
"Joana ingin tahu, siapa gadis remaja yang berada dalam foto ini. Kenapa bisa berfoto bersama Mama dan juga Papa?" tanya Joana sambil menunjukan selembar kertas foto yang diambil tadi.
Alea kaget, matanya membola besar. Dia membagi pandangannya antara lembaran foto itu dan Joana.
Tangan Alea terangkat ingin mengambil lembar foto itu, tapi tangan Joana lebih cepat mengangkat lembar foto itu ke atas.
"Kenapa Mama ingin merebutnya? Jelaskan padaku dan aku akan memberikannya padamu," ucap Joana yang begitu kesal dengan sikap sang Ibu. Lagaknya seperti tak ingin mengakui apapun.
"Joan, berikan foto itu sekarang dan kembalilah ke kamarmu!" titahnya dengan suara dingin.
Joana tak bergeming, dia masih terus menatap Ibunya yang masih diam dan mengatupkan bibirnya.
"Jika kau menuruti perintah Mama, Mama bisa menganggap hal itu tidak pernah terjadi. Lebih baik kau beranjak sekarang!" lanjutnya mengancam Joana tanpa melihat wajah datar anaknya.
"Lalu, bisakah Mama menghapus kisah masa lalu yang masih menghantui Mama sampai sekarang? Bisakah Mama meminta maaf pada Amanda atas kekejaman sikapmu sebagai seorang Ibu?" tanya Joana sengaja memancing kemarahan Alea. Biarlah hari ini dia menjadi sasaran empuk Alea. Asalkan Alea bisa membuka kisah itu dan menceritakan semuanya.
Alea berpaling, menatap Joana lekat. Namun masih belum bergeming sedikitpun. Dia sangat yakin, Joana telah mengetahui sesuatu yang selama telah ia tutupi rapat-rapat.
Alea menghela nafas panjang, anaknya memang sudah dewasa. Dapat dengan mudah menangkap gelagat aneh dirinya yang terlalu mencurigakan, tidak ada gunanya lagi ia menutupi semuanya. Dia memang harus membuka tabir ini dari mulutnya sendiri. Meskipun konsekuensi yang akan diterimanya nanti adalah ujaran kebencian dari putrinya sendiri. Namun, dia tidak ingin kehilangan Joana seperti dia kehilangan Amanda.
"Kau yakin ingin mendengar semuanya, Joan?" tanya Alea yang tak merubah raut wajahnya.
"Ya, Mam. Aku ingin mendengar semuanya. Sebenarnya bisa saja aku mendengar semua cerita kelam itu dari mulut orang lain. Tapi aku tidak ingin itu, aku ingin mendengar pengakuan itu keluar dari mulutmu sendiri agar aku bisa percaya sepenuhnya," jawab Joana membuat Alea terguncang batinnya.
Dia kembali menghela nafas panjang, memejamkan matanya erat seperti sedang kembali mengingat memori kelam yang kini akan ia ceritakan ulang pada Anaknya.
"Gadis itu bernama Amanda, dia adalah Kakak kandungmu!" ucap Alea. "Dan sekarang, Mama tidak tahu keberadaannya karena dia melarikan diri dari penjara dan kekangan orang tuanya yang selalu memberlakukan peraturan kejam padanya," lanjut Alea.
__ADS_1
Wajah Joana masih biasa saja, dia sudah tahu perihal yang ini. Sekarang, yang ingin ia ketahui kenapa Amanda bisa melarikan diri dari rumah yang terlihat nyaman, kenapa selama ini dia tidak pernah tahu kalau dirinya memiliki seorang Kakak? Kenapa Alea memilih merahasiakan semua hal itu darinya? Sebenarnya, di mana letak kesalahannya sampai Alea bersikap begitu padanya?
"Itu saja?" tanya Joana karena melihat setelah mengatakan itu Alea hanya diam saja.
"Mama tahu, kamu ingin tahu alasan kenapa Amanda memilih pergi dan kami merahasiakan kehadirannya darimu, kan?" ucap Alea dan mendapat anggukan dari Joana.
"Itu semua memang kesalahan kami sebagai orang tua. Harapan kami terlalu besar padanya, Ambisi kami membuatnya merasa terkekang karena kami hanya ingin hasil yang terbaik tanpa mau mendengar keluhannya dalam menggapai impian yang kami mau," ucap Alea sambil melihat terus ke depan.
"Karena dia terlihat tidak mampu untuk menuruti keinginan kami, kami menganggapnya sebagai anak yang bodoh. Padahal saat itu usianya baru genap dua tahun. Jadi Papa dan Mama merencanakan untuk memulai program hamil, dan menjauhkan diri selama Mama hamil darinya agar kamu, anak yang Mama kandung saat itu tidak tertular kebodohan dari Amanda!" ucap Alea kembali menjelaskan.
