gadis itu sudah beranjak dewasa. Dan gadis di dalam foto itu sangat mirip dengan Papanya yang telah tiada.


"Itulah Amanda, Kakakmu!" bisik tema Joana.


"Bi, siapa gadis di foto itu?" tanya Joana membuat ART nya kikuk.


"Sa-saya tidak tahu, Nona!" jawabnya berbohong.


"Tidak mungkin! Cepat jujur!" ucap Joana memaksa.


"Joan, lebih baik kamu mengambil selembar foto itu, dan tunjukan pada Mama kamu. ART ini tidak bersalah, dia tutup mulut karena diminta oleh atasannya," bisik tema Joana dan mendapat anggukan.


Joana menaiki salah satu sofa dan mencopot salah satu foto keluarga saat Amanda sudah beranjak dewasa. Tanpa pamit dia langsung berbalik pergi.


"Antarkan aku ke rumah!" pinta Joana.


...*****...


Setelah sampai di rumah, Joana langsung masuk dan mencari-cari keberadaan Alea yang tak kunjung terlihat dari pagi tadi.


Ternyata saat ini Alea sedang termenung di tepi kolam.


"Ma, Joan ingin bicara!" ucap Joana yang langsung mendudukan dirinya di joglo.


Joana mengangkat kakinya yang terendam air kolam dan duduk di samping Anaknya. "Ada apa, Joan?" tanya Alea.


"Joana ingin tahu, siapa gadis remaja yang berada dalam foto ini. Kenapa bisa berfoto bersama Mama dan juga Papa?" tanya Joana sambil menunjukan selembar kertas foto yang diambil tadi.


Dukung karya ini dengan berikan like, komentar, gift dan vote sebanyak-banyaknya.

__ADS_1


Berikan juga rate 5 ya guys ❤️❤️❤️


Terima kasih❤️❤️❤️


__ADS_2