Joana tampak menggeleng tak percaya, mengapa bisa orang tuanya sekejam itu pada anak kandung mereka sendiri. Mempunyai ambisi besar bukannya tidak boleh. Namun, harus tahu batas kemampuan anak sendiri dan tak boleh terlalu memaksa anak untuk harus bisa. Dan lagi, memisahkan Kakak dan adik di rumah yang jaraknya jauh, karena takut tertular kebodohan? Alasan aneh macam apa itu? Sungguh membuatnya kecewa.
Orang tua yang selama ini ia anggap sempurna, ternyata menyimpan rahasia besar yang kejamnya tak terduga.
"Jadi, apakah Amanda tahu kalau dia memiliki seorang adik?" tanya Joana disela isak tangisnya.
Dan Alea mengangguk.
"Dia bukan tidak pernah datang padamu, Joan. Kami yang tidak mengantarkannya padamu. Dia selalu bertanya di mana Adikku? Dan kami juga selalu menjawab, adikmu tidak mau bertemu dengan Kakak yang bodoh sepertimu!" tutur Alea dengan perasaan menyesal.
Joana semakin sakit mendengarnya. Dia sudah dapat menebak kenapa nasib kehidupannya dan Amanda sangat jauh berbeda. Tentu karena dia dianggap pintar oleh kedua orang tuanya, namun Joana sudah tak disukai karena tak bisa memberikan apa yang kedua orang tuanya mau.
"Begitu, kah? Dan sekarang ... apakah Mama menyesal telah memperlakukan Amanda seperti itu?" tanya Joana bernada rendah.
Alea hanya mengangguk dalam isak tangis yang semakin dalam. Dia tahu, sesungguhnya penyesalan tak dapat mengubah apapun.
"Usia berapa Amanda pergi dari rumah?" tanya Joana sambil menghapus jejak air mata di pipinya.
__ADS_1
"Enam belas tahun!" jawab Alea.
"Dan kalian tidak pernah mencarinya? Kalian merasa cukup denganku yang selalu bisa membanggakan kalian dari waktu ke waktu? Tidak pernah memikirkan perasaan Amanda sedikitpun? Aku yakin, setelah aku lahir kalian pasti jarang menemui Amanda, menemaninya bermain, jarang mengajaknya bicara bahkan tidak pernah memeluknya sekalipun. Benar, kan?" ucap Joana menuduh.
Alea mengangguk, suara tangisannya semakin terdengar.
"Itu semua benar. Kami memang melakukan itu semua. Sampai Papamu yang telah sakit-sakitan dan ingin bertemu dengannya namun tak pernah berhasil sampai ajal menjemputnya. Kami sudah berusaha mencari, namun hasilnya nihil! Dan sampai sekarang, Mama tidak pernah mendengar kabar darinya lagi," ucapnya dengan rasa menyesal yang teramat dalam.
"Kalian benar-benar orang tua berhati batu!" cicit Joana.
"Lalu, kenapa sampai sekarang Mama masih menyembunyikan hal ini dariku?" tanya Joana lagi. Dia hanya ingin hari ini semuanya terungkap jelas.
"Mama terlalu takut kamu membenci Mama. Makanya Mama memilih merahasiakannya darimu, Mama pikir semuanya akan baik-baik saja. Tapi ternyata, kamu sudah lebih tahu," jawabnya.
"Apakah sampai sekarang Mama masih ingin bertamu dengan Amanda?" tanya Joana dan mendapat anggukan.
"Mama sudah mencarinya kemana-mana namun tak menemukan apapun. Sudah datang ke rumah sahabat kecilnya tapi rumah itu sudah kosong tak berpenghuni sejak lama," tuturnya.
"Saat di mall, Mama melihat seorang gadis yang mengendong bayi dan wajahnya sangat mirip dengan Amanda. Namun Mama terlambat untuk memastikan apakah bayi itu ada hubungannya dengan Amanda atau tidak."
"Dan aku punya alamat gadis itu, Ma!" ucap Joana membuat mata Alea langsung teralih padanya. Dia menangkup wajah Joana dan menggenggam tangan Joana erat.
"Benarkah? Tolong berikan alamat itu pada Mama, Joan!" pinta Alea memelas dan menangis.
"Joana antarkan, Ma. Joan juga ingin bertemu dengan Kak Amanda." Saat membayangkan dia memiliki seorang Kakak, hatinya menghangat. Merasa senang karena akan ada seseorang lagi yang akan memeluknya dan menjadi tempatnya untuk berbagi. Terlebih dia yakin kalau bayi yang tempo hari dilihat oleh Alea adalah anak Amanda. Pasti rumah ini akan semakin ramai dengan kehadiran seorang bayi.
Dukung karya ini dengan berikan like, komentar, gift dan vote sebanyak-banyaknya.
__ADS_1
Berikan juga rate 5 ya guys ❤️❤️❤️
Terima kasih atas dukungan dari kalian semua ❤️❤️❤️